Seperti yang telah ditentukan jauh sebelum hari keberangkatan, saya bergabung di tenda 3 bersama Angga Cahyo Utomo, M. Luthfan Taris, Kiki Amelia Lubis, Amalia R., dan Farida dengan penanggung jawab tenda yaitu Ka Wahyu Iskandar dan Ka Rizky Wijayanti. Perjalanan diawali dengan briefing dari panitia dan ada Bapak Ir. Jarwadi B. Hernowo, Msc.F selaku Pembina berkenan memberikan pengarahan dan membuka sekaligus melepas para peserta Metamorfosa 9. Setelah itu para peserta berfoto di depan GWW dan dilanjutkan dengan menaiki truk. Tenda 3 bergabung dengan tenda 4 di truk 3 bersama para PJ dan beberapa senior tambahan. Rute perjalanan yang dilalui yaitu Batu Tulis-Cigombong dan lanjut sampai Pasir Kuda. Selama perjalanan terdapat beberapa kendala seperti salah jalan beberapa kali sehingga mengharuskan truk yang ditumpangi memutar arah. Sepanas apapun cuaca yang dirasakan karena memang perjalanan dilakukan siang hari, para peserta khususnya yang ada di truk 3 tetap antusias walaupun kadang mengeluh kepanasan. Ditambah lagi dengan suasana yang dihadirkan oleh para senior yang membuat kita semangat.

Sesampainya di Balai TNGHS yaitu sekitar pukul 1 siang, kami turun dari truk dan ishoma. Kami juga memulihkan tenaga dengan beristirahat supaya bisa fokus untuk kuliah pengenalan TNGHS. Kuliah pengenalan TNGHS dimulai pukul 16.00. Dalam kuliah tersebut, kami diberi gambaran tentang keadaan TNGHS melalui video yang diputar oleh pihak pengelola TNGHS. Walaupun video tersebut begitu singkat, video tersebut bisa membuat saya semakin semangat untuk berkegiatan di TNGHS. Pihak pengelola TNGHS juga memberikan kesempatan untuk bertanya, dan beberapa peserta memanfaatkan kesempatan tersebut. Selesai kuliah, peserta dibebaskan untuk sholat, makan, packing ulang, dan beristirahat untuk mengumpulkan tenaga, karena perjalanan selanjutnya akan dimulai tengah malam. Tidak lupa, di hari pertama perjalanan, dilakukan briefing untuk mengevaluasi perjalanan di hari tersebut. Dan briefing ditutup dengan beberapa kata-kata motivasi dari Pa’De dan beberapa senior.

Pukul 00.00 dimulai dengan tim Advance yang berangkat terlebih dahulu, selebihnya kami berangkat sesuai dengan urutan kelompok tenda dan didampingi dengan PJ dan beberapa senior tambahan. Setiap peserta tidak boleh terpisah dengan kelompoknya. Kami di kelompok 3 sempat terpisah sebelum sampai di pintu gerbang TNGHS. Beberapa sampai sebelum subuh, tidak lama setelah tim advance datang, dan melaksanakan sholat subuh di gerbang. Sedangkan yang lainnya sholat subuh di tempat mereka beristirahat. Selesai shalat subuh, tim advance bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Ketika langit mulai terang, peserta lain mulai berdatangan dengan kelompoknya. Dan mereka memilih untuk beristirahat di gerbang sampai matahari benar-benar naik. Kelompok 3 adalah kelompok pertama yang memilih melanjutkan perjalanan lebih dahulu daripada kelompok lain. Setelah mengunyah beberapa biskuit sebagai sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan makin terasa berat. Kami pun beristirahat beberapa kali. Kelokan dan tanjakan di jalur yang dilalui terlihat sama, sehingga menimbulkan kesan kami di kembalikan lagi ke jalur yang sudah pernah dilewati sebelumnya.

