Oleh Khuswatun Chasanah

Reportase Ekspedisi Global 2014
di Taman Nasional Ujung Kulon Banten, Jawa Barat

Kucoba lagi menggunakan snorkel dan membiarkan badanku melayang. Badanku mulai terangkat ke atas. ”blup-blup blup”!!
Tiba-tiba aku kaget. Masih saja belum bisa merilekskan badanku sendiri. Air asin pun tertelan. Teman-teman yang melihatku pun tertawa terbahak-bahak. ”Hufft!!”
===
Jalanku terseok-seok. Semakin jauh aku melangkah, semakin dalam kaki ini melesak ke dalam pasir, dan semakin perih lecet di kakiku akibat gesekan yang terus menerus antara kaki yang berjalan dengan celanaku yang basah akibat guyuran air hujan dan terjangan ombak pantai yang mencapai daratan. Ombak terus menggulung tinggi tak henti-henti, bahkan menunjukkan akan dimulainya massa pasang. Akibat adanya gejala angin siklon dari barat yang melewati perairan laut Indonesia, musim jadi tak menentu dan ombak terus meninggi. Angin pun berhembus dengan kencang, sehingga hujan gerimis jatuh mengguyur diriku.
Meski telah terguyur hujan pantai, aku terus melanjutkan perjalanan susur pantai sepanjang pantai utara dari Legon Pakis Banten ke Karangranjang, menembus hutan rawa dan kemudian menyusuri pantai lagi sepanjang pantai selatan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Banten hingga ke Cibunar. Kurang lebih, aku melakukan perjalanan sepanjang 24 kilometer selama sehari berdua bersama kak Nanang, kakak tingkatku di sebuah organisasi mahasiswa penggiat alam, Uni Konservasi Fauna (UKF) IPB, Bogor.
Kami hampir menjelajah sepanjang bagian luar kawasan TNUK. Kenapa aku mau berjalan sejauh ini apalagi dengan beban tambahan di punggung sebesar carrier 80 L berisi kebutuhan makan dan lainnya selama 10 hari kemudian adalah lain cerita. Benar-benar melelahkan fisik dan mental, tapi inilah konsekuensi tindakanku dan aku harus menguatkan diriku sendiri dan merapatkan beban di punggung. Tanpa mengurangi beban yang berarti, aku terus menyusuri pantai yang tak berujung.
Badan yang basah kuyup dan kondisi badan yang semakin lelah menyuruh aku dan kak Nanang beristirahat sejenak memulihkan tenaga dekat muara Cikesik. Di sini, bertemulah kami dengan petugas TNUK yang sedang menemani tamu rombongan dari Jakarta dan New Zeeland. Ternyata beliau adalah orang yang rumahnya kami inapi semalam di Legon Pakis. Nanti aku ceritakan lagi siapa beliau. Perjalan dilanjutkan saat gelap mulai merayap. Headlamp kami nyalakan untuk menerangi jalan kami. Di depan kami di pulau yang tak berpenghuni ini selain para petugas kehutanan dan makhluk alam lain, terlihat dua orang melambai. Karena kurangnya pencahayaan dan adanya kabut, kami tak tahu tiba-tiba mereka mendekati kami yang mulai gontai.
===
Pakde, pembimbing dan pengayom serta perintis UKF (anggota UKF angkatan nol) beserta Hamzah, ketua pelaksana kegiatan ekspedisi global UKF yang diadakan di Ujung Kulon ini menyongsong kedatangan kami. Syukur Alhamdulillah, bebanku terkurangi di saat yang sangat tepat. Kami bertukar carrier dengan milik mereka yang lebih ringan. Dengan jalan yang masih terseok, aku berjalan pelan-pelan menuju Cibunar.
Belum sampai di Cibunar, pasang sudah naik di Citadahan. Terpaksa, kami harus bermalam di camp dadakan di Citadahan. Di sini, sudah menunggu anggota UKF yang lain yang ikut menjemput kedatangan kami, yaitu cak Herry dan kak Reyna. Di sini, kami bertukar cerita perjalanan kami dan pengamatan anggota UKF yang sudah berangkat terlebih dahulu seminggu yang lalu. Banyak hal yang sudah kulewatkan seminggu ini.
