Keberadaan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di kampus IPB

Monyet ekor panjang di arboretum bambu

Monyet ekor panjang  merupakan salah  satu  jenis primata  yang umum ditemui di Indonesia. persebarannya  mencakup seluruh Asia Tenggara  mulai dari  Myanmar , Thailand, Filipina sampai keseluruh wilayah Indonesia. Luasnya persebaran monyet ekor panjang  didukung  oleh kemampuan  habituasinya. Monyet ekor panjang mempunyai kemampuan habituasi yang bagus dengan habitat barunya, primata  ini akan  mencoba beradaptasi lansung dengan daya dukung habitatnya.Hal inilah yang sangat mepengaruhi  persebarannya, jika monyet ekor panjang di introduksi ke suatu tempat yang  cukup menyediakan  pohon  tempat tinggalnya  saja ,  monyet ekor panjang sudah bisa  mendominasi di daerah  tersebut karena dari segi pakan  monyet ekor panjang  termasuk hewan omnivora  yang dapat memakan apa saja .Skala Indonesia, Institut Pertanian Bogor  temasuk ke dalam  kampus yang mempunyai lahan hijau yang cukup  luas, walaupun   lahan  hijau itu  terpisah-pisah  dalam  kampus IPB.  Terdapat banyak  jenis-jenis pohon besar  yang dapat menopang kebutuhan pakan dan tempat tinggal dari monyet ekor panjang. Ada dua tempat yang dihuni oleh primata  ini, yaitu di Arboretum bambu dan  hutan  belakang Mesjid Alhuriyah  tepatnya di belakang perumahan dosen .

Monyet ekor panjang di hutan belakang perumahan dosen

Komposisi  vegetasi arboretum  bambu  terdiri dari  tegakan karet,rambutan, belimbing , sawit, koleksi bambo,dan banyak jenis tumbuhan lainnya. Ada sungai kecil  jernih yang berasal dari mata air di dalam arboretum. Sungai kecil ini membentang membelah arboretum. Sesuai dengan  pentingnya air untuk kehidupan , sungai bisa dijadikan  indikator keberadaan satwa di suatu tempat. Sekelompok monyet ekor panjang menghuni arboretum  bamboo ini, ada sekitar 6-7 individu  yang mendiami daerah ini. Sumber  pakannya berasal dari pohon-pohon yang  ada di arboretum  ini,. Biasanya  monyet ekor panjang ini memakan  biji karet, buah sawit , rambutan dan  pucuk daun yang ada di arboretum. Tidak  jarang  monyet ekor panjang di arboretum  bamboo ini yang mencari makan dari sampah  sisa makan yang di tinggalkan oleh pengunjung. Ini  membuktikan  monyet ekor panjang  mempunyai kemampuan adaptasi yang bagus dengan lingkungannya. Jam  aktif dari monyet ekor panjang  ini adalah  saat mencari makan,  kira-kira pukul  08.00 s/d 10.00  dan  pukul 15.00 s/d 17.00 . namun waktu aktif ini juga di pengaruhi cuaca, jika hujan  monyet ekor panjang ini cendeung sedikit melakukan pergerakan dibandingkan cuaca cerah.

kondisi habitat di belakang Alhuriyah / belakang perumahan dosen

Kemudian untuk  daerah belakang  Masjid Alhuriyah tepatnya di belakang perumahan dosen  merupakan bekas kebun sawit dan  juga tegakan karet.  Kondisinya sangat mendukung untuk dijadikan  contoh ekologi hutan. Dari pohon, tiang , pancang sampai kesemai ada di hutan ini. Semua telah tumbuh alami, setelah kebun sawit dan  karet  ini tidak terawat. Di hutan ini juga ada beberapa ekor  monyet ekor panjang, kemungkinan adanya monyet ekor panjang di sini  berasal dari penangkaran primata yang ada di belakang Asrama Putra IPB , bisa terlepas dari kandangnya ataupun dilepaskan  oleh pihak penangkaran, karena jumlah yang ada di hutan  ini  lebih banyak daripada monyet ekor panjang yang ada di arboretum  bambo.