Sekitar pukul 7 lewat, sebagian dari kelompok tiga dan senior sudah sampai di Stasiun Penelitian Cikaniki dan beristirahat beberapa lama disana. Hamparan luas kebun teh menyambut kami tak jauh setelah berjalan dari Cikaniki. Jalur kebun teh yang menanjak, ditambah tidak adanya pohon rindang yang menaungi saat berjalan, makin membuat perjalanan terasa berat. Apa yang ada di pundak terasa bertambah berat. Pohon agathys seperti yang dikatakan ka Erlina sebagai tanda bahwa perkemahan Citalahab semakin dekat akhirnya terlihat juga. Sayangnya, yang membawa tenda kelompok 3 masih jauh tertinggal di belakang. Walaupun tenda 3 sebagian besar datang paling awal, tapi kami yang mendirikan tenda paling akhir. Dan ketika kami datang, kepakkan sayap dari Spizaetus bartelsi melintas di tengah-tengah bumi perkemahan. Rasa lelah hilang, dan tak sabar meraih binokuler untuk melihatnya saat terbang dan bertengger. Yang lain pun menyusul sampai di Citalahab dan langsung mendirikan tenda. Seperti hari sebelumnya, dan hari-hari yang akan berlangsung selama berkegiatan di TNGHS yaitu selalu ada evaluasi harian dan briefing untuk kegiatan esok harinya. Evaluasi dilaksanakan pukul 7 malam. Dan yang sangat membuat kagum, naungan dari bintang malam yang tersebar di langit membuat malam itu begitu ceria. Dan yang pastinya tidak ketinggalan, kata-kata motivasi juga banyak diberikan. Ka Soni tidak henti-hentinya mengingatkan sejak sebelum perjalanan, bahwa kami semua harus bisa mengambil esensi sebanyak-banyaknya selama berkegiatan di TNGHS.

Di pengamatan pagi yang pertama kalinya, suara morning call dari Hylobates moloch atau Owa Jawa, salah satu spesies kunci TNGHS memecah diskusi saya dan ka Soni di HM 9. Tiga ekor Hylobates moloch itu bergelantungan dari dahan ke dahan sambil sesekali mengeluarkan suaranya lagi. Sungguh atraksi yang lebih indah jika melihatnya hidup bebas langsung di habitatnya. Selain Owa Jawa, dalam pengamatan pagi itu kami juga menemukan kumbang moncong yang ukurannya sangat besar jika dibandingkan dengan kumbang sejenisnya. Untuk pengamatan sorenya, di HM 11 yang lebih terbuka sehingga objek yang bisa diamati lebih luas. kami melihat Spilornis cheela (Elang Ular Bido) yang terbang dengan ciri khas sayapnya yang ujungnya bengkok kedalam, seperti membentuk huruf U. Dan tidak ketinggalan, dua ekor Hylobates moloch dewasa, satu ekor pra remaja, dan satu ekor juvenilnya memperlihatkan lagi kepada kami atraksinya bergelayut dari pohon-ke-pohon, cara mereka makan, dan mereka pun seperti berbalik mengamati kami.

Hari kedua ada orientasi medan, kelompok saya dan kelompok tenda 1 mendapat jalur ke Gunung Kendheng bersama Pak Ade sebagai guide dan beberapa senior. Perjalanan dimulai dengan melalui Loop trail sampai menemukan marka yang menuju Gunung Kendheng. Jalur yang dilalui seperti tanjakan yang tiada henti. Tapi kami melakukannya dengan cukup santai. Pak Ade pun memberikan banyak informasi yang belum kami ketahui, baik itu tentang keadaan apa yang ada di jalur maupun tentang mitos yang ada seperti Aul. Yang lebih menyenangkan, para senior tak henti-hentinya membuat kami para peserta tertawa dengan bahasa ala UKF Go Internasioalnya!. Setelah menanjak cukup jauh, akhirnya mulai terlihat perubahan vegetasinya. Dari yang tadinya jarak pohonnya rapat, jarak pohon di ketinggian yang semakin ke atas semakin renggang dan mulai tergantikan dengan tumbuhan lumut dan paku-pakuan. Pohon-pohon seperti Puspa dan Schima walichii (Rasamala) mulai tergantikan oleh paku-pakuan, rotan, dan kiputri. Untuk kiputri, menurut pak Ade tumbuhan tersebut adalah tumbuhan khas Gunung Kendheng dan hanya tumbuh di wilayah dan ketinggian tertentu. Kami juga melewati batas Owa Jawa mencari makan setiap hainya. Dan semakin ke atas, sudah tidak bisa lagi ditemukan Owa Jawa, paling hanya Lutung (Trachypithecus auratus) dan Surili (Presbitys comata). Di jalur tersebut juga sebenarnya masih bisa di temukan macan. Baik itu Macan Tutul, maupun Macan Kumbang. Walaupun makanannya seperti babi hutan (Sus scrofa), dan kijang (Muntiacus muntjak) banyak terdapat di tempat yang lebih rendah, macan juga masih sering ke tempat yang lebih tinggi. Untuk makanan, dia bisa mendapatkan Surili.

Dengan beberapa kali istirahat selama perjalanan, tepat tengah hari kami sampai di puncak utama Gunung Kendheng. Menurut Pak Ade, ketinggiannya sekitar 1700 mdpl, namun GPS menunjukkan ketinggian 1670 mdpl. Puncaknya tidak terlalu luas. Hanya sebuah dataran yang dikelilingi oleh tumbuhan paku. Tumbuhan paku di puncak Gunung Kendheng dimanfaatkan oleh Nepenthes sp. (Kantung Semar) sebagai tempat hidupnya. Oleh karena itu banyak peneliti yang datang hanya untuk meneliti tumbuhan pemangsa yang unik tersebut. Sebagian besar, ukuran dari Nepenthes sp. yang ada disana sangat kecil dengan warna yang kekuning-kuningan. Tumbuhan ini unik karena dia menggunakan baunya untuk menarik serangga sebagai makanannya hinggap di dasar kantungnya. Dan setelah serangga hinggap, kantung semar mengeluarkan lendirnya yang membuat serangga jatuh ke dalam kantungnya. Setelah makan siang bersama sambil menikmati suasana puncak Kendheng dengan pemandangan kabut yang menutupi Gunung Halimun di sebelah selatan, kami pulang ke Citalahab melalui jalur yang berbeda seperti saat berangkat. Namun tetap terjal. Tak beberapa lama turun dari puncak, kami menemuka Viper Tanah, dan berhasil ditangkap untuk di bawa ke camp dan di identifikasi. Selain itu kami juga bertemu amfibi seperti tiga katak serasah (Megophrys montana) dan katak pohon. Yang membuat kami lebih senang lagi, kami juga menemukan scrape macan di jalur menuju puncak Andam. Scrape yang ditemukan ada di jarak yang tidak terlalu jauh antara satu sama lain, sehingga bisa di duga bahwa scrape tersebut dibuat oleh individu yang sama. Tidak hanya scrape, kami juga menemukan fesesnya yang sudah berwarna hijau. Di duga, macan tersebut sebelumnya memakan babi hutan yang dibuktikan di feses tersebut masih berbentuk tulang dan ada rambut babi disekitarnya. Di jalur turun yang ternyata menuju HM 4 loop trail Cikaniki, kami juga melihat empat ekor lutung yang sedang melompat, feses musang, dan tapak burung puyuh.

Pengamatan pagi kedua yang berlangsung di hari ketiga, saya mendapat spot di HM 7. Namun sayang, cuaca pagi yang biasanya cerah, pagi itu sedikit mendung. Maka kami yang mendapat spot pengamatan disana hanya bisa mendengar suara satwa seperti burung. Siangnya kami bersosialisasi dengan masyarakat. Saya bersama Riris dan Ikhsan berkunjung ke rumah warga didampingi ka Ayu. Masing-masing kelompok mendatangi minimal 2 rumah. Rumah pertama yang kelompok saya kunjungi adalah rumah yang di tempati Pak Ade, seorang karyawan di perkebunan teh PT Nirmala Agung. Namun yang menyambut kami adalah Pak Warma, seorang pegawai juga namun tingkatnya lebih tinggi dari Pak Ade. Dia mengaku sebagai lulusan IPB angkatan 22 dari jurusan AGH. Kami juga dijamu makanan. Setiap orang yang berkunjung dipersilakan untuk menikmati makanan seperti nasi, singkong rebus, daun singkong, dll. Sayangnya, kami tidak bisa mencapai tujuan kami mewawancara mereka untuk mengetahui sejauh mana hubungan mereka dengan TNGHS atau kondisi mereka yang tinggal berdekatan dengan taman nasional. Bapak Warma hanya menceritakan tentang agama dan kehidupannya dulu semasa berkuliah di IPB. Tapi itu juga tidak mengapa, yang penting kami sudah menjalin silaturahmi.