Rencananya, aku berangkat seminggu lalu bersama seluruh anggota UKF yang mengikuti kegiatan Ekspedisi Global (EG) di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Tim UKF terdiri dari delapan divisi konservasi. Ada Divisi Konservasi Reptil dan Amfibi (DKRA), Divisi Konservasi Burung (DKB), Divisi Konservasi Karnivora (DKK), Divisi Konservasi Eksitu (DKE), Divisi Konservasi Primata (DKP), Divisi Konservasi Insekta (DKI), Divisi Konservasi Herbivora (DKH), dan Divisi Konservasi Fauna Perairan (DKFP). Masing-masing divisi memiliki tujuan pengamatan yang berbeda. Kuceritakan saja tentang divisiku, DKFP. Anggota DKFP yang ikut EG termasuk aku yang baru berangkat ada tiga. Dua lainnya yaitu Rikho dan kak Ganies (ketua umum UKF). Tempat pengamatan kami ada tiga spot, Karangranjang, Cibunar, dan Cidaun. Karang Ranjang sudah terlewati. Sekarang aku menuju ke destinasi ke dua, yaitu Cibunar. Sesampainya di sini pun, pengamatan sudah terlewati. Hari ini adalah hari terakhir di Cibunar.
===
Aku baru berangkat kemarin dan akan sampai Cibunar besok pagi atau siang. Malam ini aku dan beberapa anggota UKF yang menjemput kami kemarin bermalam di Citadahan, menunggu air mulai surut. Pagi kami bangun dan bersiap melanjutkan perjalanan ke Cibunar yang katanya memakan waktu 3 jam. Setelah mengolesi seluruh kaki dan pundakku dengan balsem otot, rasa pegal masih tersisa. Dengan berjalan santai, pelan-pelan kami berjalan menyusuri pantai, menembus hutan dataran rendah, menyebrangi muara, dan padang pengembalaan.
Di bawah teriknya matahari, aku menikmati keindahan pantai selatan Ujung Kulon. Ombak menggulung, menerjang tanpa ampun, besar dan tinggi. Akhirnya aku akan sampai ke resort tempat anggota lainnya menginap dan mendirikan tenda. Dari jauh terlihat bangunan kecil berdiri menghadap pantai. Itulah resort yang akan kami tuju.
Semakin semangat aku berjalan dan menahan kakiku yang semakin melemas. Meski perjalanan akan segera berakhir, jalan jadi serasa tak berujung. Kami melewati hutan yang panjang kemudian padang gembala. Di depanku, berjalan rombongan laki-laki. Mereka berjalan dengan cepat. Aku kewalahan mengejar jalan mereka meski sebenarnya tidak benar-benar mengejar, karena jalanku yang sudah terseok. Kadang, mereka sampai tak terlihat dan kemudian mereka menunggu yang di belakang dan mulai melanjutkan jalan lagi.
Di padang pengembalaan, kami beristirahat sebentar. Aku masih memiliki air mineral yang kubawa kemarin. Tak disangka tak dinyana, air mineral kemasan itu menjadi antrian. Anggota UKF yang lain sudah kehabisan minuman sehingga minum air dari sungai. Bahkan mereka minum air sumur yang rasanya katanya biadab. Meski kami dibiasakan minum air sungai yang memang jernih dan mengalir dari mata air, air sumur dan rawa yang katanya bau kentut sangatlah tidak mengenakan. Air mineral asli pun menjadi begitu istimewa dan membahagiakan.
Selama perjalanan, aku jarang minum air banyak-banyak, sehingga air mineral tiga botol besar yang kubawa masih banyak tersisa. Karena kebiasaanku jarang dan susah minum itu, banyak yang memaksaku minum yang banyak. Masih saja aku malas minum.
Di padang pengembalaan, indahnya pantai begitu melegakan dan tiupan angin menyejukan suasana hati yang ingin cepat sampai di camp. Di sini, kami menemukan kumbang ditol. Kumbang yang sering terlihat di acara tv Larva, kumbang yang suka mengumpulkan kotoran. Banyak kumbang ini mengelilingi kotoran banteng yang berserakan di padang pengembalaan seperti ranjau darat. Masing-masing dua kumbang bekerjasama menggulung kotoran itu menjadi bulatan-bulatan kecil dan membawanya ke tempat lain. Kumbang saja bisa bekerjasama seperti itu, seharusnya manusia pun bisa lebih dari pada itu.
