I will tell you about my story in Mount Halimun Salak National Park with UKF, together we have really really good experience especially for me. Maybe you have question about ‘whats Halimun Salak National Park? How to get there? When best season to visit? How to contact it? And the main point is how about my story, right?’

Ok, lets begin….

 

About Mount Halimun Salak National Park

Established in 1992, Gunung Halimun Salak National Park (GHSNP) is the largest remaining primary lowland forest in java, and comprises two mountains, Mount Salak and Mount Halimun. It is located close to the town Sukabumi.

The roughly 113,000 hectares found within its boundaries also cover a wide range of plant and animal species. The park is home to 23 mammal species, at least two of which are endemic and endangered (the Javan gibbon and the grizzled langur). It also supports more than 200 bird species of which 18 are endemic and over 500 plant species. Indigenous Kasepuhan and other Sundanese communities live in and around the park and depend heavily on its natural resources.

Visitor trek here to observe rare primates, birds, and other forest attractions, and to relax on the tranquil setting of towering water falls.

 

How To Get There

Firstly, fly to Jakarta and continue to the town of Bogor, West Java. From Bogor drive to Kabandungan via Parungkuda in a 1,5 hours drive or drive to Cisangku located 50 kilometers (1.5 hours drive) away.

 

Best Season To Visit

June to August every year.

 

Contact

Gunung Halimun Salak National Park Office

Parungkuda PO Box 2, Kabandungan Sukabumi 43157, West Java

Ph. (0266) 621256, Fax. (0266) 621257

E-mail: tngh@telkom.net

 

And now this is my story

Kami memulai perjalanan dari IPB ke Balai Pusat Taman Nasional Gunung Halimun Salak pada hari Senin tanggal 16 Januari 2012, pagi hari sekitar pukul 08.30 WIB dan sampai disana sekitar pukul 13.00 WIB. Kami beristirahat di balai sampai tengah malam, karena pada tengah malam kami akan ‘berjalan’ menuju tempat tujuan yaitu camp Citalahab. Perjalanan menuju Citalahab ditempuh dalam waktu 10 jam (waktu yang saya tempuh). Selama perjalanan kami sempat beristirahat didua perhentian utama, yaitu di gerbang masuk taman nasional untuk shalat shubuh dan di pusat penelitian, Cikaniki. Setelah sampai di tempat tujuan, kami langsung mendirikan tenda dan bersiap untuk makan siang. Hari pertama dan kedua kami habiskan dengan beristirahat, mengumpulkan energi untuk esok hari setelah perjalanan yang melelahkan.

Hari ketiga, kami memulai hari dengan bangun pagi pukul 04.30 WIB, berwudlu (of course, this is so cold), shalat shubuh, sarapan dan kemudian memulai pengamatan pagi. Pada pengamatan pertama ini, saya ditempatkan di HM 12 pukul 06.20 WIB (HM merupakan tugu penanda jarak yang berada sepanjang loop trail Cikaniki-Citalahab sepanjang 1,5 km). Ditempat ini saya melihat banyak satwa liar khususnya Owa Jawa, Hylobates moloch. Menurut M. Faesal Rakhman Khakim (2012), satwa ini merupakan satwa arboreal, selalu hidup di pohon dengan berpindah secara brachiate (berayun, mengandalkan lengan) dan memiliki warna keabu-abuan, ukuran tangan lebih panjang dari tubuhnya, tidak terlihat ekor. Biasanya berkelompok kecil tergantung ketersediaan pakan di alam. Pakan berupa buah-buahan, daun-daun, dan bunga. Dan yang saya lihat adalah satu ekor jantan dan satu ekor betina yang sedang menggendong anaknya. Selain itu saya juga melihat seekor burung sebesar burung gereja dan hampir seluruh tubuhnya berwarna coklat kecuali bagian dadanya yang berwarna sedikit cerah (karena burungnya lincah, jadi hanya bisa mengamati sebentar saja) dan setelah diidentifikasi ternyata itu adalah burung Ceret Gunung, Cettia vulcania. Saya juga melihat seekor kupu-kupu, Faunis canens, dengan warna sayap hitam ketika dia menutup sayapnya dan berwarna orange ketika sayapnya terbuka serta bintik-bintik putih disekitar pinggiran sayap. Pengamatan selesai pada pukul 08.00 WIB dan kami segera kembali ke tenda, bersiap-siap untuk makan dan beristirahat atau sekedar diskusi sebelum melanjutkan keaktifitas berikutnya yaitu pengamatan sore.

