DivisiKonservasi BurungKonservasi EksituKonservasi Fauna PerairanKonservasi HerbivoraKonservasi InsectaKonservasi KarnivoraKonservasi PrimataKonservasi Reptil AmphibiPengetahuan Umum

Kajian Ekologis Keanekaragaman Jenis di Area Depan Masjid Al-Hurriyah

Uni Konservasi Fauna (UKF) merupakan salah satu UKM yang bergerak di bidang lingkungan, serta mengambil fokus  pada konservasi satwa liar. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pengamatan untuk inventarisasi satwa di area kampus IPB Dramagon. Kegiatan ini rutin dilakukan serta dikaji setiap tahun. Area yang menjadi daerah pengamatan adalah depan Masjid Al-hurriyah yang merupakan hamparan yang menarik di tengah bangunan megah gedung MIPA, GOR dan Masjid Alhurriyah. Hamparan kecil ini memiliki keunikan yang dimana berbagai satwa dapat hidup dengan nyaman tanpa terganggu aktivitas civitas akademik yang hilir mudik di daerah tersebut. UKF telah melakukan inventarisasi satwa yang dapat dijumpai pada area kecil ini. Data jenis dipaparkan pada tabel 1.

Tabel 1  Data kekayaan jenis satwa di daerah depan Masjid Al-hurriyah

Serangga (kupu & capung) Burung Mamalia Herpetofauna (reptil amfibi)
Kupu- kupu Kutilang (Pycnonotus aurigaster) Bajing kelapa (Callosciurus notatus) Amfibi
Graphium sarpedon Betet (Psittacula alexandri) Monyet ekor panjang (Macaca fasicularis) Polypedates leukomystax
Eurema Hecace Gereja (Passer montanus) Garangan (Herpestes javanicus) Calcorana calkonata
Eurema Blanda Layang-layang batu (Hirundo tahitica) Musang luwak (Paradoxurus hermaphrodites) Reptile
Papilio Memnon Tekukur biasa (Spilopelia chinensis) Tupai pohon (Tupaia sp) Bronvhocela jubata
Ypthima baldus Kepudang kuduk hitam (Oriolus chinensis) Sero (aonyx cinerea) B. cristatella
Ypthima sp. Sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus)   Ahaetula sp.
Leptosia nina Cabak maling (Caprimulgus macrurus)   Cyrtodactylus sp.
Meiletus symethus     C. fumosus
Mycalesis fuscum      
Hypolimnas bolina      
Capung      
Neuthemis ramburii      

 

Berbagai jenis satwa yang berhasil diinvetarisasi dari kelas Mamalia terdapat enam jenis, serangga(kupu-kupu &capung) sebelas jenis, burung delapan jenis, serta satwa herpetofauna lima jenis reptile dan dua jenis amfibi. Hal ini menunjukan memang kekayaan jenis yang hidup dari tegakan yang ada di depan Masjid Al-hurr cukup banyak. Keberadaan satwa sangat dipengaruhi oleh habitat yang menjadi tempat mencaari makan, beristirahat, dan berkembang biak. Tegakan yang terdapat di daerah ini yang banyak ditemui adalah mahoni (Swetenia spp), Beringin (Ficus spp) serta sengon.

Berdasarkan perbandingan pengamatan burung dari UKF tahun 2016 dengan 2017 di area pohon sengon terdapat perbedaan. Kondisi pada  tahun 2016 terdapat pohon sengon yang belum ditebang dan pohon tersebut menjadi habitat bagi burung betet. Jumlah populasi betet yang dijumpai cukup banyak, namun setelah sengon ditebang perjumpaan betet berkurang. Hal ini menunjukan pengaruh yang cukup besar dari satu jenis pohon yang hilang terhadap satwa yang ada.  Keberadaan dan mahoni pada area ini memiliki peran penting untuk mempertahankan keberadaan satwa. Ficus merupakan tumbuhan yang berbuah sepanjang tahun sehingga menyediakan makanan untuk satwa pemakan buah pada area ini (Baskara dan Wicaksono 2013). Mahoni yang dapat berbuah juga menjadi tempat untuk mencari makan satwa serta menjadi tempaat tinggal beberapa satwa.