Di rumah kedua, kami menemui sepasang orang tua yang sudah lanjut usia. Mereka hanya tinggal berdua. Rumah mereka tepat dibelakang rumah pertama yang kami kunjungi. Terlihat sekali seperti ada kasta. Rumah pertama berada di pinggir jalan desa dilengkapi dengan alat elektronik yang cukup mewah. Namun, rumah Bapak Oji dan Ibu Uci ini sudah reot, tidak ada barang elektronik, kompor juga hanya memakai kayu bakar. Pasangan yang datang ke desa itu pada tahun 1974 hanya hidup dari membuat dan menjual boboko, semacam anyaman untuk mencuci beras. Awalnya kami menemui beberapa kendala ketika berbincang dengan mereka. Pendengaran Bapak Oji yang tidak terlalu baik dan mereka yang tidak bisa berbicara bahasa Indonesia membuat kami awalnya takut terjadi kesalahpahaman. Ternyata, mereka tetap mengerti ketika kami menggunakan bahasa Indonesia, dan bahasa sunda yang dilafalkan mereka pun tidak terlalu sulit kami mengerti. Mereka bilang, dulu hutannya masih lebat namun sekaran sudah berubah menjadi kebun teh. Selama masih berupa hutan sampai menjadi kebun teh, mereka belum pernah bertemu langsung dengan satwa.

Hari keempat di Citalahab dilaksanakan orientasi medan lagi untuk kedua kalinya. Kali ini kelompok sayamendapat jalur Wates. Wates adalah perbatasan antara Sukabumi dan Bogor. Jalur yang ditemui pertama kali adalah kebun teh. Di kebun teh kami melihat Icinaetus malayensis, dan 45 menit kemudian Spilornis cheela, keduanya sedang melakukan soaring. Setelah melewati kebun teh, kami memasuki hutan. Berbeda dengang jalur Gunung Kendheng yang menanjak, disini kita malah turun dengan turunan yang cukup licin sampai menemui sebuah sungai. Barulah di sungai itu kami mencoba mempraktikkan sendiri teknik penyebrangan sungai. Sungainya tidak dalam, namun arusnya cukup deras. Selesai menyebrangi sungai, kami masuk kembali ke hutan. Hutan yang sejak tadi di lewati tidak memiliki banyak potensi satwa. Menurut Bapak Syarip, paling hanya lutung, itupun jarang. Tapi untuk jalur, jalur disana sering di lalui macan, terbukti dari 3 tapak macan dan bau kencing macan yang kami temui. Sebelumnya kami juga menemukan scrape sigung dan feses musang. Di jalur hutan yang berjarak sekitar 600 meter itu ternyata juga di jadikan tempat penelitian untuk serangga. Terdapat berbagai jenis serangga disana, apalagi jika malam hari.

Ujung dari hutan yang di lewati adalah jalan berbatu yang menuju kea rah Cikaniki. Dari sana kita langsung menuju cikaniki untuk beristirahat, shalat, dan makan siang. Sesampainya di Cikaniki, kami bebas beristirahat sampai kira-kira pukul 3 sore. Selama di sana, ada beberapa burung yang hinggap di pendopo maupun di sekitar pendopo yang ada di bagian belakang dari stasiun Cikaniki seperti, Sikatan Ninon, Sikatan Belang, Ciung Air, Berinjih, Kadal, Bajing, dan Meninting. Pulang menuju camp Citalahab, kami melewati jalur Loop Trail yang biasa kami gunakan untuk pengamatan pagi dan sore dengan total sejauh 1,5 kilometer sampai ke pertigaan ke Gunung Kendheng, Cikudapaeh,dan ke Citalahab. 100 meter dari Cikaniki kami melihat Canopy Trail, tempat atau jalur yang disediakan untuk mengamati di keadaan yang lebih tinggi. Seperti untuk mengamati aktifitas satwa di atas pohon, mengamati bagian atas pohon, dll. Namun, canopy trail sudah rusak sejak 2 tahun yang lalu dan belum ada upaya perbaikan dari TNGHS.

