Betet Biasa : Biasa Ditemui di Kampus IPB

Betet biasa (Psittacula alexandri) merupakan salah satu jenis burung paruh bengkok dari famili psitticidae. Burung seukuran kutilang yang memiliki warna hijau di sebagian besar tubuhnya dan warna merah muda di bagian dada ini memiliki suara yang berat dan senang bersuara di sepanjang aktifitasnya. Betet membuat sarang di batang pohon dengan membuat lubang yang besarnya seukuran tubuh mereka. Betet biasanya berkumpul pada satu pohon tertentu untuk makan atau menelisik bulu.

Betet biasa atau yang lebih dikenal dengan betet jawa tersebar di India, Cina Selatan, Asia Tenggara, dan Sunda Besar (MacKinnon, 1993). Betet dapat ditemukan di daerah kaki gunung dan dataran rendah. Habitat alami yang sering ditempati betet adalah hutan di kaki bukit, hutan sekunder, hutan mangrove, hutan dataran rendah yang berdekatan dengan daerah pertanian, perkampungan, dan perkotaan. Di Kampus IPB Dramaga, betet jawa tersebar di sekitar Arboretum Fahutan, tegakan sengon, hutan cikabayan, komplek penangkaran rusa, komplek asrama sylva, komplek tanaman kelapa sawit, dan komplek kebun salak yang berada di samping asrama putri (Nasution, 2003). Sayangnya, karena penebangan pohon untuk pembangunan gedung baru, pergerakan betet di kampus pun semakin sempit.

Tanggal 9 dan 10 Februari 2012 kami mengadakan kegiatan pengamatan dengan tujuan inventarisasi betet biasa di tegakan sengon. Fokus pengamatan ini adalah jumlah individu, aktivitas, dan habitat. Tegakan sengon terletak di sebelah barat gedung rektorat, sebelah utara berbatasan dengan danau LSI, sebelah selatan dengan arboretum bambu, dan sebelah timur berbatasan dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Jenis tanaman yang mendominasi adalah sengon dengan permukaan tanah ditumbuhi oleh alang-alang (Nasution, 2003).

Perjumpaan tidak langsung (suara) mengawali pengamatan kami. Tak lama kemudian seekor burung dengan suara berisik dan ekor yang lancip saat terbang, melintas di atas kepala kami, target ditemukan. Dua menit kemudiaan, tiga ekor betet terlihat terbang, lalu hinggap dan menelisik di ranting pohon sengon yang cukup tinggi. Umumnya, betet menelisik secara bergerombol di bagian atas tajuk sambil berjemur di bawah sinar matahari.

Sepanjang pengamatan, kami menemukan dua buah sarang aktif beserta betet yang sedang beraktifitas di sarangnya dan satu sarang yang diduga sarang betet yang sudah ditinggalkan. Di akhir pengamatan, kami mengakumulasi hasil perjumpaan yang memperlihatkan bahwa betet yang kami temukan berjumlah 5 individu. Karena kami mengamati berdasarkan perjumpaan langsung maupun suara, maka kami tidak mengetahui jumlah pastinya.

Keesokan harinya, kami kembali melakukan pengamatan. Pagi yang cerah ini diawali dengan sambutan dari dua ekor betet yang terbang pergi ke arah rektorat saat kami sampai. Kemudian, terdengar suara dari seekor betet yang sedang bertengger di pohon sengon kering di seberang Danau Situ Leutik. Beberapa saat kemudian terlihat seekor betet yang hinggap di dekat kami dan dua ekor lagi datang dari arah danau. Baru berjalan sekitar lima langkah, seekor betet lagi-lagi terlihat di pohon yang tidak berdaun.

  Suara betet yang bersahut-sahutan seperti backsound kami saat pengamatan. Seekor caladi tilik (Picoides moluccensis) terlihat di batang pohon dekat jalan setapak dan seekor cinenen pisang (Orthotomus ruficeps) terlihat di antara semak-semak. Kedua burung ini sedang asyik mencari sarapan. Di akhir jalan setapak, kami melihat seekor betet sedang bertengger, satu ekor terbang dari arah arboretum bambu, dan dua ekor  lagi terbang dari arah FPIK. Cukup banyak juga kami melihat burung cantik berstatus Appendiks II oleh CITES dalam kurun waktu 30 menit, sekitar 11 individu.

Pengamatan yang dilakukan juga dijumpai jenis-jenis burung lain disana seperti remetuk laut (Gerygone sulphurea), kacamata biasa (Muscicap daurica), cekakak sungai (Todirhamphus chloris) berjumlah tiga ekor, kareo padi (Amaurornis phoenicunus) sekitar tiga ekor yang terlihat di sekitar danau, raja udang meninting (Alcedo meninting), cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), cipoh kacat (Argithina tiphia) dan cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). Burung-burung ini memanfaatkan tegakan sengon dan danau Situ Leutik sebagai tempat tinggal dan sumber makanannya. Adanya aktivitas pembangunan dan pengembangan kampus serta perburuan oleh penduduk sekitar secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi keberadaan burung-burung ini (Nasution, 2003). Jika habitat itu hilang, bagaimana mereka bertahan hidup?

 

Writed by : Annisa CR (Divisi Burung)

 

Join the Forum discussion on this post

Join the Forum discussion on this post

Migrasi Burung Air : Alasan dan Faktanya

           Menurut Konvensi Ramsar, burung air merupakan jenis burung yang ekologinya bergantung pada lahan basah seperti rawa payau, lahan gambut, perairan tergenang, perairan mengalir, dan wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari 6 meter. Burung ini memiliki ciri-ciri kaki dan paruh panjang yang memudahkannya untuk berjalan dan mencari makan di sekitar air; contohnya bangau, kuntul, trinil, dan cerek.

           Burung air dikelompokkan menjadi dua, burung penetap dan burung migran. Perbedaannya, burung penetap berkembang biak di tempat dia mencari makan dan tinggal sedangkan burung migran tidak akan berkembang biak di daerah migrasinya. Burung air migran biasanya terdapat di negara yang memiliki empat musim atau yang perbedaan musimnya mencolok. Biasanya, burung air yang bermigrasi ini berada di belahan bumi utara seperti Rusia, Cina, Siberia, dan Alaska. Saat musim dingin terjadi di daerah asalnya, burung ini akan bermigrasi ke belahan bumi selatan yang lebih hangat. Salah satu tujuannya adalah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

         Keberangkatan burung untuk bermigrasi ditentukan oleh pengaruh interaksi kompleks dari berbagai rangsangan luar (termasuk cuaca) dan penanggalan biologis yang memungkinkan burung mengetahui perubahan musim. Di antara penanggalan biologis tersebut terdapat kelenjar endokrin, alat yang dapat merangsang burung jantan untuk bernyanyi dan burung betina untuk bertelur. Burung mengalami perubahan biologis berhubungan dengan reproduksi di saat sebelum dan sesudah musim bersarang, sehingga kelenjar endokrin menjadi sangat aktif. Dalam periode inilah kebanyakan burung bermigrasi. Dengan demikian kegiatan periodik kelenjar endokrin tampaknya merupakan salah satu penyebab burung memulai perjalanan panjangnya.

          Penyebab migrasi yang lain erat kaitannya dengan penambahan populasi baru. Ledakan populasi akibat menetasnya anak burung menyebabkan tuntutan makanan dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Keadaan ini menyebabkan burung terbang ke daerah musim semi untuk memenuhi kebutuhan makanan.

              Ada fakta menarik tentang siklus hidup burung air migran. Pada bulan Mei-Juni burung migran mencari pasangan di daerah asalnya. Bulan Juni-Juli burung-burung ini mengalami musim berbiak. Persiapan migrasi dilakukan pada bulan Agustus-September, dan dilanjutkan dengan perjalanan migrasi pada September-November. Bulan November-Maret burung migran ini mencari makan di daerah tujuannya dan mereka kembali ke kampung halaman pada bulan Maret-Mei.

             Burung air migran sangat bergantung kepada lahan basah untuk beristirahat dan mencari makan. Hilang atau rusaknya lokasi persinggahan akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan mereka dalam melakukan migrasi. Berkurangnya jumlah burung yang bermigrasi dari tahun ke tahun pun disebabkan oleh rusaknya lingkungan yang menjadi tempat persinggahan mereka oleh limbah dan sampah.

