Konservasi alam dan Etnisitas

Konservasi alam dan Etnisitas

Konservasi alam, sebagaimana yang kita tahu, suatu ikhtiar untuk menjadikan alam ini senantiasa ada dan berproses sebagaimana semestinya. Tentu saja tiap individu atau kelompok masyarakat bisa memaknai dengan berbagai macam penafsiran. Apalagi kalau dikaitkan dengan nilai etnisitas, seperti yang didefinisikan Platt (2011), sebagai kesadaran dan identitas diri yang dialami bersama dengan orang lain atas dasar keyakinan akan keturunan yang sama dan dapat dihubungkan dengan negara asal, bahasa, agama atau adat istiadat, dan dapat juga dibentuk melalui kontak dengan orang lain serta pengalaman penjajahan dan migrasi. Definisi Platt tentang etnisitas kalau kita integrasikan dengan konservasi alam tentu akan menambah, betapa suatu pemahaman tentang pengertian perihal konsep tertentu kalau berkelindan dengan atribut yang bersifat indentitas akan pelik, namun memiliki kekayaan perspektif yang dapat menghindarkan kita dari reduksi epistemologi yang serampangan. Di samping itu juga memberi pemahaman terhadap kita tentang individu atau masyarakat secara holistik. Dengan demikian, konservasi alam yang berpijak pada nilai etnisitas, setidaknya akan berjerait dengan kesadaran individu akan identitas di mana ia...
Read More
Dari Tubir Tebing

Dari Tubir Tebing

Moderenitas hadir sebagai respon dari pelbagai ketegangan dalam menempatkan posisi subyek atau manusia. Pasca palu godam cartesian diketuk dengan gema yang mampu menggetarkan seluruh sendi-sendi wacana keilmuan, tata baru pemikiran mulai mengemuka di pelbagai epistemologi humaniora, lebih-lebih yang berafiliasi terhadap nilai ke-akuan yang menggelegak. Era itu seakan gegap gempita dengan, semacam, “kemerdekaan” individu untuk mengukuhkan eksistensinya, dan menempatkan alam sebagai oposisi yang melayani. Kemajuan ilmu pengetahuan dan pelbagai perangkat manusia untuk hidup “enak” semakin mencengangkan. Dari pendaratan manusia ke bulan hingga kloning hewan (yang juga bisa diterapkan pada manusia) bisa terealisasi yang sebelumnya nyaris sebagai dongeng semata. Lebih-lebih di era kini, hampir  tiap menit, kita disuguhi iklan bagaimana seluruh kebutuhan hidup kita bisa teratasi dengan mudah. Namun, moderenitas yang melahirkan moderenisme meninggalkan luka terhadap ekologi di bumi ini yang juga sangat mencengangkan. Jutaan hektar hutan di permukaan bumi lenyap tidak kurang dari satu setengah abad. Ribuan spesies musnah. Orang-orang yang hidup di sekitar hutan belantara dan menggunakan nilai etnisitas sebagai perangkat tata...
Read More
12