Sejumlah besar keragaman predator, habitat dan keanekaragaman jenis menyebabkan suatu spesies mangsa memiliki berbagai macam teknik pertahanan diri untuk menghindari predator. Ini berlaku juga pada bangsa katak. Teknik pertahan ini didasarkan kepada mekanisme tingkah-laku/kebiasaan bawaan untuk mengelabui predator dalam mendeteksi keberadaan katak tersebut untuk dimangsa. Dalam review jurnal ini, penulis memaparkan salah satu kebisaan pertahanan diri pada spesies Proceratophrys boiei. Kebiasaan ini juga dapat ditemui pada bangsa-bangsa lain seperti Cycloramphidae, Microhylidae, Leptodactylidae and Bufonidae.

Bangsa katak relative lebih kecil, lambat, dan memiliki perlindungan terluar (kulit) yang lunak Jika dibandingkan dengan vertebrata lain, seperti burung, reptile, dan mamalia yang memiliki kulit yang memberikan perlindungan seperti rambut, bulu, atau sisik. (Duellman, 1994). Karakteristik ini menyebakan bangsa katak sangat rentan pada mekanisme predasi. Mekanisme preasi sangat berperan penting dalam perkembangan sistem adaptasi dan pertahanan diri pada katak. Seperti adanya kelenjar toksik atau sekresi zat lain yang tidak disukai oleh predator sehingga enggan untuk memangsanya. Kolaborasi warna pada kulit katak yang menyebabkan predator sulit tuk mendeteksi nya (cryptic) atau enggan tuk memangsanya karena dianggap sesuatu yang asing/aneh (aposematic) dan adaptasi modifikasi posyur tubuh dan kebiasaan unik lainnya (Wells, 2007). Beberapa jenis katak serasah seperti Stereocyclops parkeri (Wettstein, 1934),  Proceratophrys appendiculata (Günther, 1873), (Sazima, 1978) and Zachaenus parvulus (Girard, 1853) (Sazima, 1978; Rocha et. al. 1998) memiliki sistem pertahanan yang disebut stiff-legged posture dimana selama katak tersebut membaringkan tubuhnya dan tidak bergerak dengan kaki digelembungkan. Genus Proceratophrys Miranda-Ribeiro 1920 dapat merepresentasikan kebiasaan ini yang diniliki 18 jenis lainnya yag tersebar di timur, tenggara Brazil, barat laut Argentina dan Paraguay. (Frost, 2009)

Spesies Proceratophrys boiei (Wied-Neuwied, 1824) merupakan sebuah penghuni Hutan-hujan serasah atlantik di semenanjung pantai Brazil dekat Santa Carina dan Pernambuco states (IUCN,2009).  Spesies ini dapat ditemui di Rio-deJaniero tepatnya di Tenggara Brazil.

Mekanisme Pertahanan Stiff-Legged Posture pada Proceratophrys boiei (Wied-Neuwied, 1824)

sesaat seketika pada saat katak ini menerima sentuhan, maka akan segera menengadahkan kedua kaki dan tangannya seperti gambar disamping.

Ketika disentuh, katak akan menelentangkan kaki dan tangannya, mendatarkan tubuhnya, dan tak bergerak dengan menggelembungkan kakinya pada serasah.


mekanisme pertahan ini dapat dilakukan dengan dua gaya berbeda yaitu dengan bagian ventral (perut) diatas dan bagian dorsal (punggung) diatas

Kedua gaya ini menyesuaikan dengan pewarnaan pada latar/serasah (cryptic coloration) yang bersesuaian dengan corak pada ventral dan dorsal katak. Penyesuaian pewarnaan katak dengan latar menyebabkan katak seolah-olah seperti serasah daun yang mati/kering. Kedua kaki belakang yang digelembungkan menambah tampilan katak seolah-olah seperti daun yang sudah mati. Menurut Sazima (1978), kebiasaan ini meningkatkan peluang perlindungan kamuflase pada penglihatan predator.

stiff-legged posture untuk saat ini relevan pada 7 spesies katak dari 4 famili, yaitu Microhylidae dengan Stereocyclops parkeri (Sazima, 1978), Cycloramphidae dengan  Proceratophrys boiei (artikel ini), Proceratophrys appendiculata (Sazima 1978), dan Zachaenus parvulus (Sazima, 1978; Rocha et. al. 1998), Leptodactylidae dengan Scythrophrys sawayae (Garcia, 1999) dan  Bufonidae dengan Dendrophryniscus leucomystax dan  Dendrophryniscus brevipollicatus (Bertoluci et.al. 2007).

Daftar Rujukan

  1. Paulo Nogueira Costa1,*,Thiago Silva-Soares and Luna Barreto Bernstein Universidade Defensive behaviour of Proceratophrys boiei (Wied-Neuwied, 1824) (Amphibia, Anura, Cycloramphidae)
  2. Bertoluci, J., Brassaloti, R. A., Sawakuchi, H. O., Ribeiro JR., J. W. & Woehl JR., G. (2007): Defensive behavior with stiff-legged posture in the Brazilian tree toads Dendrophryniscus brevipollicatus and D. leucomystax (Anura, Bufonidae). Alytes. 25:1-2.
  3. Duellman, W. E. & Trueb, L. (1994): Biology of amphibians. Second edition. Baltimore, John Hopkins University.
  4. Frost, D. R. (2009): Amphibian Species of the World: an online reference.: <http://research.amnh.org/herpetology/amphibia/ index.html.>
  5. Garcia, P. C. A. (1999): Scythrophrys sawayae. (NCN). Defensive behavior. Herp. Rev. 30: 224.

IUCN, (2009): Conservation International, and NatureServe. (2006). Global Amphibian Assessment. < http://www.iucnredlist.org/amphibians >.

Leave a Reply