Melihat kondisi pembangunan IPB sekarang , bisa menjadi ancaman  bagi keberadaan monyet ekor panjang ini, terutama pada habitatnya,  pembangunan di IPB yang banyak memakan lahan . lahan ini di buka dengan cara penebangan pohon yang ada di lokasi pembangunan. Kehilangan, pohon ini akan  sangat berpengaruh  pada satwa liar di kampus ipb pada umumnya dan  monyet ekor panjang pada khususnya yang notabene memakai pohon sebagai tempat bernaung dan mencari makan. Jadi untuk menjaga keberadaan monyet ekor panjang ini , marilah kita bersama-sama untuk mempertahan kan habitatnya, dan untuk  pihak kampus sendiri agar lebih bisa mempertimbangan pembukaaan  lahan untuk pembangunan di kampus kita ini .

Usaha Konservasi Eksitu Kukang

Kukang (Nycticebus coucang) adalah salah satu spesies primata dari genus Nycticebus. Penyebarannya di Indonesia meliputi pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Kukang terkenal dengan kehidupan malam (nokturnal) dan aboreal (hidup diatas pohon). Untuk menghindari ancaman pemangsa ia mampu berkamuflase dengan warna pohon atau melingkarkan tubuhnya dan bergelayut diantara ranting pohon yang rimbun. Bergelayut pun terkadang mereka menggunakan ekor. Menyembunyikan muka merupakan perilaku tertentu pada kukang ketika gangguan datang.

Layaknya hewan-hewan nokturnal lainnya, pada siang hari kukang beristirahat atau tidur pada cabang-cabang pohon. Bahkan ada yang membenamkan diri ke dalam tumpukan serasah tetapi hal ini sangat jarang ditemui. Satu yang unik dari kebiasaan tidur kukang yaitu posisi dimana mereka akan menggulungkan badan, kepala diletakkan di antara kedua lutut/ekstrimitasnya. Ketika malam hari tiba, kukang mulai melakukan aktivitasnya. Mereka bergerak dengan menggunakan 4 anggota tubuhnya ke segala arah baik itu pergerakan vertikal ataupun horizontal (climbing).

Kukang tergolong satwa pemakan segala (omnivor). Seperti primata lainnya, pakan utama kukang adalah buah-buahan dan dedaunan. Di habitat aslinya, kukang juga memakan biji-bijian, serangga, telur burung, kadal, dan mamalia kecil (Napier and Napier 1967). Tangan pada kukang berkembang baik. Mereka meraih makanan dengan salah satu tangan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Berbeda halnya dengan minum, cara yang dilakukan pun cukup unik. Mereka tidak minum langsung dari sumbernya tetapi mereka membasahi tangannya dan menjilatinya.

IUCN (International Union for the Conservation of Nature dan Natural Resources) telah mengubah kategori kukang jawa dari Low Risk atau Kurang Terancam, menjadi Data Defiecient atau Kekurangan Data, dan kini menjadi Endangered atau Hampir Punah (IUCN 2007, Nekaris 2008). Status ini diperkuat oleh daftar yang dikeluarkan oleh CITES (Convention on International Trade of Endangered Species of Flora and Fauna) yang mengelompokkannya status kukang jawa dari Apendiks II menjadi Apendiks I.

Untuk meminimalisir bahaya kepunahannya, maka lembaga eksitu harus lebih memfokuskan terhadap manajemen kandangnya. Manajemen kandang  yang baik pada kukang harus disesuaikan dengan perilaku asli kukang di alam, baik dari segi pakannya maupun lingkungannya. Jika manajemen kandangnya tidak baik, dikhawatirkan hewan tersebut tidak akan welfare. Bentuk manajemen kandang yang baik itu seperti ukuran kandang yang memadai, lengkap dengan fasilitas yang dapat menunjang kehidupan kukang tersebut, seperti adanya ranting kayu yang berfungsi untuk memanjat, adanya serasah untuk membenamkan dirinya ketika kukang tersebut merasa terganggu.

 

Daftar Pustaka

Napier, J.R. and P.H. Napier. 1967. A Handbook of Living Primates. London:

Academic Press.

