by Jasmine Arumsari (Tenda 1, CA 2)

Kami, calon anggota UKF angkatan XII, melakukan kegiatan jelajah ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) selama 10 hari, dimulai dari tanggal 13 sampai 22 Januari 2015. Peserta yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 23 orang dan kami dibagi sesuai kelompok tenda masing-masing. Panitia yang mendampingi kami ada 14 orang.

Kami berangkat dari kampus IPB Dramaga pukul 06.15 pagi, tanggal 13 Januari 2015 naik 2 truk yang akan membawa kami sampai ke balai TNGHS. Perjalanan kami tempuh selama 4 sampai 5 jam menuju Sukabumi. Setelah kami sampai dib alai, kami diberi kesempatan untuk istirahat dan makan sampai pukul 1 siang. Selama kami di balai, kami diberi materi mengenai long march atau perjalanan menuju bumi perkemahan Citalahab yang akan kami tuju keesokan harinya dari panitia. Dalam materi tersebut dijelaskan medan seperti apa saja yang akan kami lewati, seberapa jauh jarak dari balai menuju bumi perkemahan yang ternyata sejauh kurang lebih 26 KM, kemungkinan resiko apa saja yang bisa terjadi selama perjalanan dan cara mengantisipasinya, dan perlengkapan apa saja yang kami butuhkan.

Setelah materi long march dari panitia, setiap kelompok tenda diberi modal GPS dan peta untuk long march. Kami diberi arahan untuk mencantumkan lokasi check point yang akan kami lewati pada GPS agar kami lebih mudah sampai tempat tujuan dan tidak tersesat. Ada 5 check point yaitu pertigaan Cipeuteuy, Jembatan, Gerbang TNGHS, balai penelitian Cikaniki, dan yang terakhir bumi perkemahan Citalahab. Setelah semua arahan tersebut, sekitar pukul 20.00 kami mendapat materi mengenai TNGHS dari beberapa petugas Taman Nasional yang ada malam itu. Kami mendapat penjelasan mengenai perluasan TNGHS, satwa dan tumbuhan apa saja yang ada di dalamnya, dan pemukiman penduduk yang ada di TNGHS. Setelah materi tersebut, kami akhirnya diberi waktu untuk tidur sebelum long march.

Kami dibangunkan pukul 00.00, tanggal 14 Januari untuk persiapan long march. Setelah semua barang bawaan kami, termasuk tas carrier yang berat, GPS, dan peta siap, kami pemanasan sebentar sebelum kelompok tenda yang pertama (Tenda 1, kelompok saya) dipersilahkan untuk melakukan perjalanan terlebih dahulu pada pukul 01.00 sebelum diikuti oleh kelompok tenda yang lain.

Selama long march, pertama kami masih melewati banyak pemukiman warga. Jalan yang kami lalui juga masih mulus beraspal. Pada check point pertama di pertigaan Cipeuteuy, kami bertemu dengan dua panitia (Mas Kunt dan Kak Risa) dan dipersilahkan untuk istirahat sejenak. Perjalanan dari balai TNGHS ke pertigaan Cipeuteuy kira-kira sejauh 2 KM. setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan perjaanan ke check point selanjutnya yaitu Jembatan. Perjalanan ke Jembatan kami tempuh cukup lama hingga beratnya tas carrier semakin terasa. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan Kak Uci dan Kak Irma. Kami diberi suatu games sambil beristirahat sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Setelah melewati jalan yang naik dan turun, akhirnya kami sampai di Jembatan pas saat waktu shalat subuh.

Setelah melaksanakan shalat subuh, kami melanjutkan perjalanan menuju check point berikutnya, yaitu Gerbang TNGHS. Jalan yang kami lalui mulai lebih banyak batuan dibandingkan aspal. Tanjakan pun banyak kami temui. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan dua orang panitia lagi (Mas Her dan Kak Icha). Kami berhenti sejenak di sebuah saung di tengah kebun, lumayan untuk meregangkan otot pundak dan kaki yang mulai terasa sakitnya. Setelah istirahat beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan kami ke Gerbang. Sesampainya di Gerbang TNGHS sekitar pukul 07.00, setelah melewati banyak tanjakan dan jalan berbatu, kami bertemu dengan dua kelompok tenda lainnya yang sudah menyusul kami. Kami istirahat, melepas carrier dan makan roti untuk sarapan. Tidak berapa lama kemudian, Mas Her dan Kak Icha sampai juga di gerbang. Kami diberi games juga seperti sebelumnya. Setelah games selesai, kami melanjutkan perjalanan kami melewati jalan berbatu yang seperti tidak ada ujungnya menuju ke check point selanjutnya yaitu balai penelitian Cikaniki.

Perjalanan ke Cikaniki sejauh kurang lebih 5 KM. Jalananya pun membuat kami sungguh kelelahan karena sangat berbatu dan kami menemukan banyak tanjakan dan turunan yang curam. Kami sampai di balai penelitian Cikaniki sekitar pukul 11.00. Setelah istirahat sebentar, duduk dan minum, kami melanjutkan perjalanan terakhir kami menuju bumi perkemahan Citalahab yang berjarak sekitar 2 KM dari Cikaniki. Dengan perasaan capek tapi mau tidak mau, kami langsung kembali membawa carrier menuju tujuan terakhir. Awalnya kami masih melewati medan yang sama, daerah sekitar ada hutan dan jalan berbatu. Tetapi tidak lama kemudian, kami menghadapi kebun teh yang seperti tidak ada habisnya. Kebun teh yang kami lewati sangatlah luas dan berbukit. Jalanannya pun berbatu dan semuanya menanjak. Setelah kami mengerahkan seluruh tenaga, akhirnya kami sampai di bumi perkemahan Citalahab dan kami disambut dengan kelompok Tenda 2 dan 3 yang sudah menyusul kami.

Sesampainya kami di Citalahab, kami tidak segera membangun tenda, tetapi kami langsung tidur di bawah tenda bersama yang dibangun panitia. Setidaknya perjalanan kami yang melelahkan dan menghabiskan tenaga sedikit terbayar dengan tidur sebentar itu. Tetapi tidak lama kemudian, hujan mengguyur daerah camp. Langsung dua panitia, Kak Pupung dan Kak Faisal, datang membantu satu-satunya laki-laki di kelompok Tenda 1, Sutan untuk mendirikan tenda. Kami, anggota yang perempuan, mulai memasak makan siang yaitu mie rebus, karena kami pikir kami tidak mau repot. Setelah tenda selesai di dirikan, kami langsung membereskan isi tenda.

Malam harinya, kami semua beserta panitia berkumpul di tenda bersama untuk berbagi cerita pengalaman masing-masing kelompok selama perjalanan yang kami tempuh sejauh 26 KM itu. Pengalaman yang kami alami berbagai macam. Ada yang terjatuh, carrier-nya putus, dan banyak sekali. Setelah kami selesai berbagi cerita, kami dipersilahkan untuk memasak makan malam dan istirahat sebelum memulai aktivitas keesokan harinya.

Hari selanjutnya, tanggal 15 Januari, kami mulai dengan bangun pagi dan sarapan. Setelah kami masak dan sarapan, kami mendapat materi mengenai raptor atau burung pemangsa dari Kak Irma. Dalam materi tersebut dijelaskan apa maksud dari raptor yaitu sekelompok burung yang mencari mangsanya dengan cara berburu. Lalu dijelaskan juga ciri-cirinya seperti berparuh dan berkuku tajam, pengelihatannya juga tajam, hinggap pasti di pohon paling atas, dan lain-lain. Begitu juga mengenai jenis-jenisnya yaitu ada Falconiformes atau raptor yang beraktivitas di siang hari (diurnal) contohnya famili Achipitridae, Pandionidae, Sagitaridae, Falconidae, dan Catharatidae. Ada juga jenis raptor Strigiformes yang beraktivitas di malam hari (nocturnal) contohnya famili Strigidae dan Ptytonidae.

Selain ciri-ciri dan jenis-jenis raptor, kami juga dijelaskan mengenai cara terbang burung pada umumnya, seperti ambush (menukik), undulating (naik-turun), hovering (terbang diam), gliding (lurus tanpa mengepak), flapping (mengepak), dan soaring (berputar). Kami juga diperlihatkan gambar jenis-jenis elang yang ada di TNGHS yaitu ada Elang Ular Bido, Elang Hitam, Elang Brontok, Elang Jawa, dan Elang Alap Jambul. Setelah semua materi mengenai raptor dijelaskan, kami langsung ke lapang dan menerapkan pengamatan raptor.

Pengamatan raptor dilakukan di atas puncak bukit kebun teh karena untuk pengamatan raptor dibutuhkan tempat yang memungkinkan pandangan kita untuk bisa melihat seluas-luasnya. Ada dua lokasi yang berbeda. Selama pengamatan, kami hanya menemukan satu elang dan dua alap-alap yang terbang disekitar bukit. Kami tidak menemukan banyak, karena sebelum kami melakukan pengamatan, hujan turun mengguyur daerah camp.

Setelah kami melakukan pengamatan raptor, kami mendapat materi mengenai Hepterofauna atau hewan melata dari Kak Pupung. Dalam materi tersebut dijelaskan ciri-ciri perbedaan antara reptil dan amphibi. Reptil memiliki 4 ordo, reproduksi internal, telur bercangkang, dan bernapas dengan paru-paru. Sedangkan amphibi memiliki 3 ordo, hidup di dua alam (air dan darat), bertungkai empat, kulit lembab, licin, dan berlendir, bernapas dengan kulit dan paru-paru, umumnya nokturnal, reproduksi eksternal, umumnya betina lebih besar, dan suhu tubuh mengikuti suhu lingkungan. Selain perbedaan antara reptil dan amphibi, dalam materi tersebut dijelaskan juga mengenai metode yang digunakan untuk pengamatan hepterofauna, seperti VES (Vision Encounter Survey) atau pengamatan secara langsung (aktif) yang biasa dilakukan dalam waktu 2 jam atau dalam jangkauan 400 meter.

Sore harinya, kami melakukan pengamatan sore di loop trail dekat camp. Selama pengamatan, kami menemukan sekelompok burung semak yang masuk ke hutan, serangga, dan bajing. Pengamatan dilakukan selama kurang lebih 1 jam. Setelah itu kami kembali ke tenda masing-masing untuk istirahat dan makan malam sebelum kami melakukan pengamatan hepterofauna pada malam hari.

Saat pengamatan malam, kami dipisahkan menjadi tiga kelompok untuk jalur yang berbeda. Kami menemukan banyak jenis katak pohon dan katak daun, kami juga menemukan banyak kadal dan ular kecil. Pengamatan dilakukan selama satu jam setelah itu kami kembali lagi ke tenda bersama untuk mengidentifikasi jenis hewan ama saja yang kami dapatkan selama pengamatan. Indentifikasi kami lakukan hingga pukul 23.00 sebelum akhirnya kami semua dipersilahkan untuk istirahat dan tidur di dalam sleeping bag yang hangat.

Kami memulai hari Jum’at, tanggal 16 Januari, dengan pengamatan pagi di loop trail. Kami menemukan sejenis primata yang awalnya kami kira sekelompok lutung, ternyata itu adalah sekelompok surili yang sedang melompat dari pohon ke pohon dan duduk sambil berjemur. Banyak diantara surili yang kami lihat juga melihat ke arah kami. Selain surili, kami juga menemukan banyak bajing dan burung yang sedang memulai aktivitasnya di pagi hari.

Setelah peserta dan panitia yang laki-laki melaksanakan shalat Jum’at, kami berkumpul di sebuah lapangan di Desa Malasari dekat bumi perkemahan Citalahab untuk melakukan wawancara dengan warga mengenai TNGHS. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3 orang. Setiap kelompok ditugaskan untuk mewawancara 4 orang warga. Banyak dari warga yang kami wawancara menyatakan bahwa mereka menyetujui pentingnya melindungi ekosistem di TNGHS, dan banyak dari mereka yang menggantungkan biaya hidupnya dari hasil berkebun. Tetapi ketua RT di desa tersebut mengatakan bahwa sosialisasi yang diberikan pihak Taman Nasional masih kurang dan membuat banyak perburuan hewan liar, terutama burung terjadi. Beliau berharap kepada pihak TNGHS umtuk memperbanyak sosialisasi kepada warga agar dapat bersama-sama melindungi ekosistem.

Setelah wawancara seharusnya kami melakukan pengamatan sore, tetapi pengamatannya dibatalkan. Pada akhirnya kami hanya beristirahat, masak makan siang, dan mengobrol dalam tenda. Malamnya kami berkumpul lagi di tenda bersama untuk berbagi cerita mengenai hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan warga dan tentang apa saja yang sudah kami lakukan hari itu.

Keesokan harinya, tanggal 17 Januari kami mempersiapkan diri di pagi hari untuk melaksanakan kegiatan orientasi medan ke Curug Cikudapaeh dan Gunung Kendeng (Bukit Andam). Saya mendapat kelompok orientasi medan ke Curug Cikudapaeh. Anggota kelompok kami ada seorang guide, Pakde, Umay, Kak Faisal, Febi, Dini, Irfan, Nanang, Kak Ninis, Tiara, Adre, Kak Nisa, Kak Uci, Reza, Majid, Mas Her, dan saya sendiri.

Perjalanan ke Curug Cikudapaeh kami tempuh melewati jalan yang cukup licin dan terjal. Selama perjalanan kami ke sana, Pakde menyempatkan kami untuk beristirahat sejenak sambil menjelaskan kepada kami mengenai siklus hidrologi, serasah, ekologi, dan hutan hujan tropis. Karena materi-materi tersebut, perjalanan kami terasa tidak terlalu membosankan dan kami juga mendapatkan ilmu baru.

