DivisiFakfak April - Essence of OceanKonservasi BurungKonservasi EksituKonservasi Fauna PerairanKonservasi HerbivoraKonservasi InsectaKonservasi KarnivoraKonservasi PrimataKonservasi Reptil Amphibi

Setu PPLH sebagai Sebuah Ekosistem

Setu PPLH atau mungkin yang lebih kita kenal dengan nama Danau LSI merupakan danau buatan yang pembangunannya diharapkan dapat menyumbangkan nilai estetika di kampus IPB Dramaga. Dalam tulisan ini akan digunakan nama “Setu PPLH” untuk mewakili Danau LSI dengan maksud melestarikan nama tersebut yang mulai terlupakan dan ditinggalkan. 

Kajian fauna perairan yang luas dapat kita mulai dengan mengkaji sesuatu yang dekat dengan kita. Setu PPLH ini contohnya. Selain nilai estetik yang dimilikinya, danau buatan kebanggan IPB ini juga memiliki nilai ekologis. Setu PPLH sudah menjadi habitat bagi bermacam satwa. Mulai dari jenis ikan sampai dengan biota aquatik seperti sero (sejenis berang-berang), kowak malam-kelabu dan biawak telah menjadikan Setu PPLH sebagai habitatnya, bahkan sejak awal pembangunannya. 

 

Mengenal Biodiversitas

Penelitian dan pencatatan oleh anggota UKF yang dilakukan mulai dari tahun 2014-2017 menemukan bahwa Setu PPLH telah menjadi habitat bagi 24 spesies ikan dari sebelas famili. Sebelas spesies diantaranya adalah spesies asing. Selain berbagai jenis ikan, Setu PPLH juga telah menjadi habitat bagi fauna lainnya dari kelas yang berbeda. Salah satu dari kelompok burung yang dapat kita amati di danau ini adalah Kowak Malam-kelabu. Kowak Malam-kelabu memiliki tubuh yang ditutupi bulu berwarna putih, sayap dan kepala berwarna hitam dengan variasi kelabu. Spesies burung yang satu ini memang memilih habitat yang dekat dengan perairan sebagai tempat hidupnya. Hal ini dikarenakan kebutuhan pakan nya yang juga berasal dari perairan. Maka tak heran jika kita dapat mengamati burung ini sedang bertengger di pepohonan di dekat setu. Uniknya lagi,burung ini sebenarnya tidak pernah memiliki sarang di lingkungan kampus IPB. Fakta ini juga diperkuat oleh Divisi Konservasi Burung UKF yang rutin melakukan pengamatan, namun tak pernah menemukan sarang dari jenis burung ini. Lalu di manakah mereka bersarang?

Jika Anda seorang pecinta burung, pasti Anda pernah meilihat dan memeperhatikan bahwa burung in sering terbang bersama di pagi hari meneju Setu PPLH dan kembali pulang di sore harinya. Seperti itulah faktanya, mereka yang sejatinya bersarang di Kebun Raya Bogor, hanya datang ke Setu PPLH untuk mencari makan. Fakta ini sebenarnya dapat diartikan dalam dua sudut pandang yang berbeda. Pertama, keberadaan Kowak Malam-kelabu di Setu PPLH mencerminkan bahwa perairan ini masih cukup “sehat” sehingga Kowak Malam-kelabu masih dapat bergantung padanya. Pandangan yang kedua, kita dapat mengartikan bahwa di lingkungan kita dan Bogor pada umumnya, sudah sulit ditemukan habitat perairan yang sehat sebagai mana yang dibutuhkan oleh Kowak Malam-kelabu. Burung ini rela terbang belasan kilometer hanya untuk mencari habitat yang sesuai untuk keberlangsungan hidupnya.

Dari kelas reptil, kita dapat menjumpai Varanus salvator di habitat ini. Varanus salvator atau yang nama lokalnya biawak, sering dijumpai sedang berenang atau pun berjemur disekitaran setu. Selain biawak, dapat pul dijumpai kura-kura Brazill. Spesies ini bukanlah spesies asli Indonesia. Namun, kura-kura Brazil telah menjadi spesies kura-kura yang paling banyak diperdagangkan. Fakta inilah yang memungkinkan keberadaan spesies ini di
Setu PPLH. 

 

Regulasi untuk Lestari
Bukan hanya satwa liar, tapi juga para manusia, berhasil direbut perhatiannya oleh danau buatan ini. Bukan karena nilai estetikanya, sebagaimana diharapkan dari pembangunannya, tapi karena kandungan di dalamnya. Banyak di antara penghobi memancing datang untuk menyalurkan hobinya ini di Setu PPLH. Setu PPLH memang cukup potensial, asalkan anda  tidak sedang sial. Yap, sero dan biawak akan menjadi musuh anda dalam
memancing peruntungan di setu ini. 

Beberapa tahun lalu, para penyalur hobi ini masih banyak kita temui dengan mudah di sekitaran Setu PPLH.Baik siang maupun malam, selalu ada saja yang meramaikan pingiran Setu PPLH. Namun, tingginya intesitas para
pemancing ini dipandang dapat merisak dan mengganggu keseimbangan ekosistem oleh pihak rektorat. Para pemancing yang dulu dapat terang-terangan di hadapan pihak keamanan, dan bahkan tak jarang satpam pun ikut nimbrung memancing, kini harus kucing-kucingan saat ingin menyalurkan hobi mereka ini. Rektorat memang telah melarang segala bentuk eksploitasi di Setu PPLH ini, termasuk memancing. Peraturan ini disambut baik oleh seluruh penggiat dan pemerhati lingkungan di lingkup IPB.

 

Oleh: Ruly Fadli Syavira | DKI UKF 14

Leave a Reply