Pengenalan Raptor dan Teknik Identifikasi di Lapangan¹

By: Asman Adi Purwanto²

¹Makalah disampaikan pada Pelatiahan Pengenalan dan Identifikasi Raptor, Uni Konservasi Fauna-IPB. 22 Januari 2011.

²Anggota RAIN: Jaringan Riset dan Konservasi Raptor di Indonesia. Email: asmanadi@raptorindonesia.org

Pendahuluan

Asia menempati jumlah tertinggi dengan 90 jenis raptor dan sekitar 70 spesies raptor diurnal ini bisa ditemukan di Indonesia (Sukmantoro dkk. 2007) Sekitar 10 spesies merupakan spesies yang endemik di Indonesia bahkan di antaranya sebagai spesies endemik pulau, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus) dan beberapa spesies lainnya. Semua spesies raptor diurnal dilindungi peraturan negara yaitu melalui undang-undang No. 5 tahun 1990, tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, serta PP 7 dan 8.

Selain raptor diurnal, atau yang aktif disiang hari, indonesia juga memiliki sekitar 45 jenis raptor Nokturnal(aktif dimalam hari) atau yang biasa disebut sebagai burung hantu. Jenis ini tersebar diseluruh indonesia. Jenis ini masuk kedalam Ordo Strigiformes dibagi menjadi 2 Familly untuk yang di indonesia yaitu; Tytonidae 9 Species dan Strigidae 36 Species. Untuk jenis-jenis yang aktif dimalam hari ini tingkat endemisitasnya di indonesia bisa dibilang cukup besar yaitu 23 species.

Karakteristik

Didalam sebuah ekosistem raptor berada dalam posisi tingkat rantai makanan paling puncak “top predator”. Sebagai jenis burung pemangsa, raptor atau yang lebih umum disebut Elang memiliki karakteristik berbeda dari jenis-jenis burung lainya.

Secara morphologi jenis elang memiliki bentuk tubuh yang kuat/kekar. Memiliki paruh yang tajam dan cakar yang kuat.

  1. Paruh. Paruh raptor sangat tajam, dengan bentuk menyerupai kurva dan sangat kuat untuk menyayat dan memakan mangsanya. Ukuran dan ketajaman paruh elang tergantung pada ukuran tubuh dari burung pemangsa tersebut.
  2. Kaki. Semua raptor memiliki kaki yang kuat denga tiga jari menghadap kedepan dan satu jari menghadap kebelakang. Untuk beberapa jenis terutama untuk jenis raptor dari Genus Spizaetus memiliki bulu hingga bagian tarus”tungkai kaki”.
  3. Sayap. Sayap yang kuat dan merentang  besar untuk melayang dan memendek bahkan mengkerucut pada saat mluncur bahkan menukik ketika hendak menangkap mangsanya.
  4. Telinga. Raptor mempunyai telinga yang kecil terbuka di kedua sisi kepalanya, tepat agak di belakang dan dibawah matanya. Semua jenis raptor memiliki pendengaran yang sangat tajam.

Perilaku umum

Secara umum raptor sangatlah berbeda dengan burung lainya. Raptor memiliki kecenderungan sendiria atau bersama pasanganya untuk itu banyak kalangan yang menyebut bahwa raptor adalah satwa yang indiviualis. Perilaku menyendiri atau solo behavior ini banyak ita temukan pada jenis-jenis forestry eagle atau raptor yang secara penyebaran berada di pegunungan dan hutan-hutan hujan tropis. Contoh seperti Elang Hitam(Icinaetus malayensis) penulis dalam beberapa pengamatan lebih sering melihat jenis ini selalu sendirian terbang berputar (soaring) diatas kanopi hutan. Berbeda dengan jenis Elang Bodol(Haliastur indus) yang bias berkelompok dalam jumlah besar, atau Elangalap Cina(Accipiter gularis) yang bias mencapai ratusan dalam satu kelompok ketika melakukan migrasi.

Beberapa perilaku lain pada raptor dan istilah yang digunakan adalah;

  1. 1. Soaring.

“soaring” adalah terbang berputar melayang dan mengapung tanpa adanya kepakan sayap dengan mengandalkan dorongan “thermal”. Berputar ke atas maupun kebawah. Perilaku ini biasa terjadi pada elang pada saat  cuaca yang cerah sekitar. Thermal adalah tiang udara panas yang naik kemudian dirongrong oleh udara dingin di sekitarnya. Selanjutnya gelembung udara panas yang besar menanjak dengan demikian kuat sehingga elang dapat berputar-putar di dalamnya ikut naik pula.