Perjalanan berlanjut ke hutan kecil dan padang pengembalaan yang sama lagi, tapi lebih kecil dan akhirnya kami berjalan menuju pinggir tebing. Ombak kembali menggulung, menerjang karang yang tinggi, mengikis sedikit demi sedikit kokohnya tebing karang yang kami lewati. Pasang belum turun. Muara masih meluap tinggi dan resort Cibunar sudah di depan mata.
Bisa saja kami tidak melewati muara yang terkena pasang selebar 10 meter itu, tapi kami harus berjalan lagi sejauh dua kilometer. Rasa lelah menolak kami berjalan lagi. Penyeberangan yang hanya sepanjang sepuluh meter harus diganti dengan perjalanan dua kilometer sungguh membuat frustasi. Kami pun nekat menyebrangi sungai ini meski agak dalam. Kak Aaf dan kak Rendi yag menjaga camp di seberang kami segera melemparkan life jacket ke arah kami. Setelah berbagai ikatan yang dirasa cukup aman, kami menyelamatkan carrier kami terlebih dahulu agar tidak basah. Satu persatu kami menyebrang muara.
Sedikit demi sedikit aku menyebrang dan yang lainnya menjaga di sekitar tali penyebrangan. Ternyata muara ini cukup dalam bagiku. Arus pun menghambatku berjalan. Akhirnya aku didorong agar dapat berjalan. Karena sudah terlanjur basah kuyup akibat menyebrang muara, kami pun mandi dan berenang di sini.
===
Anggota UKF yang lain masih melakukan analisis vegetasi (anveg) dan belum kembali. Karena kami belum sarapan, kami pun segera masak dan makan. Beruntung air mulai surut. DKFP akan melakukan pengamatan lagi. Kali ini, kami akan mensensus kima yang ada di pantai ini. Dengan bantuan dari divisi yang lain, aku mulai mencari kima. Banyak yang sudah berteriak-teriak menemukan kima. Sedangkan aku masih kesusahan menemukannya karena bentuk dan warnanya mirip sekali dengan karang di sekitarnya. Satu persatu kima tersebut kami ident dan ukur panjang lebarnya.
Puluhan kima sudah ditemukan, akhirnya aku menemukan satu kima. Ukurannya memang kecil, tapi setidaknya akhirnya aku berhasil menemukan kima dengan mata kepalaku sendiri. Butuh banyak waktu, ketelitian dan kejelian, sumberdaya manusia, dan kesempatan air surut untuk mensensus kima. Sore sudah beranjak, air mulai pasang lagi. Kami pun mengakhiri pengamatan ini. Waktunya bersantai dan istirahat di hari terakhir pengamatan di Cibunar. Tidak menyesal aku masih bisa pengamatan DKFP di hari pertama dan terakhirku di Cibunar kali ini. Esok hari, kami akan melanjutkan perjalanan ke destinasi terakhir, Cidaun.
===
Saat mencoba bersantai di hammock yang terpasang di dekat pantai, aku mencoba untuk berbaring. “Gedebuk!!‘‘
Tiba-tiba aku terjungkal dari posisi duduk dan langsung tengkurap mencium tanah. Rasanya tidak sakit, tapi malunya tidak hilang-hilang. Yang melihatku langsung tertawa terpingkal-pingkal. Kekonyolanku jadi bahan tertawaan mereka.
Malam ini aku mencoba untuk tidur awal karena dorongan anak-anak lain agar aku beristirahat terlebih dahulu. Kucoba memejamkan mata, berganti posisi tidur, terlentang, menghadap ke kanan, ke kiri, dan berbagai cara. Tapi kantuk tak kunjung datang. Aku bangun dan memandang keremangan pantai Cibunar akibat sinar rembulan yang purnama di kegelapan malam. Aku menerawang jauh ke depan. Akhirnya, aku sampai juga di Ujung Kulon dan akan melakukan pengamatan fauna perairan.
