“Deru mesin memekakkan telinga, kendaraan beroda enam ini gagah mengarungi jalanan kota Sukabumi. Kami berdiri berjajar di bak truk, menikmati sejuknya terpaan angin dan memandangi balik padangan aneh orang – orang yang melihat kami. Perjalanan kami yang penuh canda sedikit mengurangi kejenuhan akan kemacetan yang tak kunjung mengurai. Hampir empat jam menempuh perjalanan, akhirnya kami sampai…”

Tanggal 16 januari 2012, kami melakukan perjalanan panjang menuju Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Kami berangkat dari kampus IPB Dramaga tepat pukul 09.00 WIB, dengan menumpangi sebuah truk. Perjalanan menuju TN Gunung Halimun – Salak truk kami menyusuri jalan raya Sukabumi yang padat oleh angkutan kota dan kendaraan pengangkut air minum. Setelah menempuh tiga jam perjalanan, medan yang kami lalui mulai berkelok – kelok tanda tempat tujuan kami sudah semakin dekat. Pemandangan pemukiman padat dan pertokoan yang sedari tadi menghiasi kini berganti dengan perkebunan sawit dan pepohonan kelapa yang menjulang tinggi. Hawa panas kini juga terasa semakin sejuk menyegarkan mata kami yang mulai mengantuk lelah.

Kami adalah peserta pendidikan konservasi yang diadakan oleh Uni Konservasi Fauna Institut Pertanian Bogor (UKF IPB). Pendidikan konservasi ini merupakan kegiatan puncak dari metamorfosa X yang oleh UKF IPB digunakan sebagai ajang untuk merekrut anggota baru. Sebelumnya kami telah melalui serangkaian persiapan, mulai dari pemantapan bidang keilmuan hingga persiapan mental dan fisik. Fokus kegiatan kali ini adalah untuk mengaplikasikan teknik dasar pengamatan, indentifikasi satwa serta cara untuk survive di alam bebas.

Tepat pukul 12.30 WIB, truk kami sampai di Balai Konservasi TN Gunung Halimun – Salak. Sambutan petugas taman nasional pun cukup hangat dengan menyediakan ruang untuk kami beristirahat. Balai konservasi TN Gunung Halimun – Salak yang kami singgahi ini terdapat beberapa bangunan, salah satunya adalah research station. Ditempat ini kami dapat melihat miniatur TNGHS dengan jelas, termasuk bangunan canopy trail yang terletak didekat stasiun pengamatan cikaniki.

Taman Nasional Gunung Halimun – Salak merupakan salah satu taman nasional dengan tipe hutan hujan dataran rendah dan memiliki topografi wilayah yang berbukit – bukit dan bergunung – gunung. Keanekaragaman hayati yang dikandungnya pun termasuk paling tinggi, dengan keberadaan fauna yang dilindungi seperti elang jawa (Spizaetus bartelsi), macan tutul jawa (Panthera pardus melas), dan owa jawa (Hylobates moloch). Wilayah ini pun oleh Birdlife, organisasi internasional pelestarian burung, ditetapkan sebagai daerah burung penting (IBA, important bird areas) karena potensinya yang menyimpan tidak kurang dari 244 spesies burung, 27 spesies diantaranya adalah jenis endemik pulau jawa.(sumber: Wikipedia.com)

Malam harinya kami diundang oleh petugas Taman Nasional untuk berbagi cerita tentang TN Gunung Halimun – Salak. Pada kesempatan itu kami sempat menanyakan adanya enclave berupa perkebunan, pemukiman masyarakat tradisional serta beberapa aktifitas pertambangan emas, pembangkit energi listrik panas bumi dan pariwisata. Padahal UU (Undang – Undang) Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi dan Ekosistem melarang segala bentuk kegiatan pemanfaatan yang merusak kawasan pelestarian alam. Tentang hal itu petugas TN menuturkan bahwa perkebunan, pertambangan emas, dan pembangkit listrik panas bumi tersebut masuk kedalam kawasan TN ketika terjadi perluasan wilayah pada tahun 2003. Sehingga secara hukum pihak TN tidak dapat berbuat banyak.

