Berawal dari kekagumanku saat melihat monyet ini di Pusat Primata Schmutzer. Warna rambutnya yang bersih, badannya yang ramping, dan jambulnya yang sangat keren! Monyet jenis ini dikenal dengan nama Simpai (Sumatera Selatan), chi-cha (Lampung), atau kera putih (Lampung Timur). Disebut monyet putih karena warna rambutnya yang dominan putih, namun sebenarnya memiliki warna yang bervariasi, ada yang berwarna abu-abu, hitam, sampai kecoklatan. Rambut anak simpai yang baru lahir berwarna keputih-putihan dengan garis-garis hitam di bagian belakang tubuhnya (dorsal). Kulit wajahnya berwarna dominan hitam. Ciri khas simpai adalah jambul yang menyerupai mahkota pada bagian kepala dan sedikit memanjang ke bagian dorsal. Simpai memiliki ekor yang panjang, yaitu sekitar satu setengah kali panjang tubuhnya yang berkisar antara 45-60 cm. Berat tubuhnya berkisar antara 5-8 kg.
Menurut beberapa ahli, berdasarkan warnanya simpai dapat digolongkan ke dalam 7 anak jenis, yaitu:
1. Presbytis melalophos melalophos, warna dominan merah dan hitam.
2. Presbytis melalophos fluviatilis, warna dominan cokelat kekuningan.
3. Presbytis melalophos alba, warna dominan putih.
4. Presbytis melalophos fucamurina, warna dominan hitam.
5. Presbytis melalophos nobilis, warna mrah dan hitam.
6. Presbytis melalophos ferruginea, warna dominan merah.
7. Presbytis melalophos aurata, warna putih kecoklatan.
Namun, IUCN-Primate Species Group menyepakati hanya ada 4 anak jenis, yaitu:
1. Presbytis melalophos melalophos
2. Presbytis melalophos bicolor
3. Presbytis melalophos mirata
4. Presbytis melalophos nobilis
Monyet putih ini menyukai hutan-hutan primer dataran rendah sampai pegunungan hingga 2500 m di atas permukaan laut, kadang mereka dapat dijumpai di sekitar aliran sungai. Namun akibat adanya penyusutan hutan menyebabkan mereka dapat dijumpai di daerah perkebunan. Pakan simpai adalah buah-buahan, bunga, biji, pucuk daun, beberapa jenis serangga. Simpai mengkonsumsi lebih dari 197 jenis tumbuhan yang berbeda.
Hidup simpai berada dalam kelompok yang terdiri dari satu jantan dan 5-7 betina, atau beberapa jantan namun tetap didominasi oleh betina dan anak-anaknya. Jumlah individu dalam satu kelompok dapat mencapai 20 ekor. Tipe pergerakan simpai sebagian besar menggunakan teknik leaping, yaitu berlarian di dahan dan melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Terkadang pula simpai menggunakan keempat kakinya (quadropedal) untuk melakukan aktivitas harian. Luas daerah jelajah mencapai 14-30 ha, sedangkan pergerakan hariannya mencapai 950-1300 m perharinya.
Simpai merupakan primata yang melakukan aktivitasnya mulai dari pagi hingga sore hari (diurnal), sehingga suara mereka mulai dapat didengar antara pukul 5.00-9.00. Suaranya terdengar seperti ka..ka..ka..ka..ka.. yang umumnya dikeluarkan oleh jantan sambil melakukan lompatan-lompatan pada dahan. Selain untuk menunjukkan daerah teritorialnya, suara tersebut juga berfungsi sebagai tanda bahaya, dan apabila sedang berjumpa dengan kelompok lain.
Walaupun informasi tentang populasi satwa ini di alam belum diketahui, namun perusakan habitat terus mengancam kelangsungan populasi simpai di daerah sebarannya. Habitatnya telah hilang lebih dari 71%, dari yang semula seluas 174.340 km2 menjadi 50.960km2. Kondisi ini tentu dapat meningkatkan kematian simpai khususnya juvenil simpai.Hal tersebut mendorong primata ini untuk masuk ke dalam daftar perlindungan satwa melalui UU No.5 tahun 1990.

artikel ini ditulis oleh Kurnia andayani (DKP 07)

Sumber Pustaka :
Hendras Wahyono, Edy, Jatna Supriatna. 2000. Panduan Lapang Primata Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

4 Comments

Leave a Reply