Awal perjalanan dimulai dari GWW tanggal 16 Februari 2012. Tepat pukul 09.00 WIB, truk yang akan mengangkut kami telah datang. Keberangkatan kami, para tim metamorfosa dengan jumlah peserta 13 orang dan 20 orang lebih panitia (belum termasuk yang menyusul) diiringi dengan kabut tebal yang menyelimuti IPB serta hawa dingin yang membuat badan menggigil. Perjalanan kami ke Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kabandungan, ditempuh dalam waktu 3,5-4 jam lamanya. Setelah sampai di Balai TNGHS, kami pun beristirahat sebelum melakukan perjalanan malam hari. Istirahat diwarnai dengan penuhnya warung nasi yang berada tepat diseberang Balai TNGHS. Sebelum perjalanan malam dimulai, sehabis maghrib kami berkesempatan mendapatkan pengarahan dari pihak TNGHS.

Perjalanan malam dimulai 17 Januari 2012, pukul 00.30 WIB. Pemanasan mengawali persiapan kami. Kami pun bergegas menuju pemberhentian selanjutnya, yakni sebuah resort di daerah Cikaniki. Perjalanan panjang ditempuh sekitar 6-7 jam. Medan yang cukup berat kami lalui dengan langkah pasti. Tanjakan demi tanjakan, sampai turunan kami terjang. Tibalah waktu shubuh saat kami sampai di gerbang Cikaniki, melaksanakan sholat shubuh dan beristirahat, lalu melanjutkan perjalanan. Kami sampai di resort Cikaniki pukul 07.30 WIB, dan ternyata jarak yang kami tempuh sekitar 15 km, amazing. Perjalanan belum usai, kami harus melangkahkan kaki menuju camping ground, Citalahap, dengan jarak sekitar 2 km dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam. Akhirnya, pukul 09.30 WIB kami tiba di Citalahap, dan langsung bersiap untuk mendirikan tenda. Setelah tenda terpasang, kami memiliki waktu untuk beristirahat sebelum melaksanakan pengamatan sore.

Saat pengamatan sore, saya berkesempatan untuk mengunjungi plot HM 13 diiringi cuaca mendung berkabut, ditemani oleh seorang senioren dan seorang lagi teman sejawat. Temuan pertama saya adalah buah bulat berwarna cokelat seperti sawo, dengan biji seperti petai dengan kondisi terlihat adanya bekas gigitan sehingga dapat diasumsikan bahwa buah tersebut belum lama dimakan oleh satwa setempat. Buah saminten yang telah jatuh dari pohonnya, hijau berduri tajam juga kerap terlihat diatas tanah. Ada juga laba-laba dengan badan berwarna kuning keoranyean, dan kakinya berwarna kemerahan. Diatas pepohonan terlihat dua ekor tupai yang sedang asyik memakan buah. Kupu-kupu Faunis Canens dengan ciri khas sayap hitam, namun ketika terbang terlihat sayap bagian dalamnya berwarna keoranyean. Yang mengejutkan, ketika pengamatan hampir selesai, terlihat sebuah keluarga owa jawa (Hylobates moloch) yang melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, yang terdiri dari seekor jantan, dan juga seekor betina yang sedang menggendong anaknya. Adapun ciri-ciri owa jawa yang terlihat yakni, tubuhnya berwarna abu-abu, tidak memiliki ekor, berambut tebal, dan memiliki alis berwarna putih. Malam harinya, sehabis maghrib, kami selalu mengadakan briefing kegiatan yang telah dilakukan seharian didampingi oleh kakak senioren kami. Akhirnya, setelah itu kami beristirahat.

Keesokan harinya, kami mendapat pengarahan tentang berbagai macam teknik identifikasi satwa yang dijelaskan oleh masing-masing kepala divisi yang ada di ukf. Kemudian dilanjutkan dengan sharing primata yang disampaikan oleh kak mamet, kak ican, dkk, dan kami bersiap melakukan pengamatan siang, kebetulan saya berkesempatan mendatangi plot HM 9. Saya menemukan laba-laba berwarna keemasan hinggap di pohon paku-pakuan setinggi satu meter dengan ciri sepasang kaki dua dari belakang lebih pendek dibandingkan kaki lainnya. Ada juga jenis ulat bulu sepanjang jari manis, memiliki bulu-bulu merah menyala lengket di pohon talas-talasan. Tak jauh dari ulat tersebut, saya juga menemukan serangga bermata merah dengan badan bagian atas berwarna silver dan badan bagian bawah berwarna keoranyean, memiliki tiga pasang kaki, dan uniknya badannya itu seperti gambar gunung dalam pementasan wayang.

Rabu, 18 Januari 2012, dimulailah orientasi medan yang pertama, dan tenda saya (tenda 2) mendapatkan jalur ke daerah Cikudapae. Perjalanan ke Cikudapae sangat ekstrim, dimana jalanan menurun dan sangat curam sehingga terkadang butuh pegangan untuk berjalan. Sepanjang perjalanan, kami menemui pohon rotan berduri, rende, lenca, pacing, patat, begonian, buru nungul, pakis, cengkidil, talas cariang, harendong bulu (Clidemia hirta)-yang buahnya bisa dimakan seperti blueberry dan daunnya bisa digunakan untuk penutup luka, kecapi, tepus, rasamala, pisitan, kalayar, bahkan anggrek yang indah pun sempat terlihat oleh kami. Perjalanan kami berakhir di kebuntuan air terjun Cikudapae, dengan pesonanya yang sangat eksotis.

Keesokan paginya, seperti biasa, pengamatan pagi dibagi menjadi beberapa plot, dan secara tidak sengaja, saya mendapatkan plot HM 13 lagi. Dipayungi cuaca mendung sesekali berangin, Owa Jawa (Hylobates moloch) terlihat sedang mencari makan di pucuk pohon yang tinggi yang sedang berbuah lebat tepat pukul 06.45 WIB. Tak lama kemudian, terlihat orthoptera dengan mata cokelat menonjol sedang transit disalah satu daun. Saat pukul 07.00 WIB, dengan menggunakan binokuler, terlihat burung sepah hutan bersayap merah dan kepalanya berwarna hitam sedang terbang dari satu pohon ke pohon lainnya. Terlihat lagi burung lainnya, berkepala abu-abu terang, bagian dada berwarna putih dengan sayap hitam, dan bagian tunggir berwarna oranye. Lalu ada satu burung lagi, mirip perkutut, yang mana warna dari bagian kepala sampai ke ekor semakin gelap, dan terdapat lingkaran hitam disekitar mata. Dengan menggunakan perbandingan terhadap  fieldguide, ada dua asumsi terhadap jenis burung tersebut, pertama-bisa jadi burung tersebut tergolong ke dalam spesies pergam katanjar, kedua-bisa jadi burung tersebut tergolong kedalam spesies pergam punggung hitam. Satwa yang ditemukan lainnya yakni insekta yang sering disebut “kumbang bego” dari famili Curculionide terlihat sedang melaksanakan aktivitas kawin, dimana jantan berada diatas punggung betina dan ukuran badan jantan lebih kecil daripada ukuran badan betina. Ciri khas yang terlihat dari kumbang bego ini adalah bagian moncongnya terlihat panjang dan bagian pantatnya agak turun, serta apabila merasa terganggu, mereka berpura-pura mati dengan badan berubah menjadi kaku. Kembali ditemukan serangga sejenis nyamuk dari famili Tipulidae dengan tiga pasang kaki seperti lidi, badan berwarna hijau, dan sayap putih bercorak kehijauan yang hinggap dipohon berdaun lebar. Satu lagi dari famili Lepidoptera, serangga dengan sayap berwarna putih dengan sedikit corak hitam bergaris pada bagian tepi belakang sayap, dengan ciri khas sayap mengatup ke bawah.

