Kotoran badak Sumatera memiliki karakteristik tersendiri, sangat mudah dikenali walaupun telah dikeluarkan beberapa minggu sampai beberapa bulan sebelumnya. Tiap pengeluaran terdiri atas 10 atau lebih bola-bola bulat atau lonjong, berdiameter 1-9 cm dan secara keseluruhan beratnya 2,5-6,5 kg. Kotoran segar berwarna coklat kekuning-kuningan, tetapi langsung berwarna coklat gelap bila terkena udara. Di dalam air warna yang lebih cerah akan bertahan cukup lama. Bau kotoran badak Sumatera tidak terlalu tajam dan sangat mirip bau kotoran kuda. Badak Sumatera terutama membuang kotorannya di sekitar pelintasan utamannya atau ke dalam air. Tumpukan kotoran terdapat di atas atau di dekat satu atau dua tumpukan kotoran lainnya.

Tempat berkubang badak Sumatera sering terdapat di atas bukit, dibuat kolam air hujan dan digali oleh badak itu sendiri. Badak Sumatera menggali kubangannya dengan jalan mengais-ngais kaki dilekukan tanah yang bertanah liat, lunak dan lembab. Mereka menggali lubang dari tepi dengan cula dan kakinya, sedemikian sehingga membentuk dinding vertikal di sisi-sisi kubangan. Penggunaan yang berulang-ulang menyebabkan kubangan menjadi lebih dalam.

 

Jenis makanan yang di sukai badak Sumatera kebanyakan di temukan di daerah perbukitan, berupa tumbuhan semak dan pohon-pohonan.  Merumput tidak dilakukan kecuali untuk jenis-jenis bambu seperti Melocana bambusoides.  Terdapat 102 jenis tanaman dalam 44 familia tanaman yang disukai badak Sumatera.  Sebanyak 82 jenis tanaman dimakan daunnya, 17 jenis dimakan buahnya, 7 jenis dimakan kulit dan batang mudanya dan 2 jenis dimakan bunganya.  Tanaman yang mengandung getah disukai oleh badak Sumatera seperti daun manan (Urophylum spp) yang tumbuh di tepi bukit.  Daun nangka (Artocarpus integra) juga adalah merupakan makanan kegemarannya.  Bunga dari tenglan (saraca spp) juga merupakan makanan badak Sumatera.  Latex dari jenis tanaman yaitu rengas (Melanorhea spp) yang mempunyai pengaruh kurang baik terhadap kulit manusia dengan gejala gatal-gatal, perih, panas dan membengkak justru jenis ini adalah makanan badak Sumatera.

  • Badak Sumatera merupakan badak terkecil dan jenis yang paling primitif dari kelima jenis badak yang masih hidup di dunia.
  • Tubuhnya ditumbuhi rambut yang berukuran pendek dan jarang, sehingga sering disebut fosil hidup atau badak primitif.
  • Tinggi badak Sumatera diukur dari telapak kaki sampai bahu antara 120-135 cm, panjang dari mulut sampai pangkal ekor antara 240-270 cm.
  • Berat tubuhnya dapat mencapai 909 kg.
  • Tubuhnya gemuk dan agak bulat, kulitnya licin dan berambut jarang, menarik perhatian dengan adanya dua lipatan kulit yang besar.
  • Lipatan pertama melingkari pada paha diantara kaki depan, dan lipatan kedua di atas abdomen dan bagian lateral.
  • Di atas tubuhnya tidak ada lipatan, jadi lipatan kulit tampak nyata dekat kaki belakang dan lipatan bagian depan dekat kedua culanya.
  • Cula bagian depan (anterior) di atas ujung dari moncongnya jauh lebih besar dari cula bagian belakang (pasterior). Cula belakang terletak di atas matanya dan sering kali hanya merupakan gumpalan yang tidak lebih besar ukurannya dari cula depan.

(http://www.badak.or.id)

Badak Sumatera hidup secara soliter dengan pengecualian pada induk betina dan anaknya; badak jantan hidup soliter tetapi mendatangi badak betina untuk kawin. Badak jantan dan betina matang secara seksual pada umur 7 sampai 8 tahun. Masa kehamilan badak kira-kira 17 bulan, interval jarak kelahiran setiap anak badak setiap 3 atau 4 tahun. Batas umur kira-kira 32 tahun.

Badak Sumatera mempunyai penciuman dan pendengaran yang sangat tajam dan halus meskipun penglihatannya ternyata tidak baik.

Torgamba merupakan badak asal Sumatera yang ditangkap pada 1985 silam di Riau. Sejak 1985, Torgamba dititipkan di Howlett and Port Lympne Zoo (kebun binatang) Inggris. Sebab, kala itu pemerintah Indonesia belum memiliki tempat untuk menangani hewan jenis badak. Usia Torgamba pada saat itu sekitar 4 tahun. Torgamba mengalami problem dengan gangguan ditelapak kaki dan kuku, semuanya radang dan sakit, hal ini karena lantai yang keras dan kaku selama perjalanan hidupnya. Disana dia diberi obat penyembuh luka dan penumbuh kuku, bukan hanya kuku yang sembuh tapi culanya tumbuh tak terkendali. Dinginnya salju di Inggris membuatnya merana, bukan hanya itu saja tetapi makanannya pun terkadang diberi roti, coklat, dan jerami. Kemudian, pada 1998 badak penyuka dedaunan seperti mahang (Macaranga), akar mencret (Meremia peltata), pulai (Alstonia scolaris) ini kembali ke negara asalnya Indonesia, dan ditempatkan di penangkaran SRS TNWK Lampung Timur. Keesokan harinya datanglah badak betina dari Taman Safari Bogor Indonesia, 4 tahun di SRS barulah Torgamba berhasil kawin dengan sempurna itupun dibantu para keeper, banyak kendala, diantaranya : tubuhnya lebih pendek dari Badak Betina yang bernama Bina dan Bina tidak mempunyai ekor yang menyebabkan Torgamba kesulitan untuk menentukan orientasi penetrasi. Setelah itu Torgamba didiagnosa oleh dokter hewan di SRS potensial mandul dimana jumlah dan kualitas spermanya sangat rendah.

Sejak awal 2006 Torgamba mengalami penurunan kondisi yang drastis. Hasil diagnosa para dokter hewan SRS, Torgamba terindikasi gangguan ginjal kronis, terpapar parasit darah, gangguan metabolisme, indikasi keracunan zat kimia tertentu, dll. Memang tidak ada penyakit yang sangat berbahaya tetapi akumulasi kasus dan umur yang beranjak tua membuat kondisinya turun drastis, berat badannya bahkan hilang sampai hampir 100 kg. Pada awal 2007, Torgamba bisa kembali mengawini Bina , tetapi tiba-tiba kondisi tubuhnya turun drastic, diawali dengan gangguan pada kedua matanya yang bengkak, perih, memerah dan pandangannya mulai kabur kemudian dokter hewan memberikannya infuse. Dia pun memiliki masalah pada gigi yaitu dibeberapa bagian ada yang tidak rata sehingga ia sulit mengunyah makanan. Memasuki 2008 kondisinya masih stabil dan terus bisa mengawini betina pasangannya, tetapi pada hari Sabtu (23/4) di Suaka Rhino Sumatera (SRS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Torgamba harus meninggalkan kita semua, menyusul memburuknya kondisi kesehatannya akibat penyakit ginjal kronis.

(http://forumbadak.wordpress.com , http://lampung.tribunnews.com , http://www.civas.net)

One Comment

Leave a Reply