Tetesan Konservasi di Birunya Bahari

Tetesan Konservasi di Birunya Bahari

“Tetesan Konservasi di Birunya Bahari” Rikho Jerikho Institut Pertanian Bogor Setiap tetes aksi konservasi akan memberikan warna tersendiri bagi laut. Baik atau buruknya aplikasi konsep konservasi akan terepresentasi di birunya lautan. Konservasi, kata yang mempunyai daya tafsir kuat tentang perlindungan dan pelarangan ini memiliki sejarah yang kompleks di dalam pertumbuhannya. Dimulai oleh John Evelyn, yang mempublikasikan artikel tentang pemanfaatan kayu secara lestari pada tahun 1662 sampai Henry David Thoreau, pioneer konservasi sekaligus angler yang membubuhkan konservasi dalam dunia pemancingan pada pertengahan abad ke-18. Kedua orang ini memiliki konsep dasar yang sama tentang konservasi, yaitu bagaimana kita dapat memanfaatkan sumberdaya secara bijak dan lestari. Inti penting yang muncul dari kedua tokoh di atas, konservasi lahir bagi manusia dan ekosistem disekitarnya. Visi konservasi yang mulia kemudian diterima di seluruh dunia. Perkembangan konservasi mulai diterima di Indonesia dengan munculnya tiga pilar konservasi di dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati &Ekosistemnya. Ketiga pilar tersebut adalah perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari. Setiap pilar mempunyai...
Read More
Tiger and Medicine???

Tiger and Medicine???

Harimau merupakan spesies endemik di 13 negara, antara lain Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Rusia, Thailand dan Vietnam. Menurut WWF, selama tiga pulih tahun terakhir populasi harimau di dunia berkurang 70%. Penyebabnya adalah degradasi habitat dan perburuan. Perburuan harimau bertujuan untuk mendapatkan bagian tubuh harimau yang dipercaya dapat menghasilkan khasiat menyembuhkan penyakit. Bagian tubuh yang bernilai tinggi dari harimau adalah kulit yang digunakan sebagai dekorasi dan tulang sebagai obat dan suplemen kesehatan. Menurut kepercayaan masyarakat Cina, tulang harimau telah digunakan 1000 tahun yang lalu dengan fungsi untuk relaksasi tendon, meningkatkan laju sirkulasi darah, dan menguatkan otot. Namun, ada juga obat yang menggunakan tulang dari berbagai hewan yang dikenal dengan bone-related medicine. Obat ini menggunakan tulang dari domba, rusa, dan anjing. Penggunaan tulang harimau termasuk ke dalam bone-related medicine yang kandungannya  tidak berbeda dari tulang lain. Bahan utama dari penggunaan obat ini adalah protein dan kalsium.   Penggunaan tulang harimau telah tersebar luas dan “laku” di masyarakat. Hal ini...
Read More
Kupu-kupu, Ngengat dan Skiper

Kupu-kupu, Ngengat dan Skiper

Saya sering mendapatkan pertanyaan mengenai apa sebenarnya kupu-kupu, ngengat dan skiper itu. Banyak yang menjelaskan dengan pengertian bahwa kupu-kupu itu adanya siang hari, ngengat itu malam hari, dan skiper itu yang seperti pesawat ulang-alik. Atau kupu-kupu itu yang berwarna-warni dan ngengat lebih kusam. Tidak-apa-apa memang, sebagian besar ngengat memang nokturnal meski ada juga yang siang hari mereka terbang. Namun untuk perbedaan warna akan lebih menyesatkan karena tidak sedikit kupu-kupu yang berwarna kusam dan ngengat yang berwarna cerah dan indah. Dalam artikel ini akan saya coba jelaskan apa yang sering kita sebut kupu, ngengat dan skiper. Ketiga hewan tersebut adalah serangga yang masuk kedalam ordo Lepidoptera atau dalam inggris Butterfly dalam bahasa Indonesia kupu-kupu. Nah, disini mulai rancu ketika kita mengalih bahasakan Lepidoptera menjadi kupu-kupu. Karena ngngat dan skiper termasuk kupu-kupu. Oke kita sebut saja Lepidoptera. Ordo ini, Lepidoptera, memiliki ciri khas pada sayapnya yang seperti terbuat dari kumplan sisik-sisik halus. Sehingga ketika kita pegang sayapnya akan ada sesuatu yang menempel di tangan seperti...
Read More
Kampanye Kukang Bersama UKF dan IAR Indonesia

Kampanye Kukang Bersama UKF dan IAR Indonesia

                       Wajah yang lucu dan gerak tubuhnya yang tampak malu-malu membuat primata yang memiliki nama latin Nycticebus sp. ini terlihat menggemaskan, sehingga kerap menjadi satwa peliharaan kesayangan manusia. Satwa yang aktif di malam hari ini dikenal di Indonesia dengan nama kukang atau malu-malu. Apabila dilihat dari persebarannya, terdapat tiga jenis kukang Indonesia, yaitu kukang jawa, kukang kalimantan dan kukang sumatera. Secara alami, jenis-jenis kukang dapat dijumpai di tipe habitat hutan dan kebun (talun). Banyak orang salah mengira bahwa kukang sama dengan kuskus, dan kerap dijual dengan nama kuskus padahal keduanya berbeda. Lain halnya dengan kuskus, kukang memiliki mata yang berukuran besar dan pola rambut pada bagian kepalanya menyerupai garpu, selain itu kukang tidak memiliki ekor. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa kukang merupakan satwa dilindungi di Indonesia berdasarkan PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Keanekaragaman Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, yang juga diakui secara internasional memiliki status rentan (vulnerable)...
Read More