[Anonim] http://mepow.wordpress.com/2009/05/20/kukang-dan-kehidupannya-by-request/ [10 Desember 2009]

 

[Anonim] http://www.profauna.org/content/id/berita/2007/kukang_masuk_appendix_I_cites.html [10 Desember 2009]

Reportase Eksplorasi Cisoka


Guna melatih dan memperdalam keilmuan anggota UKF khususnya angkatan baru, maka UKF tiap tahunnya mengadakan Eksplorasi yang dilakukan perdivisi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, eksplorasi kali ini setiap divisi berhak untuk menentukan sendiri lokasi yang akan dieksplor. Namun, untuk DKM (Primata, Karnivora, dan Herbivora) dan DKB memutuskan untuk di tempat yang sama yaitu Cisoka-TNGHS.

Pukul 03.00 dini hari, Jumat 22 April 2011, seluruh peserta eksplor dari keempat divisi yang berjumlah 34 orang berkumpul di depan BNI. Meski mengantuk namun tidak menyurutkan semangat para peserta eksplorasi Cisoka. Sekitar pukul 03.30 truk datang, dan  kami berangkat menuju Cisoka-TNGHS. Kurang lebih 4 jam perjalanan menggunakan truk, kami  turun dan meneruskan sisa perjalanan camp. Sekitar 200 m kami berjalan di aspal dan sisanya kami harus melewati jalan setapak hutan yang becek dan berlumpur. 800 m perjalanan di dalam hutan hanya kami tempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam (kegiatan lapang paling dekat dan paling cepat !).

Setengah 9 kurang kami sampai di camp dan cuaca saat itu cerah. Kamipun langsung mendirikan tenda dan memasak. Sumber air terdekat dari camp tersebut sekitar 50 m dan membutuhkan sedikit perjuangan karena jalan yang sangat becek dan sempit. Pukul 11.00 tenda telah berdiri kokoh dan masakanpun sudah siap. Setelah makan, jadwal selanjutnya yaitu tagging jalur. Jalur pengamatan dibagi ke dalam enam jalur yaitu jalur Gunung Tenggek, Cadas putih, Ki arah jingkang, Cibandung,…,… . Saat akan melakukan tagging, langit tampak mendung dan disusul dengan hujan yang cukup deras. Tagging dibatalkan. Bukan  hujan yang jadi penyebab tapi karena tenda kami kebanjiran, dan tenda DKP yang paling parah tergenangnya. Kami sibuk membuang air dari dalam tenda dan membuat parit. Selama hujan turun, hal yang kami lakukan tersebut terasa sia-sia. Tenda tetap tergenang dan paritnya juga tidak berpengaruh (karena sudah terlanjur). Setelah bosan mengurusi tenda yang kebanjiran, beberapa diantara kami pun bersenang-senang bermain tarik tambang di bawah guyuran hujan, yang lain menjadi supporter tim masing-masing.

Akhirnya setelah hujan mulai reda, kami memindahkan tenda ke tempat yang lebih tinggi dengan kontur tanah yang miring, agar ketika hujan air dapat mengalir dan tidak tertampung di dalam tenda. Sekedar informasi bahwa camp kami yang sekarang merupakan sarang segala macam serangga termasuk ulat bulu !. Setelah urusan tenda selesai, dan hujan juga mulai berhenti, akhirnya kitapun melakukan tagging sekitar pukul 15.30. Peserta dibagi menjadi 6 kelompok yang terdiri dari 4 orang dan setiap kelompok melakukan tagging di tiap jalur. Pukul 17.00 tagging selesai dan tidak semua jalur menyelesaikan tagging sampai 2 km karena terkendala waktu. Bahkan ada jalur yang tidak melakukan tagging sama sekali karena salah jalan.