Kami sampai di Curug Cikudapaeh setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2,5 jam. Di sana kami menemukan curug yang keren. Tanpa pikir panjang lagi, kami langsung melepas boots yang kami pakai dan bermain langsung di curug. Walaupun air di cirig sangat dingin dan membuat kami sedikit menggigil, tapi itu tidak menghalangi kami untuk berfoto-foto, bahkan banyak dari kami yang ikut ber-selfie dengan kamera yang dipinjamkan oleh Mas Her. Setelah sudah mulai merasa kedinginan, kami bergegas mempersiapkan bekal yang kami bawa untuk makan siang. Lauk yang kami bawa, walaupun hanya nasi, mie, dan bihun tapi kami tetap makan dengan lahap. Lebih tepatnya sih agar kami tidak kedinginan. Tidak lama setelah itu, kami yang tadi main di curug langsung ganti baju sebelum akhirnya kami melakukan perjalanan pulang ke camp. Setelah 2 jam, kami akhirnya sampai lagi di camp.

Sesampainya di tenda, hujan mengguyur kawasan camp. Alhasil tenda kami (Tenda 1) mengalami kebocoran, lebih tepatnya rembes. Karena sati-satunya laki-laki di kelompok kami belum kembali dari orientasi medan, akhirnya saya, Adre, dan Tiara berusaha memperbaiki tenda. Untungnya tidak lama kemudian, Sutan dan Gaze datang. Walaupun 4 dari 5 anggota tenda kami perempuan, tapi kami semua belajar untuk membuat pasak sendiri untuk mendirikan jemuran dan membantu mendirikan tenda.

Setelah kami selesai, kami langsung masak untuk makan malam sambil menulis reportase sebelum malamnya kami berkumpul lagi di tenda bersama untuk berbagi cerita. Uniknya saat berbagi cerita, kelompok yang pergi ke Gunung Kendeng menampilkan sebuah lagu yang diubah liriknya menjadi cerita mereka selama perjalanan ke sana. Lagu yang mereka buat sebenarnya karena mereka diberikan tugas oleh Mas Kunt, katanya agar berbagi cerita tidak membosankan. Setelah itu kami kembali ke tenda dan istirahat.

Sebelum istirahat, Kak Pupung menawarkan peserta untuk melihat jamur yang menyala. Karena tertarik, beberapa dari kami (peserta) bersedia untuk ikut ditemani oleh Mas Her dan Mas Kunt. Dengan bermodal headlamp dan boots, kami jalan menyusuri loop trail yang gelap. Di tengah perjalanan kami menemukan kadal, musang di atas pohon, burung hantu yang sedang bertengger, dan kami mendengar seperti ada suara dengkuran babi. Kami berjalan cukup jauh, sekitar 2 KM tetapi belum menemukan jamurnya. Sayangnya karena kami juga terlalu sibuh mencari satwa yang beraktivitas pada malam hari, kami tidak menemukan banyak jamur. Pada akhirnya kami hanya menemukan 3 buah jamur yang menyala di dekat balai penelitian Cikaniki. Dengan rasa sedikit kecewa, kami kembali ke camp melewati jalur kebun teh yang seperti tidak ada habisnya sejauh 2 KM. Jadi, total kami berjalam malam itu adalah 4 KM. Sesampainya di camp, kami langsung beristirahat karena kami akan melakukan pengamatan pagi keesokan harinya.

Pagi hari, tanggal 18 Januari kami memulainya dengan sarapan nasi goreng. Walaupun dalam hal masak-memasak kami tidah terlalu ahli, tetapi rasa makanan yang kami buat masih enak kok. Setelah sarapan pagi, kami berkumpul di tenda bersama untuk mendapatkan materi mengenai insekta dari panitia Divisi Konservasi Insekta (DKI) yang kebetulan laki-laki semua. Mereka sih mengakui kalau mereka semua ganteng, walaupun sebenarnya biasa saja.

Kak Fahmi, Kak Faisal, dan Kak Akbar menjelaskan tentang klasifikasi insekta, mulai dari kingdom (Animalia), filum (Arthropoda), subfilum (Atelocerata), kelas (Insekta/Heksapoda), dan beberpa ordo serangga seperti Coleptera (kumbang, bersayap atas keras), Diptera (nyamuk dan lalat, bersayap dua), Hymenoptera (lebah dan tawon, bersayap seperti selaput), dan masih banyak lagi. Selain kalsifikasi insekta, dalam materi dijelaskan juga mengenai peranan serangga dalam ekosistem. Serangga memiliki banyak peran seperti sebagai polinato atau yang membantu penyerbukan tanaman, sebagai pengurai bahan organik (dekomposer), berguna dalam bidang kedokteran contohnya terapi sengatan lebah, dan juga sebagai bahan makanan. Kami juga dijelaskan mengenai metode apa saja yang digunakan untuk pengamatan serangga yaitu time search atau memakai batasan waktu, transek jalur atau pengamatan langsung dengan jarak sejauh 1-2 KM, dan/atau concentration count atau dengan lampu sorot untuk menarik perhatian serangga yang biasanya dilakukan malam hari.