By : Annisa C R ( Divisi Burung )

Mencincin Burung Jogja

“Pelatihan Penandaan Burung di Pantai Trisik, Kulonprogo, Yogyakarta”

 

Nafas lega tanpa terasa segera terhembus ketika kereta api yang kami tumpangi memasuki  stasiun Lempuyangan, persinggahan terakhir kereta api Progo yang membawa kami dari Jakarta menuju Yogyakarta. Sembari meluruskan kaki yang masih terasa pegal, kami memeriksa kembali semua perlengkapan yang  kami bawa dari Bogor.

Beberapa saat kemudian teman-teman pengamat burung Jogja datang dan mengajak kami untuk segera memasuki bus yang akan membawa kami menuju lokasi kegiatan. Pantai Trisik yang berada dlam wilayah Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta menjadi lokasi kegiatan pelatihan pengenalan penandaan burung. Sebelum menuju lokasi kami menyempatkan diri untuk sarapan pagi di sebuah warung yang tidak terlalu jauh dari stasiun Lempuyangan, yang membuat warung ini menarik adalah harga makanannya yang murah apabila dibandingkan dengan Jakarta atau Bogor.

Kami tiba di sebuah rumah milik penduduk sekitar sekitar pukul 12.30, rumah ini akan menjadi  basecamp kami selama kegiatan pelatihan. Malam pertama kami lewatkan dengan acara perkenalan dan penjelasan mengenai penandaan burung dari Mbak Noni, Bu Yeni dan Mas Londo. Setelah pemaparan materi selesai kami langsung dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan menentukan lokasi pemasangan net (jaring perangkap burung) untuk keesokan harinya.

Pemasangan net berjalan lancar walaupun memakan waktu yang cukup lama, karena baru pertama kali melakukan pemasangan bersama sehingga koordinasi masih belum sempurna. Suasana panas yang menyengat sempat meyurutkan semangat kami selama melaksanakan kegiatan pelatihan, namun seringnya net yang kami pasang menjerat burung-burung di sekitar pantai Trisik menimbulkan semangat baru.

Pemasangan net

Pelatihan pengenalan teknik penandaan burung yang berlangsung selama hampir seminggu berhasil menandai burung sebanyak 147 individu dengan 17 individu yang berbeda. Burung gereja menjadi primadona pada pelatihan kali ini, karena banyaknya burung jenis ini yang tertangkap.

melepaskan burung yang terjaring

Pengukuran panjang kepala burung

Kegiatan pelatihan tidak hanya dilakukan pada burung passerine saja, namun juga dilakukan pada burung pantai. Kegiatan penandaan burung pantai dilakukan pada malam hari, ketika burung sedang beristirahat. Pemasangan net dilakukan di areal persawahan milik petani yang sudah di panen, ratusan burung pantai sering mengunjungi sawah untuk mencari makan.

Pemasangan net untuk menangkap burung pantai lebih sulit daripada passerine, karena lokasi pemasangan yang berlumpur dan terpaan angin yang sangat kencang. Selain pemasangan net yang lebih berat, tantangan lain yang harus dilalui oleh peserta pelatihan adalah melawan rasa kantuk yang terus mendera selama kegiatan. Pemeriksaan net yang telah terpasang dilakukan setiap satu jam sekali. Walaupun tidak sesukses burung passerine, penandaan burung pantai memberikan pengalaman tersendiri bagi kami. Berkik Ekor-lidi (Gallinago stenura) merupakan satu-satunya burung pantai yang berhasil kami tangkap dan tandai (Surahmat).

 

‘Burung pantai’ di Sawah Baru

Minggu pagi (5 februari 2012) kami berenam melakukan pengamatan burung di Sawah Baru. Sawah Baru merupakan areal persawahan di sekitar kampus IPB, tepatnya sebelah timur kampus IPB Darmaga. Sebelumnya kami mendapat informasi tentang adanya burung pantai yang bentuknya mirip dengan trinil dari salah satu rekan kita sebut saja bang ucok, kemudian kami penasaran untuk melakukan pengamatan di lokasi tersebut.

