Kampanye Kukang Bersama UKF dan IAR Indonesia

                       Wajah yang lucu dan gerak tubuhnya yang tampak malu-malu membuat primata yang memiliki nama latin Nycticebus sp. ini terlihat menggemaskan, sehingga kerap menjadi satwa peliharaan kesayangan manusia. Satwa yang aktif di malam hari ini dikenal di Indonesia dengan nama kukang atau malu-malu. Apabila dilihat dari persebarannya, terdapat tiga jenis kukang Indonesia, yaitu kukang jawa, kukang kalimantan dan kukang sumatera. Secara alami, jenis-jenis kukang dapat dijumpai di tipe habitat hutan dan kebun (talun). Banyak orang salah mengira bahwa kukang sama dengan kuskus, dan kerap dijual dengan nama kuskus padahal keduanya berbeda. Lain halnya dengan kuskus, kukang memiliki mata yang berukuran besar dan pola rambut pada bagian kepalanya menyerupai garpu, selain itu kukang tidak memiliki ekor. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa kukang merupakan satwa dilindungi di Indonesia berdasarkan PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Keanekaragaman Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, yang juga diakui secara internasional memiliki status rentan (vulnerable) berdasarkan IUCN Red List Category serta tercantum dalam Appendix I CITES sehingga secara hukum perdagangan jenis-jenis satwa ini dilarang.

                 Kukang jawa khususnya, merupakan jenis kukang yang persebarannya terbatas (endemik) di Pulau Jawa, apabila perdagangan jenis-jenis kukang terus berlangsung maka semakin lama populasinya akan menjadi semakin terancam punah. Atas dasar pemikiran inilah UKF bersama dengan IAR (International Animal Rescue) Indonesia melakukan serangkaian penyadartahuan masyarakat tentang larangan memelihara, menjual dan membeli kukang melalui kegiatan kampanye. Kegiatan kampanye kukang tahap pertama dilaksanakan pada hari Minggu, 26 Februari 2012 di Pasar Sempur, Bogor. Pasar Sempur merupakan salah satu pusat aktivitas masyarakat Bogor khususnya pada akhir pekan, sehingga diharapkan makna dari kegiatan kampanye di lokasi ini dapat tersampaikan pada sebanyak-banyaknya masyarakat Kota Bogor. Selain itu, berdasarkan laporan dokumentasi IAR 2011, Pasar Sempur merupakan salah satu lokasi penjualan satwa kukang, maka dengan diadakannya kegiatan kampanye diharapkan tingkat penjualan kukang dapat berkurang.

              Rombongan panitia sampai pada pukul 05.30 WIB di Pasar Sempur. Panitia kemudian melakukan dekorasi stand yang dilanjutkan dengan kegiatan pembukaan dan briefing teknis sebelum akhirnya panitia berpencar untuk melakukan tugas masing-masing. Kegiatan kampanye dilaksanakan dengan dua metode yaitu melalui pembuatan stand informasi serta kampanye keliling. Stand berisi informasi mengenai pengenalan jenis kukang, ancaman terhadap keberadaan kukang, mengapa harus peduli dengan keberadaan kukang serta menekankan bagaimana masyarakat dapat membantu pelestarian kukang. Kampanye keliling bertujuan untuk menyebarkan informasi pada masyarakat sambil berkeliling kawasan pasar. Informasi disampaikan secara singkat meliputi pengenalan apa itu kukang, mengapa harus peduli, serta ajakan untuk tidak membeli dan tidak memelihara kukang.

              Sebanyak tiga orang panitia bertugas memandu pengunjung yang datang ke stand, sedangkan dua belas orang lainnya pergi secara berpasangan untuk melakukan kampanye keliling. Kegiatan kampanye diakhiri pada pukul 10.00 WIB, kemudian panitia berkumpul untuk evaluasi kegiatan dan penutupan kegiatan. Selama kegiatan berlangsung, stand informasi cukup ramai dikunjungi, pengunjung didominasi remaja. Kebanyakan pengunjung mengaku belum pernah melihat kukang, hanya pernah mendengar namanya saja dan merespon positif adanya kegiatan kampanye seperti ini. Mayoritas pengunjung berasal dari Bogor dan sengaja datang ke sempur untuk refreshing. Beberapa pengunjung bahkan menyatakan ketertarikan untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan penyelamatan kukang. Semoga meningkatnya apresiasi terhadap kegiatan ini disertai dengan meningkatnya peran masyarakat dalam memutus mata rantai perdagangan kukang di Indonesia.

 

                                                                                      Para personil

 writed by : Divisi Konservasi Eksitu

Kukang di indonesia : di tengah maraknya perdagangan (gelap) satwa

Kukang adalah jenis mamalia yang termasuk dalam sub-ordo porismian dari ordo primate. Di dunia terdapat lima jenis kukang, yaitu Kukang sumatera (Nycticebus coucang), Kukang Kalimantan (Nycticebus menagensis), Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), Kukang Bengal (Nycticebus bengalensis), Kukang Pygmi (Nycticebus pygmeus). Semuanya memiliki kesamaan seperti mata yang besar, namun masih dapat dibedakan dari ukurannya, berat, tanda garis pada muka serta susunan warna atau kolorasi dan kemungkinan juga dari perilaku ( U. Streicher dalam komunikasi pribadi).

Ancaman kepunahan kukang bukan hanya karena hutan tempat tinggal mereka yang berkurang. Ancaman terbesar datang dari perdagangan satwa (Sheperd 2010). Kukang dijual bebas di pasar-pasar hewan, pinggir jalan raya, bahkan dipusat-pusat pertokoan secara terbuka. Terlihat di sini bahwa kegiatan perdagangan satwa sedikit banyak mendapat andil dari pengetahuan masyarakat yang minim mengenai perlindungan satwa. Ini justru menunjukkan bahwa masyarakat bisa ikut secara langsung membantu upaya perlindungan terhadap kukang. Disbanding dengan penyusutan hutan yang tidak bisa langsung dicegah oleh publik, perdagangan satwa liar sangat mungkin dikurangi jika faktor pentingnya, yaitu calon pembeli-sudah mendapat pemahaman bahwa hewan yang akan mereka beli itu dilindungi oleh Undang-Undang dan jika mereka tetap membelinya berarti mereka melanggar hukum.

Akar masalah dari berlangsungnya perdagangan satwa liar adalah kegiatan tersebut merupakan salah satu bisnis yang paling menguntungkan di dunia. Perputaran uang dalam bisnis bawah tanah-yang seringkali juga muncul terang-terangan-itu diperkirakan mencapai US$10 – 15 miliar per tahun. Hasil survei 2006 menunjukkan bahwa angka statisitik terbesar  untuk Kejahatan Alam terjadi di Thailand, dengan angka penjualan sebesar US$165,820,941,15 dalam kurun waktu 2003 sampai 2005. Untuk kukang Indonesia, seorang pemburu mendapatkan Rp. 150.000- atau sekitar US$15. Jika dijual dipasar dalam negeri, harganya mencapai Rp.200.000-Rp.600.000. di China, harganya mencapai US$390 dan di Jepang hampir sepuluh kali lipatnya, US$380.

Chris R. Shepherd dari TRAFFIC Southeast Asia juga mengiyakan bahwa di sebagian daerah Asia Tenggara, kukang diburu untuk diperjualbelikan di dalam dan luar negeri sebagai hewan peliharaan dan juga untuk obat tradisional. Ia mengatakan walaupun dampak dari perdagangan satwa masih belum luas diketahui, diduga di beberapa Negara seperti Indonesia, perdagangan adalah ancaman bagi konservasi spesies kukang-mungkin malah ancaman  terbesar. Chris mengingatkan, bahwa walaupun sudah ada UU dalam negeri dan komitmen terhadap perjanjian (ASEAN-WEN), satwa liar termasuk kukang, masih dijual secara terbuka di Indonesia. TRAFFIC Asia Tenggara telah menjalankan 66 survei di pasar-pasar burung medan, Sumut. Survey bulanan dilakukan antara 1997 sampai 2008 (oktober). Selama survei ini, 714 kukang dipantau dan diperjualbelikan secara terbuka. Spesies ini adalah satwa yng paling banyak dijual kedua dan mamalia paling dilindungi.