Setelah materi diberikan, kami dibagi menjadi 4 kelompok untuk melakukan pengamatan serangga di 4 lokasi berbeda. Saya mendapat kelompok yang melakukan pengamatan di dekat kebun teh didampingi oleh Kak Faisal dan Mas Her. Selama pengamatan kami menemukan banyak sekali serangga seperti belalang, kupu-kupu, kumbang, ngengat, dan capung. Sayangnya pengamatan tidak bisa dilakukan terlalu lama karena hujan kembali mengguyur camp.

Saat kami kembali ke tenda bersama, kami dan semua kelompok melakukan identifikasi serangga yang kami temukan. Setelah diidentifikasi, ternyata kami telah menemukan kupu-kupu jenis Hecabe sankapura yang berwarna kuning, capung dari famili Chlorocypidae yang memiliki sayap hitam dan hijau metalik, capung Vistalis luktuosa yang bertubuh biru dan sayap hitam, sejenis ordo Diptera yang bernama Omathyus sp., dan kamu juga menemukan banyak ngengat atau ordo Lepidoptera.

Setelah kami melakukan identifikasi, kami kembali ke tenda masing-masing untuk masak makan siang dan istirahat. Saat memasak, saya terlalu bersemangat. Alhasil jari manis saya tergores pisau saat memotong labu. Ya jadinya saya punya luka gores. Tetapi kejadian itu tidak mempengaruhi rasa masakan saya. Tetap enak kok.

Sekitar 1 jam setelah istirahat, kami mendapat materi dari Kak Uci dan Kak Fahri mengenai pengukuran kualitas air. Metode pengukuran kualitas air yang dijelaskan adalah dengan melihat/mengidentifikasi satwa yang ada di air dan perhitungan poin masing-masing jenis satwa yang didapat. Poin rata-rata yang didapat dari hasil perhitungan itulah yang akan menentukan kualitas air sungai yang diukur. Praktek pengukuran kualitas air di lakukan di berbagai spot. Saya mendapat kelompok yang akan mengukur kualitas air di dekat persawahan. Di sana kami mendari satwa-satwa yang ada di dalam air, bahkan sampai mengangkat bebatuan yang ada karena banyak larva serangga yang hidup menempel di batu. Pengukuran kualitas air sungai dilakukan selama 1 jam. Setelah itu kami kembali ke camp untuk membandingkan nilai yang kami dapat dengan kelompok lain.

Kelompok lain yang mengukur kualitas air sungai di dekat camp mendapat kisaran poin 6-6,1 yang menyatakan kalau kualitas air di sana sangat baik. Sedangkan untuk kelompok yang mengukur kualitas air di dekat persawahan mendapat kisaran poin 5-5,9 yang menyatakan bahwa kualitas air cukup baik. Perbedaan poin ini kemungkinan karena saluran irigasi dari sawah yang langsung mengalir ke sungai sehingga mencemari sungai di dekat sawah, sehingga kualitas air menurun.

Setelah berdiskusi mengenai hasil pengukuran kualitas air, kami beristirahat  dan tidur sebelum akhirnya bangun untuk memasak makan malam. Setelah makan malam, kami berkumpul seperti biasa di tenda bersama untuk berbagi cerita.

Hari berikutnya, tanggal 19 Januari saya mendapat tugas sebagai PJ (penanggung jawab) bangun alias yang bertugas membangunkan seluruh peserta lain. Karena malam sebelumnya Kak Faisal meminta saya bangun sebelum jam 5 pagi, saya langsung memasang alarm di jam tangan Sutan pukul 04.45. Pada akhirnya, saat alarm berbunyi saya langsung bangun dan berdiam diri sejenak untuk menghilangkan rasa dingin di pagi hari yang menusuk tulang. Setelah sudah tidak merasa terlalu kedinginan, saya langsung membangunkan anggota tenda saya dan keluar tenda untuk membangunkan peserta tenda yang lain. Saya berkeliling dari mulai Tenda 2 sampai Tenda 4 untuk membangunkan para peserta yang lain dengan berkata “Ayo bangun sebelum Kak Faisal dateng. Kalian nggak mau kan kalau sleeping bag-nya ditarik terus disuruh push up?”. Terbukti ancaman itu cukup berhasil, karena setelah saya bialng begitu yang lain langsung terbangun. Tapi walaupun begitu masih ada saja yang tertangkap Kak Faisal masih tidur dan terkena hukuman push up. Maklum lah, udara dingin begini disuruh bangun pagi kan susah.

Setelah bangun semua, kami langsung shalat subuh dan masak sarapan dan bekal untuk orientasi medan. Kami langsung berkumpul di luar dan pemanasan sebelum berbaris untuk siap-siap pergi. Saya mendapat rute ke Gunung Kendeng (Bukit Andam), sebelumnya (tanggal 17 Januari 2015) kami mendapat rute ke Curug Cikudapaeh. Setelah semua bekal dan rain coat dimasukkan ke dalam carrier, kami siap berangkat.