Tanggal 20 Januari 2012, pagi harinya kami mendapat perbekalan untuk wawancara dan setelah selesai sholat jum’at kami pun bersiap untuk melakukan wawancara atau lebih tepatnya sosialisasi dan sesi pendekatan kepada masyarakat. Dari wawancara, kami mendapat info bahwa kebun teh dan permukiman warga sudah ada sejak zaman Belanda, sebelum kawasan tersebut termasuk kedalam kawasan Taman Nasional yang dilindungi. Adanya Taman Nasional cukup membantu pengahsilan warga setempat, seperti salah seorang bapak yang kami wawancarai, dia berkata bahwa menjadi guide Taman Nasional cukup membantu perekonomiannya, dan disatu sisi mereka senang apabila banyak orang-orang yang tengah berkunjung atau meneliti Taman Nasional tersebut.  Terkait interaksi masyarakat setempat terhadap hutan di sekitar Taman Nasional, mereka berusaha untuk menjaga hutan dengan tidak melakukan aksi penebangan pohon untuk mendapatkan kayu. Disatu sisi, ada dilematisasi yang melanda, yakni mereka tidak memungkiri bahwa sebagian besar apa yang mereka butuhkan untuk kehidupan sehari-hari rata-rata berasal dari hutan, sementara disatu sisi mereka harus menjaga kelestarian hutan dan satwa yang ada dihutan. Terkadang mereka juga mengeluh terhadap ulah satwa yang sering merusak perkebunan warga, namun apalah daya, satwa tersebut tidak boleh dimusnahkan karena satwa tersebut tergolong endangered. Mereka memiliki harapan yang besar terhadap pihak pengelola Taman nasional agar kiranya dapat berkesinambungan dalam melihat perkembangan yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar Taman Nasional tersebut.

Sabtu, 21 Januari 2012, orientasi medan yang kedua dimulai, dan tenda 2 berkesempatan menikmati jalur ke gunung Kendeng, dengan trek menanjak, udara yang dingin, dan rotan berduri yang menghiasi kanan-kiri jalan kami. Sesampainya di puncak kendeng, terlihat kantung semar berwarna hijau dan merah, yang mana mereka merupakan satu spesies dan hanya berbeda dari segi pigmen warna saja.

Minggu, 22 Januari 2012, Sua Raptor dimulai dengan pengarahan oleh kepala divisi burung, kak Ima, yang menjelaskan beberapa hal terkait raptor. Kak Ima menjelaskan bahwa ada empat satwa burung yang mendominasi langit Halimun, yakni Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus), dan Elang Ular Bido (Spilornis cheela). Elang-elang itu sendirri memiliki beberapa gaya terbang, diantaranya : soaring (memutar mengikuti panas bumi), flapping (terbang dengan mengepakkan sayap), gliding (terbang tanpa mengepakkan sayap), ambush (melihat mangsa, lalu menukik untuk menerkamnya), dan undulating (terbang menggalau, naik-turun). Penampakan raptor dapat diamati sekitar pukul 09.00-11.00 WIB dan 13.00-15.00 WIB dari tempat yang tinggi dan terbuka untuk memudahkan pengamatan (example. Kebun teh). Lalu kami bergegas untuk turun ke lapang mengamati pergerakan raptor sekitar pukul 09.00. Saya mendapati plot 1 (kebun teh bagian atas). Kami yang berjumlah delapan orang dibagi menjadi  tiga titik pengamatan. Dan tepat pukul 09.40 WIB, di titik pengamatan yang kedua, kami melihat elang hitam (Ictinaetus malayensis) dengan ciri seluruh badan berwarna hitam dan berukuran sedang sedang melakukan soaring bersama satu elang lainnya, yakni elang ular bido (Spilornis cheela) yang memiliki uk. badan lebih kecil dari elang hitam. Lama menunggu, sekitar pukul 11.00 WIB ketika pengamatan hendak berakhir, terlihat sesosok siluet elang berwarna hitam disekitar area pertambangan. Namun, elang tersebut belum teridentifikasi masuk kedalam jenis apa. Setelah pengamatan, kami kembali ke camping ground guna mendapat perbekalan untuk pengamatan herpet (reptil-amphibi) malam harinya. Waktu yang digunakan untuk pengamatan adalah pukul 21.00 WIB. Ada beberapa jenis herpet yang kami temukan, dan satwa-satwa ersebut akan diidentifikasi keesokan harinya, dan pengamatan herpet berakhir pukul 23.00 WIB.

