Requiem

Requiem

Anggrek hitam di dahan itu menghisap maut. Angin tampak surut, berat, jera tertambat. Waktu berkarat, secoklat korosi asap, lekat pada lumut yang jemu menunggu seraut harap.   Pada marjin kalimat yang berkeringat, penglihatanmu sembab selembab serasah menggumamkan sepotong ayat, patah-patah, megap, seperti prajurit sekarat.   Iklim makin anomali di ujung lidah matahari. Daun-daun mengatupkan do’a pagi hari.   Bisakah kita berpaling dari ajal yang merapat, sesaat sebelum senja   selesai melepaskan nama-nama, sebelum mega di seperempat lengkung cakrawala   tak menggubris lengking nyaring wiwik kelabu di separuh teduh, di mana duka menitis, seperti tetesan air tebu, di cangkir yang jenuh.   Kau hanya ingin belasungkawa pada sebentar ruas usia di padang kandas sekeras savana Ndana.   2014 ...
Read More
Relief

Relief

Di bongkahan batu rompal, terpahat seekor belibis yang menangis. Garit semburat melesakkan maut yang amis.   Seseorang menatap lekap-lekap, memindai tera di udara, merupa hawa, dan langit terhisap.   Di candi yang rumpang itu, gema menggaungkan saat di abad yang kelu di antara abjad yang sekarat.   Kakawin melantun lesu.   Pernah seorang Kawi semadhi menerakan guru lagu, perih yang merdu.   Suralaya, tangga ufuk, palka cakrawala, kodrat yang remuk.   Di batu rompal ada yang sakral ada yang tak terbingkai akal.   2014...
Read More
Pameran Fotografi EBN

Pameran Fotografi EBN

Ada yang berbeda di teras Perpustakaan IPB sejak kemarin (26 Maret 2014). Jajaran foto-foto memukau mata yang dipajang dengan background hitam yang membuatnya tampak elegan. Bendera kebanggaan rakyat Indonesia, Sang Saka Merah Putih, menjadi pembuka pameran fotografi hasil penelitian tim Ekspedisi Batas Negeri di Pulau Ndana. Sebagai salah satu rangkaian acara Ekspedisi Batas Negeri, Pameran foto ini menggambarkan proses perjalanan tim Ekspedisi dari awal hingga akhir. Sekaligus publikasi Seminar N asional yang membahas kebijakan pengelolaan pulau Ndana sebagai pulau yang menjadi batas selatan NKRI dari sudut pandangkonservasi dan militer. Pameran fotografi ini akan berlangsung selama 4 hari, dimulai pada hari selasa 25 Maret 2014 hingga jumat 28 Maret 2014. Beberapa anggota UKF berjaga untuk menginterpretasikan foto-foto kepada pengunjung yang melihat. Sesekali ada percakapan diantara mereka, menanyakan lokasi pengambilan foto-foto tersebut atau sekadar ingin tahu nama jenis satwa yang ada di foto. Yang menarik sebenarnya, pameran ini tidak hanya menyuguhkan keindahan atau keunikan flora dan fauna saja, namun juga kenyataan bahwa flora-fauna tersebut ada di...
Read More
Seminar Nasional UKF EXPO 2013

Seminar Nasional UKF EXPO 2013

UKM Uni Konservasi Fauna (UKF) IPB merupakan salah satu organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang pelestarian satwa dan lingkungan. Salah satu kegiatan tahunan UKF yaitu UKF EXPO yang telah berjalan selama 10 tahun (2004-2013) dengan berbagai tema menarik terkait isu terhangat disetiap tahunnya. Tahun 2013 ini, kegiatan yang berada di bawah tanggung jawab Departemen Kemasyarakatan, Bidang Sosial-Lingkungan UKF mengangkat tema “Peran Masyarakat Adat dalam Upaya Konservasi Hutan”. Rangkaian kegiatan UKF EXPO 2013 terdiri atas tiga kegiatan yaitu ziarah budaya pada tanggal 28-29 September 2013 di Kasepuhan Ciptagelar (TNGHS). Kegiatan kedua yaitu Exhibition pada tanggal 7-11 Oktober 2013 di Koridor Fakultas Ekologi Manusia IPB dan kegiatan puncak rangkaian UKF EXPO yaitu Seminar Nasional pada tanggal 12 Oktober 2013 di Auditorium Toyyib Hadiwijaya, Fakultas Pertanian, IPB. Kegiatan ini disponsori oleh Bank BRI dan didukung oleh Kompas serta Centium Seminar Nasional dimulai pukul 08.50 WIB. Acara pertama dibuka oleh sambutan dari ketua panitia UKF EXPO 2013, Hasna Kamila, dilanjutkan oleh ketua umum UKM UKF, Ma’shum...
Read More
Sadengan

Sadengan

Sadengan, padang penggembalaan seluas 80 hektar di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP). Sadengan, semacam hamparan dengan rerumputan hijau ketika musim penghujan datang, dan menguning ketika kemarau menghinggapi wilayah tenggara Banyuwangi ini. Sadengan, serupa savana tenang bagi puluhan banteng, rusa, merak hijau, babi hutan, dan satwaliar lain mencari makan. Kita akan menyaksikan teatrikal alam liar ketika fajar bangkit dari Timur, atau senja memberi tanda untuk menutup hari. Pada interval waktu itu, sadengan seperti seseorang yang rebah diguyur cahaya matahari yang menyengat, tapi ada semacam keriangan ketika bentangan itu menghalau fatamorgana. Dalam keleluasaan itu, sepotong kisah seorang tua, yang konon membujang, hadir dengan narasi yang senyap. Orang-orang memanggilnya Mbah Sampun. Seorang  berambut panjang, putih. Ia berpakaian kusam dan lusuh. Ia berwajah bersahaja. Tak seorangpun dapat memberi penjelasan yang pasti mengenai asal-usulnya. Ketika ditanya mengenai persoalan itu, ia hanya berkata,”Saya berasal dari Blitar.” Selebihnya ia akan bercerita tentang keterpautan hidupnya dengan satwaliar yang berkeliaran di Sadengan. Di belantara ini, ia telah hidup 30 tahun. Pengelola kawasan TNAP ...
Read More
Di Legon Pakis

Di Legon Pakis

Di sinilah aroma angin Barat berbaur oleh tiga ekosistem yang penuh ketegangan, belantara perawan bertabur nuansa magis yang kental, sawah yang diolah untuk penghidupan keseharian,  dan teluk dengan irama gelombang yang lamban. Terasa subtil memang, tapi Legon Pakis berada dalam tapal batas Taman Nasional (bagian lembaga negara yang mengelola kawasan pelestarian alam) yang sesekali menampilkan sosok yang menakutkan bagi warga yang berdiam diri di sana. Ada semacam simtom untuk merelokasi mereka yang tinggal di Legon Pakis, konon demi kehidupan badak jawa yang terancam punah, konon pula, karena mereka tinggal di wilayah yang tidak seharusnya. Kita memang tidak tahu pasti tabiat kekuasaan yang beroperasi dengan pelbagai karakter, tapi kita tahu, negara berkewajiban menaungi warganya, sebagaimana dalam sila pancasila. Namun, ketika kita berada di Legon Pakis, perkampungan yang sunyi itu, kita tahu seorang yang tinggal di sana hanya ingin tenang mengolah sawah, mengail ikan di teluk, dan sesekali menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang ingin berwisata di Ujung Kulon. Kita tak tahu pasti,...
Read More