===
Pagi ini packing sudah selesai dan perjalanan segera dimulai lagi. Setelah pemanasan, kami berangkat menuju Cidaun melewati hutan yang berbukit-bukit penuh dengan tanjakan. Jalanku masih agak terseok dan pelan tapi sudah mantap. Kali ini, aku membawa banyak minum dan refill beberapa kali di jalan. Akhirnya, aku minum banyak. Jalan yang penuh dengan tanjakan dan tanjakan panjang membuat debar jantung semakin meningkat.
Keramaian teman-teman mengadakan radio dadakan UKF mengurangi rasa lelah. Setelah beberapa kali beristirahat, perjalanan tinggal dua kilometer lagi. Heran, rasanya dua kilometer saat ini tak menemukan akhir yang ditunggu-tunggu. Aku merasa berjalan jauh sekali. Kadang mendengar suara angin bertiup kencang di atas tajuk. Kukira itu suara ombak seperti di pantai selatan. Berarti pantai sudah dekat, semangatpun meletup kembali. Setelah beberapa saat, pantai tak kunjung terlihat. Ternyata itu hanya suara angin saja. Bukan suara ombak kencang. Bahkan sebaliknya, ombak di pantai utara Cidaun tak sebesar pantai selatan. Pantai Cibunar memiliki ombak yang relatif kecil.
Akhirnya kami menemukan sungai dan lahan camp di seberang sungai. Sampailah akhirnya UKF di Cidaun. Kali ini, kami tidak tinggal di resort yang menghadap langsung ke pantai. Untuk mencapai pantai, kami harus berjalan lagi sekitar 200 meter. Tenda pun dibangun. Kami beristirahat sejenak dan mulai tagging jalur pengamatan serta survey tempat pengamatan.
Di dekat pantai, ternyata ada muara yang dihuni beberapa ekor buaya. Bahkan buaya di sini sering masuk ke pantai dan pindah ke muara yang lain. Sedikit takut, tapi guide yang memandu perjalanan kami dapat memastikan keamanan. Tak perlu khawatir yang berlebihan. Sorenya, kami merapat ke dermaga untuk sekedar menikmati sunset, duduk-duduk, ataupun berenang. Malam datang, waktunya briefing dan berlayar ke pulau kapas. Matras yang telah kukeluarkan sejak siang tadi raib entah kemana. Setelah ketemu, ternyata telah dipakai anak lain untuk alas dia tidur. Aku pun tidur di matras yang tak terpakai. Lagi-lagi mata ini susah terpejam. Meski sudah berbaring lama dan malam semakin larut, kantuk tak kunjung datang. Bolak-balik aku mengganti posisi tidur hingga akhirnya aku terlelap juga.
===
Pagi-pagi DKB dan DKP sudah bersiap-siap mulai pengamatan pagi. DKFP sendiri baru akan mulai pengamatan siang, sekitar pukul satu. Sebelum pengamatan, masak dan makan bersama sudah menjadi tradisi wajib bagi anggota UKF di lapang. Kami masak dengan bahan makanan mentah yang sudah kami bawa sejak hari pertama. Sekarang, banyak sayuran yang sudah busuk. Terong, daun bawang, jeruk nipis, kentang, dan cabe pun sudah keriput. Segera kami masak bahan yang mulai keriput itu untuk tambahan vitamin di lapang. Sumber protein lain dapat diperoleh dari kering tempe yang sudah kubawa. Selain itu, temanku di DKFP jago memancing. Tinggallah ia memancing dan mendapat banyak ikan muara atau laut untuk asupan protein hewani seluruh anggota UKF.
Pengamatan dimulai dari stasiun pertama. Karena ombak pantai yang relatif pelan, DKFP membuat jarak transek per substasiun sepanjang 30 meter. Jarak per stasiunnya tetap 50 meter. Sub per sub stasiun kami inventarisasi keanekaragaman biota laut yang ada di dalam transek.
Baru kali pertama ini aku mau masuk ke dalam air laut lagi setelah sekian lama takut terseret ombak seperti dulu. Karena aku tidak ikut eksplorasi DKFP ke Pulau Laki beberapa waktu lalu, aku baru belajar memakai snorkel dan melihat isi transek secara detail untuk diambil datanya. Karena takut melayang di air, aku kelabakan menggunakan life jacket yang terus mengangkat bebanku ke atas dan melayang.