Keesokan harinya, pengamatan pagi dimulai. Untuk jalur yang belum di tagging maka pengamatan pagi dilakukan sambil men-tagging jalur. DKP sendiri melakukan pengamatan pagi di dua jalur yang dianggap cukup memiliki potensi primata yaitu jalur cibandung dan jalur Ki Arah Jingkang. Di jalur Cibandung kami menemukan 3 ekor Owa Jawa yaitu jantan, betina, dan juvenil yang sedang mencari makan dan berpindah tempat dari pohon yang satu ke yang lain. Ketiga ekor Owa Jawa ini dijumpai di HM 11 pada pukul 08.45. Di jalur Ki Arah Jingkang, pada pengamatan pagi kali ini tidak ddijumpai satwa primata, hal ini dapat disebabkan karena kondisi habitatnya yang sangat dekat dengan jalan setapak yang biasa dilewati oleh penduduk yang ingin berangkat menambang. Di HM 9 dan seterusnya juga didominasi oleh pohon pinus sehingga tidak ditemukan primata.

Selesai pengamatan, kamipun istirahat untuk makan siang sampai pukul 12.00. Kegiatan dilanjutkan dengan analisis vegetasi (anveg). Semua peserta di tiap divisi ikut melakukan anveg dan dibagi ke dalam beberapa kelompok ditiap tingkat permudaan pohon yaitu semai, pancang, tiang dan pohon. Semai adalah permudaan pohon yang baru tumbuh dengan tinggi kurang dari 1 m. Pancang adalah permudaan pohon yang memiliki diameter kurang dari 10 cm. Tihang memiliki diameter antara 10 cm – 2 cm. Sedangkan pohon yaitu memiliki diameter lebih dari 20 cm. Anveg dilakukan dengan membuat 5 plot yang masing-masing plot memiliki luas 20 x 20 m.

Sore harinya, DKP tidak melakukan pengamatan sore dikarenakan hujan. Bukan karena takut basah, tetapi apabila dilanjutkan pengamatan kemungkinan besar juga tidak akan menemukan satwa primata.

Minggu, 24 April 2011 adalah jadwal kami untuk kembali ke Bogor dan kembali kepada rutinitas kuliah. Namun, sebelumnya kami masih sempat untuk melakukan pengamtan pagi. DKP, dengan jalur yang sama yaitu jalur Cibandung dan jalur pulang menemuka 3 ekor Owa Jawa (Hylobates moloch) di jalur Cibandung dan 3 ekor lutung budeng (trachypitecus auratus) di jalur pulang

Sekitar pukul 12.30 kami semua bersiap untuk pulang. Kami pun turun sekitar pukul 13.00 dan sampai dijalan besar 30 menit kemudian. Ternyata truk pun belum datang. Namun, menurut informasi dari orang yang sedang menggembala kerbaunya disana, sebelumnya truk sudah datang dan cukup menunggu lama sehingga truk kembali ke MKK (Model Kampung Konservasi) dan kita diminta untuk berjalan sampai sana. Cukup jauh memang, tapi karena kondisi semua peserta yang fit ditambah dengan cuaca yang tidak panas maka kami semua berjalan menuju MKK, bahkan sambil bernyanyi dan berfoto-foto ria. Beruntung, ternyata kita tidak perlu berjalan jauh karena truk pun akhirnya datang. Sekitar pukul 15.00 kami pun berangkat meninggalkan Cisoka dan sampai ke Bogor sekitar pukul 20.00.

 

By : Dissa Natria DKP’7

 

Distribusi owa jawa di resort Cikaniki


(hasil tim Eksplorasi Halimun 2011 Uni Konservasi Fauna)

Taman Nasional Gunung Halimun Salak mempunyai keanekaragaman satwa liar yang tinggi dan tersebar di beberapa tipe habitat. Salah satunya adalah Primata . Ada beberapa jenis primata yang  hidup di Taman Nasional ini, mulai dari surili (Presbytis comata), lutung budeng (Trachyphitecus auratus), kukang (Nycticebus coucang),dan owa jawa(Hylobates moloch). Beberapa dari primata ini merupakan endemik jawa, salah satunya adalah owa jawa. Persebaran owa jawa sampai sekarang masih terbatas di hutan-hutan yang ada di Jawa Barat tentunya.

Owa jawa memiliki warna rambut kecoklatan, keperakan atau kelabu dengan warna muka yang hitam pekat. Owa dapat hidup sampai ketinggian 1500 m dpl, tetapi sangat jarang ditemui di ketinggian 1500 m  karena pohon-pohon di ketinggian seperti ini sudah di selimuti oleh lumut sehingga menyulitkan untuk pergerakan owa jawa.(supriatna 2000)

Resort Cikaniki merupakan salah satu resort yang ada di Taman Nasional Gunun Halimun Salak, kawasan hutan diresort ini lansung berdampingan dengan enklave perkebunan dan pemukiman masyarakat. Jadi tidak jarang masyarakat yang melihat aktivitas satwaliar ada di sekitar perkebunan. Ada tiga jalur yang diduga potensial untuk keberadaan owa jawa di resort ini, yaitu jalur Wates, jalur Gunung Kendeng, dan Jalur Cikudapaeh. Setiap jalur memiliki tingkat keberadaan satwa yang berbeda.

Berdasarkan hasil dari pengamatan saat Ekplorasi Halimun 2011 didapatkan hasil tentang distribusi (penyebaran) owa jawa diresort Cikaniki. Data yang dikumpulkan dapat dianalisis bahwa setiap jalur pengamatan mempunyai potensi keberadaan owa jawa (Hylobates moloch). Setiap jalur terdapat indikator-indikator yang mendukung  keberadaan owa jawa. Mulai dari segi ketersediaan pakan, pohon tidur, sampai kepada sumber air.  Namun jalur-jalur yang diamati memiliki kelebihan masing-masing untuk setiap indikator.

Sumber pakan, owa jawa yang pakan utamanya adalah buah dan daun muda. menurut beberapa penelitian owa jawa memakan lebih kurang 125 jenis tumbuhan berbeda.  Owa akan mencari daerah yang mempunyai kelimpahan pakan yang lebih. Dari 3 jalur yang diamati, jalur Wates menempati pernyataan ini, perjumpaan dengan owa lebih banyak sering di temui. Jalur Wates yang terdiri dari jalur dalam hutan dan jalan masyarakat memiliki kelimpahan pakan yang tinggi , terlihat  banyaknya pohon-pohon pakan di sepanjang jalur. Kenapa dibilang pohon pakan karena ada banyak bekas gigitan primata pada buah-buah yang berjatuhan dibawah pohon tersebut. Melihat hal ini bukan berarti di jalur lain tidak ditemukan owa jawa, tetap ditemukan owa jawa walaupun dalam kuantitas kecil.

Indikator selanjutnya adalah sumber air, ini adalah sesuatu yang wajar, setiap satwa akan mendekati sumber air. Biasa di sumber air terdapat tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh subur sehingga berkaitan erat lagi dengan ketersediaan pakan. Disetiap jalur yang di amati telah menyediakan sumber air yang cukup , ada beberapa sungai yang mengalir dari hulu sungai yang berasal dari dalam hutan. Perjumpaan dengan owa jawa sangat minim kearah jalur gunung kendeng, aliran sungai tidak sampai ke area ini karena ketinggian tempat yang cukup terjal . Hutannya berada di sudut elevasi mendekati 900. Di tambah lagi predator yang akan mengincar di daerah ini. Di ketinggian seperti ini tidak menyediakan lagi pohon  dengan tajuk yang tinggi yang menjadi senjata ampuh primata untuk melarikan predator seperti macan tutul yang wilayah jelajahnya cukup luas. Untuk wates dan cikudapaeh sumber airnya cukup melimpah sehingga perjumpaan dengan owa jawa lebih sering di kedua jalur ini.

Selain indikator yang di atas, persebaran owa jawa sangat di pengaruhi oleh predator  primata, konsumen tingkat atas ini adalah macan tutul(Panthera pardus) dan Elang jawa( Spizaetus bartelsi). Macan tutul akan mengincar semua konsumen di bawahnya, sedangkan elang jawa biasa mengincar anakan primata. disamping adanya predator ada juga persaingan dengan sesama primata, namun ini tidak begitu berpengaruh terhadap owa jawa sendiri.

