(hasil tim Eksplorasi Halimun 2011 Uni Konservasi Fauna)

Taman Nasional Gunung Halimun Salak mempunyai keanekaragaman satwa liar yang tinggi dan tersebar di beberapa tipe habitat. Salah satunya adalah Primata . Ada beberapa jenis primata yang  hidup di Taman Nasional ini, mulai dari surili (Presbytis comata), lutung budeng (Trachyphitecus auratus), kukang (Nycticebus coucang),dan owa jawa(Hylobates moloch). Beberapa dari primata ini merupakan endemik jawa, salah satunya adalah owa jawa. Persebaran owa jawa sampai sekarang masih terbatas di hutan-hutan yang ada di Jawa Barat tentunya.

Owa jawa memiliki warna rambut kecoklatan, keperakan atau kelabu dengan warna muka yang hitam pekat. Owa dapat hidup sampai ketinggian 1500 m dpl, tetapi sangat jarang ditemui di ketinggian 1500 m  karena pohon-pohon di ketinggian seperti ini sudah di selimuti oleh lumut sehingga menyulitkan untuk pergerakan owa jawa.(supriatna 2000)

Resort Cikaniki merupakan salah satu resort yang ada di Taman Nasional Gunun Halimun Salak, kawasan hutan diresort ini lansung berdampingan dengan enklave perkebunan dan pemukiman masyarakat. Jadi tidak jarang masyarakat yang melihat aktivitas satwaliar ada di sekitar perkebunan. Ada tiga jalur yang diduga potensial untuk keberadaan owa jawa di resort ini, yaitu jalur Wates, jalur Gunung Kendeng, dan Jalur Cikudapaeh. Setiap jalur memiliki tingkat keberadaan satwa yang berbeda.

Berdasarkan hasil dari pengamatan saat Ekplorasi Halimun 2011 didapatkan hasil tentang distribusi (penyebaran) owa jawa diresort Cikaniki. Data yang dikumpulkan dapat dianalisis bahwa setiap jalur pengamatan mempunyai potensi keberadaan owa jawa (Hylobates moloch). Setiap jalur terdapat indikator-indikator yang mendukung  keberadaan owa jawa. Mulai dari segi ketersediaan pakan, pohon tidur, sampai kepada sumber air.  Namun jalur-jalur yang diamati memiliki kelebihan masing-masing untuk setiap indikator.

Sumber pakan, owa jawa yang pakan utamanya adalah buah dan daun muda. menurut beberapa penelitian owa jawa memakan lebih kurang 125 jenis tumbuhan berbeda.  Owa akan mencari daerah yang mempunyai kelimpahan pakan yang lebih. Dari 3 jalur yang diamati, jalur Wates menempati pernyataan ini, perjumpaan dengan owa lebih banyak sering di temui. Jalur Wates yang terdiri dari jalur dalam hutan dan jalan masyarakat memiliki kelimpahan pakan yang tinggi , terlihat  banyaknya pohon-pohon pakan di sepanjang jalur. Kenapa dibilang pohon pakan karena ada banyak bekas gigitan primata pada buah-buah yang berjatuhan dibawah pohon tersebut. Melihat hal ini bukan berarti di jalur lain tidak ditemukan owa jawa, tetap ditemukan owa jawa walaupun dalam kuantitas kecil.

Indikator selanjutnya adalah sumber air, ini adalah sesuatu yang wajar, setiap satwa akan mendekati sumber air. Biasa di sumber air terdapat tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh subur sehingga berkaitan erat lagi dengan ketersediaan pakan. Disetiap jalur yang di amati telah menyediakan sumber air yang cukup , ada beberapa sungai yang mengalir dari hulu sungai yang berasal dari dalam hutan. Perjumpaan dengan owa jawa sangat minim kearah jalur gunung kendeng, aliran sungai tidak sampai ke area ini karena ketinggian tempat yang cukup terjal . Hutannya berada di sudut elevasi mendekati 900. Di tambah lagi predator yang akan mengincar di daerah ini. Di ketinggian seperti ini tidak menyediakan lagi pohon  dengan tajuk yang tinggi yang menjadi senjata ampuh primata untuk melarikan predator seperti macan tutul yang wilayah jelajahnya cukup luas. Untuk wates dan cikudapaeh sumber airnya cukup melimpah sehingga perjumpaan dengan owa jawa lebih sering di kedua jalur ini.

Selain indikator yang di atas, persebaran owa jawa sangat di pengaruhi oleh predator  primata, konsumen tingkat atas ini adalah macan tutul(Panthera pardus) dan Elang jawa( Spizaetus bartelsi). Macan tutul akan mengincar semua konsumen di bawahnya, sedangkan elang jawa biasa mengincar anakan primata. disamping adanya predator ada juga persaingan dengan sesama primata, namun ini tidak begitu berpengaruh terhadap owa jawa sendiri.

Dapat simpulkan bawa distribusi owa jawa di Resort Cikaniki  cukup merata karena setiap jalur  telah dapat dijumpai owa jawa. Setiap jalur juga memiliki indikator pendukung keberadaan owa jawa, mulai dari ketersediaan pakan, sumber air, dan  predator alami . walapun setiap jalur tingkat kelebihan indikatornya  yang berbeda-beda

Ditulis : Wamu’al Rahmatullah DKP angkatan 7

Daftar Pustaka

Supriatna jatna dan Edy Hendras W. 2000. Panduan lapang Primata Indonesia. Buku obor: jakarta

Foto : Nank Kh nature photography 2011

One Comment

Leave a Reply