Malam semakin dingin ketika kami beranjak untuk beristirahat. Kami menjadwalkan perjalanan malam untuk mencapai bumi perkemahan Citalahab. Ada berbagai alasan kenapa kami memilih untuk melakukan perjalanan malam. Selain menghindari teriknya sinar matahari pada siang hari, perjalanan malam juga memberikan pengembangan diri bagi kami calon anggota baru UKF IPB terutama dalam  mengatasi egoisme. Yang tentu saja itu menjadi sebuah “penyakit” bagi sebuah organisasi.

Tepat pukul 00.01 WIB, kami mulai melakukan persiapan untuk melakukan perjalanan malam sejauh 25 km dengan rute Kabandungan (balai konservasi TNGHS) – Cipeteuy – Gerbang TNGHS – Cikaniki – Citalahab. Setelah men-checklist ulang peralatan dan melakukan sedikit pemanasan, kami berangkat. Jam menunjukkan pukul 00.35 WIB.

Hari ini hari kedua pendidikan konservasi di TN Gunung Halimun – Salak. Perjalanan malam yang kami lalui awalnya cukup mudah, karena medan yang kami lalui hanya berupa jalanan aspal mulus. Tetapi selepas desa Cipeteuy jalanan berubah menjadi jalanan berbatu. Medan yang membuat kaki kami nyeri setiap kali melangkahkan kaki dan kondisi kami yang mulai kelelahan membuat kami sering berhenti untuk istirahat. Jam menunjukkan pukul 04.05 WIB ketika kami sampai di gerbang TN Gunung Halimun Salak. Kami memutuskan untuk beristirahat dan menunggu adzan subuh.

Selepas sholat subuh, tepat jam 05.30 WIB kami melanjutkan perjalanan. Tempat yang kami tuju adalah Stasiun Pengamatan Cikaniki yang berjarak sekitar 6 km dari gerbang TN Gunung Halimun – Salak. Pemandangan  berbeda setelah memasuki Taman Nasional, kini nampak disebelah kanan kiri kami pohon – pohon yang menjulang tinggi. Sinar matahari yang mulai mengusik rimbunnya hutan, memaksa para burung untuk bernyanyi. Walau nafas kami sengal mengarungi medan berbukit, kami tetap mantap melangkahkan kaki.

Ditengah perjalanan tak jarang kami harus berhenti untuk menepi, memberi jalan untuk truk pengangkut hasil perkebunan teh yang lewat. Maklum, jalan yang kami lewati ini merupakan salah satu jalan penting yang menghubungkan perkebunan teh dengan perkampungan. Pada kesempatan  lain kami bertemu petugas TN yang dengan senyumnya mencoba menyemangati langkah gontai kami. Diperjalanan ini kami tak banyak bicara satu sama lain, tenaga yang menipis membuat kami hanya fokus untuk menggerakkan kaki.

Pukul 07.50 WIB kami sampai di Stasiun Pengamatan Cikaniki. Seketika itu pula kami segera menjemur badan kami yang penuh akan peluh. Bangunan Stasiun Pengamatan Cikaniki terletak ditempat yang cukup tinggi, tak  kalah tinggi dengan pepohonan yang ada disekitarnya. Sehingga disaat pagi seperti ini sinar lembut matahari langsung menyirami  bangunan yang sepenuhnya terbuat dari kayu ini.

Waktu dua puluh menit cukup untuk mengembalikan sebagian tenaga kami. Pukul 8.10 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju  bumi perkemahan Citalahab. Jarak yang harus ditempuh sejauh 2 km dan melewati bukit – bukit perkebunan teh. Sinar matahari yang menyengat panas dan udara dingin khas perbukitan, satu kombinasi unik yang menemani kami disepanjang perjalanan. Akhirnya, pukul 9.20 WIB kami sampai di bumi perkemahan Citalahab.

 

PENGAMATAN SATWA

 

Hari ketiga, tanggal 18 Januari 2012. Pagi ini kami siap melakukan pengamatan pagi. Persiapan sudah kami lakukan sejak pukul 04.30 WIB tadi, mulai dari sholat subuh dan membuat sarapan. Kemarin tidak banyak aktivitas yang kami lakukan, setelah mendirikan tenda kami lebih memilih untuk beristirahat untuk memulihkan tenaga kami yang terkuras habis.

