Senin, 16 Januari 2012. Hari sudah terang. Sang mentari telah muncul dari peraduannya saat saya berkumpul bersama anggota serta panitia Uni Konservasi Fauna (UKF) di Graha Widya Wisuda (GWW), menantikan acara puncak metamorfosa X selama sepuluh hari. Saya pun berbenah ulang semua perlengkapan yang harus dibawa menuju Kantor Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) di Kecamatan Kabandungan, titik awal memulai pendakian ke kawasan pelestarian alam Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Kawasan konservasi seperti Gunung Halimun-Salak ini merupakan kawasan hidupan liar alami dimana mamalia, burung, reptil, dan berbagai hidupan liar lainnya hidup dan tinggal di dalamnya secara harmonis.

Selepas packing ulang, dilanjutkan dengan briefing dari panitia. Perjalanan pun dimulai sekitar pukul 09.00 dengan menaiki kendaraan truk. Ternyata di perjalanan ka Sari mabuk darat padahal jarak yang ditempuh belum begitu jauh. Beberapa jam pun berlalu dan akhirnya sampai juga di Balai. Disana kami singgah sejenak sampai malam hari. Gelap pun menyongsong. Setelah waktu isya kami briefing bersama tiga orang peneliti TNGHS. Dan ternyata dari informasi yang didapat, terdapat tiga maskot dari TNGHS. Yakni, elang jawa (Nisaetus bartelsi), owa jawa (Hylobates moloch), dan macan jawa (Panthera pardus melas). Popularitas elang jawa, yang sebelumnya bernama ilmiah Spizaetus bartelsi, telah lama melekat erat dengan Halimun-Salak. Hal itu terlihat dari dipilihnya elang jawa menjadi ikon Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Namun, burung kharismatik yang sering dilekatkan dengan lambang negara Garuda Pancasila itu hanya satu dari sejumlah satwa khas Jawa yang mendiami rimba raya Halimun-Salak.

Seusai briefing, panitia membiarkan saya dengan yang lain untuk packing ulang dan mempersiapkan untuk perjalanan yang dimulai pada tengah malam. Dan kami pun memejamkan mata sejenak di mushola untuk beristirahat.

Selasa, 17 Januari 2012. Sebelum sempat ka Arya membangunkan kami, mataku pun telah terbuka. Jarum jam telah menunjukan pukul 00.00. Kami bergegas untuk berkumpul di pelataran balai. Briefing sebelum perjalanan pun diperlukan untuk bekal penjagaan diri pada saat pendakian. Dan tak lupa kami melakukan pemanasan terlebih dahulu, agar badan kita bersahabat dengan tas carrier dan track yang akan dilalui. Pukul 01.00 perjalanan menuju citalahab pun dimulai. Sepanjang perjalanan, saya didampingi ka Arya yang juga penanggung jawab (PJ) hari itu. Langkah demi langkah semakin terasa sulit, beban dipunggung semakin terasa berat. Beberapa kali pun saya dan teman-teman beristirahat di tengah perjalanan dan selalu berpangku tangan. Namun, tekad akan melihat keindahan panorama gunung Halimun-Salak tidak kunjung padam.

Gerbang hijau yang bertuliskan “ Selamat Datang di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun “ telah terlihat, dan semua beban yang awalnya terasa tak terhiraukan lagi.

Langsung saja saya merebahkan diri di dekat gerbang itu. Ternyata waktu belum menunjukan saat subuh, saya pun tidak sengaja terlelap diselimuti hawa dingin. Beberapa menit berselang sudah saatnya saya untuk beribadah, namun enggan rasanya untuk bersentuhan dengan air pada saat itu. Selebih lagi setelah fajar mulai menyapa, kami baru menyadari bahwa arah kiblat sholat kami yang sebelumnya diberitahu oleh mas heri tersebut salah.