Pengamatan pagi di hari ke-6, di HM 5 hanya ditemukan katak berjenis Limonectes microdiscus, ngengat, dan burung sepah gunung. Sedangkan pengamatan sorenya, karena cuaca mendung, tidak ditemukan satwa apapun. Dan selain pengamatan sore, juga dilakukan pengamatan raptor dan herpetofauna. Pengamatan raptor dilaksanakan di atas kebun teh. Raptor yang ditemui antara lain adalah Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) dan Elang Ular Bido (Spilornis cheela) sedang melakukan soaring maupun bertengger. Sedangkan pada pengamatan herpetofauna yang berlokasi di kebun teh juga dan mengambil waktu malam hari, ditemukan ular cabe (Maticora intestinalis).

Kondisi cuaca disana sendiri pada awalnya selalu cerah sepanjang hari. Panas di siang hari dan berbintang di malam hari. Tapi memasuki sekitar hari kelima, cuaca mulai tidak menentu. Di siang hari, selang waktu antara panas dan hujan tidak berlangsung lama. Dalam sehari bisa terjadi beberapa kali hujan. Ini bisa disebabkan karena penguapan yang sempurna akibat adanya sinar matahari yang terik, sehingga uap air yang terkumpul lebih cepat dan menimbulkan hujan lagi. Itulah yang terjadi disana. Beberapa menit yang lalu panas, lalu dalam jangka waktu yang singkat hujan dengan intensitas kecil, dan beberapa saat kemudian panas lagi. Dan memasuki beberapa hari terakhir angin berhembus kencang sampai beberapa tenda ada yang lepas, termasuk tenda 3.

Selama disana juga ada beberapa kuliah yang dilaksanakan. Seperti kuliah tentang teknik penyeberangan sungai, materi SAR dan ESAR, pengenalan Raptor dan Reptil, juga kuliah sekaligus praktik iklim, medan, dan Ilmu penaksiran sebagai materi tambahan yang bisa dikuasai ketika berada di alam bebas. Dan setiap malam, di adakan evaluasi harian untuk membahas apapun yang terjadi sepanjang hari serta di lanjutkan dengan briefing untuk kegiatan esok harinya. Hampir setiap malam juga bintang bertebaran di langit yang menaungi bumi halimun. Di hari terakhir, sebelum meninggalkan halimun, peserta beserta panitia mengikuti upacara penutupan yang petugas upacaranya terdiri dari peserta. Dalam upacara tersebut, ada prosesi dimana Ka Izzudin sebagai Pembina upacara memakaikan baju lapang sebagai tanda bahwa peserta telah sah menjadi anggota UKF. Di akhir acara, peserta juga memberikan kejutan yang telah disiapkan dari malam sebelumnya untuk panitia berupa award dengan beberapa kategori.

Tidak hanya itu, kepekaan terhadap lingkungan sekitar juga mulai terasah apalagi saat perjalanan malam menuju Cikaniki. Dimana terdapat sebuah pemandangan malam yang indah dengan bintangnya walaupun beban di pundak terasa berat. Dan dingin pun sirna, tergantikan oleh cucuran keringat dan beratnya kaki ketika melangkah menuju halimun. Perjalanan yang sangat jauh seperti itu membuat diri harus juga bisa melihat orang lain di sekitar dimana dalam satu kelompok pasti mempunyai –entah itu- tujuan, motivasi , keinginan, dll yang berbeda dengan kapasitas diri yang berbeda juga. Saya dan peserta lain dituntut peduli dengan keadaan teman-teman lainnya, setidaknya yang sekelompok.

Di dalam tenda juga setiap individu harus bisa memahami dan belajar membaca karakter orang lain. Dengan keadaan apapun setiap individu harus tetap peduli, tidak memaksakan kehendak dan selalu berbagi. Semua indra yang kita miliki harus digunakan secara maksimal disana. Baik digunakan untuk menghadapi alam sekitar yang luar biasa, maupun untuk sesama.

24 Januari – 2 Februari 2011

DETI TRIANI

G24100026

Angkatan 8

Uni Konservasi Fauna

Leave a Reply