 

Masih hari ketiga, kami melakukan pengamatan sore pada pukul 15.55 WIB dan saya ditempatkan di HM 10. Tidak banyak satwa yang dapat saya lihat disini, mungkin saya lagi tidak beruntung kali ini. Saya hanya melihat dua ekor bajing kecil yang ukurannya sebesar burung gereja dan setelah diidentifikasi itu adalah Nannosciurus melanotis. Saya juga melihat seekor kumbang (Koleoptera) yang belum dapat saya identifikasi, warnanya hitam dan berpura-pura mati ketika disentuh. Pengamatan selesai pada pukul 16.30 WIB. Setelah selesai shalat, kami mengadakan briefing pada pukul 19.30 WIB untuk berdiskusi mengenai kegiatan hari ini.

Hari keempat, seperti biasa kami bangun pukul 04.30 WIB dan melakukan aktifitas rutin lainnya hanya saja hari ini tidak ada pengamatan pagi dan sore karena hari ini waktunya orientasi medan. Ini merupakan orientasi medan pertama. Orientasi medan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok tenda satu (this is my group) ke Gunung Kendeng dan kelompok tenda dua ke Cikudapaeh. Perjalanan dimulai kira-kira pukul 07.30 WIB. Sepanjang perjalanan mendaki yang melelahkan, saya tidak banyak menemukan satwa karena semakin tinggi datarannya semakin sedikit satwa yang hidup disana begitupun dengan vegetasinya, semakin didomonasi oleh tumbuhan paku-pakuan. Selama perjalanan kami juga belajar banyak hal dari Pak Ade (guide kelompok satu) khususnya mengenai tumbuhan. Pohon atau tumbuhan yang saya ingat adalah begonia yang bentuknya seperti talas-talasan namun berbulu/berambut dan batangnya bisa dimakan sebagai cemilan selama diperjalanan, rasanya seperti buah belimbing yang masih muda. Ada pohon rasamala yang biasa dihuni atau tempat Owa Jawa mencari makan, ada pohon kiara, ada pohon yang merupakan ‘pohon pencekik’ (maaf saya lupa namanya) bagi inangnya karena setelah inangnya dewasa atau tua, ‘pohon pencekik’ tersebut akan melilitnya sampai tidak ada lagi inang tersisa dan hanya dia yang tumbuh menjadi pohon yang besar, ada pohon kianak yang pohonnya terdiri dari beberapa batang kecil yang mengelilingi satu batang besar yang berupa induknya, dan ada juga pohon tepus yang bagian dalam batangnya bisa dimakan, rasanya hangat hampir seperti jahe, bunganya juga bisa dimakan namun rasanya asam, selain itu daun dan batang tepus dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusun tenda atau tempat berteduh jika dalam keadaan terdesak. Ditengah perjalanan kami juga menemukan feses macan tutul yang sudah mulai kering mungkin sudah sebulan yang lalu dan diperkirakan telah memangsa Owa atau Surili karena difeses tersebut ditemukan banyak rambut berwarna abu-abu. Kami mencapai tempat tujuan yaitu bukit Andam dua kira-kira pukul 12.00 WIB dan disana banyak sekali tumbuhan Kantung Semar, Nephentes sp. Setelah selesai beristirahat dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Citalahab. Perjalanan pulang ke Citalahab banyak dihabiskan dengan acara berlarian down hill ala UKF (this is really fun, I love this moment). Kami sampai di Citalahab kira-kira pukul 16.30 WIB dan langsung beristirahat sampai pukul 19.30 WIB waktunya briefing kembali membahas hal-hal yang telah dilewati hari ini.

 

Hari kelima, bangun pagi, shalat dan sarapan lalu memulai pengamatan pagi pada pukul 06.15 WIB di HM 11 (tempat saya mengamati hari ini). Pada kesempatan kali ini saya hanya melihat seekor serangga (Hemiptera) yang belum dapat saya identifikasi lebih lanjut dengan bintik-bintik berwarna orange pada bagian abdomen dan warna dasar seluruh tubuh bagian atas adalah hitam sedangkan bagian bawahnya berwarna orange. Saya juga melihat beberapa jamur Ganoderma yang merupakan salah satu jamur budidaya yang bernilai ekonomi cukup tinggi dan berguna sebagai bahan pengobatan. Saya tidak dapat begitu jelas mendengar daerah sekitar karena di HM 11 terlalu banyak sumber air yang mengalir yang membuat pendengaran kurang peka. Pengamatan selesai pada pukul 08.00 WIB. Kemudian kami bersiap-siap untuk melakukan shalat Jum’at dan setelah itu ada acara wawancara warga sekitar. Pada saat wawancara, warga mengatakan bahwa pemukiman tersebut ada setelah adanya perkebunan teh (perlu diketahui bahwa perkebunan teh Nirmala tidak termasuk kedalam kawasan taman nasional). Dari pihak taman nasional pernah menyelenggarakan pendidikan atau penyuluhan lingkungan kepada warga sekitar namun tidak berlangsung secara rutin. Warga menganggap bahwa dengan adanya taman nasional ini ada untung dan ruginya, untungnya adalah mereka bisa ikut serta dalam melestarikan kehidupan bumi ini yang bergantung kepada kelestarian hutan sebagai jaminan generasi selanjutnya dan ruginya adalah mereka tidak bisa sembarangan lagi memburu satwa atau menebang pohon dikawasan taman nasional. Setelah selesai wawancara yang singkat sekitar satu jam tersebut, kami kembali melakukan rutinitas dan menunggu pukul 19.30 WIB untuk briefing. Dalam briefing kali ini kami membahas panjang lebar mengenai hasil wawancara tadi siang. Dari hasil wawancara, ada beberapa orang yang menceritakan dan menjelaskan interaksi antara perusahaan Antam, warga sekitar, dan pihak taman nasional. Disini saya mengerti dan memahami tentang pentingnya lingkungan dan dinamika kehidupan manusia khususnya warga sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Saya pun sempat membuat sebuah pantun diakhir briefing.

Naik gunung bawa kuas

Ada karung isinya ketan

Daripada segunung emas

Lebih baik segunung hutan

Hari keenam, adalah waktunya untuk orientasi medan yang kedua. Tujuannya sama, hanya saja sekarang kelompok satu ke Cikudapaeh dan kelompok dua ke Gunung Kendeng. Medan menuju Cikudapeh tidak begitu melelahkan daripada ke Gunung Kendeng tetapi ada banyak turunan terjal dan licin yang cukup membahayakan. Ditengah perjalanan kami menemukan seekor katak, Megophrys montana, dan tapak macan tutul yang diperkirakan masih baru melewati jalur ini sekitar 4 jam yang lalu. Ketika sampai ditempat tujuan, saya tidak tahan untuk tidak berenang di Curug Cikudapaeh (this water fall is so beautiful, I just want swim and swim again). Di curug ini juga kami bertemu mahasiswa dari Universitas Indonesia yang kebetulan juga mungkin lagi ada study ke Halimun Salak. Setelah selesai orientasi medan, pada malam harinya kami kembali mengadakan briefing dan saya juga membuat pantun yang kedua.

Waktu ormed bawa peta

Jangan lupa bawa pensilnya

Bagaimanapun perjalan kita

Yang penting hasil akhirnya

Hari ketujuh, hari ini tidak ada pengamatan pagi tetapi hanya ada pengamatan raptor (burung-burung predator, diantaranya elang dan burung hantu) di siang hari atau hampir tengah hari dan pengamatan herpet (reptile dan ampibi) pada pukul 20.30 – 23.00 WIB. Pada pengamatan raptor, kami tidak begitu banyak melihat elang karena cuacanya yang mendung sebab elang biasanya banyak keluar ketika cuacanya panas supaya bisa memanfaatkan energy panas bumi untuk melakukan gerakan soaring. Saya hanya melihat seekor elang hitam, Ictinaetus malayensis, dan seekor burung lagi yang belum berhasil teridentifikasi karena letaknya yang terlalu jauh dari jangkauan binokuler. Karena lama menunggu munculnya elang, saya sempat membuat sebuah puisi.

