Sudah lebih dari satu dekade, UKF  telah berupaya dalam pelestarian Fauna Indonesia dengan berbagai bentuk pergerakan.

UKF hadir sebagai respon atas kondisi alam terutama kekayaan fauna Indonesia yang makin terpuruk oleh pengrusakan yang tak henti-hentinya. Kondisi alam yang destruktif tersebut berdampak buruk bagi kehidupan dengan berbagai aspek tinjauan, ekonomi, sosial, budaya dan ekologi.  Berangkat dari keprihatinan ini UKF didirikan pada tanggal 10 November 2003 sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), suatu organisasi semi otonom di lingkup kelembagaan mahasiswa IPB di  bawah MPM KM IPB.

Tanpa ada unsur senioritas dan memandang setiap anggota setara serta menjunjung tinggi kebebasan berfikir setiap individunya, UKF mencoba merealisasikan kehidupan organisasi atas dasar nilai-nilai kebhinekaan dan multikultural. Dengan demikian, kreativitas dan ekspresi setiap anggota bisa terakomodir dalam berorganisasi.

kekeluargaan

Untuk memahami pengetahuan fauna, baik ekologi maupun konservasinya,  secara menyeluruh dan mendalam, UKF membuat klasifikasi  bidang kerja ke dalam delapan  divisi, yaitu Divisi Konservasi  (DK) Karnivora, DK Herbivora, DK Primata, DK Burung, DK  Reptile-Amfibi, DK Exitu, DK Insekta, DK  Fauna-Perairan.  Setiap anggota berhak untuk memilih satu divisi dan  sebisa mungkin dapat terlibat di kegiatan-kegiatan divisi lainnya, sehingga tetap terbangun keterkaitan dalam mewujudkan konservasi fauna secara holistik.

“Conservation for All”

UKF berpandangan, upaya konservasi alam tidak mungkin bisa dilaksanakan secara terpisah-pisah atau tidak ada keterjalinan lintas  keilmuan dan stakeholder.  Namun, masih memiliki keterikatan visi yang sepenuhnya mendukung kelestarian hidup yang harmonis dari pelbagai aspek di bumi ini. Dari sinilah sebenarnya keanekaragaman anggota UKF dari bermacam-macam keilmuan dan latar budaya menjadi sangat penting.

Sebagai realisasi dari upaya tersebut, UKF menjalin kerjasama dan  jejaring di tingkat nasional maupun internasional, baik  pemerintah, LSM, organisasi mahasiswa maupun perusahaan.

Tim EKspedisi Batas Negeri berfoto sesaat sebelum menaiki pesawat di Lanudal Pondok Cabe, Jaksel
Tim EKspedisi Batas Negeri berfoto sesaat sebelum menaiki pesawat di Lanudal Pondok Cabe, Jaksel

 

Untuk menunjang pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat, UKF bersama mitra membangun stasiun penelitian  atau laboratorium alam di Situ Gunung, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Di stasiun penelitian ini segala ilmu pengetahuan yang terkait dengan implemenmtasi konservasi alam diterapkan dengan metode ilmiah yang ketat,  dan hasil penelitian tersebut dapat diakses oleh seluruh elemen masyarakat.

Dengan sistem keorganisasian yang senantiasa diperbaiki dari tahun ke tahun, UKF memiliki alumni yang dapat bekerja di berbagai lembaga, nasional maupun internasional, dan berusaha untuk menyuarakan nilai-nilai hidup yang selaras dengan alam. Dari pengalaman berlembaga alumni tersebut, selanjutnya,  ditransformasikan kepada anggota yang masih aktif sehinga ada pengayaan soft skill , yang berfungsi sebagai bekal anggota untuk berlembaga maupun menyongsong dunia kerja.

Sebagai organisasi yang bergerak secara nyata dalam proses pelestarian alam,  interaksi yang mendalam dengan berbagai ekosistem hutan dan laut merupakan keniscayaan yang tidak bisa dielakkan. Dengan demikian, aktivitas kepetualangan atau penjelajahan mejadi sangat akrab bagi aktivis lingkungan yang terhimpun di UKF.

Eksplorasi

Disamping itu, kedekatan dengan alam yang masih murni mampu menstimulus kepekaan seluruh panca indra, cara berpikir (kognitif), dan ketajaman batin (kejiwaan). Pada titik ini, berkegiatan di alam tidak hanya diperlukan sebagai implementasi program-program konservasi fauna UKF, melainkan juga kebutuhan dasar manusia untuk dapat belajar hidup harmonis dengan segala ciptaan Sang Maha Pencipta di alam semesta ini.