Sebelum benar-benar terang, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Kembali keringat membasahi keningku, telapak kaki yang mulai mati rasa. Rasa penasaran mampu melumpuhkan itu semua. Sekitar pukul 08.00 saya telah sampai di Cikaniki, tempat singgah yang kedua bersama mita, ka eka, dan mas heri pada saat itu. Hanya beberapa menit beristirahat, saya harus menempuh 2km lagi. Pemukiman kecil sudah mulai nampak, sejauh mata memandang hanya ada kebun teh serta hutan rimba. Tibalah saya di bumi perkemahan Citalahab, dan disambut dengan teriknya matahari. Tanpa menghabiskan banyak waktu saya bersama teman tenda (Vidi, Uci, Yayuk) segera mendirikan tenda, berbenah seisi tenda, lalu masak. Tapi sayang kondisi teman setenda saya (Panji) ketika sampai di area perkemahan sedikit kurang sehat, dan kami berlima menantikan kedatangan teman satu tenda lainnya yakni ka Sari dan Dessy, karena beberapa logistik kelompok yang diperlukan ada di ka Sari dan Dessy. Tak terasa malampun menjelang. Tiap malam jadwal rutin briefing lalu istirahat.

Rabu, 18 Januari 2012. Pukul 04.30 kami dibangunkan oleh ka insan penanggung jawab harian. Segera saya mengambil air wudhu, sholat lalu bersiap untuk olahraga dan pengamatan pagi. Untuk pengamatan pagi, kami dibagi menjadi beberapa kelompok HM. Satu kelompok HM terdiri dari dua orang PJ dan dua atau tiga orang anggota. Pagi ini saya di HM 11 bersama vidi dengan pj-nya ka hesty dan pa wo. Cukup terjal juga jalan yang dilalui untuk sampai di HM 11. Sesampainya saya langsung mengamati keadaan di sekeliling saya. Kabut dan kelembapan yang tinggi masih menyelimuti kawasan itu dan belum banyak satwa bermunculan. Ruang tumbuh tanaman cukup rapat dan ditemukan banyak serangga kecil. Hanya terdengar kicauan burung dari arah pohon yang jauh dan suara jangkrik. Lalu saya menemukan patahan sayap kupu-kupu berwarna coklat dan pada sisi dalamnya berwarna biru. Ketika cahaya mulai masuk mengenai alas hutan, mulailah bermunculan satwa lain. Dimulai dari lengkingan primata owa jawa (Hylobates moloch). Beberapa saat kemudian ada kupu-kupu hinggap pada salah satu tumbuhan di depan saya, sayap luar berwarna coklat lalu sisi dalam sayap berwarna kekuningan dan setelah diberitahu pa wo itu adalah dari ordo Lepidoptera dan dari famili Nymphalidae. Pengamatan berakhir pukul 08.00, kamipun kembali ke tenda dan mempersiapkan untuk sarapan dan istirahat.

Pukul 10.00 jadwal kami identifikasi satwa. Dimulai dari insekta yang dijelaskan oleh pa wo. Insekta atau disebut juga heksapoda, berasal dari kata heksa yang artinya enam dan kata podos yang berarti kaki.  Insekta mempunyai ciri khas yaitu berkaki 6 (tiga pasang). Kelas Insecta memiliki beberapa ordo, diantaranya Ordo Isoptera (rayap), Ordo Orthoptera (belalang), Ordo Odonata (capung), Ordo Hemiptera (walang sangit), Ordo Homoptera (tonggeret), Ordo Neuroptera (undur-undur), Ordo Lepidoptera (kupu-kupu), Ordo Diptera (nyamuk, lalat), Ordo Coleoptera (kumbang), Ordo Hymenoptera (semut). Pembagian ordo insekta dilihat dari sayap (tera) dan kaki (podos).

Ka ima menjelaskan pada pengamatan burung bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Secara langsung yang dimaksud adalah melihat secara langsung wujud serta ciri fisiknya. Jika secara tidak langsung itu bisa dari foto.

Seperti yang dijelaskan ka mamet, cara mengidentifikasi primata bisa dilakukan dengan mencari literature terlebih dahulu, lalu dilihat dari cara geraknya, pakan, dan warnanya. Lalu dilanjutkan penjelasan mengenai karnivora oleh ka azis. Berbeda dengan yang lain, karnivora sulit sekali melihat secara langsung. Famili dalam ordo karnivora cukup banyak, dan biasanya dibedakan dari jumlah kuku dan metakarpalnya. Yang sering dijumpai diantaranya famili Felidae (kucing-kucingan), Canidae (anjing-anjingan), Mustelidae (garangan), Viveridae (musang-musangan), Ursidae (beruang), Hyenaidae (hyena), dan masih banyak lagi.

