Konservasi BurungKonservasi EksituKonservasi Fauna PerairanKonservasi HerbivoraKonservasi InsectaKonservasi KarnivoraKonservasi PrimataKonservasi Reptil AmphibiReportase

Ekspedisi Global 2017

26 tahun silam, UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai salah satu situs warisan dunia. Penetapan ini tak terlepas dari status Ujung Kulon sebagai perwakilan hutan hujan tropis terbesar di Pulau Jawa. Ujung Kulon sendiri juga merupakan habitat bagi berbagai jenis satwaliar, seluruh wilayahnya terdiri dari tiga tipe ekosistem, mulai dari perairan laut, dataran, juga pesisir pantai.

Upaya pelestarian bagi satwaliar tak bisa berjalan dengan sendirinya. Perlu campur tangan dari berbagai pihak, salah satunya adalah mahasiswa. Dan Uni Konservasi Fauna merupakan wadah bagi kami mahasiswa untuk ikut berkontribusi dan menjadi bagian dari catatan sejarah konservasi di Indonesia. Kami bukan hanya belajar, tetapi kami juga membantu pengelola kawasan TNUK dalam memantau perkembangan satwaliar setiap tahunnya. 

Pada tanggal 25 Juli 2017, kami pun membulatkan tekad untuk membawa misi kami ke Semenanjung Barat Pulau Jawa; Taman Nasional Ujung Kulon. Sebuah misi bernama Ekspedisi Global yang bertujuan untuk melakukan inventarisasi keanekaragaman hayati di Taman Nasional Ujung Kulon selama 21 hari.

Kami menguak kekayaan flora dan fauna di tiga resort di Taman Nasional Ujung Kulon, dimana setiap resortnya memilki karakteristik dan cerita unik tersendiri. Perjalanan kami ke tiga lokasi inipun bukan tanpa perjuangan. Carrier dengan beban yang sungguh berat adalah teman setia kami di setiap langkah demi langkah. Kami membelah hutan, menyeberangi muara, hingga menyusur sepanjang garis pantai Samudera Hindia. Tak kurang dari 40 kilometer wilayah Ujung Kulon pun kami jelajahi.

Ekspedisi Global telah membuat kami belajar banyak hal mengenai alam. Namun pada kenyataannya, yang kami peroleh sebenarnya lebih dari itu, Ekspedisi Global mebuka kedua mata kami untuk lebih memaknai kehidupan. Segala keterbatasan dan jauhnya jangkauan dari kehidupan luar yang kami alami membuat kami belajar untuk lebih menghargai kesederhanaan.

Perjuangan kami pun tak sia-sia, setidaknya kami mencatat bahwa Ujung Kulon dengan ekosistemnya yang terjaga masih menjadi harapan sebagai habitat bagi satwa-satwa liar yang ada di dalamnya. Dari ketiga resort yang kami kunjungi, setidaknya kami berhasil menjumpai 124 individu primata yang berasal dari 5 jenis primata yang ada di Pulau jawa. Ujung Kulon sangatlah kaya akan primata, empat dari lima jenis primata yang kami temui merupakan satwa endemik, antara lain kukang (Nyticebusjavanicus, critically endangered), lutung (Trachypithecus auratus, vulnerable), surili (Presbitys comate, endangered), dan owa jawa (Hylobates moloch, endangered). 

Selain itu kami berhasil menjumpai 162 individu dari 19 spesies mamalia lainnya yang berasal dari empat ordo yaitu artiodactyle, chiroptera, perissodactyle, dan rodentia. Mulai dari banteng, babi hutan, jelarang, kijang muncak, kancil, tikus duri merah, nyap, hingga badak jawa yang merupakan primadona di Taman Nasional Ujung Kulon. Hewan bercula satu ini merupakan mamalia besar yang langka dan persebarannya terbatas di Taman Nasional Ujung Kulon. Jumlahnya pun diperkirakan hanya tersisa 40-50 individu di dunia. Statusnya dari tahun ke tahun juga menuai keprihatinan, hingga terkhir kali IUCN menetapkannya sebagai satwa berstatus sangat terancam (critically endangered).

Kami sungguh beruntung, beberapa kali berhasil menemukan jejak berupa tapak dan kubangan badak di sepanjang jalur pengamatan dan sekitar pantai. Penemuan terhebat kami adalah sebuah kubangan yang baru saja ditinggalkan oleh seekor badak. Saat itu, Pak Sorkhim, pendamping kami sekaligus bagian dari Yayasan Badak Indonesia, berkesempatan untuk melihat sekilas bagian tubuhnya ketika badak tersebut baru saja beranjak dari kubangan. Namun sayangnya, badak tersebut pergi sebelum kami sempat melihatnya. Tak lain dan tak bukan, indra penciuman badak yang sangat sensitif menjadi alasannya.
Tapi penemuan kami tak berhenti sampai disitu. Kesempatan kami untuk melihat langsung badak jawa pun tergantikan oleh perjumpaan yang tak disengaja dengan salah satu satwa predator utama di Taman Nasional Ujung Kulon; macan tutul. Perjumpaan tersebut terjadi di resort Cidaon. Sekitar pukul 9, beberapa teman kami bertemu langsung dengan hewan bernama latin Panthera pardus melas tersebut yang hanya berjarak 300 meter dari tenda. Hingga pada pagi harinya, kami menemukan sisa-sisa jejaknya di pasir pantai. Kemudian pada malam berikutnya kami kembali menemukan sang predator yang sedang tertidur di dahan. Tentu saja, perjumpaan kami dengan mereka menjadi cerita tersendiri, mengingat status mereka yang kini juga diambang kepunahan atau sangat terancam (critically engangered).

Bukan hanya mamalia, beraneka ragam spesies reptil dan amphibi juga menggantungkan hidupnya di Taman Nasional Ujung Kulon. Kami bahkan menemukan salah satu reptil yang ditetapkan oleh IUCN sebagai satwa yang hampir terancam (near threatened) yaitu Cycleymis dentate atau kura-kura bergerigi. Sedangkan untuk amphibi, selama di Ujung Kulon kami menemukan Limnonectes macrodon atau kodok batu yang statusnya juga sudah terancam (vulnerable).

Ujung Kulon bisa disebut sebagai surga fauna di tanah Jawa. Kawasan ini bukan hanya menjadi tempat bernaung bagi satwa-satwanya yang ada di darat, tetapi berbagai jenis insekta pun kami temukan di Ujung Kulon. Kami menemukan 20 spesies capung dan 87 spesies kupu-kupu di ketiga resort; resort Karang Ranjang, Cibunar, dan Cidaon. Salah satu penemuan menarik kami adalah Kupu-Kupu raja Troides helena yang merupakan satwa dilindungi berdasarkan PP No.7 tahun 1999. Kemudian titik puncaknya adalah penemuan insekta endemik Jawa yaitu Idea stolli atau lebih dikenal dengan sebutan kupu-kupu kertas. 

Selain insekta, Ujung Kulon juga memiliki tingkat keanekaragaman burung yang sangat tinggi. Pengamatan rutin kami pada pagi dan sore hari berhasil mengidentifikasi sebanyak 68 spesies burung di ketiga resort. Sembilan diantaranya merupakan satwa endemik Indonesia, termasuk dua spesies burung endemic Pulau Jawa yaitu ciung air jawa (Macronus flavicollis) dan pelatuk besi (Dinopium javanense). Kami juga mendapatkan pengalaman menarik selama di resort Cidaon, dimana kami disuguhkan secara jelas pemandangan empat ekor anakan merak jawa (Pavo muticus) di padang pengembalaan Cidaon. Dan perjalanan kami pun ditutup manis oleh sepasang elang laut perut putih (Haliaeetus luecogaster) yang berakrobat di atas langit Pulau Peucang, Ujung Kulon.

Namun, dibalik keanekaragaman hayatinya yang selalu dipuji, Ujung Kulon ternyata juga memiliki catatan kelam tersendiri. Berdasarakan pengamatan yang kami lakukan terhadap makrozobentos yang ada, kami mendapatkan hasil bahwa pantai Taman Nasional Ujung Kulon sudah tercemar berat. Salah satu indikasinya adalah dominansi satu jenis spesies melebihi spesies lainnya.

Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Dibalik keindahan alamnya yang memukau dan memanjakan mata, selama disana kami disuguhi oleh sampah yang berserakan disepanjang garis pantai. Terlihat jelas dari keberagaman sampah yang ada, bahwa asal muasalnya bukanlah dari pengunjung Taman Nasional itu sendiri, melainkan terbawa dari pemukiman penduduk di seluruh pulau Jawa hingga terbawa ombak dan terus terdampar di tepian pantai kawasan Ujung Kulon.

Kita terus berlomba-lomba dengan waktu untuk memperbaiki keadaan tersebut. Sebagai makhluk yang paling berperan besar di muka bumi, kita bisa mengambil bagian dengan menjaga lingkungan di sekitar kita. Seperti kata pepatah, “Jagalah alam maka alam akan menjagamu”. Uni Konservasi Fauna tak pernah lelah dalam menyuarakan konservasi di Indonesia. “Selamatkan Fauna Indonesia” sebagai slogan kami bukan hanya janji semata. Berbagai jalan pun kami tempuh untuk berkontribusi dalam konservasi di Indonesia, salah satunya adalah pengabdian kepada masyarakat. Seusai perjalanan panjang kami di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, kami juga turut menyebarkan semangat konservasi kepada anak-anak yang tinggal disana, memberikan penyadartahuan kepada mereka untuk mencintai satwa Indonesia.

Ya, Conservation Program for Children (CPC) adalah penutup dari rangakaian misi kami di Taman Nasional Ujung Kulon.

Kami sadar, satwa-satwa yang menjadi perhatian kami selama ini benar-benar akan terancam punah jika tidak segera kita selamatkan. Dan masa depan mereka ada di tangan kita. Kita hanya perlu membuka mata, bahwa tak pernah ada kata terlambat untuk mengambil peran dalam memajukan konservasi Indonesia.

 

Uni Konservasi Fauna, Selamatkan Fauna Indonesia!

Leave a Reply