Sekitar jam 7 pagi kita berangkat, lokasi dapat ditempuh selama 10 menit dari shelter Uni Konservasi Fauna (UKF-IPB). Kami berenam memulai pengamatan di areal persawahan di lahan percobaan departemen agronomi dan hortikultura-IPB. Kami hanya menemukan segerombolan burung gereja dan bondol yang sedang sibuk mencari makan. Sedikit pesimis untuk menemukan burung yang sedang kami incar yaitu sejenis trinil. Sekitar 15 menit melakukan pengamatan dengan berkeliling di lokasi tersebut, kami pun pindah ke blok persawahan sebelah benteng air. Ketika kami berada di atas punggungan benteng air, seekor sri gunting batu (Dicrurus paradiseus) terbang melintas ke arah perumahan Darmaga Regency. Sri gunting batu dapat dikenali melalui warna tubuh hitam mengkilap dengan ukuran sebesar burung kutilang dan memiliki ekor yang panjang menggunting serta terdapat bulu yang memanjang pada dua tepi ekor. Burung ini biasa ditemukan di  hutan dataran rendah dan hutan sekunder sampai ketinggian 1400 mdpl. Namun, dalam pengamatan kali ini kita mendapatkan jenis tersebut di daerah persawahan yang dekat dengan pemukiman padat.

                   Tak lama saya melihat 3 ekor burung yang hampir mirip dengan sejenis trinil terbang berpindah dari satu petak ke petak lain di areal persawahan. Kemudian saya pun mengajak kawanan untuk mendekat ke arah burung tersebut dengan melewati pematang sawah. Setelah kami mendekat ternyata ada 3 ekor yang terbang secara tiba-tiba dari rimbunan rumput. Satu orang kawan berhasil mendokumentasikan burung tersebut dan setelah diidentifikasi kemungkinan jenis burung tersebut adalah berkik ekor lidi (Gallinago stenura). Kami pun melanjutkan pencarian di petakan sawah dengan pertanaman padi yang sudah meninggi. Secara tiba-tiba 3 ekor lagi terbang dari petakan tersebut ke arah timur (Bubulak). Pencarian pun berlanjut ke petakan sawah yang sebelahnya dan seekor lagi terbang memutar menyusul ke arah timur. Burung berkik sangat susah diamati karena kebiasaannya yang bersembunyi di antara rerumputan. Ditambah lagi warna tubuhnya yang berkamuflase dengan warna lumpur. Burung berkik ini merupakan burung migran yang mengunjungi Indonesia pada waktu musim dingin di negara asalnya (asia timur). Di indonesia jenis ini hanya mencari makan dan berkembang biak di negara asalnya. Burung yang berukuran sebesar tekukur ini memang biasa mengunjungi daerah persawahan dan rawa payau.

                                                               Berkik ekor lidi (Gallinago stenura)

                Selain itu, saat berjalan-jalan di pematang sawah kami menemukan cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) yang sedang bertengger di daun pisang tua. Tak lama kemudian kami juga menemukan seekor bambangan merah (Ixobrychus cinnamomeus)  yang sedang terbang melintas. Saat berjalan pulang kami menjumpai dua ekor garangan (Herpestes sp.) yang sedang menyelinap masuk ke dalam rumpun rerumputan.   Di akhir perjalanan pengamatan kami di sambut oleh kawanan burung sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus).

                                                                        Garangan (Herpestes sp.)

                Masih penasaran dengan berkik yang kami lihat kemarin, keesokan harinya (Selasa, 6 Januari 2012)  kami kembali melakukan pengamatan di Sawah Baru. Pengamatan dilakukan pukul 07.00 WIB di areal sawah sebelah kiri dibalik benteng air, tempat ditemukannya berkik kemarin. Baru saja kami tiba di Sawah Baru, 5 ekor berkik  terlihat terbang menuju ke arah Bubulak. Saat berjalan turun menuju pematang sawah, seekor berkik lagi terbang menyusul ke arah yang sama dan seekor lainnya terbang ke sela-sela rerumputan.

                 Kami berjalan menelusuri pematang sawah menuju sungai. Tak berapa lama, kami melihat seekor burung trinil pantai (Tringa hypoleucos) sedang berjalan di antara rerumputan di pematang sawah tak jauh dari tempat kami bediri. Trinil pantai adalah burung pantai yang bermigrasi ke selatan hingga mencapai Australia saat musim gugur di negara asalnya. Burung seukuran kutilang ini memiliki kaki berwarna hijau zaitun pucat, tubuh bagian atas cokelat dengan bercak abu-abu  cokelat  pada sisi dada dan tubuh bagian bawah berwarrna putih. Karena warnanya yang menyerupai lumpur dan rumput kering, burung ini pandai berkamuflase di antara lumpur dan rerumputan sawah. Trinil pantai memiliki kebiasaan menggoyang ekornya seperti menyentak saat berjalan. Burung ini sering mengunjungi habitat yang luas hingga ke sawah di  dataran tinggi (hingga 1.500 m).

                                                                Trinil pantai (Tringa hypoleucos)

               Puas melihat dan mengabadikan satwa tersebut, kami kembali menelusuri pematang sawah untuk melanjutkan pengamatan. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba seekor berkik terbang keluar dari rumput tinggi dekat trinil tadi berada. Jadi total jumlah berkik yang ditemukan hari ini adalah 8 ekor. Setelah berputar-putar di areal sawah dan tidak menemukan burung lain selain burung gereja erasia (Passer montanus) dan bondol  jawa (Lonchur leucogastroides), kami pun mengakhiri pengamatan pagi ini. Di perjalanan pulang, kami melihat seekor garangan sedang berjalan di antara petak-petak sawah lahan percobaan.

Ratusan Burung Pemangsa Terlihat di IPB

“Monitoring Migrasi Burung Pemangsab di Kampus IPB Darmaga”

Awal Oktober yang lalu mas Asman A. Purwanto yang saat itu sedang berada di Thailand menanyakan kabar mengenai kegiatan pemantauan migrasi burung pemangsa. Pertanyaan tersebut sontak membuatku kaget, bagaimana tidak berpikir mengenai migrasi burung pemangsa pun belum terlintas dalam pikiranku. Migrasi burung pemangsa merupakan siklus rutin yang terjadi pada penghujung tahun, ketika daerah tempat tinggal burung pemangsa mengalami musim dingin. Jenis burung pemangsa yang umum tercatat melewati Bogor adalah Sikep Madu Asia, Elang Alap Cina dan Elang Alap Jepang. Kita dapat melihat ratusan ekor burung pemangsa dalam momen itu, jadi sangatlah sayang apabila dilewatkan. Kata-kata yang diucapkan oleh mas Asman itulah yang membuatku bersemangat untuk melakukan kegiatan pengamatan migrasi burung pemangsa.

Continue reading

BURUNG PERKOTAAN

Burung merupakan salah satu satwa yang sangat sering dijumpai dan mempunyai posisi penting sebagai salah satu kekayaan satwa Indonesia. Dalam ekosistem, burung mempunyai peranan yang cukup penting, diantaranya adalah membantu mengontrol populasi serangga, membantu penyerbukan bunga dan pemencaran biji. Selain itu, burung merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki nilai tinggi, baik ditinjau dari segi ekologis, ilmu pengetahuan, ekonomis, rekreasi, seni dan kebudayaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa burung merupakan satwaliar yang paling dekat dengan lingkungan manusia. Dengan demikian kehadiran satwaliar ini di lingkungan hidup manusia perlu dilestarikan. . Sifatnya yang kosmopolit  memungkinkan burung dapat dijumpai di berbagai macam tipe habitat, termasuk di perkotaan.

Pada prinsipnya burung dapat berdampingan hidup dengan masyarakat kota asalkan syarat kebutuhan hidupnya terpenuhi, seperti habitat yang memadai dan aman dari berbagai bentuk gangguan. Burung-burung yang hidup liar dalam kota sering disebut dengan burung perkotaan. Kehadiran burung di kota bukan tanpa makna. Hal ini dapat dikaji melalui jaringan makanan (food web) yang dilalui dalam ekosistem alam yang membentuk kehidupannya. Hampir setiap bentuk kehidupan terkait erat dengan burung, sehingga burung mudah dijumpai di berbagai tempat. Dengan kondisi tersebut diduga burung dapat dijadikan indikator lingkungan, karena apabila terjadi degradasi lingkungan, burung menjadi komponen alam terdekat yang terkena dampaknya.Namun, keberadaan burung-burung perkotaan ini masih luput dari perhatian masyarakat kota. Hingga saat ini belum banyak mendapat perhatian dari kalangan pengamat burung. Sampai sekarang baru beberapa kota besar di Indonesia yang telah memiliki data burung cukup lengkap.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Ontario et al. (1990), jenis-jenis burung yang umum dijumpai di kota Jawa diantaranya burung gereja (Passer montanus), Prenjak (Orthotomus ruficeps), kutilang (Pycnonotus aurigaster), gelatik batu (Parus major), wallet (Collocalia linchi), ciblek (Prinia familiaris), burung madu (Nectarinia jugularis dan Anthreptes malaccensis), cucak (Pycnonotus goiavier), dan pipit (Lonchura leucogastroides). Namun demikian, variasi komposisi jenis burung dapat berbeda antara kota satu dengan yang ain, sesuai dengan kemampuan masing-masing kota dalam mendukung kehidupan burung serta sejarah penyebaran burung di kota tersebut.

