Membangun Tim Pendidikan yang Uhuy

Pada dasarnya setiap individu harus mengajarkan suatu hal yang baik kepada individu lainnya. Dalam berorganisasi maka angkatan yang sebelumnya wajib untuk mengajarkan menularkan seluruh kemampuan dan kebudayaan organisasi itu. Banyak kejadian dimana proses tersebut menjadi tidak berjalan dengan baik karena cara untuk menyalurkan yang kurang tepat. Sehingga perlu diadakan sebuah pelatihan bagaimana cara mentransfer hal-hal baik tersebut supaya dapat diterima anggota baru dengan baik dan menyenangkan. Usaha yang dilakukan oleh Uni Konservasi Fauna adalah dengan membentuk tim pendidikan. Tim pendidikan inipun dirasa masih kurang cakap untuk melakukan tanggung jawab yang cuku bsar tersebut. Maka langkah yang diambil adalah dengan memberikan pendidikan dahulu pada tim pendidikan agar menjadi pendidik yang ideal. Salah satu kegiatan untuk mewujudkan itu adalah TOT (Training Of Trainer).

Pembekalan oleh Pak Dhe bagaimana sebagai pendidik

TOT merupakan kegiatan yang dilakukan berdasarkan silabus pendidikan yang akan disampaikan ke angkatan baru. Kegiatan ini juga melatih tim pendidikan terbiasa dengan suasana mendidik. Disamping itu juga memberikan gambaran bagaimana cara untuk membuat kegiatan yang cukup menguras otak menjadi kegiatan yang menarik tanpa mengurangi pemahaman akan materi ataupun nilai-nilai yang dibawakan. TOT dilakukan oleh trainer yang cukup kompeten di bidang pendidikan khususnya di UKF, pada kesempatan ini trainernya adalah Pak Dhe, Ka Peni, dan cindeReyna. Mereka merupakan angkatan terdahulu UKF yang cukup berpengalaman untuk masalah akademik ataupun non akademik.

Proses pembekalan yang dilakukan dengan santai serta keseriusan untuk menerima pembekalan dari yang berpengalaman.

Kegiatan TOT hari ini dihadiri oleh Dandung, Osa, Aditya(Codot), Bayu, Habib, Bapak Isal (Ketum cuy) Vira, LIna, Ayu, Sisi, dan Novi. Keseluruhannya merupakan anggota aktif ukf yang berkewajiban untuk mendidik angkatan baru. TOT hari ini dilaksanakan di taman rektorat IPB (KOIN) pemilihan tempat ini tidak asal ya, alasannya adalah areanya luas, cukup teduh serta kita dapat mempraktekkannya secara langsung. Pelaksanaan TOT pada hari sabtu tanggal 4 Maret 2017 dimulainya sih jam 11.00-15.00 padahal janjiannya jam 10.00. ketika kegiatan dilaksanakan alam mendukung dengan langit yang cerah tetapi tidak begitu panas.

Praktikum secara langsung setelah dirasa cukup untuk teorinya

Kegiatan ini dimulai dengan sabutan dari trainer kemudian melakukan aktivitas yang membangkitkan fokus, semangat, dan keceriaan. Metode yang diajarkan pada anggota aktif adalah dengan membangun suasana yang menyenangkan didalam kelompok. Materi lainnya adalah  bagaimana menjadi fasilitator yang baik dan benar. Fasilitator haruslah dapat menjadi model dalam segala aspek yang akan ditularkan ke anggoa baru, mulai dari penampilan, sikap, kemampuan dan pengetahuan. Seorang faasilitator juga harus dapat menularkan suasana yang ingin dibagun dengan menunjukan dirinya sendiri melakukan hal tersebut. Dalam pendidikan UKF peran fasilitator sangat penting karena inilah yang akan menjadi panutan dari anggota baru.

Pemaparan infografis yang berasal daari pengalaman di hari itu

Hasil dari kegiatan TOT yang dirasakan oleh para peserta adalah ilmu pengetahuan yang sempat terlupakan, yang dahulunya sudah diajarkan, serta menariknya ilmu tersebut. Hal lain yang dirasakan adalah memberi gambaran bagaimana model kegiatan yang akan dibawakan selama mendidik angkatan baru. Manfaat lain ynag dirasakan adalah ideide kreatif dari anggota aktif muncul yang dituangkan dalam infografis, dan menulis sebuah reportase.

