Cukup menarik ternyata dalam mempelajari ekologi harimau, banyak hal unik yang bisa kita pelajari dari kehidupan jenis kucing besar ini. Mulai dari perilaku menandai wilayah, cara berkomunikasi ala harimau, dan persebarannya yang mengikuti pola sebaran satwa mangsa.

Kegiatan yang bertajuk BEKANTAN (Bincang Edukasi Konservasi tentang Alam dan Lingkungan) ini merupakan agenda rutin dari Uni Konservasi Fauna (UKF) IPB yang bertujuan untuk belajar, sharing, dan bertukar informasi mengenai dunia pelestarian fauna. Materi BEKANTAN kali ini adalah mengenai ekologi dan konservasi harimau, dengan pembicara dari Forum Harimau Kita (FHK) yaitu mbak Wulan Pusparini dan Bapak Hariyo T. Wibisono. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 7 Mei 2011 di ruang kuliah Pinus 2 Fakultas Pertanian IPB. Acara ini dihadiri sekitar 60 peserta yang terdiri dari mahasisiwa dan rekan-rekan dari NGO yang peduli terhadap harimau. Rekan mahasiswa yang hadir selain dari Institu Pertanian Bogor (IPB) juga ada dari Universitas Nasional (UNAS) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Meskipun waktu dimulainya acara agak “ngaret” namun tidak mempengaruhi kemeriahan acara ini.

Tepat pukul 10.00 WIB acara dibuka oleh MC yang sekaligus berperan sebagai moderator yaitu Wahyu Iskandar (anggota UKF angkatan 6). Kemudian MC mempersilahkan kepada kedua pembicara untuk maju lalu memperkenalkannya sambil membacakan CV. Acara selanjutnya adalah penyampaian materi dan akan disambung dengan tanya jawab di akhir presentasi. Materi pertama adalah tentang ekologi harimau yang akan disampaikan oleh mbak Wulan. Beliau merupakan peneliti harimau di WCS (Wildlife Concervation Society) yang cukup berpengalaman.

Mbak Wulan menjelaskan bahwa harimau (Panthera tigris) merupakan jenis mamalia karnivora berukuran besar. Kata Panthera sendiri memiliki arti “mengaum”. Penyebarannya di Dunia meliputi daerah Asia dan Rusia. Terdapat 8 subspesies harimau dan 3 diantaranya sudah dinyatakan punah. Subspesies yang dinyatakan punah adalah harimau kaspia (P.t. virgata) harimau jawa (P.t. sondaica), dan harimau bali (P.t. balica). Persebaran harimau di Dunia ternyata mengikuti pola sebaran satwa mangsa yang paling disukainya yaitu Cervidae (rusa) dan Bovidae (kerbau). Harimau bisa hidup di berbegai tipe habitat mulai dari daerah beriklim dingin (es), padang savana, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, daerah rawa gambut, dll.

Harimau berburu mangsanya dengan cara mengendap-ngendap dan biasanya memilih mangsa yang berukuran besar seperti rusa, babi, kijang, dll. Harimau jarang memilih mangsa berukuran kecil karena energi yang dikeluarkan untuk berburu sangat besar, sehingga tidak sebanding energi yang dikeluarkan dengan hasil yang didapat jika ia memangsa mangsa yang berukuran kecil.

Harimau hidup secara teritorial namun tidak sendirian. Mereka bisa saling berkomunikasi meskipun saling berjauhan. Cara berkomunikasinya juga unik terutama untuk menandai wilayahnya. Mereka meninggalkan tanda berupa urin, feses, cakaran di tanah, dan cakaran di pohon. Harimau jantan wilayah jelajahnya lebih luas dari betina. Wilayah jelajah 1 jantan dewasa meliputi 2-3 betina dewasa. Wilayah jelajahnya juga bervariasi, untuk harimau sumatera mimiliki wilayah jelajah 20-250 km2.

Selama kurang lebih 30 menit mbak wulan menjelaskan mengenai ekologi harimau secara singkat, jelas, dan padat. Selanjutnya materi disampaikan oleh pak Hariyo mengenai konservasi harimau sumatera dan pengenalan Forum Harimau Kita. Pak hariyo menjelaskan bahwa habitat utama harimau sumatera saat ini hanya tiga lokasi yang paling memenuhi standar untuk kelestarian, yaitu ekosistem Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan. Sedangkan lokasi-lokasi lainnya sangat rentan bagi harimau.

Populasi harimau sumatera saat ini diperkirakan sekitar 400-500 ekor. Namun data ini juga masih memiliki kelemahan karena merupakan sebuah data penaksiran dan survey belum dilakukan secara menyeluruh di habitat yang masih terdapat harimau. Beliau juga menjelaskan mengenai kasus-kasus harimau sumatera selama ini, seperti perburuan harimau, konflik dengan masyarakat, hingga perdagangan bagian-bagian tubuh harimau. Semua permasalahan yang telah dipresentasikan oleh pak Hariyono semakin menambah wawasan bahwa upaya konservasi harimau sumatera sangatlah kompleks. Perlu perhatian dan kerjasama semua pihak untuk menyelamatkan harimau terakhir Indonesia ini. Pada tahun 2008 akhirnya terbentuklah Forum Harimau Kita (FHK). Sebuah wadah untuk menampung orang-orang yang ingin berpartisipasi dan menaruh perhatian terhadap kelestarian harimau sumatera. Bentuk keanggotaannya secara individu dan tidak membawa nama organisasi atau lembaga. Jadi siapapun bisa menjadi anggota FHK baik dari kalangan mahasisiwa, praktisi, pemerintahan, privat sector, NGO, dan umum.

Setelah presentasi selesai dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Antusiasme peserta yang hadir sangat tinggi, terbukti dari banyaknya jumlah penanya dan diskusi berjalan sangat interaktif. Menarik memang mebicarakan harimau, apalagi masalah-masalah yang terjadi saat ini. Laju pertumbuhan manusia serta tingginya laju pembangunan merupakan ancaman tersendiri bagi harimau.

Akhirnya acara ditutup dengan penyerahan tanda terima kasih dan diakhir acara ada pemutaran film pendek tentang Black Market perdagangan satwaliar.

Save Sumatran Tiger! (Nank.kh)

10 Comments

Leave a Reply