Keberadaan pusat-pusat keramaian di kota dapat mempengaruhi keberadaan burung. Burung perkotaan lebih menyukai lokasi yang jauh dari pusat keramaian. Burung merasa betah tinggal di suatu tempat apabila terpenuhi tuntutan hidupnya, antara lain habitat yang mendukung dan aman dari gangguan. Berdasarkan penelitian Kusnadi (1983) dalam Hernowo (1989) yang dilakukan di Pabrik pupuk urea PT Kujang menunjukkan bahwa jumlah jenis dan  individu burung semakin meningkat dengan bertambahnya jarak dari pusat kegiatan industri (tabel 1).

Tabel 1     Hubungan jenis dan jumlah burung dengan jarak dari pusat kegiatan industri

Jarak (km)

Jenis

Jumlah

1

32

1012

2

46

1123

3

52

1309

Sumber: Kusadi (1983) dalam Hernowo (1989)

Areal yang masih tertutupi vegetasi merupakan tempat favorit bagi burung perkotaan ini karena areal-areal tersebut mampu menyediakan sumber makanan yang cukup bagi burung. Penelitian Ontario et al.(1990) di wilayah Jakarta menunjukkan bahwa daerah pemukiman dengan tutupan vegetasi yang lebih tinggi memiliki keanekaragaman jenis burung yang juga tinggi. Namun, lokasi-lokasi bervegetasi cukup tinggi tidak banyak dijumpai di kota. Ruang terbuka hijau (RTH) mungkin menjadi benteng terakhir bagi populasi burung-burung perkotaan. Salah satu bentuk RTH yang optimal sebagai sarana konservasi eksitu adalah hutan kota. Struktur vegetasi hutan kota yang yang bersifat multistrata akan memberikan ruang tumbuh bagi berbagai jenis tumbuhan lain (selain pohon), baik perdu, semak, maupun efiphit sehingga akan memiliki keanekaragaman flora yang tinggi. Kondisi tersebut akan menciptakan habitat bagi berbagai jenis satwa, khususnya burung, dengan menyediakan pakan, cover (tempat berlindung), tempat bermain, dan berkembang biak.

Ruang Terbuka Hijau tidak hanya penting bagi keberadaan burung perkotaan, namun juga ekosistem perkotaan. Keberadaan ruang-ruang tersebut berfungsi sebagai paru-paru kota, daerah peresapan air, mereduksi dan menyaring polutan udara, menurunkan tingkat kebisingan, memperbaiki iklim mikro, mengurangi erosi, tempat rekreasi dan habitat satwa liar terutama burung. Sedangkan burung perkotaan berperan sebagai pembantu proses ekologis kota, menekan populasi hama pertanian, membantu penyerbukan, objek wisata kota dan sarana pendidikan lingkungan.

 

 

Sumber:

Hernowo JB, Prasetyo LB. 1989. Konsepsi ruang terbuka hijau di kota sebagai pendukung pelestarian burung. Media Konservasi II(4): 61-71

Mulyani YA, Pakpahan AM. 1993. Studi pendahuluan tentang keanekaragaman burung di kota baru Bandar kemayoran, Jakarta. Media konservasi vol. IV(2): 59-63

Ontario J, Hernowo JB, Haryanto, Ekarelawan. 1990. Pola pembinaan habitat burung di kawasan pemukiman terutama di perkotaan. Media Konservasi III(1):15-28

 Setiawan A, Alikodra  HS, Gunawan A, Darnaedi D. 2006. Keanekaragaman jenis pohon dan burung di beberapa areal hutan kota Bandar Lampung. Jurnal Manajemen Hutan Tropika XII (1) : 1-13