Hari Jum’at tanggal 15 April 2011 sekitar pukul 15.00 WIB, tim eksplorasi evolusi 8 Divisi Konservasi Insekta (DKI) gelombang pertama memulai perjalanan menuju Resort Gunung Bunder Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Pamijahan, Kabupaten Bogor. Tim eksplor gelombang pertama ini terdiri atas angkatan 8: Yaumil, Lisa, dan Aldi; angkatan 7: Irfan dan Azra; dan angkatan 6; Wathri. Keberangkatan tersebut mundur sekitar satu jam dari jadwal yang telah direncanakan karena salah satu anggota yang masih memiliki kepentingan. Perjalanan ditempuh kurang dari satu setengah jam dengan mobil alias angkot.

Sesampainya di tempat pemberhentian, yaitu di Pasir Reungit dekat kawasan wisata Curug Ngumpet kami terkendala menuju perkemahan karena kami tidak memegang SIMAKSI sebagai tiket masuk memasuki kawasan. SIMAKSI tersebut dipegang oleh Gilang yang memang saat itu masih dalam perjalanan dari Balai TNGHS Kabandungan untuk mengurus SIMAKSI. Akhirnya, Wathri sebagai ketua divisi yang saat itu bertanggung jawab juga perihal kegiatan ini ‘berdiskusi’ dengan pihak setempat. Sembari menunggu, kami menunaikan shalat Ashar dan istirahat sejenak. Sekitar pukul 17.30 WIB kami memulai perjalanan menuju perkemahan. Perkemahan yang kami tuju tidak begitu jauh dan hanya memakan waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Jalan yang kami lalui sudah dibuat jalan setapak yang berbatu sehingga tidak sulit dilalui. Akhirnya, tepat menjelang beberapa menit menuju maghrib kami sampai di perkemahan yang dikelilingi pohon pinus dan segera mendirikan tenda. Sebenarnya, rencana awal kami adalah berkemah di HM75 yang  masih sekitar ±1,5 km ke atas. Kami tidak berkemah di sana karena di tempat tersebut sudah tidak diperkenankan dijadikan perkemahan. Hal tersebut dikarenakan adanya program penghijauan di lahan yang bersangkutan.

Sekitar pukul 20.00 WIB Gilang dan Heri tiba di tenda disusul Dika (yang sebenarnya juga pergi bersama mereka). Akhirnya, setelah melalui proses panjang nan berliku, lengkaplah Tim Eksplorasi Evolusi 9 DKI. Lengkapnya anggota tidak seiring membuat patuhnya kami terhadap jadwal yang telah disusun. Rencana tagging dan pengamatan malam pada hari pertama tidak terlaksana karena tidak hadirnya guide yang bersangkutan dan jadwal kegiatan yang terlalu mundur. Oleh karena itu, malam tersebut hanya kami isi dengan makan, masak (bagi yang ingin dan membutuhkan) yang dilanjutkan dengan makan, dan mengobrol. Sebelum tidur, kami pun ‘didongengkan’ cerita oleh Gilang mengenai seorang anak kecil dan jangkrik (lebih lanjut, silakan tanya orang yang bersangkutan). Akhirnya, ditemani angin yang dinginnya merasuk tubuh kami pun terlelap tidur.

Esok harinya, sekitar pukul 05.00 WIB sebagian dari kami, yaitu para wanita dan Gilang memutuskan untuk bangun dan segera shalat Shubuh. Saat hendak shalat Shubuh, masih saja kami meragukan arah kiblat. Akhirnya, Kak Gilang berinisiatif memanfaatkan aplikasi kompas dalam handphonenya. Penentuan arah kiblat dengan kompas tersebut tidak malah menjadi mudah kerena kurangnya pengetahuan yang pasti mengenai tanda arah utara dan selatan. Setelah melalui proses yang rumit, diputuskan arah kiblat berlawanan arah dengan arah kiblat yang para wanita gunakan saat shalat Maghrib dan Isya kemarin. Selesai shalat, kami pun menemukan fakta—saat matahari terlihat terbit bahwa arah kiblat yang sebenarnya adalah berlawanan arah dengan arah kiblat yang kami gunakan saat shalat Shubuh. Jadi, untuk selanjutnya setidaknya tidak akan keliru kembali.