  1. 2. Display/Undulating.

Display adalah terbang naik turun atau horizontal secara periodic. Aktivitas ini biasanya berlangsung sekitar 2-5 menit yang dilanjutkan denga meluncur. Aktifitas ini berfungsi untu menarik pasanganya pada saat masuk musim berbiak (musim kawin) atau untu menandai daerah teretorynya dari individu lain baik dari species yang sama maupun dari species yang berbeda.

  1. 3. Gliding [Meluncur horizontal].

Perilaku ini adalah terbang meluncur dan lurus dengan sesekali mengepakkan sayap. Posisi sayap terbuka dengan posisi yang sama dengan ketika sedang soaring. Biasanya dilakukan oleh Elang Jawa untuk berpindah dari  satu lokasi ke lokasi lainya. Meluncur juga biasanya dilakukan setelah melakukan soaring dan kembali ke sarang atau kepohon disekitarnya.

  1. Diving [Menukik dan meluncur vertikal ke bawah].

Perilaku ini biasanya dilakukan untuk menyerang mangsanya secara tiba-tiba, atau menuju suatu tempat, atau masuk kesarang dengan cepat bila ada gangguan terhadap sarang dan anaknya. Dilakukan dengan tiba-tiba dan cepat setelah melakukan display horizontal, menukik, dan dengan kecepatan tinggi meluncur turun dengan sayap dilipat ke badanya dan tidak bersuara.

Pengamatan dan Identifikasi Raptor

A. Peralatan

Dalam mengamati raptor peralatan yang harus disiapkan diantaranya adalah;

  1. 1. Binokler dan Monokuler

Alat yang paling/sangat umum digunakan dalam kegiatan pengamatan burung baik burung-burung kecil maupun burung pemangsa”raptor”. Fungsi dari kedua alat tersebut adalah untuk membantu pengamat mengamati benda yang lebih besar melalui lensa optic dengan ukuran tertentu.

  1. 2. Buku Panduan

Buku panduan Lapang Pengamatan Burung menjadi wajib dibawa untuk membantu pengamat mengidentifikasi jenis yang ditemukan.

  1. 3. Jam untuk menunjukan waktu pada saat pengamat melakukan pengamatan.
  2. 4. Buku dan alat tulis.

Berguna untuk mencatat setiap jenis yang teramati baik jumlah jenis, individu, dan perilaku. Usahakan menggunakan buku saku sehingga tidak terlalu banyak memakan tempat. Gunakan alat tulis yang tahan air(tidak luntur).

  1. 5. Kamera.

Untuk mendokumentasikan jenis yang teramati. Alat ini akan sangat membantu sekali jika pengamat kesulitan mengidentifikasi jenis yang ditemukan dan dapat di konsltasikan dengan pengamat lain yang lebih ahli.

  1. 6. Peta, Kompas dan Alat ukur lainya

Sebelum pengamatan di suatu lokasi hendaknya kita melakukan terlebih  dahulu pengenalan lokasi pengamatan (orientasi lapangan).  Hal ini akan  mudah dilakukan dengan bantuan peta, kompas dan GPS untuk lebih akurat.   Dari pengenalan lokasi akan diperoleh beberapa macam data, antara lain:

topografi, vegetasi dan lainnya yang berhubungan dengan informasi geografi.

Ketika melakukan pengamatan raptor usahakan selalu mencatat setiap perilaku yang dilakukan oleh raptor yang sedang di amati. Perhatikan juga kondisi cuaca pada saat pengamatan karena hal ini akan sangat membantu pada saat proses analisa data.

B. Mengamati Raptor

Lokasi Pengamatan dan Waktu

Lokasi pengamatan lebih baik ditentukan dan disepakati didalam tim sebelum melakukan pengamatan sehingga tidak terjadi penumpukan dimasing-masing tim dalam melakukan pengamatan karena ini di khawatirkan akan menjadi bias untuk data yang diperoleh. Kemudian untuk waktu sebelum pengamatan lebih baik jika dilakukan kesepakatan kapan mau dilakukan pengamatan. Pengamatan yang belum jelas dan pasti lokasi pengamatan biasanya tidak akan mendapatkan hasil sesuai target yang di inginkan.

C. Identifikasi Raptor

Identifikasi raptor bisa dilakukan dari berbagai cara mulai dari identifikasi visual sampai dengan suara. Namun demikian, identifikasi suara akan banyak menemui kendala dan kesulitan untuk pengamat yang masih pemula dan biasanya dilakukan oleh pengamat yang sudah cukup berpengalaman.

ada dua hal penting dalam upaya mengenali raptor, terutama untuk pemula yatu

  • Sketsa; buatlah sketsa dari burung yang pertama kali dilihat/ di amati.gambarlah cirri-ciri yang paling jelas dan menonjol pada burung yang teramati dan catat cirri khusu pada burung tersebut. Hal ini akan sangat membantu untuk identifikasi dikemudian hari dan bias di konsultasikan dengan pengamat yang sudah ahli.
  • Standar Perbandingan. Upayakan kita mengenali betul beberapa jenis raptor yang lain sebagai pembanding untuk jenis yang kita amati. Misalnya kita mengenal betul ukuran Elang Hitam, morfologi,  suara, dan perilaku khasnya. Jenis yang sangat kita ketahui dan mengerti itu bisa dijadikan perbandingan untuk mengidentifikasi jenis yang lain. Misalnya burung yang sedang kita identifikasi ukuranya ¾ kali lebih kecil dari Elang Hitam.

Mengidentifikasi burung pemangsa yang sedang terbang tinggi adalah suatu seni. Jadi siapa saja dapat meningkatkan kemampuannya dengan praktek pengematan di lapangan secara terus menerus. Selain itu perlu diperhatikan juga bagian-bagian tubuh burung tersebut sebanyak mungkin yang anda bisa, terutama ciri-ciri pembeda dari setiap jenis. Ciri pembedaaanya seperti garis putih atau hitam pada ekor, bentuk sayap, warna tubuh, kepala berjambul atau tidak dan lain-lain.

Data yang diperlukan dalam mengidentifikasi jenis adalah karakter seperti warna kepala, dada, sayap, punggung, ekor, warna mata, kaki, dan paruh; ukuran-ukuran tubuh (perkiraan panjang tubuh, rentang sayap,panjang ekor), bentuk sayap saat terbang (lebar-panjang-ujung menjari, sempit-pendek, ujung runcing) dan ciri-ciri khusus lainnya yang dianggap penting. Selain itu data-data penunjang seperti suara, habitat, makanan dan musim juga dapat menjadi data penguat untuk identifikasi.

Gambar. 4. Sikep Madu Asia(Pernis orientalis) ras migrant tampak dari atas. Terlihat pada ekor memiliki garis lebar 2-3 garis yang menjadi cirri dari jenis ini. Leher yang panjang dan menyempit.(©Robert DeCandido, PhD).

Identifikasi Pola Terbang

Ada beberapa pola sayap pada raptor pada saat terbang yang masing-masing genus memiliki perbedaan. Berikut dibawah ini adalah contoh dari tiga pola atau penampakan bentuk sayap pada saat terbang dilihat secara “siluet”.

Identifikasi Pola garis dan Warna Bulu

Sumber: James Ferguson-Lees & David Christie. 2005. Raptors of The World – A Field Guide. Christopher Helm. London

Identifikasi Bagian-Bagian Tubuh pada Raptor

Secara keseluruhan bagian-bagian tubuh raptor jika diperhatikan dan dilakukan pencatatan pada saat pengamatan akan sangat membantu dalam identifikasi.

Sumber gambar: Norio Yamagata. 1996. Field Guide of Raptors in Japan, Washitaka-rui Hishou Hand Book. Bunichi Sogo Publisher. Japan.

Dafta Bacaan

Harianto et al.  2009.  Buku Informasi Burung Pemangsa [Raptor] di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.  Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Cianjur.

James Ferguson-Lees & David Christie. 2005. Raptors of The World – A Field Guide. Christopher Helm. London.

Prawiradilaga, DM. et al. 2003. Panduan Lapang Pengamatan Burung Pemangsa Gunung Halimun. Biodiversty Conservation Project-JICA. Bogor.

Sukmantoro W., M. Irham, W. Novarino, F. Hasudungan, N. Kemp & M. Muchtar. 2007. Daftar Burung Indonesia No.2. Indonesian Ornithologists’ Union, Bogor.

lihat juga artikel tentang burung lainnya :
1. Misteri Penguin: Burung air atau Burung laut?

2. Release Elang Jawa di Kompleks UBPE PT ANTAM Tbk, Gn. Pongkor, Bogor, Jawa Barat

5 Comments

Leave a Reply