“Monitoring Migrasi Burung Pemangsab di Kampus IPB Darmaga”

Awal Oktober yang lalu mas Asman A. Purwanto yang saat itu sedang berada di Thailand menanyakan kabar mengenai kegiatan pemantauan migrasi burung pemangsa. Pertanyaan tersebut sontak membuatku kaget, bagaimana tidak berpikir mengenai migrasi burung pemangsa pun belum terlintas dalam pikiranku. Migrasi burung pemangsa merupakan siklus rutin yang terjadi pada penghujung tahun, ketika daerah tempat tinggal burung pemangsa mengalami musim dingin. Jenis burung pemangsa yang umum tercatat melewati Bogor adalah Sikep Madu Asia, Elang Alap Cina dan Elang Alap Jepang. Kita dapat melihat ratusan ekor burung pemangsa dalam momen itu, jadi sangatlah sayang apabila dilewatkan. Kata-kata yang diucapkan oleh mas Asman itulah yang membuatku bersemangat untuk melakukan kegiatan pengamatan migrasi burung pemangsa.

             Setelah berbincang-bincang dengan Nanang, Mujib dan mas Mono diperolehlah kesepakatan bahwa pengamatan migrasi burung pemangsa akan dilaksanakan setiap Sabtu atau Minggu di gantole-paralayang, Puncak. Pengamatan dilaksanakan minimal seminggu sekali, karena jarak yang cukup jauh maka pengamatan di Puncak tidak dilakukan setiap hari. Disamping itu, pengamatan juga dilakukan di sekitar kampus IPB-Darmaga, karena pada tahun sebelumnya sering terlihat beberapa burung pemangsa yang bermigrasi melewati daerah ini. Bahkan pada tahun sebelumnya juga terdapat seekor Sikep Madu Asia yang terlihat bertengger di sekitar kawasan Cikabayan, kampus IPB-Darmaga.

             Kesepakatan untuk melakukan kegiatan pengamatan di Kampus IPB-Darmaga segera berubah ketika Bagus Chandra mengatakan bahwa dia melihat 14 ekor Sikep Madu Asia melintas tepat di atas rumah kontrakan kami. Ternyata burung pemangsa yang bermigrasi dapat juga diamati dari rumah kontrakan kami yang terletak di daerah Balio, sebuah daerah yang menjadi tempat tinggal mahasiswa IPB yang letaknya tidak begitu jauh dari kampus IPB-Darmaga. Sejak saat itu, aku memilih untuk mengamati migrasi burung pemangsa di atas genteng rumah kontrakan daripada di kampus IPB-Darmaga.

                Tanpa terasa sudah tercatat 10 kali perjumpaan migrasi burung pemangsa di sekitar kampus IPB-Darmaga, baik di dalam maupun diluar kampus. Jumlah burung pemangsa yang tercatat pun sangat mengagetkan, tercatat lebih dari 300 ekor burung pemangsa melwati kampus IPB-Darmaga. Jenis burung pemangsa yang terlihat cukup banyak adalah oleh Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhyncus), disusul dengan Elang Alap Cina (Accipiter soloensis) dan Elang alap Jepang (Accipiter gularis). Jumlah dan jenis burung pemangsa yang melintas tidak menentu setiap harinya, satu hari bisa dijumpai lebih dari 100 ekor. Sama halnya dengan burung pemangsa lokal yang memanfaatkan energi panas bumi ketika terbang, burung pemangsa yang bermigrasi juga sangat bergantung pada kondisi cuaca. Apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan atau terjadi hujan burung tersebut akan lebih memilih berlindung daripada melanjutkan perjalanannya.

Grafik perjumpaan migrasi burung pemangsa yang melintas di kampus IPB Darmaga

Selain burung pemangsa terdapat burung jenis lain yang melakukan migrasi, yaitu burung layang-layang api (Hirundo rustica). Secara morfologi, burung ini terlihat sangat mirip dengan burung layang-layang gua (Hirundo tahitica) yang merupakan jenis lokal dan tidak melakukan migrasi. Informasi yang berkaitan dengan migrasi burung layang-layang api masih sangat sedikit dan masih sangat jarang pengamat burung yang memperhatikan migrasi burung ini. Aku juga baru tahu kalau jenis ini melakukan migrasi setelah diberitahu oleh H.A. Wahyudi, seorang pengamat burung dari Banyumas. Beberapa hal mengenai burung ini aku disikusikan dengan Nanang, dia mengatakan bahwa burung layang-layang api memang melakukan migrasi dan memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan layang-layang gua. Beberapa ciri untuk membedakan H. rustica adalah adanya kalung berwarna hitam pada bagian leher dan ujung ekor yang lebih panjang daripada H. tahitica.(F. Surahmat)

2 Comments

Leave a Reply