Moderenitas hadir sebagai respon dari pelbagai ketegangan dalam menempatkan posisi subyek atau manusia. Pasca palu godam cartesian diketuk dengan gema yang mampu menggetarkan seluruh sendi-sendi wacana keilmuan, tata baru pemikiran mulai mengemuka di pelbagai epistemologi humaniora, lebih-lebih yang berafiliasi terhadap nilai ke-akuan yang menggelegak. Era itu seakan gegap gempita dengan, semacam, “kemerdekaan” individu untuk mengukuhkan eksistensinya, dan menempatkan alam sebagai oposisi yang melayani.

keristela.com
p’ wow design

Kemajuan ilmu pengetahuan dan pelbagai perangkat manusia untuk hidup “enak” semakin mencengangkan. Dari pendaratan manusia ke bulan hingga kloning hewan (yang juga bisa diterapkan pada manusia) bisa terealisasi yang sebelumnya nyaris sebagai dongeng semata. Lebih-lebih di era kini, hampir  tiap menit, kita disuguhi iklan bagaimana seluruh kebutuhan hidup kita bisa teratasi dengan mudah.

Namun, moderenitas yang melahirkan moderenisme meninggalkan luka terhadap ekologi di bumi ini yang juga sangat mencengangkan. Jutaan hektar hutan di permukaan bumi lenyap tidak kurang dari satu setengah abad. Ribuan spesies musnah. Orang-orang yang hidup di sekitar hutan belantara dan menggunakan nilai etnisitas sebagai perangkat tata kehidupan dan berinteraksi dengan alam tergerus oleh arus globalisasi korporasi yang rakus dan brutal dalam mengelola sumberdaya alam. Sungguh suatu destruksi yang membetot kognosisi kita, barangkali inilah paradoks dari moderenitas.

Dari tubir tebing, saya akan mencoba untuk mengamati bagaimana kehidupan di era kini ataupun yang lalu bersentuhan dengan yang ekologi atau yang murni. Barangkali untuk mencari kemungkinan yang lebih baik untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang. Kalaupun tidak mungkin, ada sesuatu yang bisa kita jadikan sebagai bahan kontemplasi individual ataupun kolektif.

Dari tubir tebing, kita akan senantiasa bergulat dengan yang taksa, serupa halimun.

 

F. A. Karim

Leave a Reply