Acara TOT diharapkan dapat dilaksakan minimal satu kali dalam sebulan agar ketrampilan, pengetahuan, dan sikap anggota aktif UKF semakin JOOOOOSSSSSSSSSSSSS. Apalagi TOT yang akan datang membawakan materi yang menyenangkan serta dapat menjadi refreshing dari penatnya kuliah dan tugas. AYO KITA RAMIAKAN ACARA TOT SELANJUTNYA DEMI ILMU YANG BERMANFAAT UNTUK KITA DAN ORANGLAIN. DEMI UKF YANG SEMAKIN KECE DAN JOSSSSSSSSSSSS.

Penutupan diakhiri dengan foto bersama dimana keceriaan terpancarkan di sing hari yang terik.
Y X G KUY,…………………………………….. YUUUUKKK KKKKUUUYY
#YXGKUY
#TOTUKF
#PENDIDIKAN#UHUY

Seminar Ekspedisi Global UKF 2014

eg

UKF-IPB Proudly Present:

Seminar Ekspedisi Global 2014

Taman Nasional Ujung Kulon: “Pergerakan Mahasiswa dalam Upaya Pelestarian Keanekaragaman Hayati”

4 Desember 2014

Auditorium Toyib Hadiwijaya, Kampus IPB Dramaga Bogor

Pembicara :

Zulham, S.Si. MM (Wakil Direktur Yayasan Konservasi Elang Indonesia)

Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, MT. (Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata – Halmahera)

 

FREE!

*Note:

Snack untuk 200 pendaftar pertama. Registrasi dimulai pukul 08.00-09.00 WIB

Segera daftar ke Fachmi (085695683119) atau Wahab (085790722827) dengan format: Nama Lengkap_(departemen&angkatan bagi IPB)/(nama Lembaga bagi umum)_Univ_no.hp

Penjual Jamu yang Berbagi dengan Pagi

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saya dari Wonogiri,

ia berucap

pada fajar asimetri

dan cahaya tersekap,

 

dan petam tepi hutan tersingkap.

 

Saya kemari untuk ramuan,

ia tuang beberapa racikan

di keruh gelas

dan bunyi adukan menitahkan bekas

 

pada ingatan yang tertutup rapat.

 

Saya pernah…, ujarnya dengan raut sauna

saya pernah dengar bajak berkerak

suara kareo padi serak, berat, dan sesak.

Ia ingat langit-langit Desa berjelaga.

 

Maka saya di sini,

ia seperti ingin mengakhiri,

mungkin tak perlu ada sesal

untuk sesuap yang tak kekal.

 

Namun saya… , Ia terhenti.

 

Matahari melembab diri

sesiang yang agak persegi

langit keriput berlajur letih

bertitah gerimis sembab memutih.

 

2014

Seminar Nasional UKF EXPO 2013

UKM Uni Konservasi Fauna (UKF) IPB merupakan salah satu organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang pelestarian satwa dan lingkungan. Salah satu kegiatan tahunan UKF yaitu UKF EXPO yang telah berjalan selama 10 tahun (2004-2013) dengan berbagai tema menarik terkait isu terhangat disetiap tahunnya. Tahun 2013 ini, kegiatan yang berada di bawah tanggung jawab Departemen Kemasyarakatan, Bidang Sosial-Lingkungan UKF mengangkat tema “Peran Masyarakat Adat dalam Upaya Konservasi Hutan”.

