Memahami konservasi alam bisa dengan menghayati bagaimana ritus selembar daun yang  jatuh. Peluruhan yang wajar itu patut untuk kita  pertimbangkan sebagai proses yang tidak saja alamiah, namun menyiratkan sebuah rancang bangun sistem gagasan yang bisa kita jadikan bingkai bagaimana alam bisa disikapi atau sekurang-kurangkanya kita maknai dalam hati. Daun yang jatuh, tentu saja keniscayaan yang sering kali kita saksikan dalam kehidupan kita. Barangkali kita telah menganggapnya sebagai sesuatu yang banal, realitas yang biasa dan mendekati kedangkalan atau miskin makna. Namun, apabila keniscayaan yang hadir tersebut kita cermati dengan penuh nalar, sebagaimana Socrates menasihatkan pada murit-muritnya untuk senantiasa menelaah segala hal, akan memberi kita satu pemahan yang begitu sublim.

 

Sebelum daun jatuh, ia telah melalui suatu prosesi fisiologis dan ekologis sekaligus. Ia telah berupaya dengan potensinya dirinya untuk terlibat dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tetumbuhan. Daun memiliki usia, ia terhimpun dalam waktu. Ia tersusun atas sel-sel yang kukuh sekaligus rapuh. Kukuh, karena ia berupaya dengan daya. Rapuh karena ia juga rentan terhadap mikro fauna atau pun cuaca. Ia hadir dengan sistem yang kompleks. Pada satu titik ia harus menyerah pada waktu, kemuduian akan layu. Angin yang lembut kadang dapat membatunya untuk meluruh. Namun, sebelum ia lepas dari tangkai, ia berikan seluruh nutrisi yang ia miliki pada tetumbuhan, di mana ia melekat. Ia begitu ikhlas lepas dan menyentuh bumi. Di tanah yang kering atau pun basah, ia akan lapuk atau dimakan oleh makhluk hidup, hingga ia benar-benar lenyap menjadi unsur dasar kehidupan, untuk kemudian diserap oleh akar-akar sebagai penopang kehidupan tetumbuhan. Begitulah proses itu tiap kali terjadi dengan berjuta varian yang bisa kita terka atau pun luput dari kalkulasi kita.

 

Selembar daun itu pun lantas menjadi sistem tanda dengan jejak-jejak yang ditinggalkannya. Ia patut untuk direnungi sebagai suatu prosesi hidup yang seakan sederhana namaun memiliki jangkauan yang begitu luas terhadap jalur-jalau pengertian atas fenomena alam. Tiap proses meretasnya usia daun, banyak sekali unsur-unsur alam yang bekerja. Di sana ada air, cahaya dalam mengemban ritus gelap-terang fotosintesis  hingga pengaruh  makhluk hidup lainnya yang terserap arus ekologis yang  rumit. Begitu pun memaknai konservasi alam sebagai sebuah ikhtiar untuk membuat yang alamiah tetap ada, memerlukan pelbagai perspektiif dalam memperlakukan alam atau bagaimana manusia melangsungkan kehidupannya. Ketika kita bergerak, menyadari satu tindakan dengan hasrat untuk membuat proses alam tetap bekerja sebagaimana mestinya, kita perlu memahami unsur-unsur apa saja yang bekrja di sana, sebagaimana proses daun jatuh. Pemahan ini, lantas dijadikan sebagai pijakan untuk mengambil suatu keputusan bagaiaman kita mesti bersikap dengan realitas alam yang terpapar di hadapan kita. Pada satu sisi, kita juga mesti menyadari bahwa pemahaman manusia atas alam senantiasa terbantang celah, dan usaha manusia hidup harmonis dengan alam adalah satu uapaya mempersempit celah tersebut. Posisi inilah yang mambuat kita menjadi rendah hati terhadap tatanan alam sesederhana apa pun juga.

 

Maka dari itu, perjuangan konservasi alam adalah perjuangan menyibak misteri daun jatuh supaya daun jatuh sebagaiamana daun jatuh.

Leave a Reply