Engkau yang mempunyai kebebasan

Engkau yang tak kenal keputusasaan

Engkau yang selalu terlihat berani

Engkau yang melantunkan simfoni

            Aku yang rindu akan selimut indahmu

            Hanya bisa diam membisu

            Apakah kabut mengusirmu?

            Karena mentari tiada melindungimu?

Saat ini aku merasa

Engkau tidak lagi gagah perkasa

Namun aku selalu percaya

Akan tiba satu masa

Ketika aku hanya duduk terbata

Tanpa kata

Tanpa suara

Melihatmu mengendarai angkasa

Pada pengamatan herpet, saya tidak berhasil mendapatkan apapun (maybe today isn’t my luck) tetapi menyenangkan sekaligus mencekam ketika malam hari berada di tengah kebun teh mencari ular dan katak. Ketidakberuntungan saya ini mungkin disebabkan karena tadi siang telah dilakukan penyemprotan pestisida pada kebun teh ini, karena bisa saja pestisida juga berpengaruh pada kehidupan katak dan ular di daerah ini.

Hari kedelapan, kami bangun pagi seperti biasa dan acara hari ini adalah animal race dan lomba memasak. Animal race adalah lomba pengamatan yang dilakukan di tiap HM masing-masing. Kebetulan saya ditempatkan di HM 10 bersama dua orang teman saya yaitu Uci dan Kamil. Pada animal race ini kelompok saya HM 10 menjadi pemenang. Kelompok kami berhasil memenangkan animal race dengan melakukan pengamatan pada dua hewan yaitu seekor capung dan seekor laba-laba (kamu pasti bertanya, ‘how did you do that?’). Format hasil pengamatan yang kami serahkan kurang lebih seperti ini:

[box]

(disini tertera sketsa dan deskripsi capung)

 

Ket:     Kelas=> Insekta

Ordo=> Odonata

Sub ordo=> Zygoptera

Nama Indonesia=> Capung jarum

Nama lokal=>  Papatong jarum

Nama spesies=> –

English name=> Dragonfly

Ciri khusus:

Merupakan serangga (berkaki enam), yang membedakannya dengan capung yang biasa kita temui adalah ukurannya lebih kecil, seluruh tubuhnya berwarna biru metallic, dan juga ekor/perut/abdomen tipis/kecil menyerupai jarum, panjang dari kepala sampai ujung torax kira-kira 1 cm dan panjang ekor kira-kira 4 cm.

Aktifitas:

Sedang hinggap di daun tepus

Habitat dan substrat:

Hutan hujan tropis misalnya Gunung Halimun Salak. Sering hinggap ditanaman-tanaman bertajuk D atau E (herba atau semak-semak).

Waktu menemukan:

Pukul 07.36 WIB di HM 10

[/box]

Untuk hasil pengamatan laba-laba formatnya kurang lebih sama seperti capung yang diatas. Setelah selesai animal race kemudian kami beristirahat. Sejenak saya melihat para warga yang sedang memetik teh dan saya iseng membuat sebuah puisi.

Andai aku seperti mereka

Menyambut hari secara pasti

Tak berhenti

Walau kadang hasil menyayat hati

            Tak jarang kesepian menimbulkan impian

            Saat sang hijau disekitarmu menimbulkan kengerian

Mungkin ini sebuah ujian

Dimataku, ini penderitaan

Mampukah mereka bertahan

Menghadapi segala cobaan

            Ya, aku yakin mereka bertahan

            Karena mereka tidak seperti

            Aku

            Debu

            Dan awan kelabu

            Yang bergerak kemana angin menuju

Menjelang makan siang ketika tenda satu dan tenda dua saling melengkapi, saya juga sempat membuat sebuah pantun.

Ada owa minum soda

Macan tutul makan biskuit roma

Ada tawa ada canda

Karena kita selalu bersama

Tak lama setelah itu, saya juga membuat sebuah lagu.

*Aku tertawa

  Aku bahagia

  Semua bercanda

  Saat suka duka

            Oh….. aku terharu

            Sekaligus malu

            Saat semua menatapku

            Sangat syahdu

            Oh…..aku diam membisu

Back to *)

Kebersamaan ini

Tak akan pernah terganti

Aku akan menanti

Suatu saat nanti

Bersama lagi

Mengkonservasi

Sepenuh hati 3x

Catatan: Nada lagu ini mirip dengan lagu ‘I Can’t Smile Without You’ dari Berry Manilow, yang merupakan Ost. Hellboy 2: The Golden Army.

 

Pada perlombaan masak, menu utamanya adalah nangka dan tutut. Bahan baku nangka sudah kami dapatkan sedangkan untuk tutut kami harus mengambilnya dulu di sawah warga     (I really enjoy it). Ketika semua orang sedang asik mengambil tutut, seorang teman saya, Harba, berteriak bahwa dia menemukan seekor ular sanca, Phyton reticulatus, yang sedang melingkar disamping kakinya dan dia langsung menggenggam kepala ular tersebut kemudian saya bersama Kak Wahyu ikut membantu membawa ular tersebut ke pinggir sawah untuk mengukur panjang dan diameternya. Ular tersebut memiliki panjang 3,10 meter, diameter sekitar 14-15 cm dan ular tersebut jantan. Setelah berfoto-foto sebentar dengan ular tersebut, kemudian kami melepaskannya kembali ke habitatnya (ke daerah pinggir sungai, sedikit lebih masuk kedalam hutan). Akhirnya, masakan untuk perlombaan masak pun disajikan ketika briefing dan yang memenangkan kompetisi adalh tenda dua dengan pepes nangka dan bubur abon tututnya.

 

Hari kesembilan, tidak diawali dengan bangun pukul 04.30 WIB tapi bangun sekitar pukul 04.00 WIB atau mungkin lebih pagi karena ketika tertidur nyenyak tiba-tiba Kak Sony membangunkan kami semua dan membawa kami ke tengah sungai untuk pemahaman akan apa yang sebenarnya kita lakukan selama sepuluh hari dan untuk apa pentingnya semua ini (Brrrrrr..just two word “so cold”). Perlahan-lahan tubuh saya mulai beradaptasi dengan suhu dingin tersebut dan pada saat itu juga terpikir sebuah pantun.

Mandi di sungai sampai pucat

Sungguh hati terasa berat

Namun semua terasa hangat

Ketika kita penuh semangat

Dihari kesembilan ini kami makan bersama, membongkar tenda, upacara penutupan sekaligus pelantikan Uni Konservasi Fauna angkatan 9. Setelah semua itu selesai, kami memulai perjalanan ke Cikaniki untuk beristirahat sampai menjelang tengah malam. Cikaniki berjarak sekitar 2 km dari Citalahab lewat perkebunan teh Nirmala. Bagi saya, perjalanan ini terasa sangat menyakitkan dengan sebelah kaki dibalut perban dan hanya bertumpu pada satu kaki. Di Cikaniki, Kak Sony mengoperasi kaki saya (this is really relly hurt indeed…). Ketika tengah malam tiba, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke pasar Cipeuteuy. Saya berjalan paling belakang bersama tim sweaper. Sepanjang jalan mereka terus menghibur dan membantu mengobati kaki saya. Akhirnya saya membuat pantun untuk tim sweaper.

Choki-choki terasa pahit

Tercampur cuka sama pati

Meski kaki terasa sakit

Canda mereka mengobati

Pada hari kesepuluh, kami (tim sweaper) berhasil mencapai tempat tujuan tepat waktu yaitu pukul 09.00 WIB. Kami menunggu mobil jemputan sekitar lima jam lamanya dan disela-sela waktu tersebut saya tidak bosan-bosannya membuat pantun.

Berhari-hari ke luar kota

Beli celana bareng mertua

Sepuluh hari penuh cerita

Yang akan bermakna dihari tua

Perjalanan pulang menuju IPB menjadi saat-saat menikmati keindahan Gunung Halimun dari jauh. Kami sampai di IPB kira-kira pukul 17.00 WIB. Seperti biasa, setelah sampai GWW kita langsung mengadakan briefing sebentar untuk sekedar evaluasi atau sharing setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing. (Ok, that’s all my story… how about your story?)

 

Majalengka, 2 Februari 2012

 

Panji Septian

 

[button link=”https://www.facebook.com/profile.php?id=1505497180″ type=”icon” icon=”people”] Panji [/button]

 

 

[fb-share]

Leave a Reply