Rangkaian kegiatan UKF EXPO 2013 terdiri atas tiga kegiatan yaitu ziarah budaya pada tanggal 28-29 September 2013 di Kasepuhan Ciptagelar (TNGHS). Kegiatan kedua yaitu Exhibition pada tanggal 7-11 Oktober 2013 di Koridor Fakultas Ekologi Manusia IPB dan kegiatan puncak rangkaian UKF EXPO yaitu Seminar Nasional pada tanggal 12 Oktober 2013 di Auditorium Toyyib Hadiwijaya, Fakultas Pertanian, IPB. Kegiatan ini disponsori oleh Bank BRI dan didukung oleh Kompas serta Centium

Seminar Nasional dimulai pukul 08.50 WIB. Acara pertama dibuka oleh sambutan dari ketua panitia UKF EXPO 2013, Hasna Kamila, dilanjutkan oleh ketua umum UKM UKF, Ma’shum Afnani, serta Pembina UKM UKF, Dr. Ir. Jarwadi Budi Hernowo, M. ScF.. Moderator pada seminar ini adalah Bayu Asih Yulianto. Seminar dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama diisi oleh Dr. Jonny Purba (Kepala Bidang Kearifan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup) yang mengangkat topik mengenai “Upaya Konservasi yang Dilakukan Masyarakat Hukum Adat” dan Wa Ugis Suganda (Ketua Satuan Adat Banten Kidul) yang mengangkat topik “Eksistensi Masyarakat Adat terhadap Lingkungannya”.

Sesi kedua diisi oleh Anis Susanti Aliati, S. Hut, M. Si. (Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung, Ditjen PHKA, Kementerian Kehutanan) menjelaskan mengenai “Peran Kawasan Adat dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi” dan Nia Ramdhaniaty, A. Md. (Direktur Eksekutif Rimbawan Muda Indonesia) yang menjelaskan mengenai “Hidup Harmonis Bersama Masyarakat Adat”.

Pada sesi I, Dr. Jonny menjelaskan mengenai pengertian hutan adat, masyarakat adat, pasal-pasal yang menjelaskan mengenai keduanya, serta isu-isu yang berada di masyarakat hutan adat. Kearifan lokal merupakan bagian dari kebudayaan yang didapat secara turun-temurun dari proses adaptasi panjang dari lingkungannya. Kunci yang menjembatani masyarakat adat dan konservasi adalah modal sosial.

Sementara itu, Wa Ugis sebagai perwakilan dari masyarakat adat memberikan pemahaman baru kepada peserta seminar mengenai masyarakat adat, terutama di daerah Banten Kidul. Beliau menceritakan sejarah adanya masyarakat adat Banten Kidul serta masalah-masalah yang saat ini sedang dihadapi. Berlakunya Putusan MK No. 35 tahun 2013 mengenai berubahnya pengertian hutan adat menjadi “hutan yang berada di wilayah adat” merupakan salah satu capaian yang sudah diinginkan selama ini, walaupun hutan yang diakui menjadi hutan adat hanya beberapa saja. Selain itu, berbagai LSM seperti AMAN dan RMI pun membantu memfasilitasi masyarakat adat untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai komunitas yang sudah terlebih dahulu berada di kawasan hutan sebelum negara ini ada.

Sesi II dimulai pukul 10.50 WIB. Di sesi ini dijelaskan mengenai pembagian kawasan konservasi, yakni suaka alam dan pelestarian alam oleh Ibu Anis. Hutan tidak pernah lepas dari keberadaan manusia di sekitarnya, baik masyarakat adat maupun masyarakat umum. PP No. 28 tahun 2011 tentang pengelolaan kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam.  Menurut pasal 49 ayat 3 menyebutkan bahwa pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui pengembangan desa konservasi, pemberian izin untuk memungut hasil hutan bukan kayu di zona atau blok pemanfaatan, izin pemanfaatan tradisional serta izin pengusahaan jasa wisata alam dan menfasilitasi kemitraan pemegang izin pemanfaatan hutan dengan masyarakat.

Materi berikutnya disampaikan oleh Ibu Nia dengan menekankan pada langkah pengelolaan konservasi bagi masyarakat adat. Hutan adalah satu kesatuan ekosistem yang dikelola oleh masyarakat adat. Di dalamnya, ada pemukiman, kebun, ladang, huma dan hutan. Hutan adat masih diakui sebagai hutan negara namun, pasca keputusan MK, hutan adat masuk ke dalam hutan hak bukan hutan negara. Tetapi, ada beberapa syarat untuk memenuhi hal tersebut.