Menunggu waktu pengamatan pagi, sebagian dari kami memasak dan yang lainnya melakukan tagging untuk jalur pengamatan.  Sekitar pukul 09.00 WIB sebagian dari kami ditemani seorang guide melakukan pengamatan dalam satu jalur sepanjang 500 m per 20 m dimulai dari  HM 85 di jalur pendakian Salak 1. Pengamatan yang kami lakukan menggunakan metode transek jalur dengan teknik direct sweeping. Jalur yang kami lewati berbatu dan ada yang berupa tanah licin dengan vegetasi dominan perdu dan semak. Sepanjang jalur tersebut perjumpaan serangga cukup memenuhi  harapan. Namun, setidaknya kami mendapatkan kupu-kupu endemik spesies Taenaris horsfieldi. Selain serangga, kami juga menenukan laba-laba macan yang cukup besar dengan warna hitam. Akhirnya, sekitar pukul 11.00 WIB kami kembali ke tenda dengan membawa berbagai serangga untuk diidentifikasi.

Sore harinya, sebagian dari kami melakukan penanaman pitfall trap untuk pengamatan. Jebakan tersebut ditanam sepanjang jalur pengamatan mulai meter ke-140 sebanyak 10 buah. Metode tersebut dilakukan lebih untuk memperkenalkan aplikasi langsung kepada angkatan 8. Pitfall trap tersebut dibiarkan selama semalaman untuk keesokan harinya diambil. Pengamatan selanjutnya dilakukan pada malam hari yang sebelumnya turun hujan pada jalur yang sama menggunakan teknik time search selama dua jam. Serangga yang ditemukan cukup bervariasi dan pastinya berbeda saat pagi hari. Beberapa serangga  yang ditemukan adalah dua jenis belalang ranting, wereng-werengan, jangkrik, berbagai macam kumbang, dan ngengat. Selain itu, ada belalang sembah yang masih berupa nimfa dan banyak dijumpai beragam kecoak/blatodea. Saat pengamatan malam tersebut, salah satu dari kami mendapatkan jackpot karena lintasan yang licin menanjak dan beruntungnya masih sempat terdokumentasikan.

Keesokan harinya, kami melakukan pengamatan pagi untuk terakhir kalinya sebelum pulang. Pengamatan tersebut masih dilakukan pada jalur yang sama dengan teknik direct sweeping. Pengamatan kali ini kami ditargetkan untuk mendapatkan satu jenis kupu-kupu yang kami jadikan target yang harus didapatkan oleh angkatan 8 selain Taenaris horsfieldi, yaitu Faunis canens. Kami akhirnya mendapatkan satu target, yaitu Faunis canens. Namun, kami juga menemukan dua tonggeret di tempat yang berbeda. Setelah itu, kami tak lupa untuk mengambil pitfall trap yang telah ditanam pada hari yang lalu. Hasil pitfall trap tersebut tidak terlalu banyak didapat jenis serangga. Akhirnya, rangkaian pengamatan langsung pun berakhir. Proses selanjutnya adalah melakukan  identifikasi serangga yang didapat.

Sore harinya kami bersiap diri untuk pulang. Sekitar pukul 17.00 WIB kami telah tiba di bawah tempat menunggu angkot yang menjemput. Namun, angkot tersebut tak dapat datang sesuai jadwal yang telah disepakati karena hal tertentu. Akhirnya, sembari menunggu sebagian dari kami membuat laporan sementara dan setelahnya shalat Maghrib. Setibanya angkot, kami segera bergegas dan sebelum melanjutkan perjalanan kami singgah di resort untuk menyerahkan data laporan sementara dan izin pulang. Sekitar pukul 19.30 WIB kami pun tiba di Darmaga yang menandakan berakhirnya perjalanan dari rangkaian kegiatan eksplorasi ini.

One Comment

Leave a Reply