Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Artiodactyla; Famili: Suidae; Genus: Sus; Spesies; Sus verrucosus (Muller 1840).

Deskripsi, Ciri Fisik, dan Kebiasan

Ciri khas babi kutil atau babi jawa (Sus verrucosus) adalah adanya surai atau bulu panjang yang mulai dari leher, sepanjang tulang belakang, hingga mencapai pangkal ekor. Selain itu juga memiliki tiga pasang kutil (benjolan daging yang mengeras) di wajahnya.

Panjang tubuh sekitar 90-190 cm dengan tinggi bahu berkisar antara 70-90 dengan berat bervariasi antara 44-108 kg. Bulu tubuhnya berwarna kuning kemerahan hinga hitam. Ekornya panjang dan berumbai ujungnya. Kakinya lebih ramping dan memanjang. Babi kutil dapat berusia 10-14 tahun.

Babi kutil merupakan hewan nokturnal yang soliter, namun kadang berkelompok. Merupakan omnivora meskipun lebih sering memakan tumbuhan seperti daun, akar dan umbi-umbian, kulit kayu, atau batang, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

Saat merasa terancam surai di leher dan punggungnya akan berdiri. Sedangkan untuk berkomunikasi dengan sesama mereka, terutama saat memperingatkan bahaya, babi kutil mengeluarkan suara melengking.

Persebaran, Habitat, dan Konservasi

Babi kutil atau babi goteng, Sus verrucosus, merupakan babi liar yang endemik untuk P. Jawa dan P. Bawean. Populasinya yang dahulu pernah ada di P. Madura sekarang diyakini telah punah (Semiadi & Meijaard 2006). Habitatnya adalah hutan sekunder dataran rendah hingga ketinggian 800 meter dpl.

Pada tahun 2000, The IUCN Species Survival Commission menempatkan Sus verrucosus dalam katagori ‘Endangered’, atau sebagai jenis yang menghadapi kemungkinan kepunahan di alam yang cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan karena penurunan populasi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, terfragmentasinya populasi yang demikian tinggi atau terjadinya penurunan sub-populasi serta jumlah individu dewasa (IUCN 2000). Sampai saat ini Indonesia belum memasukkan babi kutil ke dalam satwa liar yang harus dilindungi.

Ancaman kepunahan babi kutil di Indonesia disebabkan karena hilangnya habitat babi ini untuk dijadikan permukiman dan daerah pertanian oleh penduduk. Selain itu babi ini sering diburu karena merusak area pertanian dan ada sebagian penduduk yang memanfaatkannya sebagai bahan makanan.

Untuk itu diperlukan usaha dalam penyelamatan dan melestarikannya. Usaha yang dapat dilakukan antara lain adalah merehabilitasi kembali sebagian habitatnya untuk tempat tinggal alami babi (konservasi in-situ) atau dengan penangkaran (konservasi ex-situ). Mengetahui status kesehatan babi yang dipelihara merupakan hal yang penting untuk mencapai keefektifan manajemen pemeliharaan, selain untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh babi lebih luas.

Manajemen Kesehatan

Untuk menangkarkan babi kutil, para penangkar sebaiknya mengecek kesehatan dari hewan tersebut. Biasanya babi kutil membawa endoparasit di dalam fesesnya seperti Ascaris sp., Oesophagostomum sp., Eimeria sp., dan Balantidium coli yang mana dapat membahayakan jika terjadi penyebaran penyakit tersebut (Dewi K & Nugraha RTP 2007).

 

Daftar Pustaka

Dewi K, Nugraha RTP. 2007. Endoparasit pada feses babi kutil (Sur verrucosus) dan prevalensinya yang berada di kebun binatang Surabaya. Zoo Indonesia 16:13-19.

Semiadi, G & E Meijaard. 2003. Survai keberadaan babi kutil (Sus verrucosus) di Pulau Jawa dan sekitarnya. Laporan Akhir Puslit Biologi LIPI & IUCN. 123 pp.

One Comment

Leave a Reply