Sadengan, padang penggembalaan seluas 80 hektar di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP). Sadengan, semacam hamparan dengan rerumputan hijau ketika musim penghujan datang, dan menguning ketika kemarau menghinggapi wilayah tenggara Banyuwangi ini. Sadengan, serupa savana tenang bagi puluhan banteng, rusa, merak hijau, babi hutan, dan satwaliar lain mencari makan.

BrushOneKita akan menyaksikan teatrikal alam liar ketika fajar bangkit dari Timur, atau senja memberi tanda untuk menutup hari. Pada interval waktu itu, sadengan seperti seseorang yang rebah diguyur cahaya matahari yang menyengat, tapi ada semacam keriangan ketika bentangan itu menghalau fatamorgana.

Dalam keleluasaan itu, sepotong kisah seorang tua, yang konon membujang, hadir dengan narasi yang senyap. Orang-orang memanggilnya Mbah Sampun. Seorang  berambut panjang, putih. Ia berpakaian kusam dan lusuh. Ia berwajah bersahaja. Tak seorangpun dapat memberi penjelasan yang pasti mengenai asal-usulnya. Ketika ditanya mengenai persoalan itu, ia hanya berkata,”Saya berasal dari Blitar.” Selebihnya ia akan bercerita tentang keterpautan hidupnya dengan satwaliar yang berkeliaran di Sadengan.

Di belantara ini, ia telah hidup 30 tahun.

Pengelola kawasan TNAP  memintanya untuk mencatat komposisi individu banteng yang merumput di Sadengan, dari pagi hingga sore hari. Mbah Sampun menjalankan penuh dedikasi. Dari kegitan kecil dan terstruktur ini, kita bisa mendapatkan data populasi banteng yang runut. Tentu, ini berkah bagi peneliti satwaliar.

Mbah Sampun, hutan dan satwaliar, mungkin suatu relasi yang sulit untuk didefinisikan. Di sana ada kehidupan liar yang sering sekali menampakkan nuansa ekologis yang harmonis sekaligus magis. Di sana juga tergelar sepotong kisah manusia yang mungkin saja absurd. Ada semacam pencarian yang tak pernah rampung dalam diri Mbah Sampun dengan laku yang asketis. Lebih-lebih di era kini, ketika rasio menjadi bentuk sesembahan, dan alam tidak lagi dipandang sebagai wilayah yang memiliki otoritas untuk mengada sebagaimana mestinya, keberadaan Mbah Sampun yang menyepi di belantara Alas Purwo, yang juga turut serta menjaga kehidupan di sana, tentu menawarkan suatu epistema yang perlu ditelisik lebih jauh.

 

F.A. Karim

One Comment

Leave a Reply