Konservasi Alam dan Selembar Daun

Konservasi Alam dan Selembar Daun

Memahami konservasi alam bisa dengan menghayati bagaimana ritus selembar daun yang  jatuh. Peluruhan yang wajar itu patut untuk kita  pertimbangkan sebagai proses yang tidak saja alamiah, namun menyiratkan sebuah rancang bangun sistem gagasan yang bisa kita jadikan bingkai bagaimana alam bisa disikapi atau sekurang-kurangkanya kita maknai dalam hati. Daun yang jatuh, tentu saja keniscayaan yang sering kali kita saksikan dalam kehidupan kita. Barangkali kita telah menganggapnya sebagai sesuatu yang banal, realitas yang biasa dan mendekati kedangkalan atau miskin makna. Namun, apabila keniscayaan yang hadir tersebut kita cermati dengan penuh nalar, sebagaimana Socrates menasihatkan pada murit-muritnya untuk senantiasa menelaah segala hal, akan memberi kita satu pemahan yang begitu sublim.   Sebelum daun jatuh, ia telah melalui suatu prosesi fisiologis dan ekologis sekaligus. Ia telah berupaya dengan potensinya dirinya untuk terlibat dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tetumbuhan. Daun memiliki usia, ia terhimpun dalam waktu. Ia tersusun atas sel-sel yang kukuh sekaligus rapuh. Kukuh, karena ia berupaya dengan daya. Rapuh karena ia juga rentan terhadap...
Read More
Penjual Jamu yang Berbagi dengan Pagi

Penjual Jamu yang Berbagi dengan Pagi

Saya dari Wonogiri, ia berucap pada fajar asimetri dan cahaya tersekap,   dan petam tepi hutan tersingkap.   Saya kemari untuk ramuan, ia tuang beberapa racikan di keruh gelas dan bunyi adukan menitahkan bekas   pada ingatan yang tertutup rapat.   Saya pernah…, ujarnya dengan raut sauna saya pernah dengar bajak berkerak suara kareo padi serak, berat, dan sesak. Ia ingat langit-langit Desa berjelaga.   Maka saya di sini, ia seperti ingin mengakhiri, mungkin tak perlu ada sesal untuk sesuap yang tak kekal.   Namun saya… , Ia terhenti.   Matahari melembab diri sesiang yang agak persegi langit keriput berlajur letih bertitah gerimis sembab memutih.   2014...
Read More
Requiem

Requiem

Anggrek hitam di dahan itu menghisap maut. Angin tampak surut, berat, jera tertambat. Waktu berkarat, secoklat korosi asap, lekat pada lumut yang jemu menunggu seraut harap.   Pada marjin kalimat yang berkeringat, penglihatanmu sembab selembab serasah menggumamkan sepotong ayat, patah-patah, megap, seperti prajurit sekarat.   Iklim makin anomali di ujung lidah matahari. Daun-daun mengatupkan do’a pagi hari.   Bisakah kita berpaling dari ajal yang merapat, sesaat sebelum senja   selesai melepaskan nama-nama, sebelum mega di seperempat lengkung cakrawala   tak menggubris lengking nyaring wiwik kelabu di separuh teduh, di mana duka menitis, seperti tetesan air tebu, di cangkir yang jenuh.   Kau hanya ingin belasungkawa pada sebentar ruas usia di padang kandas sekeras savana Ndana.   2014 ...
Read More
Relief

Relief

Di bongkahan batu rompal, terpahat seekor belibis yang menangis. Garit semburat melesakkan maut yang amis.   Seseorang menatap lekap-lekap, memindai tera di udara, merupa hawa, dan langit terhisap.   Di candi yang rumpang itu, gema menggaungkan saat di abad yang kelu di antara abjad yang sekarat.   Kakawin melantun lesu.   Pernah seorang Kawi semadhi menerakan guru lagu, perih yang merdu.   Suralaya, tangga ufuk, palka cakrawala, kodrat yang remuk.   Di batu rompal ada yang sakral ada yang tak terbingkai akal.   2014...
Read More
Sadengan

Sadengan

Sadengan, padang penggembalaan seluas 80 hektar di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP). Sadengan, semacam hamparan dengan rerumputan hijau ketika musim penghujan datang, dan menguning ketika kemarau menghinggapi wilayah tenggara Banyuwangi ini. Sadengan, serupa savana tenang bagi puluhan banteng, rusa, merak hijau, babi hutan, dan satwaliar lain mencari makan. Kita akan menyaksikan teatrikal alam liar ketika fajar bangkit dari Timur, atau senja memberi tanda untuk menutup hari. Pada interval waktu itu, sadengan seperti seseorang yang rebah diguyur cahaya matahari yang menyengat, tapi ada semacam keriangan ketika bentangan itu menghalau fatamorgana. Dalam keleluasaan itu, sepotong kisah seorang tua, yang konon membujang, hadir dengan narasi yang senyap. Orang-orang memanggilnya Mbah Sampun. Seorang  berambut panjang, putih. Ia berpakaian kusam dan lusuh. Ia berwajah bersahaja. Tak seorangpun dapat memberi penjelasan yang pasti mengenai asal-usulnya. Ketika ditanya mengenai persoalan itu, ia hanya berkata,”Saya berasal dari Blitar.” Selebihnya ia akan bercerita tentang keterpautan hidupnya dengan satwaliar yang berkeliaran di Sadengan. Di belantara ini, ia telah hidup 30 tahun. Pengelola kawasan TNAP ...
Read More
Di Legon Pakis

Di Legon Pakis

Di sinilah aroma angin Barat berbaur oleh tiga ekosistem yang penuh ketegangan, belantara perawan bertabur nuansa magis yang kental, sawah yang diolah untuk penghidupan keseharian,  dan teluk dengan irama gelombang yang lamban. Terasa subtil memang, tapi Legon Pakis berada dalam tapal batas Taman Nasional (bagian lembaga negara yang mengelola kawasan pelestarian alam) yang sesekali menampilkan sosok yang menakutkan bagi warga yang berdiam diri di sana. Ada semacam simtom untuk merelokasi mereka yang tinggal di Legon Pakis, konon demi kehidupan badak jawa yang terancam punah, konon pula, karena mereka tinggal di wilayah yang tidak seharusnya. Kita memang tidak tahu pasti tabiat kekuasaan yang beroperasi dengan pelbagai karakter, tapi kita tahu, negara berkewajiban menaungi warganya, sebagaimana dalam sila pancasila. Namun, ketika kita berada di Legon Pakis, perkampungan yang sunyi itu, kita tahu seorang yang tinggal di sana hanya ingin tenang mengolah sawah, mengail ikan di teluk, dan sesekali menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang ingin berwisata di Ujung Kulon. Kita tak tahu pasti,...
Read More
12