Daftar Pustaka

Shepherd, C. 2010.Perdagangam Kukang-Domestik dan International. Presentasi pada Seminar Kukang. Bogor 9 Desember 2010.

Streicher, U. 2004. Pygmy Lorises Re-Introduction Study in Vietnam. Reintro Redeux, IUCN/SSC Reintroduction Specialist Group. South & East Asia 1:5-10

 

 

 

Pusat Latihan Satwa Khusus

Berbicara masalah kelesarian satwa tidak akan lepas dari yang namanya lembaga  konservasi. Lembaga konservasi memiliki tanggung jawab penting dalam kegiatan konservasi  satwa-satwa yang ada di Indonesia. Ada beberapa alasan yang mendasari diperlukannya lembaga ini. Sifat sebagian manusia yang tidak selaras dengan alam bisa menjadi suatu ancaman terhadap kelestarian satwa. Pembalakan hutan, perburuan liar, pembukaan lahan hutan adalah serangkaian kegiatan manusia yang bisa mengakibatkan  kepunahan satwa-satwa yang ada di dalamnya. Karena hal seperti itulah sehingga  diperlukan suatu lembaga yang bisa mencegah ataupun mengurangi dampak tersebut.

Dalam peraturan Menteri Kehutanan No:P.53/menhut-II/2006, dijelaskan bahwa lembaga konservasi adalah lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa liar di luar habitatnya (eksitu). Fungsi dari lembaga ini untuk pengembangbiakan dan penyelamatan tumbuhan dan satwa dengan tetap menjaga kemurniaan jenis guna menjamin kelestarian keberadaan dan pemanfaatannya. Lembaga konservasi yang ada di Indonesia di antaranya kebun binatang, Taman safari, Taman Satwa Khusus, Pusat Latihan satwa khusus, Pusat Penyelamatan satwa,Pusat Rehabilitasi Satwa, Museum Zoologi, Kebun Botani, Taman Tumbuhan Khusus, dan Herbarium.

Salah satu lembaga konservasi yang ada di Indonesia adalah Pusat Latihan Satwa khusus. Di dalam Peraturan Menteri Kehutanan No:P.53/Menhut-II/2006 tentang lembaga konservasi Bab I Pasal 1 dijelaskan bahwa pengertian Pusat Latihan Satwa khusus adalah lembaga konservasi yang memelihara jenis-jenis satwa khusus (terdiri dari satu kelas atau jenis tertentu). Tentu saja Satwa yang biasa berada di lembaga konservasi ini adalah satwa yang memiliki potensi kemampuan untuk dilatih.

Di Indonesia terdapat beberapa pusat latihan satwa khusus diantaranya pusat latihan gajah yang berada di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung. Disini gajah-gajah liar dilatih agar dapat dimanfaatkan baik untuk rekreasi maupun untuk sarana transportasi atau tujuan tertentu,misalnya untuk berwisata safari ke hutan.Mungkin di tempat ini pengunjung akan melihat suatu pertunjukan gajah –gajah atau kegiatan yang lainnya. Selain di Way Kambas, terdapat juga pusat latihan gajah Sebalat di Bengkulu dan Minas, Riau.

Dengan beradanya satwa satwa khusus seperti gajah di lembaga konservasi ini,  kelestarian satwa tersebut akan lebih terjamin. Keberadaan lembaga ini akan  mencegah kepunahan satwa tersebut, di banding dengan di alam liar sendiri. Faktor pengerusakan hutan, pembalakan hutan, perburuan liar yang dilakukan oknum-oknum yang tidak bertanggug jawab, menyebabkan satwa-satwa tersebut akan lebih rawan punah. Sehingga perlu adanya kebijakan untuk mencegah kepunahan satwa tersebut dan salah satunya adalah dengan mendirikan pusat latihan satwa khusus.

Tentu saja pendirian pusat latihan satwa haruslah memenuhi kelayakan, baik dari segi kelayakan pemeliharaan  maupun tempatnya. Semua yang ada di lembaga konservasi ini harus memungkinan kelangsungan hidup satwa  itui sendiri.

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalampendirian pusat latihan satwa khusus diantaranya:

a)   Koleksi satwa terdiri dari satu kelas atau jenis tertentu, baik yang dilindungi undang-undang atau ketentutuan Convention of International Trade on Endangered Spesies of Flora Fauna (CITES).

b)  Memiliki lahan seluas sekurang-kurangnya 1 (satu) hektar.

c)   Memiliki ketersediaan sumber air dan pakan yang cukup

d)  Memiliki sarana pemeliharaan satwa, antara lain : kandang pemeliharaan, kandang perawatan, kandang karantina, dan sarana prasarana pelatihan satwa, dan pengelolaan satwa;

e)  Memiliki kantor pengelola dan sarana informasi pengunjung

f)   Tersedia tenaga kerja sesuai bidang keahliannya antara lain dokter hewan, ahli biologi atau konservasi, kurator, perawat, pelatih dan tenaga keamanan.

Mungkin dalam pemikiran yang lain pusat latihan satwa khusus bisa saja merenggut hak satwa liar seperi hak  gajah itu sendiri untuk hidup bebas secara liar di alamnya. Sebuah persoalan yang mungkin muncul antara kepentingan manusia dengan hak satwa tersebut. Di sisi lain pusat latihan satwa pun bisa memiliki peran penting dalam mempertahankan kelestarian satwa-satwa. Seandainya pengrusakan hutan dan perburuan liar terhadap satwa tersebut tidak bisa dihentikan, lembaga konservasi ini akan menjadi tempat terakhir bagi kelangsungan jenis satwa tersebut.

 

 

Sumber:

http://bbksdajatimwil1.wordpress.com/informasi-pemanfaatan-tumbuhan-dan-satwa-liar/informasi-lembaga-konservasi-lk/permenhut-berkaitan-dengan-lembaga-konservasi/

http://id.wikipedia.org/wiki/Pusat_Latihan_Gajah_Sebelat

 

Usaha Konservasi Eksitu Kukang

Kukang (Nycticebus coucang) adalah salah satu spesies primata dari genus Nycticebus. Penyebarannya di Indonesia meliputi pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Kukang terkenal dengan kehidupan malam (nokturnal) dan aboreal (hidup diatas pohon). Untuk menghindari ancaman pemangsa ia mampu berkamuflase dengan warna pohon atau melingkarkan tubuhnya dan bergelayut diantara ranting pohon yang rimbun. Bergelayut pun terkadang mereka menggunakan ekor. Menyembunyikan muka merupakan perilaku tertentu pada kukang ketika gangguan datang.

Layaknya hewan-hewan nokturnal lainnya, pada siang hari kukang beristirahat atau tidur pada cabang-cabang pohon. Bahkan ada yang membenamkan diri ke dalam tumpukan serasah tetapi hal ini sangat jarang ditemui. Satu yang unik dari kebiasaan tidur kukang yaitu posisi dimana mereka akan menggulungkan badan, kepala diletakkan di antara kedua lutut/ekstrimitasnya. Ketika malam hari tiba, kukang mulai melakukan aktivitasnya. Mereka bergerak dengan menggunakan 4 anggota tubuhnya ke segala arah baik itu pergerakan vertikal ataupun horizontal (climbing).

Kukang tergolong satwa pemakan segala (omnivor). Seperti primata lainnya, pakan utama kukang adalah buah-buahan dan dedaunan. Di habitat aslinya, kukang juga memakan biji-bijian, serangga, telur burung, kadal, dan mamalia kecil (Napier and Napier 1967). Tangan pada kukang berkembang baik. Mereka meraih makanan dengan salah satu tangan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Berbeda halnya dengan minum, cara yang dilakukan pun cukup unik. Mereka tidak minum langsung dari sumbernya tetapi mereka membasahi tangannya dan menjilatinya.

IUCN (International Union for the Conservation of Nature dan Natural Resources) telah mengubah kategori kukang jawa dari Low Risk atau Kurang Terancam, menjadi Data Defiecient atau Kekurangan Data, dan kini menjadi Endangered atau Hampir Punah (IUCN 2007, Nekaris 2008). Status ini diperkuat oleh daftar yang dikeluarkan oleh CITES (Convention on International Trade of Endangered Species of Flora and Fauna) yang mengelompokkannya status kukang jawa dari Apendiks II menjadi Apendiks I.

Untuk meminimalisir bahaya kepunahannya, maka lembaga eksitu harus lebih memfokuskan terhadap manajemen kandangnya. Manajemen kandang  yang baik pada kukang harus disesuaikan dengan perilaku asli kukang di alam, baik dari segi pakannya maupun lingkungannya. Jika manajemen kandangnya tidak baik, dikhawatirkan hewan tersebut tidak akan welfare. Bentuk manajemen kandang yang baik itu seperti ukuran kandang yang memadai, lengkap dengan fasilitas yang dapat menunjang kehidupan kukang tersebut, seperti adanya ranting kayu yang berfungsi untuk memanjat, adanya serasah untuk membenamkan dirinya ketika kukang tersebut merasa terganggu.

 

Daftar Pustaka

Napier, J.R. and P.H. Napier. 1967. A Handbook of Living Primates. London:

Academic Press.

[Anonim] http://mepow.wordpress.com/2009/05/20/kukang-dan-kehidupannya-by-request/ [10 Desember 2009]

 

[Anonim] http://www.profauna.org/content/id/berita/2007/kukang_masuk_appendix_I_cites.html [10 Desember 2009]

Babi Kutil, Hewan Langka yang Terlupakan

Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Artiodactyla; Famili: Suidae; Genus: Sus; Spesies; Sus verrucosus (Muller 1840).

Deskripsi, Ciri Fisik, dan Kebiasan

Ciri khas babi kutil atau babi jawa (Sus verrucosus) adalah adanya surai atau bulu panjang yang mulai dari leher, sepanjang tulang belakang, hingga mencapai pangkal ekor. Selain itu juga memiliki tiga pasang kutil (benjolan daging yang mengeras) di wajahnya.

Panjang tubuh sekitar 90-190 cm dengan tinggi bahu berkisar antara 70-90 dengan berat bervariasi antara 44-108 kg. Bulu tubuhnya berwarna kuning kemerahan hinga hitam. Ekornya panjang dan berumbai ujungnya. Kakinya lebih ramping dan memanjang. Babi kutil dapat berusia 10-14 tahun.

Babi kutil merupakan hewan nokturnal yang soliter, namun kadang berkelompok. Merupakan omnivora meskipun lebih sering memakan tumbuhan seperti daun, akar dan umbi-umbian, kulit kayu, atau batang, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

Saat merasa terancam surai di leher dan punggungnya akan berdiri. Sedangkan untuk berkomunikasi dengan sesama mereka, terutama saat memperingatkan bahaya, babi kutil mengeluarkan suara melengking.

Persebaran, Habitat, dan Konservasi

Babi kutil atau babi goteng, Sus verrucosus, merupakan babi liar yang endemik untuk P. Jawa dan P. Bawean. Populasinya yang dahulu pernah ada di P. Madura sekarang diyakini telah punah (Semiadi & Meijaard 2006). Habitatnya adalah hutan sekunder dataran rendah hingga ketinggian 800 meter dpl.

Pada tahun 2000, The IUCN Species Survival Commission menempatkan Sus verrucosus dalam katagori ‘Endangered’, atau sebagai jenis yang menghadapi kemungkinan kepunahan di alam yang cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan karena penurunan populasi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, terfragmentasinya populasi yang demikian tinggi atau terjadinya penurunan sub-populasi serta jumlah individu dewasa (IUCN 2000). Sampai saat ini Indonesia belum memasukkan babi kutil ke dalam satwa liar yang harus dilindungi.

Ancaman kepunahan babi kutil di Indonesia disebabkan karena hilangnya habitat babi ini untuk dijadikan permukiman dan daerah pertanian oleh penduduk. Selain itu babi ini sering diburu karena merusak area pertanian dan ada sebagian penduduk yang memanfaatkannya sebagai bahan makanan.

Untuk itu diperlukan usaha dalam penyelamatan dan melestarikannya. Usaha yang dapat dilakukan antara lain adalah merehabilitasi kembali sebagian habitatnya untuk tempat tinggal alami babi (konservasi in-situ) atau dengan penangkaran (konservasi ex-situ). Mengetahui status kesehatan babi yang dipelihara merupakan hal yang penting untuk mencapai keefektifan manajemen pemeliharaan, selain untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh babi lebih luas.

Manajemen Kesehatan

Untuk menangkarkan babi kutil, para penangkar sebaiknya mengecek kesehatan dari hewan tersebut. Biasanya babi kutil membawa endoparasit di dalam fesesnya seperti Ascaris sp., Oesophagostomum sp., Eimeria sp., dan Balantidium coli yang mana dapat membahayakan jika terjadi penyebaran penyakit tersebut (Dewi K & Nugraha RTP 2007).

 

Daftar Pustaka

Dewi K, Nugraha RTP. 2007. Endoparasit pada feses babi kutil (Sur verrucosus) dan prevalensinya yang berada di kebun binatang Surabaya. Zoo Indonesia 16:13-19.

Semiadi, G & E Meijaard. 2003. Survai keberadaan babi kutil (Sus verrucosus) di Pulau Jawa dan sekitarnya. Laporan Akhir Puslit Biologi LIPI & IUCN. 123 pp.

Animal Welfare

Animal Welfare (kesejahteraan satwa)

Lima prinsip kesejahteraan hewan yang harus diketahui sebagai pengetahuan dasar untuk konservasi eksitu yaitu:

1. Bebas rasa lapar dan haus (pemberian makanan cukup dan air minum bersih setiap harinya)

2. Bebas rasa tidak nyaman (pemberian lingkungan akomodasi hidup yang nyaman)

Kebebasan dari ketidaknyamanan secara fisik dan cuaca panas dengan menyediakan suatu lingkungan yang sesuai termasuk tempat berlindung, tempat istirahat yang nyaman dan pengayaan kandang yang sesuai dengan perilaku satwa.

3. Bebas dari sakit dan luka (pemberian perawatan untuk satwa sakit, pencegahan penyakit)

Faktor –faktor yang perlu dipertimbangkan dalam hubungannya dengan kebebasan ini termasuk desain kandang, ketersediaan perlengkapan kandang, kebutuhan alat-alat yang dibutuhkan, ketersediaan ruang yang cukup dan hidup sosial berkelompok yang sesuai untuk mencegah konflik antar satwa, sanitasi yang sesuai, makanan dan perawatan kesehatan dari dokter hewan untuk mencegah atau merawat luka dan penyakit yang diderita oleh satwa.

4. Bebas berprilaku liar alami (pemberian lingkungan hidup dan kesempatan mengutarakan sifat dan prilaku khas alami)

Kebebasan untuk mengekspresikan perilaku secara normal dengan menyediakan ruangan yang cukup luas, fasilitas yang sesuai. Mereka harus diberi kesempatan untuk memilih dan mengontrol, agar memungkinkan mereka untuk membuat kontribusi yang berarti dalam kualitas hidup mereka sendiri.

5. Bebas dari rasa takut dan stress (pemberian perlindungan untuk menghindari rasa takut dan stress)

Kebebasan dari rasa takut dan tertekan dengan memastikan kondisi dalam kandang dan merawatnya untuk menghindarkan mereka dari penderitaan mental.

Kebebasan ini termasuk tidak hanya dari rasa takut dan penderitaan yang disebabkan oleh luka fisik atau intimidasi yang disebabkan oleh satwa yang hidup dalam kelompok sosial yang berlebihan atau tidak normal, tetapi juga ancaman predator (pemangsa) dari luar dan penyakit. Frustasi dan kebosanan harus juga diperhatikan sama seperti satwa lainnya yang mengalami stress secara kronik seperti mengalami masalah pendengaran, penciuman dan rangsangan pengelihatan