Pengamatan pagi dilakukan pukul 06.00 WIB dan berakhir pukul 08.00 WIB. Pengamatan pagi kami lakukan di sepanjang loop trail yang telah dilengkapi dengan pal hekto meter (HM). Pada kesempatan ini kami suguhkan atraksi unik para satwa diurnal yang sedang memulai aktivitas. Seperti morning call yang dilakukan oleh owa jawa. Terkadang panggilan pagi hari Hylobates moloch ini berpadu dengan kicauan burung yang merdu. Sungguh orchestra yang sangat memukau. Tak hanya pada pagi hari, kami juga melakukan pengamatan sore. Pada pengamatan sore kami menemui rombongan surili (Presbitys aygula) yang sedang melakukan move trees way dengan anggun.

Setelah melakukan pengamatan, kami melakukan identifikasi terhadap fauna – fauna yang kami temui. Pada pengamatan tadi kami diwajibkan untuk mencatat ciri – ciri  fauna yang kami lihat yang dapat digunakan sebagai kunci identifikasi. Dengan begitu kami dapat mengetahui dengan tepat apa nama fauna yang kami temui tadi.

 

ORIENTASI MEDAN

 

Hari keempat kami melakukan orientasi medan. Pada orientasi medan (ormed) kali ini kami dibagi menjadi 2 kelompok, masing – masing kelompok melewati jalur yang berbeda. Jalur yang pertama menuju puncak Gunung Kendeng dan jalur yang kedua menuju Curug Cikudapaeh. Tetapi kami tetap akan merasakan medan dari kedua jalur tersebut, sebab pada hari keenam kami akan melakukan ormed lagi dengan bertukar jalur.

Curug Cikudapaeh berjarak 6 km dari tempat perkemahan kami. Medan yang harus kami lewati cukup berat, kami harus naik turun melewati bukit. Tidak jarang sewaktu turunan kami serempak teriak “jackpoott” tanda salah satu diantara kami jatuh terpeleset. Semakin dekat dengan curug semakin sulit medan yang harus kami lewati. Jalanan yang kami lewati begitu curam dan licin, salah sedikit melangkahkan kaki kami langsung berhadapan dengan jurang yang dalam. Semakin dekat dengan curug pun kami lebih sering meneriakkan “jackpot” dan tingkat perubahan warna coklat pada celana kami berbanding lurus dengan seringnya kami diteriaki “jackpot”. Tetapi semua peluh kami terbayar lunas ketika kami merasakan segarnya uap air yang berterbangan disekitar Curug Cikudapaeh. Curug ini berada diantara dua batuan besar yang saling mengapit. Airnya begitu segar, menggoda kami untuk menceburkan diri. Setelah puas berbasah – basahan, kami bersama – sama menyantap bekal yang telah kami siapkan. Perut yang lapar dan pemandangan yang indah menambah nikmat makan siang kami kali ini. Kami kemudian beranjak untuk kembali ke tempat perkemahan.

Hari keenam  kami melakukan ormed menuju puncak Gunung Kendeng. Puncak ini berada pada ketinggian 1.680 m dpl. Untuk mencapai puncak ini kami harus mendaki lereng dengan sudut kemiringan hampir 30o. Perjalanan kali ini cukup mencekik leher, selain medan yang terjal, semakin tinggi kami mendaki semakin dingin pula udara yang kami rasakan. Setelah mendaki hampir 4 jam, kami menemukan tanaman kantong semar (Nephentes alata). Tanaman ini menjadi tanda bahwa puncak gunung sudah semakin dekat, karena pada umumnya tamanan ini tumbuh di dataran yang tinggi. Pemandangan diatas sangatlah indah, dari sini kami dapat mengedarkan padangan keseluruh bentang TN Gunung Halimun – Salak. Seperti ormed sebelumnya, kami pun menyempatkan untuk makan siang. Tidak mau kehilangan momen, kami pun juga menyempatkan untuk mengambil beberapa foto. Yang tak kalah seru dari perjalanan ini adalah perjalanan pulang. Karena medan yang sepenuhnya adalah turunan, beberapa diantara kami menuruninya dengan berlari, terkadang berteriak. Kelakuan kami sudah mirip lutung.

