Dragonfly  (Odonata : Anisoptera)

Dragonfly (Odonata : Anisoptera)

Odonata terbagi menjadi dua Sub Ordo, yaitu Anisoptera atau capung (Dragonfly) dan Zigoptera atau capung jarum (Dumselfly). Kedua sub ordo ini memiliki bentuk tubuh dan perilaku yang sangat berbeda. Pada artikel ini akan di bahas lebih spesifik mengenai Dragonfly. Siklus Hidup Dragonfly mengalami metamorfosis yang tidak sempurna. Dari telur dia menetas menjadi  nimfa, dan kemudian menjadi capung dewasa. Dalam sekali siklus hidup capung dari telur hingga mati dewasa antara enam bulan hingga maksimal enam atau tujuh tahun. Masa hidup paling lama dilalui pada fase larva. Umur capung dewasa cukup singkat, maksimal selama empat bulan. Capung yang juga dapat menjadi bioindikator perairan bersih ini ada yang hidup di perairan tenang dan ada yang hidup di perairan deras sekalipun. Mereka membutuhkan perairan untuk meletakkan telur-telurnya. Selama dalam fase telur hingga nimfa mereka hidup dalam air menggunakan insang internal yang berada di dalam rektumnya di ujung perut.   Daerah Jelajah dan Kemampuan Terbang Daerah jelajah capung bervariasi, dari daerah jelajah yang sempit dan terbatas hingga dapat bermigrasi sejauh 18000...
Read More
Betet Biasa : Biasa Ditemui di Kampus IPB

Betet Biasa : Biasa Ditemui di Kampus IPB

Betet biasa (Psittacula alexandri) merupakan salah satu jenis burung paruh bengkok dari famili psitticidae. Burung seukuran kutilang yang memiliki warna hijau di sebagian besar tubuhnya dan warna merah muda di bagian dada ini memiliki suara yang berat dan senang bersuara di sepanjang aktifitasnya. Betet membuat sarang di batang pohon dengan membuat lubang yang besarnya seukuran tubuh mereka. Betet biasanya berkumpul pada satu pohon tertentu untuk makan atau menelisik bulu. Betet biasa atau yang lebih dikenal dengan betet jawa tersebar di India, Cina Selatan, Asia Tenggara, dan Sunda Besar (MacKinnon, 1993). Betet dapat ditemukan di daerah kaki gunung dan dataran rendah. Habitat alami yang sering ditempati betet adalah hutan di kaki bukit, hutan sekunder, hutan mangrove, hutan dataran rendah yang berdekatan dengan daerah pertanian, perkampungan, dan perkotaan. Di Kampus IPB Dramaga, betet jawa tersebar di sekitar Arboretum Fahutan, tegakan sengon, hutan cikabayan, komplek penangkaran rusa, komplek asrama sylva, komplek tanaman kelapa sawit, dan komplek kebun salak yang berada di samping asrama putri...
Read More
Kukang di indonesia : di tengah maraknya perdagangan (gelap) satwa

Kukang di indonesia : di tengah maraknya perdagangan (gelap) satwa

Kukang adalah jenis mamalia yang termasuk dalam sub-ordo porismian dari ordo primate. Di dunia terdapat lima jenis kukang, yaitu Kukang sumatera (Nycticebus coucang), Kukang Kalimantan (Nycticebus menagensis), Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), Kukang Bengal (Nycticebus bengalensis), Kukang Pygmi (Nycticebus pygmeus). Semuanya memiliki kesamaan seperti mata yang besar, namun masih dapat dibedakan dari ukurannya, berat, tanda garis pada muka serta susunan warna atau kolorasi dan kemungkinan juga dari perilaku ( U. Streicher dalam komunikasi pribadi). Ancaman kepunahan kukang bukan hanya karena hutan tempat tinggal mereka yang berkurang. Ancaman terbesar datang dari perdagangan satwa (Sheperd 2010). Kukang dijual bebas di pasar-pasar hewan, pinggir jalan raya, bahkan dipusat-pusat pertokoan secara terbuka. Terlihat di sini bahwa kegiatan perdagangan satwa sedikit banyak mendapat andil dari pengetahuan masyarakat yang minim mengenai perlindungan satwa. Ini justru menunjukkan bahwa masyarakat bisa ikut secara langsung membantu upaya perlindungan terhadap kukang. Disbanding dengan penyusutan hutan yang tidak bisa langsung dicegah oleh publik, perdagangan satwa liar sangat mungkin dikurangi jika faktor pentingnya, yaitu...
Read More
Migrasi Burung Air : Alasan dan Faktanya