Syarat yang diwajibkan agar masyarakat adat diakui secara legal antara lain masyarakat masih dalam bentuk paguyuban, kelembagaan, memiliki wilayah, masih melakukan pemungutan hasil hutan, memiliki bentuk pranata dan perangkat hukum. Peran lembaga akademisi sangat penting untuk melakukan pengecekan terhadap syarat-syarat ini.

Sehingga dapat disimpulkan dari penjelasan Ibu Nia bahwa isu tata ruang menjadi satu area dimana persoalan kehutanan masyarakat adat dan sebagainya bisa masuk, sehingga mendorong lembaga-lembaga pendidikan untuk bisa terlibat secara jauh dalam mendorong eksistensi legal masyarakat adat itu, terutama penelitian-penelitian ilmiah yang otoritasnya berada di mereka.

Seminar kemudian dilanjutkan dengan Sesi diskusi selama 90 menit yang dibagi menjadi dua sesi dimana satu sesi terdiri dari 5 penanya. Respon peserta terhadap topik Seminar yang diangkat memunculkan banyak pertanyaan diantaranya 2 pertanyaan terbaik menurut pembicara yaitu seputar keberlanjutan sistem adat, terkait keputusan MK No. 35 tahun 2013 serta pengawasannya dan pertanyaan seputar konsep konservasi yang dijalankan oleh tiga Kementerian yaitu Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Perikanan dan Kelautan. Keterbatasan waktu menyebabkan banyak pertanyaan peserta yang belum sempat diajukan dalam sesi ini.

Dari diskusi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa persoalan masyarakat adat dan konservasi meski demikian menyangkut esensi mendasar dari konstruksi integrasi nasional masa depan, hubungan negara dan masyarakat. Hutan pernah menjadi satu arena pemaknaan yang didominasi oleh negara. Saat ini, konstitusi yang lebih terbuka, hutan menjadi arena pemaknaan yang multiinterpretasi, negara, masyarakat adat, NGO, mungkin juga swasta terlibat di dalamnya.

Saat ini, masyarakat adat sedang menapaki satu strategi baru, terlibat dalam proses kekuasaan. Masyarakat adat memiliki dimensi-dimensi paradoksnya, tidak dapat dipukul rata. Jadi, dibutuhkan nilai-nilai universal untuk mengatasi ini. Kepentingan dan setiap perumusan kebijakan tidak bisa dinafikkan, disinilah pentingnya keterlibatan kelompok masyarakat. Seminar pun ditutup pada pukul 12.50 WIB dengan pemberikan bingkisan kepada pembicara dan moderator Seminar Nasional UKF 2013.

Kupu-kupu, Ngengat dan Skiper

PapilionidaeSaya sering mendapatkan pertanyaan mengenai apa sebenarnya kupu-kupu, ngengat dan skiper itu. Banyak yang menjelaskan dengan pengertian bahwa kupu-kupu itu adanya siang hari, ngengat itu malam hari, dan skiper itu yang seperti pesawat ulang-alik. Atau kupu-kupu itu yang berwarna-warni dan ngengat lebih kusam.

Tidak-apa-apa memang, sebagian besar ngengat memang nokturnal meski ada juga yang siang hari mereka terbang. Namun untuk perbedaan warna akan lebih menyesatkan karena tidak sedikit kupu-kupu yang berwarna kusam dan ngengat yang berwarna cerah dan indah.

Dalam artikel ini akan saya coba jelaskan apa yang sering kita sebut kupu, ngengat dan skiper. Ketiga hewan tersebut adalah serangga yang masuk kedalam ordo Lepidoptera atau dalam inggris Butterfly dalam bahasa Indonesia kupu-kupu. Nah, disini mulai rancu ketika kita mengalih bahasakan Lepidoptera menjadi kupu-kupu. Karena ngngat dan skiper termasuk kupu-kupu.lycaenidae
Oke kita sebut saja Lepidoptera. Ordo ini, Lepidoptera, memiliki ciri khas pada sayapnya yang seperti terbuat dari kumplan sisik-sisik halus. Sehingga ketika kita pegang sayapnya akan ada sesuatu yang menempel di tangan seperti sisik-sisik kecil. Baik kupu, ngengat dan skiper memiliki struktur sayap yang sama. Lalu apa yang membedakan kupu, ngengat dan skiper sebenarnya?
Dalam taksonomi kupu, ngengat dan skiper adalah Lepidotera yang berbeda pada tingkat Family. Namun bukan berarti Lepidoptera hanya memiliki 3 Family yaitu kupu, ngengat dan skiper. Family Lepidoptera sangat banyak (kebetulan belum tahu berapa jumlahnya, yang jelas lebih dari 10).
Kita mulai pada kupu-kupu dulu. Apa yang sering kita sebut dengan kupu-kupu tersebut sebenarnya adalah 5 family dari Lepidoptera. Antara lain adalah Papilionidae, Nymphalidae, Pieridae, Lycaenidae dan Riodininae.Kelima family ini digolongkan pada satu superfamily Papilionoidea (bedakan, papilionidae dan papilionoidea). Ciri-ciri utama mereka adalah memiliki antena menggada seperti korek api.
Yang kedua adalah skiper. Tidak seperti kupu-kupu, skiper hanya memiliki satu family saja yaitu Hesperidae. Ciri-cirinya adalah antenanya yang berbentuk seperti pengait atau pancing pada ujungnya. Biasa terbng pada pagi atau sore hari. Ukurannya kecil dan jika hinggap bentuk sayap seperti pesawat.

nictimera
Yang terahir adalah ngengat. Nah ngengat memiliki banyak family, dengan berbagai macam ciri-ciri. Aantenanya pun bermacam-macam. Jadi, gampangnya semua lepidoptera yang antenanya bukan seperti kupu-kupu ataupun skiper adalah ngengat.
Jadi kesimpulannya apa? Bagaimana kita membedakan kupu, ngengat atau skiper? Lihatlah antenanya. Apakah seperti korek api, ataukah seperti pancing, atau bukan keduanya (ada yang seperti sisir, ada yang hanya lurus saja dan macam-macam)?

UKF EXPO 2012

Kegiatan UKF EXPO 2012  ini terdiri dari tiga rangkaian kegiatan yang dilakukan secara bertahap. Ketiga kegiatan tersebut yaitu Konfrensi Nasional, Exhibition, dan Fauna Tour.

 

National Conference on Coral Reef

Conference merupakan awal acara dari rangkaian kegiatan UKF EXPO 2012 dengan tema “Potensi Ancaman Kelestarian Terumbu Karang di Perairan Indonesia”. Pada conference ini akan diberikan subtema yang dipilih oleh peserta yang kemudian akan menjadi bahan diskusi kelompok .Kemudian masing-masing kelompok akan diberikan waktu untuk memaparkan hasil diskusi kelompok terkait dengan subtema yang telah dipilih. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 15 September 2012 di Auditorium Toyib Hadiwijaya.

 

Exhibition

Exhibition UKF EXPO 2012 merupakan pameran yang diikuti oleh seluruh divisi konservasi yang ada di UKF, perwakilan Taman Nasional yang ada di Indonesia serta LSM yang bergerak di bidang pelestarian fauna. Pada Exhibition tahun ini akan diadakan diskusi mengenai isu-isu lingkungan terkini yang dilaksanakan di tempat exhibition tersebut setiap harinya. Setiap peserta exhibition menunjukkan profil, program kerja, hasil kegiatan yang telah dilaksanakan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan UKM-UKF IPB kepada mahasiswa Institut Pertanian Bogor, pelajar serta masyarakat umum, serta mensosialisasikan dan memberikan informasi tentang upaya-upaya pelestarian fauna di Indonesia.  Exhibition  dilaksanakan tanggal 3-7 September 2012 bertempat di Koridor Pinus IPB Darmaga.

 

Fauna Tour

Fauna Tour merupakan rangkaian terakhir UKF EXPO 2012. Peserta diajak untuk pengamatan kondisi terumbu karang di lokasi yang berpotensi sebagai tempat pelestarian terumbu karang. Kegiatan ini juga melibatkan masyarakat sekitar pesisir pantai Kepulauan Seribu. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 29-30 September 2012 bertempat di Kepulauan Seribu. Tujuan dari kegiatan ini agar peserta memahami pentingnya keberadaan terumbu karang untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut.