Anggrek hitam di dahan itu menghisap maut.

Angin tampak surut, berat, jera tertambat.

Waktu berkarat, secoklat korosi asap,

lekat pada lumut yang jemu menunggu seraut harap.

 

Pada marjin kalimat yang berkeringat,

penglihatanmu sembab

selembab serasah menggumamkan sepotong ayat,

patah-patah, megap, seperti prajurit sekarat.

 

Iklim makin anomali di ujung lidah matahari.

Daun-daun mengatupkan do’a pagi hari.

 

Bisakah kita berpaling dari ajal yang merapat,

sesaat sebelum senja

 

selesai melepaskan nama-nama, sebelum mega

di seperempat lengkung cakrawala

 

tak menggubris lengking nyaring wiwik kelabu

di separuh teduh,

di mana duka menitis, seperti tetesan air tebu,

di cangkir yang jenuh.

 

Kau hanya ingin belasungkawa

pada sebentar ruas usia

di padang kandas

sekeras savana Ndana.

 

2014

requiem

Leave a Reply