Tetesan Konservasi di Birunya Bahari

Tetesan Konservasi di Birunya Bahari

“Tetesan Konservasi di Birunya Bahari” Rikho Jerikho Institut Pertanian Bogor Setiap tetes aksi konservasi akan memberikan warna tersendiri bagi laut. Baik atau buruknya aplikasi konsep konservasi akan terepresentasi di birunya lautan. Konservasi, kata yang mempunyai daya tafsir kuat tentang perlindungan dan pelarangan ini memiliki sejarah yang kompleks di dalam pertumbuhannya. Dimulai oleh John Evelyn, yang mempublikasikan artikel tentang pemanfaatan kayu secara lestari pada tahun 1662 sampai Henry David Thoreau, pioneer konservasi sekaligus angler yang membubuhkan konservasi dalam dunia pemancingan pada pertengahan abad ke-18. Kedua orang ini memiliki konsep dasar yang sama tentang konservasi, yaitu bagaimana kita dapat memanfaatkan sumberdaya secara bijak dan lestari. Inti penting yang muncul dari kedua tokoh di atas, konservasi lahir bagi manusia dan ekosistem disekitarnya. Visi konservasi yang mulia kemudian diterima di seluruh dunia. Perkembangan konservasi mulai diterima di Indonesia dengan munculnya tiga pilar konservasi di dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati &Ekosistemnya. Ketiga pilar tersebut adalah perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari. Setiap pilar mempunyai...
Read More