Gibbon atau owa merupakan jenis primate dari family hylobatidae. Apabila dilihat dari morfologinya gibbon termasuk ke dalam jenis kera karena memang tidak terdapat ekor sebagaimana jenis – jenis monyet.

Terdapat dua jenis gibbon atau dalam bahasa setempat disebut kelampiau di Kalimantan yaitu Hylobates muelleri yang sebarannya terbatas di pulau Kalimantan saja (endemik) dan Hylobates agilis albibarbis. Kedua jenis kelampiau ini memiliki ciri yang jelas dari penampakan fisiknya. Hylobates muelleri memiliki ciri hampir seluruh tubuhnya ditutupi rambut berwarna mulai dari kecoklatan sampai kelabu, kecuali bagian kepala dan perut berwarna hitam sedangkan Hylobates agilis albibarbis seluruh tubuhnya ditutupi oleh rambut berwarna abu-abu, kecoklatan hingga hitam dan rambut yang tumbuh pada tangan berwarna hitam. Keluarga owa ini hidup berkelompok dengan ukuran kecil sekitar 3-4 individu yang terdiri atas jantan dewasa, betina dewasa dan anak atau bayi.

Selain ciri fisik, kedua jenis kelampiau ini juga dapat dibedakan berdasarkan suara panggilannya. Suara panggilan Hylobates muelleri cukup panjang mengalun dan diakhiri alunan yang cepat dan bergetar biasanya terdengar mulai dari pukul 05.00 sampai 06.30 pagi. Suara Hylobates agilis albibarbis sekilas terdengar hampir sama akan tetapi terdengar lebih mengalun dan diakhiri dengan jeritan bernada naik turun. Suara panggilan ini merupakan tanda bagi kelompok lainnya sebagai peringatan atas daerah kekuasaan atau memanggil pasangan. Panggilan di pagi hari disebut morning call. Namun seringkali suara ini juga merupakan tanda bahaya bila ada gangguan seperti adanya hewan pemangsa.

Habitat kedua jenis kelampiau ini hampir sama mulai dari hutan pegunungan sampai hutan dataran rendah, namun ternyata dijumpai juga di hutan rawa gambut. Sebagian besar dari aktifitas kelampiau dihabiskan di atas pohon (arboreal) dan sangat jarang dijumpai di atas permukaan tanah. Makanan dari jenis-jenis kelampiau ini berupa buah-buahan, dedaunan, bunga dan jenis-jenis serangga. Menurut masyarakat sekitar khususnya suku dayak, kelampiau merupakan jenis satwa yang dilindungi secara adat sehingga tidak boleh diburu oleh masyarakat. Kondisi ini tentunya sangat menguntungkan bagi upaya pelestarian dimana aturan adat pun turut mendukung pelindungan jenis-jenis satwa khususnya kelampiau. Sehingga apabila budaya seperti ini tetap bertahan tentu populasi satwa khususnya kelampiau ini akan tetap terjaga.

thanks to : Entol Mochamad Afnan

3 Comments

Leave a Reply