Populasi Harimau sumatera terus mengalami penurunan akibat terkikisnya habitat dan konflik dengan manusia. Habitat harimau sumatera kian mengalami penyempitan akibat alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan juga pembangunan daerah, hal tersebut membawa dampak pada konflik antara harimau sumatera dengan manusia. Karena dengan penurunan kuantitas dan kualitas habitat akan berpengaruh positif dengan populasi satwa pakan dan daerah jelajah harimau sumatera. Selain itu, perdagangan satwa juga sangat mempengaruhi penurunan populasi harimau sumatera. Bagi kebanyakan masyarakat, pemanfaatan harimau sumatera masih sebatas pada pemanfaatan nilai estetika dan nilai ekonomi dan belum diimbangi dengan kesadaran akan nilai ekologi dari harimau sumatera sebagai bagian dari subyek yang berperan aktif dalam keseimbangan alam.

Peran aktif masyarakat dalam usaha konservasi harimau sumatera menjadi mutlak diperlukan. Bukan hanya masyarakat lokal bahkan masyarakat dunia menjadi bagian penting dalam usaha konservasi harimau sumatera. Karena harimau sumatera merupakan spesies terakhir yang masih ada setelah sebelumnya harimau bali dan harimau jawa dinyatakan punah. Usaha konservasi harimau sumatera membutuhkan kerjasama antar berbagai pihak yang berkepentingan dan memerlukan strategi konservasi yang tepat dan berkesinambungan.

Menyikapi hal tersebut, pada hari kamis lalu (17/11/11) bertempat di gedung alumni IPB Baranang Siang, Forum HarimauKita menyelenggarakan simposium bertajuk The Strategic Role of Conservation Capacity Building, A Lesson Learnt From the Global Initiative Program. Sebuah acara yang diselenggarakan untuk peningkatan kapasitas pada strategi konservasi dengan mengambil pelajaran dari inisiatif program dunia. Acara tersebut menghadirkan dua pembicara yakni Dr. Mahendra Shresta yang merupakan direktur Save the Tiger Fund (STF) dan Hariyo T. Wibisono, MSc sebagai ketua umum forum HarimauKita, serta Effendy Sumardja, MSc selaku moderator symposium.

Pada kesempatan itu, Dr. Mahendra menghimbau bahwa konsentrasi permasalahan global pada harimau hingga saat ini adalah masalah perdagangan harimau yang membawa dampak negatif terhadap populasi harimau di dunia dan salah satu bentuk peningkatan kapasitas dalam usaha konservasi adalah dengan merangkul berbagai pihak yang berwenang dan berkepentingan. selain itu, disampaikan juga beberapa model program konservasi harimau sumatera yang dilakukan di beberapa negara seperti Cina, India, Rusia, Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Sebagai pembicara kedua pada acara simposium, Hariyo T. Wibisono, M.Sc mengawali pembicaraan dengan memberikan keterangan terkait Forum HarimauKita (FHK) dan perkembangan anggota serta program kerja didalamnya. Setelah itu, beliau menjelaskan bahwa pada suatu intervensi terhadap program konservasi akan menghasilkan respon utama berupa peningkatan jumlah, kestabilan jumlah, atau justru penurunan yang mengarah pada kepunahan.

Untuk mengetahui kelestarian dari harimau sumatera bisa diperoleh dari sebaran dan populasinya. Cara melihat respon yang dihasilkan salah satu nya adalah dengan melihat ukuran (kecenderungan) populasi. Parameter populasi yang dapat dijadikan sebagai indikator diantaranya adalah kerapatan individu, kerapatan absolut, dan proporsi penggunaan area/wilayah. Sebaran harimau sumatera saat ini telah mengalami fragmentasi. Di sekitar Provinsi Riau penggunaan wilayah oleh harimau sumatera cenderung rendah. Faktor yang menentukan distribusi harimau diantaranya adalah elevasi, banyak petak/fragmentasi hutan, bukaan hutan, dan batas kawasan.

Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan diskusi antara pembicara dengan para tamu undangan yang kebanyakan berasal dari kalangan NGO, aktivis lingkungan, dan mahasiswa. Kemudian diakhiri dengan foto bersama seluruh partisipan acara simposium untuk mengabadikan momen kebersamaan.

Leave a Reply