 

WAWANCARA

 

Yang pasti dari setiap pagi kami adalah udara yang semakin dingin. Hari ini hari kelima, kami dijadwalkan untuk melakukan wawancara dengan penduduk yang bermukim di perkampungan Citalahab. Kami diwajibkan untuk menggali informasi tentang bagaimana sejarah pemukiman terbentuk, interaksi penduduk dengan kawasan hutan, hubungan masyarakat dengan pihak taman nasional, serta harapan masyarakat pada pihak taman nasional. Dan inilah rangkuman hasil wawancara :

 [box type=”info”]

              Pak Abbas adalah narasumber yang berhasil kami wawancarai. Beliau adalah perantau dari daerah Pelabuhan Ratu dan telah mendiami perkampungan ini selama 10 tahun. Awalnya beliau hanya diajak kakaknya yang seorang polisi hutan (Polhut) untuk bekerja di kawasan taman nasional ini. Tetapi karena merasa nyaman, Pak Abbas memilih untuk menetap dan berkeluarga. Hingga saat ini beliau sudah memiliki tiga orang anak. Pak Abbas menuturkan, sejak kedatangannya 10 tahun yang lalu pemukiman ini sudah terbentuk tetapi tak seramai sekarang.

              Sehari – harinya Pak Abbas bekerja sebagai tour guide. Dan jika tidak ada tawaran untuk menjadi guide, Pak Abbas menggarap sepetak sawahnya untuk menyambung hidup. Menurut beliau, interaksi antara masyarakat dengan hutan yang berada didekat perkampungan kini mulai jarang. Dahulu masyarakat sering masuk ke hutan untuk mencari kayu bakar, tetapi semenjak ada gas elpiji 3kg masyarakat mulai beralih menggunakannnya.

              Tentang hubungan dengan pihak taman nasional, Pak Abbas tidak bercerita banyak. Beliau hanya menyampaikan bahwa sekali – kali pihak taman nasional datang berkunjung ke perkampungan ini. Biasanya mereka melakukan penyuluhan tentang kegiatan konservasi yang sedang digiatkan oleh pihak taman nasional.

              Selama ini Pak Abbas dan para tetangganya hidup dalam kekhawatiran. Mereka takut jika sewaktu – waktu perkampungan ini digusur. Sebab akhir – akhir ini petugas sudah melakukan langkah preventif untuk mencegah pertumbuhan pemukiman yang ada diperkampungan ini. Tidak banyak harapan yang bisa diungkapkan beliau, jika perkampungan ini digusur Pak Abbas sudah siap untuk kembali ke daerah asalnya di Pelabuhan Ratu.” [/box]

 

 

PENGAMATAN RAPTOR DAN HERPETOFAUNA

 

Hari ini hari minggu, tanggal 22 Januari 2012. Tepat hari ke tujuh kami menjalani kegiatan pendidikan konservasi. Hari ini kami dijadwalkan untuk melakukan pengamatan raptor dan herpetofauna. Untuk pengamatan raptor sendiri dilakukan pada siang hari pada pukul 09.00 – 11.00 WIB dengan pertimbangan bahwa sebagian reptor disini adalah satwa diurnal. Sedangkan untuk pengamatan herpetofauna dilakukan pada pukul 20.30 – 23.00, alasannya tidak jauh beda sebagian herpetofauna yang berada disini merupakan satwa nocturnal.

Raptor merupakan burung pemangsa yang mempunyai perilaku khas yaitu menangkap dan membawa makanannya kedalam sarang. Selain itu raptor memiliki ciri – ciri sebagai berikut: cakarnya yang kuat dan tajam, paruhnya lengkung, tajam, dan berkait, penglihatannya dan pendengarannya pun sangat tajam. Fokus pengamatan pada kegiatan kali ini adalah raptor yang menjadi primadona di TN Gunung Halimun – Salak ini, mereka adalah Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), dan Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus). Setelah lama mengamati, pada pukul 9.40 WIB kami berhasil melihat dan mengidentifikasi Elang Brontok yang sedang melakukan soaring, yaitu salah satu teknik terbang raptor dengan cara terbang memutar dengan memanfaatkan udara panas permukaan bumi. Dan 20 menit kemudian, kami melihat Elang hitam yang sedang melakukan soaring juga.

Pada malam harinya setelah briefing malam, kami melakukan pengamatan herpetofauna. Herpetofauna adalah hewan – hewan berdarah dingin yang berjalan dengan perut dan suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan. Metode pengamatan yang kami gunakan adalah metode Visual Encounter Survey (VES), yaitu dengan menyusuri wilayah pengamatan selama 2 jam. Tetapi pengamatan kali ini dapat dikatakan tanpa hasil. Sebab selama 2 jam kami berkutat diperkebunan teh ini tidak ditemukan satu pun baik amphibi maupun reptile. Kemungkinan yang terjadi adalah tidak tersedianya makanan bagi katak maupun ular yang sering dijumpai yang ditempat ini. Alasannya sederhana, pada pagi hari tadi pihak perkebunan teh melakukan penyemprotan pestisida terhadap tanaman tehnya sehingga hama seperti ulat kebanyakan sudah mati. Walaupun begitu pengamatan pada malam hari memberikan pengalaman pertama yang berkesan, apalagi pada saat pengamatan angin bertiup sangat kencang.

 

Kegiatan inti dari pendidikan konservaisi telah usai. Selebihnya hari – hari terakhir diisi dengan kegiatan yang mengakrabkan diantara kami para perserta. Pada hari kedelapan panitia mengadakan lomba masak dan animal race.  Untuk lomba masak peserta diwajibkan menggunakan nangka muda dan tutut yang dengan mudah dapat ditemukan disini. Kisah unik ada saat kami para panitia dan peserta sedang mencari tutut disawah. Salah satu teman kami secara tidak sengaja menemukan seekor ular sanca (Python reticulates) sepanjang 3,1 m. Ini mengobati kekecewaan kami yang tidak berhasil menemukan seekor hewan pun saat pengamatan herpetofauna. Setelah diidentifikasi, ular ini pun kembali direlease didalam hutan.

Animal race pun tidak kalah seru. Perlombaan mengidentifikasi fauna ini menuntut kami untuk mengerahkan semua ilmu yang kami dapatkan selama pendidikan konservasi ini. Sayang hujan yang turun sedari tadi membuat banyak hewan tidak tampak.

Hari ke Sembilan, hari terakhir kami berada di bumi perkemahan Citalahab. Kami sempat terkejut ketika panitia membangunkan kami pukul 03.30 WIB. Kami lantas diarahkan menuju sungai yang letaknya cukup dekat dengan tempat tenda kami didirikan. Disana telah menunggu semua panitia yang berdiri berjajar membentuk lingkaran. Kami lalu masuk ditengah – tengah lingkaran. Ini merupakan “ritual” penyambutan anggota baru. Kami senang, pada akhirnya menjadi anggota UKF IPB angkatan 9. Walaupun perjalanan untuk menjadi anggota UKF IPB yang sesungguhnya masih sangatlah panjang.

Siang harinya setelah membongkar tenda dan melakukan operasi semut. Kami  melakukan upacara secara resmi untuk menutup pendidikan konservasi di TN Gunung Halimun – Salak. Upacara berlangsung cukup khidmat dan sempat terdengar lagu Indonesia Raya dan Kotemplasi Alam Raya. Setelah upacara kami melakukan perjalanan pulang menuju Stasiun Pengamatan Cikaniki. Pada malam harinya kami kembali melakukan perjalanan malam untuk mencapai desa Cipeteuy. Sebelum akhirnya truk menjemput kami dan kami benar – benar sepenuhnya pulang.

 

sebuah perjalanan hati yang indah”

Salam fauna

Muhammad reza

[button link=”https://www.facebook.com/profile.php?id=100001153099837″ type=”icon” icon=”people”] Reza[/button]

Leave a Reply