Di sinilah aroma angin Barat berbaur oleh tiga ekosistem yang penuh ketegangan, belantara perawan bertabur nuansa magis yang kental, sawah yang diolah untuk penghidupan keseharian,  dan teluk dengan irama gelombang yang lamban. Terasa subtil memang, tapi Legon Pakis berada dalam tapal batas Taman Nasional (bagian lembaga negara yang mengelola kawasan pelestarian alam) yang sesekali menampilkan sosok yang menakutkan bagi warga yang berdiam diri di sana.

Manusia Badak

Ada semacam simtom untuk merelokasi mereka yang tinggal di Legon Pakis, konon demi kehidupan badak jawa yang terancam punah, konon pula, karena mereka tinggal di wilayah yang tidak seharusnya. Kita memang tidak tahu pasti tabiat kekuasaan yang beroperasi dengan pelbagai karakter, tapi kita tahu, negara berkewajiban menaungi warganya, sebagaimana dalam sila pancasila. Namun, ketika kita berada di Legon Pakis, perkampungan yang sunyi itu, kita tahu seorang yang tinggal di sana hanya ingin tenang mengolah sawah, mengail ikan di teluk, dan sesekali menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang ingin berwisata di Ujung Kulon. Kita tak tahu pasti, apakah mereka mengerti negara, siapa negara itu, apa negara itu.

Ujung Kulon senantiasa menampilkan pesona alam yang memukau, lebih-lebih di sana hidup badak jawa, satwa yang benar-benar langka dan sering menjadi sorotan dunia, tak ayal, banyak lembaga nasional dan dunia yang berlomba-lomba ingin terlibat dalam penyelamatanya dengan dana milyaran rupiah. Tentu saja kita senang dengan keterlibatan ini, namun kita tahu, orang-orang Legon Pakis, sebagian besar, masih beratap ijuk atau anyaman daun kelapa dan hanya hitungan jari semata, remaja yang sanggup meneruskan pendidikannya hingga jenjang SMA. Di kampung ini akses jalan tidak diperbaiki, fasilitas kesehatan tidak ada, untuk mendapatkan penerangan dari PLN mereka harus mengulur kabel sendiri dari kampung sebelah yang difasilitasi negara.

Pencanangan pemagaran kawasan hutan oleh LSM nasional yang disokong penuh oleh lembaga dari luar negeri pada akhirnya harus membebaskan sawah masyarakat seharga Rp 1,5 juta setiap penggarap. Ketika dikonfirmasi perihal kejadian ini mereka seperti tak berdaya oleh kekuasaan yang melingkupinya, kekuasaan yang sering beroperasi secara simbolik, yang oleh Bourdieu, sosiolog kontemporer dari Perancis, diungkapkan sebagai kekuasaan yang korbannya kadang tidak tahu dan menganggap apa yang menimpanya sebagai sesuatu yang sah. Barangkali begitulah penerimaan masyarakat Legon Pakis, karena seakan-akan mereka sama sekali tidak memiliki hak hidup di kawasan yang ditetapkan negara sebagai Taman Nasional.

Di Legon Pakis, kampung yang hening, bersih dan tertata rapi itu, seperti menyimpan penderitaan yang terpendam, ketidaktenangan hidup, tapi mereka mesti tetap menjalani karena waktu terus bergulir dan setiap yang hidup minimal membutuhkan makanan dan tempat tinggal. Dan tentu saja, Legon Pakis adalah Indonesia, dan Indonesia yang kita harapkan berkeadilan sosial bagi warganya sendiri.

 

F.A. Karim

Leave a Reply