Betet biasa (Psittacula alexandri) merupakan salah satu jenis burung paruh bengkok dari famili psitticidae. Burung seukuran kutilang yang memiliki warna hijau di sebagian besar tubuhnya dan warna merah muda di bagian dada ini memiliki suara yang berat dan senang bersuara di sepanjang aktifitasnya. Betet membuat sarang di batang pohon dengan membuat lubang yang besarnya seukuran tubuh mereka. Betet biasanya berkumpul pada satu pohon tertentu untuk makan atau menelisik bulu.

Betet biasa atau yang lebih dikenal dengan betet jawa tersebar di India, Cina Selatan, Asia Tenggara, dan Sunda Besar (MacKinnon, 1993). Betet dapat ditemukan di daerah kaki gunung dan dataran rendah. Habitat alami yang sering ditempati betet adalah hutan di kaki bukit, hutan sekunder, hutan mangrove, hutan dataran rendah yang berdekatan dengan daerah pertanian, perkampungan, dan perkotaan. Di Kampus IPB Dramaga, betet jawa tersebar di sekitar Arboretum Fahutan, tegakan sengon, hutan cikabayan, komplek penangkaran rusa, komplek asrama sylva, komplek tanaman kelapa sawit, dan komplek kebun salak yang berada di samping asrama putri (Nasution, 2003). Sayangnya, karena penebangan pohon untuk pembangunan gedung baru, pergerakan betet di kampus pun semakin sempit.

Tanggal 9 dan 10 Februari 2012 kami mengadakan kegiatan pengamatan dengan tujuan inventarisasi betet biasa di tegakan sengon. Fokus pengamatan ini adalah jumlah individu, aktivitas, dan habitat. Tegakan sengon terletak di sebelah barat gedung rektorat, sebelah utara berbatasan dengan danau LSI, sebelah selatan dengan arboretum bambu, dan sebelah timur berbatasan dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Jenis tanaman yang mendominasi adalah sengon dengan permukaan tanah ditumbuhi oleh alang-alang (Nasution, 2003).

Perjumpaan tidak langsung (suara) mengawali pengamatan kami. Tak lama kemudian seekor burung dengan suara berisik dan ekor yang lancip saat terbang, melintas di atas kepala kami, target ditemukan. Dua menit kemudiaan, tiga ekor betet terlihat terbang, lalu hinggap dan menelisik di ranting pohon sengon yang cukup tinggi. Umumnya, betet menelisik secara bergerombol di bagian atas tajuk sambil berjemur di bawah sinar matahari.

Sepanjang pengamatan, kami menemukan dua buah sarang aktif beserta betet yang sedang beraktifitas di sarangnya dan satu sarang yang diduga sarang betet yang sudah ditinggalkan. Di akhir pengamatan, kami mengakumulasi hasil perjumpaan yang memperlihatkan bahwa betet yang kami temukan berjumlah 5 individu. Karena kami mengamati berdasarkan perjumpaan langsung maupun suara, maka kami tidak mengetahui jumlah pastinya.

Keesokan harinya, kami kembali melakukan pengamatan. Pagi yang cerah ini diawali dengan sambutan dari dua ekor betet yang terbang pergi ke arah rektorat saat kami sampai. Kemudian, terdengar suara dari seekor betet yang sedang bertengger di pohon sengon kering di seberang Danau Situ Leutik. Beberapa saat kemudian terlihat seekor betet yang hinggap di dekat kami dan dua ekor lagi datang dari arah danau. Baru berjalan sekitar lima langkah, seekor betet lagi-lagi terlihat di pohon yang tidak berdaun.

  Suara betet yang bersahut-sahutan seperti backsound kami saat pengamatan. Seekor caladi tilik (Picoides moluccensis) terlihat di batang pohon dekat jalan setapak dan seekor cinenen pisang (Orthotomus ruficeps) terlihat di antara semak-semak. Kedua burung ini sedang asyik mencari sarapan. Di akhir jalan setapak, kami melihat seekor betet sedang bertengger, satu ekor terbang dari arah arboretum bambu, dan dua ekor  lagi terbang dari arah FPIK. Cukup banyak juga kami melihat burung cantik berstatus Appendiks II oleh CITES dalam kurun waktu 30 menit, sekitar 11 individu.

Pengamatan yang dilakukan juga dijumpai jenis-jenis burung lain disana seperti remetuk laut (Gerygone sulphurea), kacamata biasa (Muscicap daurica), cekakak sungai (Todirhamphus chloris) berjumlah tiga ekor, kareo padi (Amaurornis phoenicunus) sekitar tiga ekor yang terlihat di sekitar danau, raja udang meninting (Alcedo meninting), cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), cipoh kacat (Argithina tiphia) dan cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). Burung-burung ini memanfaatkan tegakan sengon dan danau Situ Leutik sebagai tempat tinggal dan sumber makanannya. Adanya aktivitas pembangunan dan pengembangan kampus serta perburuan oleh penduduk sekitar secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi keberadaan burung-burung ini (Nasution, 2003). Jika habitat itu hilang, bagaimana mereka bertahan hidup?

 

Writed by : Annisa CR (Divisi Burung)

 

Join the Forum discussion on this post

Join the Forum discussion on this post

Leave a Reply