Bisa dibayangkan orang yang tak bisa berenang masuk ke dalam air. Meski memakai life jacket yang pasti aman dan takkan terseret arus, aku terus was-was dan tak mau melayang. Air asin laut pun tertelan mentah-mentah, tak enak rasanya.
Semakin jauh kami ke arah tubir semakin dalam airnya. Kurang lebih 90 meter dari daratan, air masih tinggi karena belum surut maksimal. Aku berhenti di substasiun ketiga dan diam menunggu yang lain mengamati sekitar transek karena dalamnya air dan ketakutanku akan tenggelam. Mereka menemukan 7 kima dengan berbagai ukuran. Kebanyakan berukuran besar, terbesar sejak kemarin kami menemukan kima. Kima yang ini berukuran 76 cm.
Terumbu karang yang masih perawan, cantik, indah, dan sangat rapuh membuat kami ragu untuk terus melanjutkan langkah kaki kami. Langkah kaki kami bisa membunuh berbagai macam biota yang ada di ekosistem ini. Tujuan DKFP adalah mengambil data ilmiah, jadi tak seharusnya kami malah merusak ekosistemnya. Akhirnya, kami putuskan untuk mensensus kima yang berada di sepanjang pantai dan rata-rata masih dalam substasiun satu.
Semakin jauh stasiunnya, semakin dekat ekosistem terumbu karang yang ada dengan pinggir pantai. Jadi benarlah keputusan kami mensensus kima yang ada di sekitarnya. Sungguh melegakan dan memuaskan hati. Kima yang kami temukan sangat banyak. Lebih banyak dari Cibunar tepatnya. Total jumlah yang ditemukan di sini ada 67 dengan berbagai ukuran dari terkecil 4 cm hingga 76 cm.
===
Jadwal anveg dilakukan hari ini. Aku kebagian menginventarisasi semai. Pekerjaan yang paling cepat dibanding tiang, pancang, apalagi pohon. Banyak jenis pohon baru yabg kutahu, meski entah sekarang masih ingat-ingat sedikit. Area yang dibuat pada jalur ini meiliki berbagai macam vegetasi, dari pohon hutan dataran rendah ( pantai ), rawa, dan palem-paleman.
Selesai anveg, DKFP menyelasaikan pengukuran kima yang terakhir. Setelah mengukur seluruh kima yang ditemukan, aku berlatih renang di dekat dermaga sambil menunggu sang surya bersembunyi, kembali ke peraduannya. Lagi-lagi akhirnya aku hanya bermain air dan berenang-renang sebentar, tapi menyenangkan. Malamnya aku tidur dengan pulas. Saking pulasnya tak sadar ternyata salah mengambil posisi. Aku tidur melintang dan memenuhi tiga matras di sampingku sekaligus. Karena susah dibangunkan, aku hanya bergeser satu matras setelah didorong dengan susah payah. Karena kak Idham tidak kebagian tempat tidur, ia pun tidur di tenda logistik. Paginya, aku sungguh tidak enak hati karenanya. Tapi untungnya, ia tak mempermasalahkannya.
===
Hari ini hari terakhir kami di lapang. Sekarang 17 Agustus dan upacara bendera pun akan kami lakukan di pinggir pantai Ujung Kulon. Karena konsep upacara belum matang, kami melakukan beberapa kali latihan. Banyak yang saling ngotot memakai cara ini dan cara itu untuk memimpin upacara atau pun urutan upacara yang benar. Upacara dengan aturan militer pun menjadi alternatif terbaik untuk melaksanakan upacara bendera. Upacara yang sesungguhnya pun dilakukan. Peserta mengikuti dengan khidmat meski matahari sedang terik-teriknya.
Upacara kedua,upacara penutupan kegiatan EG sekaligus pengukuhan anggota baru UKF segera dilakukan. Tidak perlu latihan atau gladi lagi agar kami tidak kepanasan. Selesai upacara, akhirnya angkatan 11 yang baru resmi menjadi anggota UKF. Ada 17 anggota angkatan 11 ditambah 2 anggota lama yang belum mendapat nomor anggota. Nomor anggota pun langsung dibagikan dengan sistem pengambilan acak. Aku mendapat nomor urut 259 dari 245 hingga 261.