Dapat simpulkan bawa distribusi owa jawa di Resort Cikaniki  cukup merata karena setiap jalur  telah dapat dijumpai owa jawa. Setiap jalur juga memiliki indikator pendukung keberadaan owa jawa, mulai dari ketersediaan pakan, sumber air, dan  predator alami . walapun setiap jalur tingkat kelebihan indikatornya  yang berbeda-beda

Ditulis : Wamu’al Rahmatullah DKP angkatan 7

Daftar Pustaka

Supriatna jatna dan Edy Hendras W. 2000. Panduan lapang Primata Indonesia. Buku obor: jakarta

Foto : Nank Kh nature photography 2011

NYANYIAN KELAMPIAU DI PT. KAYONG AGRO LESTARI

Gibbon atau owa merupakan jenis primate dari family hylobatidae. Apabila dilihat dari morfologinya gibbon termasuk ke dalam jenis kera karena memang tidak terdapat ekor sebagaimana jenis – jenis monyet.

Terdapat dua jenis gibbon atau dalam bahasa setempat disebut kelampiau di Kalimantan yaitu Hylobates muelleri yang sebarannya terbatas di pulau Kalimantan saja (endemik) dan Hylobates agilis albibarbis. Kedua jenis kelampiau ini memiliki ciri yang jelas dari penampakan fisiknya. Hylobates muelleri memiliki ciri hampir seluruh tubuhnya ditutupi rambut berwarna mulai dari kecoklatan sampai kelabu, kecuali bagian kepala dan perut berwarna hitam sedangkan Hylobates agilis albibarbis seluruh tubuhnya ditutupi oleh rambut berwarna abu-abu, kecoklatan hingga hitam dan rambut yang tumbuh pada tangan berwarna hitam. Keluarga owa ini hidup berkelompok dengan ukuran kecil sekitar 3-4 individu yang terdiri atas jantan dewasa, betina dewasa dan anak atau bayi.

Selain ciri fisik, kedua jenis kelampiau ini juga dapat dibedakan berdasarkan suara panggilannya. Suara panggilan Hylobates muelleri cukup panjang mengalun dan diakhiri alunan yang cepat dan bergetar biasanya terdengar mulai dari pukul 05.00 sampai 06.30 pagi. Suara Hylobates agilis albibarbis sekilas terdengar hampir sama akan tetapi terdengar lebih mengalun dan diakhiri dengan jeritan bernada naik turun. Suara panggilan ini merupakan tanda bagi kelompok lainnya sebagai peringatan atas daerah kekuasaan atau memanggil pasangan. Panggilan di pagi hari disebut morning call. Namun seringkali suara ini juga merupakan tanda bahaya bila ada gangguan seperti adanya hewan pemangsa.

Habitat kedua jenis kelampiau ini hampir sama mulai dari hutan pegunungan sampai hutan dataran rendah, namun ternyata dijumpai juga di hutan rawa gambut. Sebagian besar dari aktifitas kelampiau dihabiskan di atas pohon (arboreal) dan sangat jarang dijumpai di atas permukaan tanah. Makanan dari jenis-jenis kelampiau ini berupa buah-buahan, dedaunan, bunga dan jenis-jenis serangga. Menurut masyarakat sekitar khususnya suku dayak, kelampiau merupakan jenis satwa yang dilindungi secara adat sehingga tidak boleh diburu oleh masyarakat. Kondisi ini tentunya sangat menguntungkan bagi upaya pelestarian dimana aturan adat pun turut mendukung pelindungan jenis-jenis satwa khususnya kelampiau. Sehingga apabila budaya seperti ini tetap bertahan tentu populasi satwa khususnya kelampiau ini akan tetap terjaga.

thanks to : Entol Mochamad Afnan

Lebih Dekat Dengan SIMPAI (Presbytis melalophos)

