Apapun yang terjadi, adalah jelas bahwa penghancuran sumber-sumber alam yang maha dahsyat yang telah dan bersifat bunuh diri haruslah sesegera mungkin diakhiri jika spesies manusia ini mau selamat di atas dunia ini.

(Octavio Paz, penyair besar Mexico, dalam esainya The Other Voice)

I

 

Konservasi, secara etimologi berasal dari kata serapan bahasa inggris, conservation.  Sedangkan conservation berasal dari kata con (menjaga) dan servare (bersama-sama). Dari pendekatan etimologis ini, konservasi alam berarti, menjaga alam secara kolektif atau bersama-sama secara arif dan bijaksana.

Sebenarnya ada beberapa definisi konservasi alam yang digunakan oleh beberapa lembaga dunia, misalkan IUCN mendefinisikan konservasi, merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan.

WCS mendefinisikan konservasi alam sebagai,  manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang.

Setiap definisi yang dihimpun oleh suatu lembaga biasanya terkait dengan konsep pergerakan pelestarian alam ataupun juga metode yang digunakan dalam mengimplementasikan gagasannya.

Namun demikian, tiap individu, lembaga, perkumpulan atau komunitas berhak membuat suatu definisi, konsep, metode konservasi alam sesuai dengan konteksnya masing-masing. Lantas apakah definisi penting atau tidak? Mengingat masyarakat adat atau masyakat yang masih “murni” interaksinya dengan alam tanpa memiliki definisi yang literer, ternyata, memiliki kearifan hidup yang mempu membikin semacam tata hidup yang sangat menghormati alam, bahkan menganggap alam adalah ibu yang harus dijaga karena telah mengasuh mereka. Seperti pandangan suku-suku Indian di benua Amerika.

 

Di Indonesia dengan beratus suku tentu memiliki pemahaman tersendiri terkait dengan interaksinya dengan alam. Di Jawa dalam pewayangan misalnya, hutan dengan kemurniannya yang dihuni berbagai makhluk dan bentuk kehidupan adalah tempat kembali, seperti dalam epos besar mahabharata, ketika tua dan tidak lagi duduk di singgasana, para raja pergi ke hutan bertapa untuk mensucikan diri sebelum kembali ke suralaya. Ritus ini masih di hayati sebagian masyarakat jawa ketika akan melakukan semacam tirakat di dalam hutan, kita bisa menyaksikannya di Taman Nasional Alas Purwo dan Ujung kulon.

 

Definisi, konsep, metode dalam tataran literer barangkali tidak harus, tapi perlu. Namun, dalam dimensi etis, spiritual dan pemikiran mungkin menjadi penting, minimal sebagai warisan untuk disampaikan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya, seperti yang dilakukan oleh suku-suku yang belum mengenal aksara.

 

II

 

Bagi kita yang penting adalah memahami secara mendalam, apakah alam, apa hubungan manusia dan alam.

 

Dari pemahaman yang paling dasar , alam bisa dikatakan sebagai segala sesuatu yang ada di dunia ini. Sesuatu yang murni apa adanya, memiliki alur yang teratur atau struktur yang penuh dengan misteri, dan manusia dalam sejarah peradapannya secara terus-menerus berusaha menguak misteri itu yang tergelar di alam ini. Walaunpun sampai detik ini, alam masih menawarkan rahasia pada kita, dan rahasia itu terus menstimulus manusia untuk berfikir bahwa ada sesuatu yang belum selesai diketahui. Barangkali kondisi ini akan abadi dan kita akan sadar akan keterbatasan diri.

 

Kita bagian dari alam. Kita adalah komponen biotik di alam ini. Kita membutuhkan alam untuk hidup. Tapi, alam tidak membutuhkan manusia dalam menjalankan siklusnya. Justru karena “kejatuhan” manusia di alam ini, menimbulkan semacam tragedi ekologi yang memilukan. Pertambangan yang membikin padang pasir hutan belantara. Penebangan besar-besaran oleh pengusaha kayu yang membikin gundul hutan. Pencemaran limbah di sungai dan lautan yang membuat biota air mati dan nelayan kehilangan mata pencaharian. Pencemaran udara yang menimbulkan gas rumah kaca sebagai  salah satu penyebab pemanasan global.

 

Kita bisa menderetkan berbagai pengrusakan alam yang dibikin manusia di atas muka bumi ini. Walaupun, kita, manusia, dapat berdalih bahwa apa yang kita eksploitasi di alam ini dalam usaha untuk memenuhi penghidupan dan kesejahteraan. Lantas apakah dengan justifikasi seperti itu pengrusakan jadi terlegitimasi?  Pertanyaan ini akan terjawab, walaupun di dalam hati, ketika bencana tengah terjadi, seperti banjir, longsor, keracunan sehabis menkonsumsi ikan yang airnya telah tercemari limbah pabrik atau tambang, serangan ulat bulu karena predator utama burung telah langka karena diburu; monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan babi hutan (Sus scrofa) merambah tananaman di ladang dan sawah yang berada di tepi hutan karena predatornya, macan tutul (Panthera pardus), nyaris punah, juga karena di buru; makin banyaknya penyakit yang diidap manusia karena terlalu sering mengkonsumsi makanan dari hasil rekayasa genetika, baik berupa daging, buah dan sayuran.

 

Kita tahu, Indonesia memiliki kekayaan alam yang meruah, tapi, seketika itu juga kita tercengang dengan laju perusakan hutan seluas dua kali lapangan sepak bola perdetik. Dengan itu, Indonesia tercatat dalam guiness book of record sebagai negara nomer wahid tercepat dalam laju penebangan hutan di dunia.  Namun, disisi lain kemiskinan masih merajalela. Jadi, siapa sebenarnya yang memanfaatkan sumberdaya alam kita.

 

Sungguh mencemaskan.

 

 

III

 

Dengan realitas alam kita, mungkin juga di belahan dunia lainnya, gerakan hijau yang didalamnya juga konservasi alam menjadi nyaris mutlak diperlukan. Di sinilah sebenarnya posisi orang-orang yang selalu menyuarakan kelestarian alam dan keselarasan hidup dengan alam menjadi sangat penting dan vital untuk dapat lebih intens dan konsisten bergerak dengan berbagai pendekatan pemikiran dan keilmuan, misalnya bagaimana pendekatan ekologis dielaborasikan dengan ilmu-ilmu humaniora.

 

Pemahaman lintas disiplin keilmuan dan tinjauan terhadap seluruh aspek aktivitas maupun profesi yang diemban seluruh masyarakat lebih memungkinkan untuk menelisik lebih dalam permasalahan lingkungan secara fundamental dan menyeluruh.  Misalnya gerakan pertanian organik, di sini kita akan menemukan suatu proses pertanian yang lebih mengutamakan mekanisme pengolahan tanah hingga penjualan prosuk pertanian dengan prinsip-prinsip yang sangat mengutamakan pendekatan ekologis dan berkeadilan.

 

Pada gerakan pertanian organik ini, kita tidak hanya mendapatkan produk pertanian yang sehat dan bebas dari bahaya bahan kimia yang ada di pupuk maupun pengendali hama, tapi juga lahan pertanian dengan ekosistem  yang sangat menghargai seluruh organisme yang berperan dalam penyuburan tanah. Sedangkan sistem pengendali hama dengan memanfaatkan predator alamiah dan pestisida botani.

 

Gerakan hijau lainya, misalnya daur ulang sampah baik yang organik mapun anorganik; menggunakan sumberdaya sebagaimana mestinya terutama dalam kehidupan kita sehari hari.

 

Dengan demikian gerakan hijau tidak hanya identik dengan aktivitas menanm pohon semata, walaupun itu harus kita laksanakan secara kontinu, tapi memiliki cakupan kerja yang sangat luas, bahkan kita bisa mengatakan “di mana ada aktivitas manusia, di situ gerakan hijau niscaya disematkan”. Di sini gerakan hijau yang didalamnya juga konservasi alam bersentuhan dengan pemahaman mendasar perihal deep ecology, kita bisa mengatakan sebagai pemahaman etis dan spiritual bagaimana manusia mengahayati keberaannya di bumi ini dengan kesadaran penuh bahwa ia sebagai makhluk ekologis, sosial dan spiritual.  Deep ecology tidak lagi menempaatkan tumbuhan, hewan dan siklus ekologi di alam ini hanya sebagai obyek, melainkan subyek yang memiliki nilai tersendiri dan bisa bebas dari penilaian manusia yang kadang bersifat represif.

 

Oleh karena itu, sudah selayakya penghormatan terhadap alam adalah bagian dari pengertian hidup yang ada di dalam jiwa kita. Tentu saja perngertian ini akan lebih bermakna apabila menjadi tindakan kita dalam keseharian.

 

IV

 

Sudah waktunya kita mengubah cara pandang kita terhadap alam. Cara pandang dengan pendekatan holistik atau menyeluruh.  Bukan lagi cara pandang  Anthroposentris akut, suatu pemahaman yang hanya menjadikan manusia pusat dari segala hal. Seakan yang berkepentingan di bumi ini hanya manusia semata. Pahadal kalau kita hayati secara mendalam, yang membutuhkan kenyamanan hidup itu bukan hanya manusia, melainkan juga makhluk hidup yang lainnya.

 

Sedangkan kodrat makhluk hidup diluar manusia sepertinya sama sekali tidak membutuhkan manusia untuk memenuhi kehidupannya, tapi manusia sudah pasti sangat tergantung pada mahkluk hidup lainya untuk menunjang kelestarian hidupnya di atas muka bumi ini.

 

Pengertian yang sederhanan bahwa kita bagian dari kompenen ekosistem di bumi ini, akan lebih mendekatkan kita dengan kearifan dan kebahagiann hidup, lahiriah dan batiniah. Semoga.

 

Bogor, 29 September 2011

Oleh : Fatkurrahman Abdul Karim

 

Leave a Reply