Siapa sangka indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Memang bukan hal yang tidak mungkin fakta tersebut disandang Indonesia. Jumlah pulau besar dan kecil yang mencapai 17,480 telah membentangkan garis pantai sepanjang 95.181 km atau setara dengan dua kali keliling bumi. Tentunya bentangan pesona pantai tidak hanya menyediakan pemandangan eksotik. Terdapat kekayaan alam yang tak terhitung harganya bila dirupiahkan. Pesisir pantai mengandung produktivitas hayati tinggi dengan keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia. Batas dua ekosistem tersebut menjadi pusat kegiatan rekreasi, transportasi, industri, permukiman, pelabuhan, bisnis, jasa lingkungan yang mendukung pembangunan. Hal tersebut dapat dilihat dari kontribusi ekonomi, sektor kelautan dan perikanan  pada GDP yakni sebesar 24,5% dari total GDP nasional

Di balik kekayaan kawasan pesisir, ternyata anugerah tersebut tidak luput  dari potensi kerusakan baik yang berasal secara alamiah maupun akibat ulah manusia. Dari 440 kabupaten atau kota yang berada di pesisir,  atau sekitar 88% dari jumlah kota dan kabupaten yang terdapat di indonesia , seluruhnya berpotensi terkena tsunami, abrasi, dan intrusi air laut. Ancaman tidak hanya berasal dari laut. Tiap harinya berton-ton sampah yang terhanyutkan bersama air sungai yang telah tercemar tidak hanya menciutkan niat untuk ke sungai apalagi memanfaatkan airnya untuk kebutuhan sehari-hari. Akhirnya muara sungai menjadi akumulasi residu dan tertoksifikasi  tidak henti-hentinya.

Terlepas dari potensi kekayaan dan ancaman di pesisir pantai, pertemuan daratan dan laut menyediakan habitat baru yang unik. Pesisir pantai menyediakan bentangan alam yang cocok untuk ditumbuhi vegetasi dari mangrove dengan luas mencapai 7.7 juta Ha (Dephut 2006). Mangrove memiliki karakteristik yang bebeda dari vegetasi darat lainnya. Tingkat toleransi terhadap salinitas yang tinggi memungkinkan vegetasi ini dapat bertahan pada habitat pasang surut dengan kadar garam yang tinggi. Drainase yang buruk tidak membatasi vegetasi ini dalam memperoleh udara. Berbagai adaptasi seperti akar pasak, akar lutut dan akar tunjang menjadi respon dari karaktesitik habitat pasang surut. Buah vivivari dari beberapa jenis memungkinkan anakan dapat bertahan selepas jatuh dari pohon induk.

Layaknya hutan yang menyimpan segudang jenis komponen biotik dan abiotik, mangrove menjadi habitat berbagai jenis satwaliar. Burung merupakan salah satu penghuni mangrove dengan jumlah tertinggi. Di hutan mangrove yang masih asri, dapat dijumpai burung pemangsa dan tentunya burung air. Selain itu dapat juga dijumpai mamalia kecil, primata, herpetofauna, custaceae, ikan dan bentos. Mangrove menyediakan sumber pakan yang cukup melimpah  sehingga tidak heran crustacea pun melimpah. Di beberapa tempat potensi cruatacea di mangrove telah dikelola menjadi tambak. Apabila ditinjau lebih jauh, mangrove dapat menanggulagi permasalahan lingkungan. Sedimentasi di muara sungai dapat dimanfaatkan mangrove. Ancaman bencana dari laut seperti abrasi, intrusi air laut, atau bahkan tsunami dapat dengan adanya mangrove. Beberapa sumber menyebutkan  mangrove dapat pula mengurangi dan mengurai polusi air.

Kerusakan mangrove semakin hari semakin meningkat. Dari  7.7 juta Ha mangrove yang dimilki Indonesia, hanya 2.3 juta ha dalam kondisi baik. Bahkan sumber lain menyebutkan luasnya kurang dari angka tersebut.  Kerusakan mangrove disebabkan oleh beberapa faktor. Konversi mangrove untuk permukiman, pabrik, perkebunan dan sawah menjadi permasalahn utama. Kerusakan mangrove diperparah pula oleh kegiatan   produksi yang tidak  memperhatikan asas kelestarian. Pembalakan liar oleh masyarakat sekitar untuk pemanfaatan kayu bakar walaupun jumlahnya  tidak sebesar konversi  lahan namun secara kontinyu telah mengancam. Kurangnya kesadaran dan pelibatan masyarakat pesisir dalam pelestarian mangrove juga menjadi faktor potensial bagi keterancaman mangrove di masa mendatang.

Bebagai strategi dan langkah telah dan akan dilakukan untuk mengkonversi keberadaan mangrove. Kesadaran akan pentingnya peran mangrove sebagai  buffer zone (penyangga kehidupan) sepertinya tidak perlu dipertanyakan. Kurangnya kepedulian akan kondisi mangrove saat ini tidak hanya akan menurunkan fungsi ekologis pesisir, namun akan berdampak pula terhadap penurunan pendapatan daerah, dan kualitas hidup. Terlebih indonesia hampir tiap tahun dilanda bencana seperti gempa di dasar laut yang dapat menimbulkan korban akibat tsunami. Baik pemerintah, LSM, akademisi, maupun masyarakat berusaha mensinergikan beberapa kegiatan untuk menanggulagi permasalahan mangrove saat ini dan mendatang. Berbagai kegiatan kemitraan telah banyak diusahakan seperti rehabilitasi mangrove yang melibatkan berbagai stake holder. Rencana penanganan mangrove telah menjadi salah satu agenda penting dalam menghadapi permasalahn lingkungan seperti yang tertuang dalam agenda Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove Indonesia. Agenda yang diinisisi dari bebagai lembaga tersebut menegaskan bahwa permasalahan mangrove merupakan permasalahan bersama dan membutuhkan kepedulian bersama. (Wahyu)

*Diangkat dari hasil Seminar Nasional Save Mangrove For Our Earth yang diselenggarakan oleh Tree Grower Community (TGC) Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor pada tanggal 22 Januari 2011.

Leave a Reply