Area yang kecil ini merupakan koridor satu-satunya yang tersisa penghubung antara area hijau LSI-rektorat dengan hutan di belakang Masjid Al-hurriyah. Satwa yang sering memanfaatkan koridor ini adalah sero atau berang-berang yang mencari makan di area LSI tetapi memiliki tempat tinggal di daerah Masjid Al-hurriyah. Keberadaan koridor sangat penting yaitu sebagai sarana jalan yang digunakan satwa berpindah tempat. Fungsi koridor yang lain adalah sebagai pertukaran genetic.  Ketika koridor ini hilang maka satwa akan kesulitan berpindah tempat atau satwa menghadapi bahaya yang lebih tinggi ketika melewati bukan koridor. Satwa yang membutuhkan tegakan sebagai jalan adalah monyet ekor panjang, bajing, dan tupai. Ketiga mamalia tersebut sangat bergantung pada musim buah pada daerah tertentu. Ketika koridor ini putus, maka pergerakan satwa sangat terbatas di area tertentu dan akibatnya adalah ketiadaan pakan untuk satwa (Peraturan Dirjen KSDAE 2016).

Tumbuhan beringin yang telah tumbuh besar juga memberikan manfaat ekologi yang luas selain pakan satwa. Ficus pada kebudayaan dianggap pohon sakral yang dikeramatkan, serta mendapat julukan pohon kehidupan. Kearifan lokal ini bukan tanpa alasan karena ficus mampu menyimpan air pada jumlah banyak ketika musim penghujan serta dapat mengeluarkan pada musim kemarau. Hal ini dapat dijumpai pada daerah yang dikeramatkan masyarakat Jawa dimana adanya sendang (Baskara dan Wicaksono 2013).  

Kupu salah satu satwa yang cukup sensitive terhadap perubahan habitat. Beberapa kupu-kupu hanya bertelur pada beberapa tumbuhan tertentu. Salah satunya adalah Papilio memnon dimana dia meletakan telur untuk tumbuh hanya pada jenis  Citrus sp (Asih 2017). Kekayaan jenis dar kupu-kupu sangat ditentukan oleh keberadaan pohon atau tumbuhan inang ulatnya. Semakin tinggi kekayaan kupu-kupu di suatu daerah maka dapat diduga bahwa di daerah tersebut cukup beragam tumbuhannya. Ulat dari kupu-kupu akan memanci kehadiran dari burung-burung pemakan serangga. Sehingga keseimbangan ekosistem yang ada tetap terjadi. Kupu-kupu secara ekologi memiliki peran sebagai salah satu penyerbuk bunga (Rahayuningsih et al. 2012). Capung juga dapat mengindikasikan kondisi lingkungan yang ada. semakin bersih tempat tersebut maka keanekaragaman capung akan semakin tinggi (Ansori 2008). Capung yang ditemukan di area ini ahanya satu jenis yang menunjukan daerah depan Masjid Al-hurriyah tidak tersedia genangan untuk hidup nimfa capung.

Kampus biodiversitas yang dikampanyekan IPB seharusnya bukan hanya sebatas branding IPB, tetapi juga dibuktikan dengan adanya flora dan fauna dalam Kampus IPB secara nyata. Proses pembangunan yang terjadi khususnya pada daerah depan Masjid Al-hurriyah akan mengurangi biodiversitas satwa yang ada. Berpindahnya satwa bukan berarti satwa tersebut hilang, tetapi satwa tersebut tidak dapat ditemui di daerah yang aktivitas civitas tinggi dan hanya akan ditemui di daerah yang kondisi habitatnya masih terjaga namun kini semakin terbatas.

Area kecil ini selain sebagai habitat dari satwa juga dimanfaatkan mahasiswa untuk melatih kemampuannya dalam menerapkan keilmuan yang dimiliki secara mendalam. Area ini dimanfaatkan UKF untuk lahan Diklatsar anggota baru serta untuk pendidikan lingkungan bagi anak-anak mulai dari tingkat SD hingga SMP. Selain itu, area yang masih banyak pepohonan ini merupakan daerah peneduh yang menyejukan sekitarnya.

 

Daftar Pustaka

Baskara M dan Wicaksono KJ. 2013. Tumbuhan ficus : Penjaga keberlanjutan budaya dan ekonomi dan lingkungan. Prosiding Temu ilmiah IPLBI

Asih Z. 2017. Pengaruh tumbuhan inang citrus aurantifolia dan citrus hystrix (rutaceae) terhadap pemilihan pakan, pertumbuhan dan respirasi Papilio memnon linnaeus, 1758. [thesis]. Padang: Universitas Andalas.

Ansori I. 2008. Keanekaragaman nimfa odonata (dragonflies) di beberapa persawahan sekitar Bandung Jawa Barat. Exacta, 6 (2).  41-50.

Rahayuningsih M, Oqtafiana R, Priyono B. 2012. Keanekaragaman jenis kupu-kupu superfamily papilionoide di Dukuh Banyuwindu Desa Limbangan Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Jurnal MIPA. 35(1): 11-20

 

Oleh : Dandung Wasana | DKH UKF 13

Leave a Reply