‘Burung pantai’ di Sawah Baru

Minggu pagi (5 februari 2012) kami berenam melakukan pengamatan burung di Sawah Baru. Sawah Baru merupakan areal persawahan di sekitar kampus IPB, tepatnya sebelah timur kampus IPB Darmaga. Sebelumnya kami mendapat informasi tentang adanya burung pantai yang bentuknya mirip dengan trinil dari salah satu rekan kita sebut saja bang ucok, kemudian kami penasaran untuk melakukan pengamatan di lokasi tersebut.

Sekitar jam 7 pagi kita berangkat, lokasi dapat ditempuh selama 10 menit dari shelter Uni Konservasi Fauna (UKF-IPB). Kami berenam memulai pengamatan di areal persawahan di lahan percobaan departemen agronomi dan hortikultura-IPB. Kami hanya menemukan segerombolan burung gereja dan bondol yang sedang sibuk mencari makan. Sedikit pesimis untuk menemukan burung yang sedang kami incar yaitu sejenis trinil. Sekitar 15 menit melakukan pengamatan dengan berkeliling di lokasi tersebut, kami pun pindah ke blok persawahan sebelah benteng air. Ketika kami berada di atas punggungan benteng air, seekor sri gunting batu (Dicrurus paradiseus) terbang melintas ke arah perumahan Darmaga Regency. Sri gunting batu dapat dikenali melalui warna tubuh hitam mengkilap dengan ukuran sebesar burung kutilang dan memiliki ekor yang panjang menggunting serta terdapat bulu yang memanjang pada dua tepi ekor. Burung ini biasa ditemukan di  hutan dataran rendah dan hutan sekunder sampai ketinggian 1400 mdpl. Namun, dalam pengamatan kali ini kita mendapatkan jenis tersebut di daerah persawahan yang dekat dengan pemukiman padat.

                   Tak lama saya melihat 3 ekor burung yang hampir mirip dengan sejenis trinil terbang berpindah dari satu petak ke petak lain di areal persawahan. Kemudian saya pun mengajak kawanan untuk mendekat ke arah burung tersebut dengan melewati pematang sawah. Setelah kami mendekat ternyata ada 3 ekor yang terbang secara tiba-tiba dari rimbunan rumput. Satu orang kawan berhasil mendokumentasikan burung tersebut dan setelah diidentifikasi kemungkinan jenis burung tersebut adalah berkik ekor lidi (Gallinago stenura). Kami pun melanjutkan pencarian di petakan sawah dengan pertanaman padi yang sudah meninggi. Secara tiba-tiba 3 ekor lagi terbang dari petakan tersebut ke arah timur (Bubulak). Pencarian pun berlanjut ke petakan sawah yang sebelahnya dan seekor lagi terbang memutar menyusul ke arah timur. Burung berkik sangat susah diamati karena kebiasaannya yang bersembunyi di antara rerumputan. Ditambah lagi warna tubuhnya yang berkamuflase dengan warna lumpur. Burung berkik ini merupakan burung migran yang mengunjungi Indonesia pada waktu musim dingin di negara asalnya (asia timur). Di indonesia jenis ini hanya mencari makan dan berkembang biak di negara asalnya. Burung yang berukuran sebesar tekukur ini memang biasa mengunjungi daerah persawahan dan rawa payau.

                                                               Berkik ekor lidi (Gallinago stenura)

                Selain itu, saat berjalan-jalan di pematang sawah kami menemukan cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) yang sedang bertengger di daun pisang tua. Tak lama kemudian kami juga menemukan seekor bambangan merah (Ixobrychus cinnamomeus)  yang sedang terbang melintas. Saat berjalan pulang kami menjumpai dua ekor garangan (Herpestes sp.) yang sedang menyelinap masuk ke dalam rumpun rerumputan.   Di akhir perjalanan pengamatan kami di sambut oleh kawanan burung sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus).

                                                                        Garangan (Herpestes sp.)

                Masih penasaran dengan berkik yang kami lihat kemarin, keesokan harinya (Selasa, 6 Januari 2012)  kami kembali melakukan pengamatan di Sawah Baru. Pengamatan dilakukan pukul 07.00 WIB di areal sawah sebelah kiri dibalik benteng air, tempat ditemukannya berkik kemarin. Baru saja kami tiba di Sawah Baru, 5 ekor berkik  terlihat terbang menuju ke arah Bubulak. Saat berjalan turun menuju pematang sawah, seekor berkik lagi terbang menyusul ke arah yang sama dan seekor lainnya terbang ke sela-sela rerumputan.

                 Kami berjalan menelusuri pematang sawah menuju sungai. Tak berapa lama, kami melihat seekor burung trinil pantai (Tringa hypoleucos) sedang berjalan di antara rerumputan di pematang sawah tak jauh dari tempat kami bediri. Trinil pantai adalah burung pantai yang bermigrasi ke selatan hingga mencapai Australia saat musim gugur di negara asalnya. Burung seukuran kutilang ini memiliki kaki berwarna hijau zaitun pucat, tubuh bagian atas cokelat dengan bercak abu-abu  cokelat  pada sisi dada dan tubuh bagian bawah berwarrna putih. Karena warnanya yang menyerupai lumpur dan rumput kering, burung ini pandai berkamuflase di antara lumpur dan rerumputan sawah. Trinil pantai memiliki kebiasaan menggoyang ekornya seperti menyentak saat berjalan. Burung ini sering mengunjungi habitat yang luas hingga ke sawah di  dataran tinggi (hingga 1.500 m).

                                                                Trinil pantai (Tringa hypoleucos)

               Puas melihat dan mengabadikan satwa tersebut, kami kembali menelusuri pematang sawah untuk melanjutkan pengamatan. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba seekor berkik terbang keluar dari rumput tinggi dekat trinil tadi berada. Jadi total jumlah berkik yang ditemukan hari ini adalah 8 ekor. Setelah berputar-putar di areal sawah dan tidak menemukan burung lain selain burung gereja erasia (Passer montanus) dan bondol  jawa (Lonchur leucogastroides), kami pun mengakhiri pengamatan pagi ini. Di perjalanan pulang, kami melihat seekor garangan sedang berjalan di antara petak-petak sawah lahan percobaan.

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply