OLIMPIADE LINGKUNGAN (OL)

Acara Olimpiade Lingkungan ini merupakan upaya pendidikan lingkungan kepada siswa SMA dan/atau sederajat. Program tahunan ini dikemas dalam serangkaian lomba yang terdiri dari Lomba Cepat Tepat Konservasi (LCTK), creative concept and product, dan film dokumenter.

dan Lomba Desain Poster (LDP). LCTK, Final CCP, Final LDP Final film dokumenter  dilaksanakan dalam waktu yang sama dan merupakan  puncak acara dari Olimpiade Lingkungan yang akan dilaksanakan di kampus IPB darmaga.

Lomba Cepat Tepat Konservasi

               Tema LCTK adalah “Conservation for All”. Materi yang diangkat pada LCTK ini, terklasifikasi menjadi komponen lingkungan, fungsi lingkungan, manfaat lingkungan, hubungan antara lingkungan dengan manusia, dampak dan penyebab kerusakan lingkungan serta upaya-upaya menjaga lingkungan.

LCTK terdiri dari tiga babak yaitu kualifikasi, semifinal, dan final. Babak kualifikasi berupa tes tertulis yang diikuti oleh seluruh tim yang mendaftar. Sembilan tim yang lolos babak kualifikasi akan maju ke babak semifinal. Babak final hanya diikuti oleh tiga tim yang akan memperebutkan juara I, II, dan III. Babak semifinal dan final berupa lomba cepat tepat. Juri dalam acara ini berasal dari dosen Fakultas Kehutanan IPB dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Moderator untuk LCTK berasal dari LSM.

Lomba Creative, Concept And Product (LCCP)

Lomba CCP  terdiri dari dua babak yaitu babak kualifikasi dan final. Babak kualifikasi berupa seleksi kreasi yang dikirimkan lewat pos atau email. Tiga orang yang lolos seleksi akan menempuh babak final berupa presentasi dan tanya jawab dengan panelis tentang esay dari masing-masing pemenang. Final akan dilaksanakan pada hari dan tempat yang sama dengan dilaksanakannya LCTK. Juri dalam lomba ini berasal dari dosen Jurusan Sosiologi Pedesaan UI, dosen Jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB, dan Dosen Fakultas kehutanan IPB.

Lomba Desain Poster

Lomba Desain Poster terdiri dari dua babak yaitu babak kualifikasi dan final. Babak kualifikasi berupa seleksi poster yang dikirimkan melalui pos dan email. Tiga orang yang lolos seleksi akan menempuh babak final. Babak final dilaksanakan pada hari yang sama dengan pelaksanaan LCTK. Pada final tersebut, tema yang diberikan berbeda dengan tema sebelumnya namun belum diketahui oleh finalis dan pembuatan desainnya akan dilaksananakan pada hari itu juga. Juri dalam lomba ini berasal dari dosen Jurusan Arsitektur Landscape IPB, dosen Jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB, dan salah satu penggiat senirupa dari komunitas Salihara.

Lomba Pembuatan Film Dokumenter

Lomba Desain Poster terdiri dari dua babak yaitu babak kualifikasi dan final. Babak kualifikasi berupa seleksi poster yang dikirimkan melalui pos dan email. Tiga orang yang lolos seleksi akan menempuh babak final. Babak final dilaksanakan pada hari yang sama dengan pelaksanaan LCTK. Pada final tersebut, tema yang diberikan berbeda dengan tema sebelumnya namun belum diketahui oleh finalis dan pembuatan desainnya akan dilaksananakan pada hari itu juga.

UKF Join with Children (UJWC)

UKF Join With Children (UJWC) merupakan bentuk pengabdian UKF kepada masyarakat dengan membina, mendampingi dan mengikutsertakan masyarakat dalam usaha-usaha pelestarian fauna. Sasaran program jangka panjang ini adalah siswa Sekolah Dasar (SD) kelas IV dam V dari lingkar Kampus IPB Darmaga hingga SD pelosok di sekitar Kawasan Konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS)

Kegiatan UKF Join with Children dibagi atas:

Pendidikan Konservasi di Sekolah Dasar

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, Mei 2012 hingga Juni 2012. Tim Uni Konservasi Fauna IPB UKF IPB mengunjungi Sekolah Dasar yang telah ditentukan.  Proses pendidikan konservasi dilaksanakan di dalam ruang kelas seperti kegiatan belajar mengajar. Tim memberikan materi tentang kebersihan lingkungan sekitar sekolah dan tempat tinggal, pengenalan satwaliar di Indonesia dan upaya konservasi fauna.

Perkenalan Kegiatan

Adapun materi yang disampaikan meliputi lingkup kerja dan kegiatan UKF seputar dunia konservasi fauna.

Penyuluhan Materi

Materi yang disampaikan terdiri dari materi Kebersihan Lingkungan serta materi Pengenalan Satwa dan Habitatnya.

EKSPLORASI KOLABORATIF TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN (TNBBS)

Eksplorasi Kolaboratif Taman Nasional Bukit barisan Selatan (TNBBS)  merupakan kegiatan Eksplorasi Kolaboratif yang ke 5  sejak UKF berdiri pada tahun 2004. Kegiatan ini direncanakan akan diselenggarakan selama sepuluh hari yaitu tanggal 9 hingga 19 Juli 2012 di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Kegiatan ini dilaksanakan oleh anggota Uni Konservasi Fauna yang terbagi dalam Divisi Konservasi (DK) Burung, DK Karnivora, DK Herbivora, DK Primata, DK Insekta, DK Eksitu, DK Reptil-Amfibi, DK Fauna Perairan.

Direncanakan tim akan berangkat dari kampus IPB Dramaga pada tanggal 8 Juli 2012. Tim memulai kegiatan pengambilan data baik langsung maupun tidak langsung pada hari ke tiga yaitu pada tanggal 11 Juli. Pengambilan data serta gambar hasil perjumpaan langsung tersebut dilakukan selama 4 hari hingga tanggal 15 Oktober. Pada.  Pada dua hari terakhir kegiatan, dilakukan proses penyesuaian  dan keterkaitan antara potensi satwa disetiap jalur dengan karakteristik habitat tiap jalur tersebut. Data yang diperoleh selanjutnya diintegrasikan dalam bentuk analisis sesuai kajian satwa. Hasil analisis tertuang dalam bentuk informasi yang komunikatif pada setiap jalur.

Sua Raptor

berikut rincian acara dan hal-hal yang harus di siapkan peserta Sua Raptor

Rundown SUA RAPTOR UKF EXPO 2011

sabtu /26 november
waktu kegiatan lokasi keterangan
09.00 kumpul panitia pelataran GWW pengecekan perlengkapan, logistik, transport, administrasi,dll
09.30 briefing panitia pelataran GWW penjelaskan acara dan pembagian tugas oleh korlap
10.00-10.30 kumpul peserta pelataran GWW kedatangan peserta
10.30-11.00 briefing peserta pelataran GWW pengecekan dan penjelasan teknis acara untuk peserta
11.00-16.00 perjalanan truk perjalan menuju homestay di citalahab
16.00-17.00 ishoma homestay peserta istirahat untuk sholat dan makan
17.00-18.00 Acara pembukaan homestay Acara sambutan dari Taman Nasional dan tokoh masyarakat
18.00-19.30 ishoma homestay peserta istirahat untuk sholat dan makan
19.30-21.00 pembekalan homestay pembekalan peserta mengenai  raptor dan dasar-dasar pengamatan
21.00-21.30 briefing panitia homestay persiapan besok
21.30….. istirahat homestay tidur
minggu/27 november
05.00-06.00 bangun tidur homestay sholat, olah raga
06.00-07.00 mandi  dan sarapan homestay
07.00-08.30 acara bebas looptrail pengamatan di looptrail
08.30-09.00 briefing homestay briefing peserta dan persiapan pengmatan
09.00-11.00 pengamatan kebun teh kegiatan pengamatan raptor
11.00-12.00 sharing cikaniki penjelasan esensi semua kegiatan yang telah dilakukan
12.00-12.30 istirahat sholat cikaniki sholat
12.30-13.00 perjalanan ke homestay cikaniki Lewat looptrail
13.00-13.30 persiapan pulang  homestay makan-beres2 perlengkapan
13.30-14.00 mobilisasi ke truk briefing peserta
14.00-19.00 pulang  Truk perjalanan ke ipb

 

[box type=”bio”]SOP PESERTA

  • Wajib
  1. 1.       Sepatu/boot
  2. 2.       Raincoat
  3. 3.       Sleeping bag
  4. 4.       Senter
  5. 5.       Tempat minum
  6. 6.       Topi
  7. 7.       Alat tulis
  • Opsinal
  1. 1.       Payung
  2. 2.       Kacamata hitam
  3. 3.       Baju lengan panjang

 [/box]

AKSES

  • Teminal baranang siang → naik angkot 03 naik angkot kampus dalam GWW
  • Stasiun bogor naik angkot 03 naik angkot kamps dalam GWW

 

bagi peserta yang ingin datang sehari sebelum bisa menginap dishelter ukf

bagi peserta yang datang pagi hari H bisa  mengikuti arahan pada peta lokasi

kumpul  peserta  26 november 2011  jam 09.30  di GWW dan ada pengcekan SOP

[box]

CP : Mamet (085274111993)

[/box]

 

 

Bufferzone di Pesisir Pantai

Siapa sangka indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Memang bukan hal yang tidak mungkin fakta tersebut disandang Indonesia. Jumlah pulau besar dan kecil yang mencapai 17,480 telah membentangkan garis pantai sepanjang 95.181 km atau setara dengan dua kali keliling bumi. Tentunya bentangan pesona pantai tidak hanya menyediakan pemandangan eksotik. Terdapat kekayaan alam yang tak terhitung harganya bila dirupiahkan. Pesisir pantai mengandung produktivitas hayati tinggi dengan keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia. Batas dua ekosistem tersebut menjadi pusat kegiatan rekreasi, transportasi, industri, permukiman, pelabuhan, bisnis, jasa lingkungan yang mendukung pembangunan. Hal tersebut dapat dilihat dari kontribusi ekonomi, sektor kelautan dan perikanan  pada GDP yakni sebesar 24,5% dari total GDP nasional

Di balik kekayaan kawasan pesisir, ternyata anugerah tersebut tidak luput  dari potensi kerusakan baik yang berasal secara alamiah maupun akibat ulah manusia. Dari 440 kabupaten atau kota yang berada di pesisir,  atau sekitar 88% dari jumlah kota dan kabupaten yang terdapat di indonesia , seluruhnya berpotensi terkena tsunami, abrasi, dan intrusi air laut. Ancaman tidak hanya berasal dari laut. Tiap harinya berton-ton sampah yang terhanyutkan bersama air sungai yang telah tercemar tidak hanya menciutkan niat untuk ke sungai apalagi memanfaatkan airnya untuk kebutuhan sehari-hari. Akhirnya muara sungai menjadi akumulasi residu dan tertoksifikasi  tidak henti-hentinya.

Terlepas dari potensi kekayaan dan ancaman di pesisir pantai, pertemuan daratan dan laut menyediakan habitat baru yang unik. Pesisir pantai menyediakan bentangan alam yang cocok untuk ditumbuhi vegetasi dari mangrove dengan luas mencapai 7.7 juta Ha (Dephut 2006). Mangrove memiliki karakteristik yang bebeda dari vegetasi darat lainnya. Tingkat toleransi terhadap salinitas yang tinggi memungkinkan vegetasi ini dapat bertahan pada habitat pasang surut dengan kadar garam yang tinggi. Drainase yang buruk tidak membatasi vegetasi ini dalam memperoleh udara. Berbagai adaptasi seperti akar pasak, akar lutut dan akar tunjang menjadi respon dari karaktesitik habitat pasang surut. Buah vivivari dari beberapa jenis memungkinkan anakan dapat bertahan selepas jatuh dari pohon induk.

Layaknya hutan yang menyimpan segudang jenis komponen biotik dan abiotik, mangrove menjadi habitat berbagai jenis satwaliar. Burung merupakan salah satu penghuni mangrove dengan jumlah tertinggi. Di hutan mangrove yang masih asri, dapat dijumpai burung pemangsa dan tentunya burung air. Selain itu dapat juga dijumpai mamalia kecil, primata, herpetofauna, custaceae, ikan dan bentos. Mangrove menyediakan sumber pakan yang cukup melimpah  sehingga tidak heran crustacea pun melimpah. Di beberapa tempat potensi cruatacea di mangrove telah dikelola menjadi tambak. Apabila ditinjau lebih jauh, mangrove dapat menanggulagi permasalahan lingkungan. Sedimentasi di muara sungai dapat dimanfaatkan mangrove. Ancaman bencana dari laut seperti abrasi, intrusi air laut, atau bahkan tsunami dapat dengan adanya mangrove. Beberapa sumber menyebutkan  mangrove dapat pula mengurangi dan mengurai polusi air.

Kerusakan mangrove semakin hari semakin meningkat. Dari  7.7 juta Ha mangrove yang dimilki Indonesia, hanya 2.3 juta ha dalam kondisi baik. Bahkan sumber lain menyebutkan luasnya kurang dari angka tersebut.  Kerusakan mangrove disebabkan oleh beberapa faktor. Konversi mangrove untuk permukiman, pabrik, perkebunan dan sawah menjadi permasalahn utama. Kerusakan mangrove diperparah pula oleh kegiatan   produksi yang tidak  memperhatikan asas kelestarian. Pembalakan liar oleh masyarakat sekitar untuk pemanfaatan kayu bakar walaupun jumlahnya  tidak sebesar konversi  lahan namun secara kontinyu telah mengancam. Kurangnya kesadaran dan pelibatan masyarakat pesisir dalam pelestarian mangrove juga menjadi faktor potensial bagi keterancaman mangrove di masa mendatang.

Bebagai strategi dan langkah telah dan akan dilakukan untuk mengkonversi keberadaan mangrove. Kesadaran akan pentingnya peran mangrove sebagai  buffer zone (penyangga kehidupan) sepertinya tidak perlu dipertanyakan. Kurangnya kepedulian akan kondisi mangrove saat ini tidak hanya akan menurunkan fungsi ekologis pesisir, namun akan berdampak pula terhadap penurunan pendapatan daerah, dan kualitas hidup. Terlebih indonesia hampir tiap tahun dilanda bencana seperti gempa di dasar laut yang dapat menimbulkan korban akibat tsunami. Baik pemerintah, LSM, akademisi, maupun masyarakat berusaha mensinergikan beberapa kegiatan untuk menanggulagi permasalahan mangrove saat ini dan mendatang. Berbagai kegiatan kemitraan telah banyak diusahakan seperti rehabilitasi mangrove yang melibatkan berbagai stake holder. Rencana penanganan mangrove telah menjadi salah satu agenda penting dalam menghadapi permasalahn lingkungan seperti yang tertuang dalam agenda Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove Indonesia. Agenda yang diinisisi dari bebagai lembaga tersebut menegaskan bahwa permasalahan mangrove merupakan permasalahan bersama dan membutuhkan kepedulian bersama. (Wahyu)

*Diangkat dari hasil Seminar Nasional Save Mangrove For Our Earth yang diselenggarakan oleh Tree Grower Community (TGC) Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor pada tanggal 22 Januari 2011.

Ruang Terbuka Hijau

Fenomena pemanasan bumi, degradasi kualitas lingkungan, dan bencana lingkungan menyadarkan kita pentingnya keberlanjutan kota demi kelangsungan kehidupan umat manusia. Kota-kota di Indonesia tengah menuju bunuh diri ekologis dan perkotaan – banjir, rob, krisis air bersih, kemacetan lalu lintas, pencemaran udara, penyakit lingkungan dan punahnya kehati. Kota harus memperbaiki diri, mulai dari hunian hijau, lingkungan hijau, dan kota hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai penyeimbang ekosistem kota – sistem hidrologi, klimatologi, KEHATI, dan sistem ekologi lainnya untuk meningkatkan kualitas LH dan estetika kota, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat kehidupan yang berkualitas.

Menurut penelitian idealnya sebuah kota memiliki luasan ruang terbuka hijau sebesar 30 %. Perhitungan ini didasarkan dari variabel luasan wilayah, kepadatan penduduk, dan besarnya polutan dari sebuah kota yang dapat diserap oleh vegetasi. Kota-kota di negara lain mempunyai rencana untuk terus menambah luasan RTH di kotanya seperti kota New York 25,2% yang direncanakan tercapai pada tahun 2020, Tokyo (32%, 2015), London (39% , 2020), Singapura (56%, 2034), Beijing (43%, 2050), atau Curitiba (30%, 2020).  Sedangkan keseriusan pemerintah dari masing-masing kota di Indonesia untuk mengembangkan ruang terbuka hijau masih kurang. Pembangunan wilayah kota bersifat betonisasi seperti konversi lahan vegetasi menjadi gedung pusat perbelanjaan, industri, dan bisnis properti.  Kebijakan ini diambil karena bersifat menguntungkan secara ekonomi dalam kurun waktu yang cepat, namun bila dipertimbangkan dalam jangka panjang akan merugikan bagi kelangsungan ekologi di sekitarnya. Kota-kota di Indonesia yang berpeluang menambah luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) hingga 30% dari luas wilayah kotanya adalah  Bogor 19,32%, Surakarta 16%, Jakarta 9,8%, Surabaya 9%, Bandung 8,8%,, Medan, 8%, Palembang 5%, Malang 4%, Jambi 4%, Makassar 3%.

Salah satu manfaat adanya ruang terbuka hijau (RTH) adalah adanya pengamanan ekologis (Ecological Security Pattern/ESP) dan pola untuk setiap kota bisa berbeda tergantung permasalahan lingkungan kotanya, meliputi :

  1. Pola pengamanan air dan banjir (flood and stormwater security pattern) berhubungan dengan proses-proses hidrologis : aliran permukaan (run off), daerah resapan air (infiltration), daerah tangkapan air hujan (catchment area). Diperlukan data aliran air permukaan seperti sungai, waduk, situ, daerah genangan air pada waktu hujan untuk menyusun pola RTH pengendalian banjir dan menentukan daerah-daerah yang tidak boleh dibangun (konservasi dan preservasi) agar proses hidrologis tetap dapat berlangsung.
  2. Pola pengamanan udara (air security pattern) berhubungan dengan upaya peningkatan kualitas udara, agar tetap segar, tidak tercemar, dan sehat. Kawasan dengan potensi pencemaran udara tinggi menjadi prioritas dalam penyediaan RTH, seperti jalur hijau jalan dan kawasan industri.
  3. Pola pengamanan bencana geologis (geological disaster security pattern) berhubungan pengendalian daerah-daerah yang rawan longsor, amblasan muka tanah (land/surface subsidence), daerah patahan geologi, dan daerah rawan bencana geologis lainnya.
  4. Pola pengamanan keanekaragaman hayati (biodiversity security pattern) berhubungan dengan konservasi berbagai spesies dan habitat di mana mereka bisa hidup. Kesesuaian lahan untuk habitat berbagai spesies dan penentuan kawasan yang harus di konservasi merupakan fokus utama agar penataan ruang kota tetap memberi peluang keanekaragaman biologis.
  5. Pola pengamanan warisan budaya (cultural heritage security pattern) berhubungan dengan konservasi situs budaya (heritage site) seperti bangunan cagar budaya, kawasan lansekap cagar budaya (landscape heritage), agar tidak habis akibat pembangunan fisik yang akan merubah wajah lansekap.
  6. Pola pengamanan rekreasi (recreational security pattern) berhubungan dengan tempat-tempat yang mempunyai fungsi sosial dan nilai rekreasi bagi warga kota – taman kota, taman lingkungan, taman rekreasi, taman pemakaman, kawasan pemandangan indah dan unik, dan lansekap vernakular – merupakan daerah-daerah yang perlu diamankan dari pembangunan kota.

RTH pada sebuah kota meningkatkan kesadaran manusia untuk dapat hidup bersama mahkluk hidup lain seperti satwa liar. Perilaku dan keberlangsungan hidup satwa liar ini merupakan sebuah ekowisata yang menarik untuk diamati dan menjadi tanggung jawab bersama untuk terus menjaganya. Salah satu satwa liar yang menarik untuk diamati adalah burung yang berada di taman-taman kota. Setelah diadakan inventarisasi ternyata keanekaragaman jenis burung pada wilayah kota ini cukup tinggi. Konversi lahan menjadi beton berpengaruh nyata terhadap penurunan keanekaragaman jenis burung. Dengan pemilihan jenis tanaman yang tepat, RTH dapat dijadikan sebagai habitat satwa liar (burung, serangga), tempat konservasi plasma nutfah, dan keanekaragaman hayati. Keberadaan satwa liar di wilayah perkotaan memberi warna tersendiri bagi kehidupan warga kota dan menjadi indikator tingkat kesehatan lingkungan kota. Kuliah burung (Bird Lecture) sesi pertama membahas mengenai ruang terbuka hijau (RTH) yang disampaikan oleh Ir. Nirwono Joga, MLA yang biasa dipanggil mas Yudi. Dia adalah seorang konsultan arsitektur lanskap perkotaan dan juga Ketua Pusat Studi Ruang Terbuka Hijau Indonesia (PS-RTH Indonesia).

Materi presentasi dapat diunduh dengan klik dibawah ini

Materi Presentasi Ruang Terbuka Hijau