Senin, 23 Januari 2012, pagi hari diawali dengan animal race, semacam lomba pengamatan terhadap satwa yang dimulai pukul 06.00 WIB. Regu saya terdiri dari tiga orang. Pada saat itu, cuaca hujan, sehingga tidak banyak satwa mamalia yang terlihat. Hanya golongan laba-laba dan insekta yang banyak muncul. Diantaranya ada laba-laba yang badannya berwarna krem dengan antena kecil dan sepasang kaki dibagian paling depan lebih panjang dibandingkan kaki lainnya. Saya berasumsi bahwa kedua kaki yang panjang itu dapat digunakan sebagai pengganti tangan untuk memudahkan dalam mencari makanan. Ciri uniknya, badan bagian bawahnya berwarna oranye dan dia suka hinggap di daun yang bergerigi yang memiliki batang berduri. Ada lagi, laba-laba berwarna silver, yang mana badannya seperti cangkang menyerupai perisai, dan kaki-kakinya terikat pada bagian kepala sehingga terpisah dari cangkang tersebut. Bagian kepala berwarna hitam dan antenanya berwarna keemasan. Ciri khasnya adalah membuat sarang berbentuk melingkar diatas sarang. Insekta seperti lalat, bermata hijau menonjol, kepala botak (antena tidak terlihat), badan berwarna belang-belang oranye-hitam, dengan abdomen merah keoranyean, berkaki enam, dimana sepasang ujung kaki bagian belakang berwarna putih yang apabila ketika terbang, kaki yang putih tersebut menekuk menyerupai sayap yang indah. Sayapnya sendiri sebenarnya berwarna coklat muda. Selanjutnya, dilakukan identifikasi herpet yang telah didapati pada pengamatan malam hari. Dimana ada Fejervarya, dari ordo Ranidae yang memiliki garis dorsal dipertengahan bagian kulitnya. Kakinya berselaput penuh. Kemudian ditemukan Cyrtodactilus marmoratus dari ordo Gekkonidae, berkaki empat, dari golongan tokek-tokekan dengn corak tubuh berupa garis hitam-cokelat. Yang terakhir, serangga Hemiptera dari ordo Nepidae yang tergolong kedalam serangga pemangsa dengan tipe tungkai reptorial. Pada betina, terdapat ovipositor untuk meletakkan telur. Biasanya serangga ini hidup didasar air dan sesekali ke permukaan untuk mengambil oksigen. Lalu kami bersiap untuk lomba masak, dimana bahan utamanya menggunakan nangka dan tutut.

Selasa, 24 Januari 2012, merupakan hari terakhir kami di lapang, dimana pagi hari  sebelum shubuh diawali dengan berendam disungai sebagai tanda bergabungnya angkatan 9 kedalam ukf, dan lalu mempersiapkan bekal untuk perjalanan, baik makan siang maupun makan malam. Sebelum benar-benar pulang, siang harinya sekitar pukul 13.30 WIB, diadakan upacara pelepasan sekaligus simbolisasi pengangkatan ukf angkatan 9, yang mana petugas upacaranya sendiri berasal dari angkatan 9. Kemudian, kami bersiap melakukan perjalanan ke resort Cikaniki yang tidak terlalu jauh dari camping ground, sekitar 2 km. Sesampainya disana, kami pun beristirahat untuk mempersiapkan perjalanan ke pemberhentian yang terakhir tengah malam, sebelum benar-benar pulang ke ipb.

[button link=”https://www.facebook.com/profile.php?id=1092843044″ type=”icon” icon=”people”] Paramita[/button]

Leave a Reply