Selama perjalanan ke Bukit Andam, kami ditemani seorang guide dan seekor anjing yang lucu dan sangat jinak. Perjalanan ke sana awalnya landai melawati loop trail sebelum akhirnya melalui tanjakan yang sangat curam dan terjal. Pakde menceritakan tentang kisah Mahabarata yang mengisahkan dewa-dewa yang pindah ke hutan untuk mencari ketenangan. Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa kita harus menjaga alam dan hutan karena alam itu tempat kita bisa menenangkan diri karena kesunyian alam. Pakde juga membahas mengenai etika lingkungan yang semakin lama semakin berkurang dan membawa keburukan kepada alam.

Sesampainya di Bukit Andam setelah melalui medan yang terjal dan cukup jauh, kami langsung duduk dan saya bermain dengan anjing yang menemani kami selama perjalanan. Pakde melanjutkan ceritanya mengenai Yudhistira yang mengajarkan kita untuk hidup harmonis dengan hewan serta menghargai alam. Kami duduk-duduk dan mengobrol sampai akhirnya kami lapar dan langsung makan siang. Menu makanan kami tidak jauh dari bekal yang kami bawa ke Curug Cikudapaeh, tetapi namanya juga orang lapar tidak peduli menunya apa yang penting makan.

Setelah kami makan, kami mengobrol lagi sampai pada akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang kami dan mampir dulu ke Curug Macan. Sesampainya di Curug Macan, para laki-laki langsung main ke sungai. Para perempuan pun tidak mau kalah, kami berjalan menuju curug dan berfoto-foto dengan kamera yang dipinjamkan Mas Her. Percaya deh, foto kami sangat banyak di kamera Mas Her.

Setelah kami puas bermain di curug, kami berjalan pulang. Di perjalanan, kami menemukan ular King Cobra yang melintasi jalur kami. Tubuhnya besar dan panjang sekitar 2 meter, tubuhnya bersisik dan berwarna hitam. Setelah kami menunggu ular itu lewat, kami kembali melanjutkan perjalanan ke camp yang lagi-lagi melewati kebun teh yang tidak ada batasnya. Perjalanan kami tempuh selama 45 menit. Setelah kami sampai, saya dan teman-teman satu tenda bergegas mandi di sungai (akhirnya!).

Setelah mandi dan kembali ke tenda, kami langsung masak makan malam. Setelah kami shalat dan makan malam, kami berkumpul kembali dan berbagi cerita. Kelompok yang melakukan perjalanan ke Curug Cikudapaeh hari itu lagi-lagi membuat lirik lagu tentang perjalanan mereka ke sana dan tentang tugas yang terus diberikan oleh Mas Kunt. Setelah itu kami langsung kembali ke tenda dan istirahat.

Keesokan harinya, tanggal 20 Januari kami mengawali hari dengan pengamatan pagi pukul 06.00. Saya mendapat kelompok yang didampingi oleh Kak Faisal. Saya sangat berharap hari itu bisa melihat Owa Jawa atau lutung lagi, tetapi pagi itu sangat sepi. Yang terlihat hanyalah sekelompok burung-burung kecil dan beberapa serangga.

Setelah pengamatan pagi, kami mendapatkan materi mengenai mamalia dari Kak Aaf dan Kak Nisa. Dalam materi itu, kami dijelaskan mengenai taksonomi mamalia mulai dari kingdom (Animalia), filum (Chordata), subfilum (Vertebrata), kelas (Mamalia), dan ordo-ordonya. Kami juga dijelaskan mengenai ciri-ciri mamalia yaitu memiliki kelenjar susu, berambut, beberapa memiliki daun telinga, dan berdarah panas. Materi diberikan  sekitar 2 jam, setelah itu kami dipersilahkan istirahat dan mempersiapkan anggota tenda masing-masing untuk mengisi acara kreativitas tenda yang dilaksanakan siang itu.

Sayangnya, hujan seketika turun. Alhasil acara kreativitas siang itu dan pengamatan mamalia dibatalkan. Untuk acara kreativitas lebih tepatnya diundur jadi dilaksanakan pada malam hari. Akhirnya kami tidak ada kerjaan, dan satu per satu dari kami gugur dan terlelap.

Kami dibangunkan oleh Kak Fahmi pukul 16.00 untuk melanjutkan materi dan diskusi mengenai mamalia. Saat materi, kami membahas tentang mamalia apa saja yang ada di Indonesia, khususnya yang memang endemik dan ternyata banyak sekali. Apalagi jenis primata, banyak sekali yang endemik Kalimantan seperti bekantan, beberpa jenis lutung, dan orang utan. Setelah materi, kami kembali ke tenda untuk shalat, makan, dan mempersiapkan diri untuk tampil.

Sekitar pukul 20.00, kami berkumpul di tenda bersama untuk menyelenggarakan acara kreativitas. Yang pertama tampil adalah Tenda 2. mereka menampilkan sebuah drama tentang keributan anggota tenda karena ketua kelompok yang tidak bertanggung jawab. Dramanya keren karena hampir terlihat seperti asli. Dari drama mereka dapat disimpulkan bahwa kita semua ini satu tim, dalam jelajah Halimun ini seharusanya kita saling menguatkan solidaritas dan kebersamaan, jangan hanya karena satu masalah kecil lalu seluruh anggota tenda ribut semua.

Setelah Tenda 2 tampil, giliran kelompok saya (Tenda 1) tampil. Kami menampilkan cerita pengalaman kami selama long march dengan merangkumnya menjadi lirik lagu yang kami nyanyikan dengan nada lagu band Nidji yaitu “Disco Lazy Time” dan juga kami merangkum pengalaman kami selama delapan hari di TNGHS dalam lirik lagu dan menyanyikannya dengan nada lagu Jamrud yaitu “Pelangi Di Matamu”. Kami juga menampilkan sebuah yel-yel tentang kelompok kami yang di akhiri dengan “Tenda Satu?! Yang lain mah apa atuh!”

Selanjutnya adalah Tenda 3 yang menampilkan lagu cerita pengalaman mereka, sebuah puisi, dan terakhir mereka menyanyikan lagu “Kontemplasi Alam Raya”. Setelah Tenda 3, ada Tenda 4 yang menampilkan sebuah dramatisasi puisi yang sangat keren. Puisi mereka berisi tentang bagaimana manusia yang dulu menikmati alam tetapi alam dirusak dan manusia menyesal. Penampilan mereka sangat total, saya saja sampai merinding mendengarnya.

Setelah semua tenda tampil, akhirnya tenda panitia juga menampilkan sebuah drama. Pertama, ada Kak Aaf yang menjadi moderator drama. Drama mereka menceritakan tentang seorang mama dan dua babinya di daerah Timur yang tidak boleh naik taksi. Lucunya, Kak Pupung dan Kak Fahri berperan menjadi babinya! Di sela-sela drama, mereka juga membuat iklan yang lucu. Ada iklan tentang rambut bagus yang dikeramas hanya dengan jeruk nipis diperankan oleh Mas Her dan ada juga iklan gel rambut bikin keren yang diperankan oleh Kak Uci. Walaupun Kak Uci sangat pendiam, saat memerankan iklan itu lucu.

Sudah puas tertawa, kami langsung kembali ke tenda masing-masing dan beristirahat karena keesokan harinya kami harus packing untuk persiapan pulang ke kampus.

Hari berikutnya, tanggal 21 Januari pagi-pagi kami dikejutkan. Baru saja rasanya bisa tidur lelap, tiba-tiba Kak Icha dan Kak Faisal membangunkan kami. Awalnya kami kira hanya dibangunkan untuk shalat subuh jam 5 pagi seperti biasanya, tapi ternyata kami disuruh berbaris di luar tanpa headlamp dan jaket. Saat saya melihat jam tangan, ternyata masih jam 4 pagi! Setelah kami semua bangun dan berkumpul di luar tenda, kami langsung berbaris dan jalan dalam gelap mengikuti sinar headlamp yang digantungkan di pohon. Selama kami menyusuri jalan yang gelap, kami saling berpegangan pundak. Jujur saja hati saya sedikit was-was, semoga kami tidak di siram air di pagi buta. Tiba-tiba kami disuruh berbelok ke arah sungai. Perasaan pun makin tidak tenang. Kami berjalan di pinggiran sungai sampai akhirnya kami disuruh berdiri melingkar di tengah-tengah sungai. Seketika saja doa saya agar tidak basah pun hancur.

Setelah kami berdiri melingkar, kami langsung disuruh untuk duduk di dasar sungai. Banyak dari kami yang seketika langsung menolak karena sudah tidak ada baju yang kering lagi. Tapi panitia tetap menyuruh kami untuk duduk di sungai. Bisa dibayangkan betapa dinginnya duduk di sungai jam 4 pagi. Karena Pakde tahu kami merasa kedinginan, kami disuruh untuk saling merangkul satu sama lain. Pakde akhirnya berbicara. Beliau berbicara mengenai pentingnya solidaritas dan kebersamaan dalam sebuah organisasi, bagaimana kita harus melupakan ego masing-masing dan harus saling bekerja sama, dan pada akhirnya kami disambut menjadi anggota keluarga besar UKF. Senang sekali kami akhirnya resmi menjadi anggota UKF.

Setelah kami duduk-duduk di sungai, Pakde menyuruh kami untuk tiduran. Banyak dari kami yang langsung menolak. Pasti lah, yang benar saja subuh-subuh disuruh tiduran di sungai, kan dingin. Tetapi pada akhirnya banyak dari kami yang tiduran, walaupun hanya beberapa detik. Setelah itu kami, angkatan XII berkumpul bersama dan menyanyikan lagu “Kontemplasi Alam Raya” sebelum akhirnya kami kembali ke tenda.