Migrasi Burung Air : Alasan dan Faktanya

           Menurut Konvensi Ramsar, burung air merupakan jenis burung yang ekologinya bergantung pada lahan basah seperti rawa payau, lahan gambut, perairan tergenang, perairan mengalir, dan wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari 6 meter. Burung ini memiliki ciri-ciri kaki dan paruh panjang yang memudahkannya untuk berjalan dan mencari makan di sekitar air; contohnya bangau, kuntul, trinil, dan cerek.            Burung air dikelompokkan menjadi dua, burung penetap dan burung migran. Perbedaannya, burung penetap berkembang biak di tempat dia mencari makan dan tinggal sedangkan burung migran tidak akan berkembang biak di daerah migrasinya. Burung air migran biasanya terdapat di negara yang memiliki empat musim atau yang perbedaan musimnya mencolok. Biasanya, burung air yang bermigrasi ini berada di belahan bumi utara seperti Rusia, Cina, Siberia, dan Alaska. Saat musim dingin terjadi di daerah asalnya, burung ini akan bermigrasi ke belahan bumi selatan yang lebih hangat. Salah satu tujuannya adalah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.      ...
Read More
Keberadaan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di kampus IPB

Keberadaan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di kampus IPB

Monyet ekor panjang  merupakan salah  satu  jenis primata  yang umum ditemui di Indonesia. persebarannya  mencakup seluruh Asia Tenggara  mulai dari  Myanmar , Thailand, Filipina sampai keseluruh wilayah Indonesia. Luasnya persebaran monyet ekor panjang  didukung  oleh kemampuan  habituasinya. Monyet ekor panjang mempunyai kemampuan habituasi yang bagus dengan habitat barunya, primata  ini akan  mencoba beradaptasi lansung dengan daya dukung habitatnya.Hal inilah yang sangat mepengaruhi  persebarannya, jika monyet ekor panjang di introduksi ke suatu tempat yang  cukup menyediakan  pohon  tempat tinggalnya  saja ,  monyet ekor panjang sudah bisa  mendominasi di daerah  tersebut karena dari segi pakan  monyet ekor panjang  termasuk hewan omnivora  yang dapat memakan apa saja .Skala Indonesia, Institut Pertanian Bogor  temasuk ke dalam  kampus yang mempunyai lahan hijau yang cukup  luas, walaupun   lahan  hijau itu  terpisah-pisah  dalam  kampus IPB.  Terdapat banyak  jenis-jenis pohon besar  yang dapat menopang kebutuhan pakan dan tempat tinggal dari monyet ekor panjang. Ada dua tempat yang dihuni oleh primata  ini, yaitu di Arboretum bambu dan  hutan  belakang...
Read More
Pusat Latihan Satwa Khusus

Pusat Latihan Satwa Khusus

Berbicara masalah kelesarian satwa tidak akan lepas dari yang namanya lembaga  konservasi. Lembaga konservasi memiliki tanggung jawab penting dalam kegiatan konservasi  satwa-satwa yang ada di Indonesia. Ada beberapa alasan yang mendasari diperlukannya lembaga ini. Sifat sebagian manusia yang tidak selaras dengan alam bisa menjadi suatu ancaman terhadap kelestarian satwa. Pembalakan hutan, perburuan liar, pembukaan lahan hutan adalah serangkaian kegiatan manusia yang bisa mengakibatkan  kepunahan satwa-satwa yang ada di dalamnya. Karena hal seperti itulah sehingga  diperlukan suatu lembaga yang bisa mencegah ataupun mengurangi dampak tersebut. Dalam peraturan Menteri Kehutanan No:P.53/menhut-II/2006, dijelaskan bahwa lembaga konservasi adalah lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa liar di luar habitatnya (eksitu). Fungsi dari lembaga ini untuk pengembangbiakan dan penyelamatan tumbuhan dan satwa dengan tetap menjaga kemurniaan jenis guna menjamin kelestarian keberadaan dan pemanfaatannya. Lembaga konservasi yang ada di Indonesia di antaranya kebun binatang, Taman safari, Taman Satwa Khusus, Pusat Latihan satwa khusus, Pusat Penyelamatan satwa,Pusat Rehabilitasi Satwa, Museum Zoologi, Kebun Botani, Taman Tumbuhan Khusus,...
Read More