Selanjutnya sesi foto-foto. Berbagai alasan diungkapkan agar dapat narsis di depan camera. Ada yang satu asal daerah, satu divisi, satu kakak asuh, dan satu-satu yang lainnya. Saat akan kembali ke camp,angkatan 10 up terlihat mencurigakan. Mereka menyuruh semua angkatan 11 kembali ke camp duluan sedangkan mereka tetap tinggal di tempat upacara tadi. Pikiran-pikiran negatif pun bermunculan. Banyak anak khawatir akan dicelupkan lagi ke dalam air saat dini hari seperti yang pernah terjadi di Halimun tempo dulu.
===
Malam ini, makan malam dan briefing dipercepat. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Tiba-tiba setiap dua anak angkatan 11 diajak satu angkatan 10 up. Awalnya pikiran negatif anak-anak tadi siang langsung bermunculan lagi. Bahkan, banyak yang beralasan dan mencari-cari alasan agar tidak pergi dengan angkatan 10 up.
Aku dan Faisal diajak kak Aaf ke pantai. Dengan pakaian santai dan membawa sebuah matras masih membuatku khawatir akan ada sesuatu dari angkatan atas. Setiba di pinggir pantai, kami mencari spot yang tenang dan tidak terkena air pasang. Kami disuruh duduk begitu saja. Ada apa sebenarnya, aku pun tak tahu.
Ternyata teori dan pikiran-pikiran negatif siang tadi salah total. Di sini kami hanya diajak bercerita, sharing masalah, menyampaikan kesan dan tanggapan mengenai UKF itu sendiri. Tak sedikit pun kami disuruh berendam atau basah-basahan di pantai. Kuungkapkan saja apa-apa yang perlu kukatakan mengenai UKpantai.pannya sharing ini bisa dijadikan evaluasi bagi UKF dan seluruh anggotanya. Amien.
===
Hari ini, aku menjadi PJ harian. Hari ini juga, kami akan melaukan perjalanan pulang ke rumah Pak Sorhim di Legon Pakis, tempat anggota UKF menginap. Beliau adalah petugas dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Badannya besat dan berkumis. Sekilas terlihat garang. Namun bila sudah mengobrol dengannya, menurutku kegarangan itu tidak ada lagi.
Beliau biasa masuk ke hutan dan area TNUK untuk berpatroli bersama petugas yang lain. Sudah lama UKF meminta bantuan beliau dalam penelitian kami dan menjadi tempat singgah UKF jika berkegiatan di TNUK. Sekarang kami kembali ke peradaban. Tak terasa EG sudah berakhir, padahal aku baru beberapa har di Ujung Kulon karena berangkat menyusul. Sekalian pulang, alangkah bahagianya kami mampir dulu ke Pulau Peucang dan Pulau Handeuleum yang masih termasuk kawasan TNUK. Benar-benar serasa spend a holiday with UKF.
Di Pulau Peucang, kami bisa melihat babi yang sudah jinak dan biawak serta turis berlalu lalang. Mereka biasanya tinggal di resort Peucang dan berwisata di pulau-pulau sekitar Pulau Peucang dengan menggunkan kapal boat. Ikan-ikan kecil terlihat bergerombol di air pantai yang jernih. Ikan-ikan kecil itu mengingatkanku pada ikan teri yang menjadi lauk kami sehari-hari di lapang hingga akhirnya enek dan bosan.
Beberapa ubur-ubur mati ditemukan di pinggir pantai. Bentuknya kenyal seperti jeli dan warnanya transparan. Puas berkeliling dan berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Handeuleum. Butuh sekitar 2.5 jam untuk sampai di sana. Di kapal, kami bernyanyi bersama dan bercanda. Lagu-lagu lama mengalun diikuti dendangan dendang botol plastik dipukul. Mulai terdengar saut-sautan lagu sesuka mereka. Lagu pop bercampur dengan lagu dangdut. Sungguh memusingkan. Bagiku, menikmati saja sudah cukup pusing.
===
Setiba di Handeuleum, kami beristirahat sejenak. Kak Arya beraksi memanjat pohon kelapa. Belasan kelapa berjatuhan. Satu persatu kelapa dibuka. Ada yang rasanya kurang enak, biasa, pas, manis, hingga rasa soda. Bermacam rasa air kelapa muda kucicipi. Buah klamut pun jadi antrian anak-anak yang suka. Aku yang tidak suka buah klamut berdecak heran menontoni mereka yang menikmatinya. Mereka terlihat begitu menikmati buah yang nyata-nyata dimulutku tidak bersahabat. Jadilah aku sang penonton.
Dua ekor rusa datang dari arah belakang. Pelan-pelan mereka mendekati kami. Kemudian mereka berbalik arah lagi mengambil jarak, namun masih bisa didekati. Beberapa dari kami mencoba memberi makan rusa-rusa itu dengan buah kelapa yang tidak dimakan. Tak disangka, rusa itu makan kelapa. Kemungkinan karena sudah terbiasa dekat dengan manusia, mereka lebih jinak dan makan buah-buah kelapa ini.
Kami berpamitan pulang dengan para petugas kehutanan yang berjaga. Aku bertemu lagi dengan petugas yang pernah kutemui di Karangranjang. Beliau masih ingat padaku.
‘Akhirnya sampai juga di sini. Syukur masih kuat.’ katanya. Aku tersenyum mengiyakan. Setengah jam kami naik kapal lagi menuju Legon Pakis. Karena masih surut, kapal tidak bisa berlabuh sampai pinggir pantai.
Sebuah kapal kecil datang menjemput kami. Sebagian dari kami berangkat duluan. Tiga kali kami diangkut kapal kecil itu. Di rumah Pak Sorhim, kami sudah disediakan makan siang. Kami pun makan dengan lahap. Tak perlu lagi makan dengan trashbag dan berjajar, kami menggunakan piring sendiri-sendiri. Teri pun masih menghantui mulut kami hingga hari terakhir.
Signal kudapat kembali. Segera aku mengurus KRS online. Frustasi aku dibuatnya. Signal internet ternyata tak ada. Setelah minta diakukan teman, banyak matkul mayor wajib yang bentrok. Mayor saja bentrok, bagaimana bisa. Aku tidak kebagian matkul SC, tapi beruntung KRS ku akan dihandle temanku, lega rasanya.
===
Wawancara warga setempat di Desa Legon Pakis dimulai pukul 10.00. Aku dan Tri mencari empat koresponden yang mau diwawancarai. Legon Pakis ternyata desa kecil di perbatasan yang bahkan masuk kawasan taman nasional. Di sini sepi. Banyak dari warga yang kuwawancarai hanya menjawab pertanyaan ala kadarnya. Mereka cenderung menutup diri dan lebih memilih menjawab tidak tahu dan tidak tahu. Sebenarnya aku tidak percaya pengakuan mereka yang tidak tahu menahu tentang ini dan itu, tapi tak enak hati aku terus mengorek-orek info dari mereka.
Briefing terakhir sekaligus evaluasi kegiatan di lapang berlangsung hingga larut. Masing-masing dari kami terutama angkatan 11 harus menyampaikan uneg-unegnya agar tidak jadi masalah yang berkepanjangan bila ada. Berbagai uneg-uneg, curcol, marah-marahan, ucapan terimakasih, dan minta maaf terucap semua. Masalah-masalah lain berkaitan dengan kegiatan lapang diselesaikan malam ini juga. Semua anak harus bersikap dewasa dan saling memahami kondisi masing-masing individu. Serasa enteng beban yang terpikul.
===
Truk yang sudah kami sewa jauh-jauh hari sebelumnya terlambat datang. Bahkan mereka beralasan ada yang harus diantar dahulu dan lain-lain. Pukul 10.00 anak-anak mulai resah. Besok akan ada Masalaiengenalan Fakultas ( MPF ) mahasiswa angkatan 50 yang baru memasuki fakultas dan departemen. Akhirya mobil elf menggantikan truk kami dan mengangkut anggota UKF yang akan mengikuti MPF.
Di Kantor TNUK, kami berhenti untuk sekedar beristirahat dan membeli emblem TNUK sebagai cinderamata selain cangkang kerang dan kima dari Ujung Kulon. Malamnya kami tiba di kampus IPB dengan selamat. Kami pulang ke kosan masing-masing. Ekspedisi ini bagai liburan saja. Tinggal laporan-laporan dan seminar hasil yang menanti. Semangat EG 2014. Keep fight.
The End

Leave a Reply