Sesampainya kami di tenda, langsung kami ganti baju dan menghangatkan diri. Untung saja panitia membuatkan kami pisang goreng dan wedang jahe, kan jadi lebih hangat. Setelah itu kami langsung masak untuk sarapan. Menu sarapan Tenda 1 kali ini adalah bihun goreng dan nasi. Karena biasanya orang yang habis kedinginan akan kelaparan, alhasil kami makan tambah 3 kali. Setelah kenyang, kami melanjutkan masak untuk bekal makan siang dan malam di Cikaniki. Menu kami hanya telur, nasi, mie goreng, dan tumis labu. Lalu kami disibukkan dengan packing dan upacara penutupan Metamorfosa XIII serta simbolis pengesahan anggota UKF XII. Selesai upacara, kami bergegas menuju ke Cikaniki karena sudah mulai hujan. Melewati kebun teh yang seperti tidak ada habisnya, kami berjalan bersama dengan carrier yang berat. Untung saja perjalanan kami tempuh hanya dalam 30 menit. Untuk jarak 2 KM, 30 menit itu cukup cepat.

Sesampainya di balai penelitian Cikaniki, kami langsung meletakkan carrier dan beristirahat. Tidak lama kemudian kami makan siang bersama di tengah-tengah dengan menggelar trash bag bening dan mencampur semua bekal yang kami bawa. Menu makanan kami kali itu beragam. Kami duduk berhimpitan untuk makan. Walaupun begitu, makanan kami tetap terasa lezat. Tiba-tiba saja Mas Kunt datang dan menyebarnkan biskuit cokelat diatas bekal kami. Nasi dicampur dengan biskuit apa enaknya?

Setelah makan, kami ditugaskan untuk mengisi sebuah kuisioner dari panitia yang berisi tentang berbagai ilmu dan materi yang sudah pernah disampaikan oleh pada panitia selama ini seperti materi navigasi darat, teknik penyebrangan sungai, dan sebagainya. Kami bahkan disuruh mengsketsa seekor Owa Jawa. Walaupun tidak pintar menggambar, saya langsung menggambarkan Owa Jawa sebisanya. Setelah mengisi kuisioner, ada pemilihan dan pembagian kakak asuh. Kami diminta untuk memilih 3 orang untuk menjadi kandidat kakak asuh kami selama di UKF. Pengumuman pembagian kakak asih akan di umumkan di Facebook.

Setelah shalat ashar, panitia mengadakan games tebak judul lagu dengan cara memperagakan sebuah judul film tanpa berbicara untuk ditebak. Semua yang diperagakan lucu-lucu, bahkan banyak yang sulit ditebak. Lalu games dilanjutkan dengan memasukkan pensil ke dalam botol. Permainannya menjadi seru karena banyak peraturan baru yang dibuat oleh Mas Kunt. Kami selesai main games sebelum shalat maghrib. Setelah itu kami ada briefing dan pengumuman tenda terbaik, yang diraih oleh Tenda 2. Lalu setelah itu kami makan bersama lagi di tengah sebelum akhirnya kami istirahat sebelum long march keesokan harinya.

Kami dibangunkan keesokan harinya pukul 00.00, tanggal 22 Januari untuk mempersiapkan diri dan barang bawaan kami untuk long march ke pertigaan Cipeuteuy. Sekitar pukul 01.15 kami akhirnya berjalan bersama-sama melalui medan yang berbatu, naik-turun, dan gelap. Tanpa terasa, kami menempuh jarak kurang lebih 18 KM hanya dalam waktu 5 jam. Kami berkumpul di sebuah masjid di Cipeuteuy sambil menunggu truk yang akan membawa kami pulang datang. Sesampainya kami di kampus IPB Dramaga, kami makan siang dan berkumpul sebentar sebelum akhirnya kami berpisah dan kembali ke asrama masing-masing.

Dari kegiatan Jelajah Halimun 2015 ini, saya pribadi mendapat banyak sekali pelajaran dan pengalaman, seperti saat pengamatan satwa. Pada kegiatan pengamatn itu, saya banyak belajar mengenai jenis-jenis satwa yang ada di sana, bagaimana cara mengukur kualitas air sungai, serta bagaimana kita bertahan hidup di alam dengan etika yang sesuai. Kekompakan kami juga terlihat dan semakin erat dengan kerja sama kami di tenda dan di camp. Semoga setelah kegiatan ini ini, ilmu yang kami dapatkan di sana bermanfaat untuk kedepannya dan dapat memberi pengaruh dalam melindungi satwa-satwa di Indonesia.

One Comment

Leave a Reply