Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol – Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

24 – 27 Desember 2010

Oleh:  Rizki Wijayanti M./DKK7

Kegiatan Monitoring macan tutul di Bodogol merupakan program kerja dari Divisi Konservasi Karnivora (DKK) unit kegiatan mahasiswa Uni Konservasi Fauna Institut Pertanian Bogor (UKF-IPB). Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang bertujuan memonitoring keberadaan satwa karnivora yang populasinya semakin berkurang yaitu macan tutul (Panthera pardus). Mengandalkan jadwal liburan mahasiswa, kami berangkat menuju PPKAB pada hari Jumat tepatnya tanggal 24 Desember 2010. Meskipun terlambat 2 jam dari jadwal yang telah ditentukan, kami berangkat menuju tujuan tanpa hambatan yang berarti.

Perjalanan menuju Lido membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih. Sesampainya di Balai, kami beristirahat sebentar sambil mengeluarkan barang-barang dari dalam angkot. Kondisi balai terlihat sepi, mungkin karena bertepatan dengan hari libur. Sekitar jam 10.30, kami mulai berjalan menuju lokasi penginapan tempat kami akan melakukan pengamatan. Panas yang terik cukup mengeluarkan keringat, karena daerah yang kami lewati yaitu lokasi pemukiman dan sawah milik warga sekitar yang merupakan area terbuka.

Sampai di portal yang membatasi kawasan Taman Nasional, kami beristirahat sejenak di gardu. Saya memanfaatkan waktu beristirahat ini sebaik-baiknya, melihat perjalanan selanjutnya yaitu jalan berbatu yang menanjak. Perjalanan dimulai kembali, saya yang jarang berolahraga merasa tanjakan tersebut sangat menguras tenaga, bahkan daypack pun terasa berat. Tapi, pemandangan yang indah dan hawa yang mulai menjadi sejuk mengalihkan rasa lelah itu. Angin sejuk menghapus keringat, sehingga selama perjalanan saya tidak merasa gerah. Setelah perjalanan yang rasanya seperti berkilo-kilo itu, akhirnya terlihat juga gerbang bertuliskan “Taman Nasional Gunung Gede Pangrango – Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol”, saya bersama 4 orang lainnya yang terpisah dari rombongan mempercepat langkah. Lima orang yaitu saya sendiri, Feni, Dika, Kak Gilang dan Kak Rangga tiba pertama di gerbang. Sambil menunggu yang lain kami beristirahat sambil berfoto-foto.

Setelah rombongan yang lainnya tiba, kami pun naik ke atas. Setelah membongkar logistik makanan, saya bersama Feni dan Nafi naik ke atas lagi menuju penginapan. Penginapannya sendiri cukup nyaman dengan disediakannya tempat 9 tempat tidur tingkat dengan 2 kamar mandi. Setelah makan siang, diadakan briefing pembagian orang yang akan melakukan tagging jalur pengamatan. Jalur pengamatan yang  digunakan ada 4, yaitu jalur Rasamala, jalur Afrika, jalur Cipadaranten, dan jalur Cikaweni. Saya bersama Kak Yeni dan Kak Gilang mendapat jalur Cikaweni.

Jalur Cikaweni ini didominasi oleh pohon pinus, dengan topografi yang menurun selama perjalanan berangkat. Kondisi tanah yang basah juga membuat licin. Tagging terhenti di HM 800 karena jalan sudah tertutup dan tidak dapat dilewati, jalur ini berakhir di air terjun. Malamnya, setelah makan malam diadakan briefing pembagian jalur pengamatan untuk besok pagi.

25 Desember 2010, pengamatan pagi dimulai pukul 06.00 WIB. Saya mendapat jalur pengamatan di Cikaweni bersama Kak Angga, Kak Rangga, dan seorang guide. Selama pengamatan hanya ditemukan kotoran musang, diantaranya ada yang masih baru. Pengamatan selesai sekitar pukul 08.30 WIB dan kami merupakan tim yang paling pertama selesai karena cikaweni merupakan jalur terpendek.

Siangnya diadakan analisis vegetasi di jalur Rasamala. Rencananya akan diadakan anveg di 2 tempat, lokasi kedua yang akan dianveg yaitu jalur Cipadaranten. Saya bersama Kak Evine mendapat tugas mengambil data pohon bagian petak ganjil. Topografi di daerah Rasamala ini menurun sangat curam. Selain itu banyak juga tanaman rotan, sehingga harus berhati-hati ketika melangkah. Daerah ini didominasi oleh pohon Rasamala, sesuai dengan nama jalur pengamatan yaitu jalur Rasamala. Anveg selesai di petak 8, hal ini dikarenakan sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan anveg karena tajuknya terlalu lebat untuk ditembus dan topografinya terlalu curam.

Setelah anveg, kami beristirahat sejenak sambil makan siang. Sekitar pukul 15.30 WIB kami memulai pengamatan sore. Saya bersama Kak Yensen, Kak Erry Wd, dan Pakde melakukan pengamatan di jalur Afrika. Berbeda dengan 3 jalur lainnya, hanya satu jalur ini yang memiliki rute memutar, sehingga tidak perlu melalui jalur yang sama. Panjang jalur ini yaitu 1,5 km, di sepanjang jalur ini terdapat satu camera trap. Jenis pepohonannya lebih heterogen bila dibandingkan dengan jalur Cikaweni, dengan topografi jalur yang menurun pada awal jalur dan menanjak di akhir jalur. Yang menyenangkan dari jalur ini adalah karena melewati canopy trail dan catwalk.

Selama pengamatan hanya berhasil menemukan kotoran musang. Ketika pengamatan, tiba-tiba hujan deras turun. Pengamatan pun dihentikan karena sudah tidak mungkin ditemukan satwa dan pengamatan berubah menjadi jalan-jalan sore di tengah hujan. Di tengah hujan, kami sempat salah jalan sedikit, namun tetap sampai di canopy trail. Ketika sampai di canopy trail, hujan sudah mulai reda, tinggal gerimis. Pemandangan dari atas terlihat sangat indah, di tengah hutan yang tadi kami lewati muncul kabut putih yang perlahan-lahan naik ke langit. Langitnya sendiri menjadi bersih karena hujan sudah turun. Sambil menikmati pemandangan, kami tidak melewatkan kesempatan ini untuk berfoto-foto. Hal yang sangat disayangkan, karena sehabis hujan, pemandangan terlihat sepi, tanpa ada satwa yang tampak.

Perjalanan dilanjutkan menuju catwalk yang terletak di atas. Kami meniti tangga dari beton yang berlumut, sehingga harus berhati-hati supaya tidak terpeleset. Sesampainya di catwalk, pemandangan yang tidak kalah indahnya dengan di canopy trail menanti. Setelah berfoto dan menikmati pemandangan, kami melanjutkan perjalanan pulang, karena hari semakin sore juga. Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan, karena itu setelah briefing, beberapa orang memutuskan untuk tidur cepat karena besok harus bangun pagi.

26 Desember 2010, setelah sarapan dengan minuman hangat, pengamatan pagi pun dimulai. Kali ini saya mendapat jalur pengamatan di jalur Rasamala bersama Kak Yeni dan Kak Rangga. Jalur ini merupakan jalur yang dilewati ketika berangkat. Hasil pengamatan di jalur sepanjang 900 meter ini menemukan feses musang, tapak kucing hutan, tapak babi hutan, sungkuran babi dan feses primata. Selama pengamatan, banyak sekali orang lalu lalang karena kebetulan sedang ada pemasangan pipa saluran air. Pipa ini diangkut ke atas dengan bantuan warga sekitar. Mereka menggotong pipa berukuran besar dan panjang tersebut beramai-ramai. Diantaranya ada kakek berusia lanjut dan juga anak umur belasan. Mungkin hal ini yang menjadi salah satu faktor penyebab sedikit ditemukannya perjumpaan dengan satwa baik langsung maupun tidak langsung.

Siang hari, sesuai jadwal kami melakukan anveg di jalur Cipadaranten. Topografi daerah ini cukup menanjak dan kanan kiri terdapat jurang, karena itu kami sempat membelokkan azimuth untuk menghindari jurang. Anveg terhenti di plot keempat karena hujan deras turun. Hujan ini berlanjut terus sampai hari menjelang malam, karena itu pengamatan sore ditiadakan. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam hari ini terasa sangat dingin. Setelah makan malam, kami merapat untuk menghangatkan diri bersama sambil briefing kemudian dilanjutkan dengan membahas program kerja divisi karnivora untuk kedepannya.

27 Desember 2010. Hari ini merupakan hari yang special bagi saya, karena pada hari ini saya genap berusia 20 tahun. Untuk kedua kalinya saya berulang tahun di lapang. Seperti biasa kami berkumpul sebelum pengamatan sambil minum minuman hangat. Saat itu, yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun ke saya adalah Bang Ucok. Pukul 06.00 WIB, pengamatan pagi dimulai. Saya bersama Kak Erry, Kak Heri, dan Bang Ucok mendapat jalur pengamatan di Cipadaranten. Karena ini adalah pengamatan terakhir, saya sangat menikmatinya.

Baru saja pengamatan dimulai, saya menemukan tapak musang yang banyak sekali. Setelah mengukur dan mencatat data yang diperlukan, kami memutuskan untuk membuat gips tapak tersebut karena UKF belum memiliki gips tapak musang. Sambil membuat gips, Kak Erry bercanda dengan mengatakan kalau gips ini adalah kado ulang tahun bagi saya, mendengarnya saya hanya tertawa kecil. Tidak jauh dari lokasi tersebut, kami menemukan tapak kucing hutan. Karena tim lain sudah ada yang membuat gips kucing hutan, kami tidak mencetak gips dari tapak tersebut. Saya bersama Kak Erry agak tertinggal di belakang karena mencatat data tapak dan mendokumentasikannya. Ketika saya berdiri dan berjalan menyusul yang lain, saya melihat Bang Ucok dan Kak Heri menyembunyikan sesuatu dengan tangan mereka. Penasaran, saya mendekat. Dan tiba-tiba mereka menyanyikan lagu ulang tahun.. haha. Kebetulan sekali Bang Ucok menemukan lilin di hutan. Saya diminta berdoa dan membuat suatu permohonan lalu meniup lilin tersebut. Lucu sekali, untuk pertama kalinya saya melakukan tiup lilin dan make a wish di hutan, meskipun tanpa kue tart. Di jalur sepanjang 1,5 km ini, kami menemukan banyak tapak musang, feses musang, tapak kucing hutan, tapak babi, dan sungkuran babi. Sambil jalan pulang, kami mengambil gips tapak musang yang sudah jadi dan hasilnya sempurna.

Setelah sarapan, saya bersama Nafi dan Azis membuat laporan sementara sambil merekap data. Seperti biasanya, hari ini terasa dingin sekali meskipun hari sudah mulai siang. Tidak lama kemudian hujan turun dan semakin membuat suhu menjadi dingin. Pukul 12.00 siang, laporan sementara belum juga selesai dan saya belum packing untuk pulang. Kacau semuanya, saya menyelesaikan laporan dan packing dengan terburu-buru. Padahal saya ingin menikmati saat-saat terakhir di sana sambil menikmati pemandangan yang mungkin akan saya kangeni.

Pukul 13.00 WIB, kami melakukan perjalanan pulang. Tidak sampai satu jam kami sudah sampai balai, dan hal ini tidak terlalu melelahkan. Ketika mobil jemputan datang, ternyata ada kejutan. Orangtua saya membawakan kue dan minuman. Pertama kalinya saya merayakan ulang tahun di lapang seperti ini. Benar-benar menyenangkan, kalau saja tidak ada kegiatan monitoring bodogol. Hal seperti ini tidak akan terjadi. Terima kasih semuanya, telah member kenangan indah yang sangat berharga bagi saya. Hehe.. =)

16 Comments

  • tyo

    Maaf agak terlambat comment’a coz br lihat. Hmm ko sangat gag nyambung y antara judul’a dgn cerita’a, mgkn kdpn’a bs dperbaiki. Judul’a “Reportase Monitoring Macan Tutul di Bodogol 2010” tp crt’a ko mlh anveg, ultah dll y???

    Btw salam kenal y . . .

  • Eko Prastio Ramadhan

    jurnal perjalanan yang sudah cukup bagus, namun alangkah baiknya dideskripsikan pula mengenai perjumpaan dengan satlinya, misalnya menemukan jejak maka diukur panjang dan lebarnya dan tentunya harus difoto…,
    terus berkarya dan tetap semangat…

Leave a Reply