Setelah identifikasi satwa dilanjutkan dengan pengamatan sore pada pukul 15.30. Pada kali ini saya ditempatkan pada HM 10 bersama panji serta ka kiki dan bang udin sebagai PJ. Pada awalnya hanya insekta saja yang saya temukan, namun tidak lama panji melihat bajing pada batang pohon yang cukup jauh. Saya pun bergegas melihat dengan binokuler dengan dibantu bang udin melihat objeknya. Ketika saya memfokuskan binokuler itu, ternyata terlihat ada dua ekor mamalia pengerat dari suku Sciuridae ini, dengan bulu ekor berwarna coklat keputih-putihan dan terdapat garis mata putih. Saya juga menemukan kutu pada punggung panji, yang ternyata kata bang ucok itu adalah kutu loncat (Hemiptera). Pada pukul 16.33 saya melihat dua ekor capung yang termasuk ke dalam Zygoptera dengan warna yang berbeda. Salah satunya berwarna biru mewah dan satunya lagi berwarna kuning. Dan saya melihat Coleoptera berwarna kuning pada daun salah satu tumbuhan. Kabut mulai turun pukul 17.00 dan waktunya pengamatan pun telah usai. Lalu beristirahat, sholat, makan lalu seperti biasa tiap malam selalu ada briefing dan dilanjutkan tidur pada pukul 22.00.

Kamis, 19  Januari 2012. Suara mpo laela membangunkanku, ditambah candaan vidi yang menirukan gaya bicara mpo laela saat membangunkan kami. Pukul 07.00 saatnya kumpul, pemanasan serta pengarahan orientasi medan. Kali ini tenda saya mendapatkan jalur gunung kendeng. Dan kami diperingatkan agar membawa cukup air, karena pada puncak pendakian tidak ada sumber air. Kami setenda ditemani panitia yang terdiri dari mas soni, ka mamet, ka azis, mas heri, pa wo, ka eka, ka ardi, dan ka ima, serta seorang guide yang bernama pak ade. Jalan melewati loop trail serta melalui jalan yang cukup curam dan jauh. Tak cuma sekali kami mendapatkan jackpot. Jackpot yang dimaksud disini adalah ketika kita terjatuh (pantat mengenai tanah). Namun sepanjang perjalanan saya mendapatkan banyak informasi, seperti pohon kimokla yang getahnya seperti darah, batang begonia yang rasanya segar, dan pada puncak saya dapat menemukan kantung semar. Di puncak terlihatlah ciri khas gunung Halimun, yakni kabut yang menggantung di angkasa. Kami beristirahat dan makan bareng. Tidak lama kami berdiam disana. Dan kami pun memulai perjalanan ke tenda. Hujan mulai turun, beberapa dari kami pun segera memakai raincoat. Tapi sayangnya, tak lama setelah memakai raincoat hujan pun berhenti. Jalur yang dilalui cukup menantang, namun saya, yayuk, ka azis, ka mamet, mas heri, pa wo, mas soni, ka eka, ka sari, panji, dan ka ardi berlarian melewati jalan yang cukup terjal, dengan berbagai gaya. Terkadang mas heri merekam saat keseruan itu. Jatuh, terpeleset, tersangkut tidak terpikir lagi oleh kami. Hanya canda, tawa, rasa seru yang ada pada saat itu. Kami pun sampai di bumi perkemahan kembali pada pukul 15.30 lalu beristirahat melepas lelah.

Jum’at, 20 Januari 2012. Keesokan harinya kembali dinantikan oleh pengamatan pagi. Kedua kalinya saya ditempatkan di HM 10 ditemani reza dan PJ tenda yakni ka hesty dan ka putra. Lagi-lagi saya bertemu dengan capung berwarna biru mewah dan berwarna orange (Zygoptera). Baru pada pukul 07.03 munculah gerakan pada batang pohon yang tidak jauh dari kami, yang ternyata itu adalah bajing coklat. Kesekian kalinya juga saya hanya mendengar suara owa, namun tidak terlihat dimana owa itu berada. Setengah jam sebelum pengamatan selesai tiba-tiba reza melihat seekor Lutung (Trachipitecus auratus) yang pada saat itu sedang makan daun.

Setibanya di tenda kami diberi pembekalan oleh ka alya untuk wawancara yang dilaksanakan seusai sholat Jum’at. Waktu wawancara pun tiba, saya bersama reza dan ka kiki serta ka yaumil memilih secara acak salah satu rumah di Desa Malasari itu. Tak sengaja ternyata pemilik rumah itu adalah guide jalur cikudapaeh bersama reza beserta anggota tenda 2 lainnya. Bapak Abas namanya, yang sejak 10 tahun yang lalu menempati daerah itu. Sebelum pa abas datang kesitu sesuai ajakan saudaranya, rumah-rumah penduduk telah berdiri kokoh sebelumnya. Namun, pihak TNGHS telah mengeluarkan amanat kepada para warga untuk tidak memperluas ataupun menambah kawasan pemukiman. Walaupun istri pa abas bekerja di Nirmala, tetapi rumah tinggalnya tidak mendapatkan subsidi pemasangan listrik. Berbeda dengan pemukiman diatasnya yang mendapatkan subsidi tersebut. PT. Aneka Tambang (Antam) memberikan beberapa keringanan kepada warga sekitar dengan pembangunan sekolah dan puskesmas.

Sabtu, 21 Januari 2012. Orientasi medan kedua dengan jalur cikudapaeh telah menunggu. Jalan menuju cikudapaeh memang lebih terjal dari jalur kendeng, namun tidak lebih jauh. Mungkin karena sudah terlatih dari jalur sebelumnya, jadi perjalanan kali ini tidak terasa melelahkan. Sesampainya di tempat tujuan, sungguh menyejukkan mata. Air terjun cikudapaeh yang tak henti-hentinya mengalir, dan segarnya air memberi kepuasan tersendiri. Sesaat akan makan bersama, datanglah rombongan Universitas Indonesia program studi Biologi yang pada saat itu sedang fieldtrip. Kami pun bergegas dan bersiap untuk kembali ke tenda. Hari itu ditutup dengan briefing malam dan sharingpengalaman orientasi medan.

Minggu, 22 Januari 2012. Pagi hari saya dan teman-teman sudah berkumpul dan diberi pengarahan untuk pengamatan raptor. Saya pengamatan pada jalur 1 bersama mita, panji, kamil, sigit, ka sari, uci dan kakak-kakak panitia. Dan pengamatan raptor dilakukan pada pukul 09.15 di puncak bukit kebun teh. Pada awalnya saya pesimis tidak akan melihat elang karena cuaca cerah, berawan, dan berangin kencang. Jarum jam menunjuk ke arah pukul 09.40 yang ketika itu sedang terik-teriknya tiba-tiba muncullah dua ekor elang. Seekor elang hitam (Ictinaetus malayensis) yang sedang soaring dan satu lagi elang bido (Spilornis cheela). Cukup puas melihat elang yang tidak terlalu jauh dari penglihatan.

Pada malam harinya jadwal kami untuk pengamatan herpet. Hanya berbekal senter pinjaman mas soni saya menikmati pengamatan di kebun teh ini. Namun tiba-tiba pak de menegur saya dan berkata “Rina…kamu mau ngintip orang pacaran ya?”. Saya terheran-heran kenapa pak de nanya seperti itu. Dan ternyata maksud pak de mengatakan itu adalah memberitahu saya bahwa senternya terlalu redup untuk pengamatan. Namanya juga senter pinjaman, sudah dipinjamkan tidak boleh protes. Tapi pak de berbaik hati untuk bertukar pinjam senternya, lalu pengamatan pun dilanjutkan. Cukup lama saya mencari tapi tidak menemukan satupun herpet. Ketika pengamatan akan berakhir ka afnan sedikit mengagetkan saya, lalu memberitahu bahwa suara katak yang saya dengar daritadi adalah katak pohon hijau (Rhacophorus reinwardtii). Pada saat itu pula ka afnan menjelaskan metode penelitian herpet kepada saya, sungguh informasi yang berguna. Dan pada saat perjalanan pulang ke tenda, harba menemukan jenis katak lainnya. Sampailah di tenda pada pukul 23.00.

Senin, 23 Januari 2012. Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir kami berada di bumi perkemahan Citalahab ini. Angin yang bertiup kencang dan mengibaskan tenda 1 seakan-akan mendukung rencana kepulangan kami. Pada pagi hari kami mengikuti animal race, pengamatan terakhir di TNGHS ini. Saya bersama ka susi dan sardi serta ka kiki dan ka putra sebagai PJ . Kami menemukan laba-laba (kelas arachnida; ordo arachnoideae), lima ekor kepiting dengan ukuran yang berbeda, lebah, kupu-kupu, dan yang paling menakjubkan di akhir waktu pengamatan tiba-tiba muncul elang bido (Spilornis cheela) sedang flapping dengan jarak dekat. Setelah pengamatan, dilakukan peng-identifikasi-an satwa dibantu oleh mas soni dan ka chandra.

Karena hujan yang tak kurun reda, agenda lomba masak dengan bahan utama nangka dan tutut yang seharusnya dilaksanakan siang hari jadi molor hingga sore hari, dan penilaian dilakukan sebelum briefing.

Selasa, 24 Januari 2012. Tidak seperti biasanya, kami dibangunkan lebih awal dari hari sebelumnya dan itu cukup mengagetkan saya. Kami berjalan ditengah kesadaran dengan hanya ditemani cahaya lampu senter mas soni, dan ia sambil menuntun kami ke sungai. Dan ternyata kami disuruh mencelupkan diri ke sungai, padahal saat itu hawa dingin terasa menusuk kulit. Namun dengan sugesti yang baik, hal yang kurang baik pun tidak akan terasa. Alhasil saya harus berganti baju dan celana saya yang terlanjur basah. Dilanjutkan dengan makan bersama setelah kami memasak untuk bekal di perjalanan. Saat terik menyongsong, pertanda kami harus membongkar tenda dan persiapan packing. Upacara penutupan metamorfosa X dilaksanakan setelah semua siap. Seusai itu kami memulai perjalanan ke cikaniki. Dua kilometer pada saat pergi dan pulang terasa sangat berbeda sekali, karena beban di pundak saat pulang telah berkurang, dan terasa lebih cepat. Kurang dari sejam kami sampai di Cikaniki. Disitu kami singgah untuk melanjutkan perjalanan pulang yang dimulai pada tengah malam. Briefing sore hari kali itu terasa kebersamaannya karena satu sama lain telah lebih mengenal dan mengetahui sifat dari masing-masing individu serta lebih peduli. Gelap pun menyambut, saatnya ibadah dan makan bersama. Semua terlihat lahap menyantap semua makanan yang tersedia. Sesaat sebelum waktu tidur, ka amal dan ka kiki masing-masing mengeluarkan 1bungkus plastik, dan ternyata itu adalah tutut. Saya yang saat itu belum bisa tidur mencoba mencicipi tutut yang dimasak oleh panitia itu bersama mas soni dan ka amal. Harba juga yang belum bisa tidur waktu itu hanya melihat kami, dia tidak ikut mencicipinya. Ketika beberapa cicipan pertama saya dikejutkan dengan rasa minyak tanah yang meresap ke tutut tersebut. Sungguh saya sudah cukup mabuk memakan makanan bermenu tutut.

Saya mencoba istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan, namun tetap saja tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tak lama berselang, waktu telah menunjukkan pukul 00.00 dan saya bersiap serta melakukan pemanasan bersama anggota lainnya. Pukul 01.00 langkah kaki mulai meninggalkan Cikaniki dan saya didampingi mas heri. Sepanjang perjalanan, barulah saya merasa ngantuk sekali. Yang saya pikirkan hanya sampai lalu tidur. Beberapa kali mas heri menawarkan saya untuk istirahat, tetapi saya enggan untuk menghabiskan waktu yang membuat saya tambah mengantuk. Mas heri cukup sabar mendampingi saya dan sempat memberi saya permen agar tidak tertidur pada saat jalan. Ternyata tidak disangka pukul 04.15 hari rabu, 25 Januari saya dan mas heri telah sampai di Cipeteuy. Akhirnya saya bisa beristirahat setelah saya melaksanakan sholat subuh di mushola. Kami menunggu tim sweeper yang menemani panji ketika kaki dia sedang terluka dan panji tetap berusaha melakukan perjalanan. Sesampainya kami menyambutnya ditambah rintikan hujan pada saat itu. Armada yang siap mengantar kami ke IPB pun telah datang dan kami pulang membawa pengalaman yang tidak dapat dibeli dengan apapun.

Saya banyak mendapatkan pelajaran, pengalaman, ilmu, dan untuk lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Dan saya ingin berterima kasih kepada seluruh panitia yang terlibat dalam pelaksanaan metamorfosa X. Terima kasih atas segalanya

[button link=”https://www.facebook.com/ri.rin.nna” type=”icon” icon=”people”] Rina[/button]

Leave a Reply