Berawal dari kekagumanku saat melihat monyet ini di Pusat Primata Schmutzer. Warna rambutnya yang bersih, badannya yang ramping, dan jambulnya yang sangat keren! Monyet jenis ini dikenal dengan nama Simpai (Sumatera Selatan), chi-cha (Lampung), atau kera putih (Lampung Timur). Disebut monyet putih karena warna rambutnya yang dominan putih, namun sebenarnya memiliki warna yang bervariasi, ada yang berwarna abu-abu, hitam, sampai kecoklatan. Rambut anak simpai yang baru lahir berwarna keputih-putihan dengan garis-garis hitam di bagian belakang tubuhnya (dorsal). Kulit wajahnya berwarna dominan hitam. Ciri khas simpai adalah jambul yang menyerupai mahkota pada bagian kepala dan sedikit memanjang ke bagian dorsal. Simpai memiliki ekor yang panjang, yaitu sekitar satu setengah kali panjang tubuhnya yang berkisar antara 45-60 cm. Berat tubuhnya berkisar antara 5-8 kg.
Menurut beberapa ahli, berdasarkan warnanya simpai dapat digolongkan ke dalam 7 anak jenis, yaitu:
1. Presbytis melalophos melalophos, warna dominan merah dan hitam.
2. Presbytis melalophos fluviatilis, warna dominan cokelat kekuningan.
3. Presbytis melalophos alba, warna dominan putih.
4. Presbytis melalophos fucamurina, warna dominan hitam.
5. Presbytis melalophos nobilis, warna mrah dan hitam.
6. Presbytis melalophos ferruginea, warna dominan merah.
7. Presbytis melalophos aurata, warna putih kecoklatan.
Namun, IUCN-Primate Species Group menyepakati hanya ada 4 anak jenis, yaitu:
1. Presbytis melalophos melalophos
2. Presbytis melalophos bicolor
3. Presbytis melalophos mirata
4. Presbytis melalophos nobilis
Monyet putih ini menyukai hutan-hutan primer dataran rendah sampai pegunungan hingga 2500 m di atas permukaan laut, kadang mereka dapat dijumpai di sekitar aliran sungai. Namun akibat adanya penyusutan hutan menyebabkan mereka dapat dijumpai di daerah perkebunan. Pakan simpai adalah buah-buahan, bunga, biji, pucuk daun, beberapa jenis serangga. Simpai mengkonsumsi lebih dari 197 jenis tumbuhan yang berbeda.
Hidup simpai berada dalam kelompok yang terdiri dari satu jantan dan 5-7 betina, atau beberapa jantan namun tetap didominasi oleh betina dan anak-anaknya. Jumlah individu dalam satu kelompok dapat mencapai 20 ekor. Tipe pergerakan simpai sebagian besar menggunakan teknik leaping, yaitu berlarian di dahan dan melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Terkadang pula simpai menggunakan keempat kakinya (quadropedal) untuk melakukan aktivitas harian. Luas daerah jelajah mencapai 14-30 ha, sedangkan pergerakan hariannya mencapai 950-1300 m perharinya.
Simpai merupakan primata yang melakukan aktivitasnya mulai dari pagi hingga sore hari (diurnal), sehingga suara mereka mulai dapat didengar antara pukul 5.00-9.00. Suaranya terdengar seperti ka..ka..ka..ka..ka.. yang umumnya dikeluarkan oleh jantan sambil melakukan lompatan-lompatan pada dahan. Selain untuk menunjukkan daerah teritorialnya, suara tersebut juga berfungsi sebagai tanda bahaya, dan apabila sedang berjumpa dengan kelompok lain.
Walaupun informasi tentang populasi satwa ini di alam belum diketahui, namun perusakan habitat terus mengancam kelangsungan populasi simpai di daerah sebarannya. Habitatnya telah hilang lebih dari 71%, dari yang semula seluas 174.340 km2 menjadi 50.960km2. Kondisi ini tentu dapat meningkatkan kematian simpai khususnya juvenil simpai.Hal tersebut mendorong primata ini untuk masuk ke dalam daftar perlindungan satwa melalui UU No.5 tahun 1990.

artikel ini ditulis oleh Kurnia andayani (DKP 07)

Sumber Pustaka :
Hendras Wahyono, Edy, Jatna Supriatna. 2000. Panduan Lapang Primata Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia