Konservasi BurungReportase

Pulau Laki, Sebuah Pulau yang Terabaikan

Pulau Laki, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

21-24 Juli 2014

Pulau Laki, sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang masih masuk gugus Kepulauan Seribu. Aku pergi kesana bersama seorang teman dan senior-senior dari Unit Kegiatan Mahasiswa Uni Konservasi fauna yang totalnya berjumlah 7 orang termasuk aku dalam rangka eksplorasi keanekaragaman fauna dikarenakan minimnya data mengenai fauna khususnya fauna perairan dan burung yang berada di pulau tersebut, sekalian juga untuk memperkaya skill dan pengalaman kami para angkatan baru. Meski terkesan ilmiah, buatku perjalanan ini merupakan suatu rekreasi tersendiri.

Secara umum, pulau kecil (sekitar 1,5 hektar) yang tidak berpenghuni ini merupakan pulau yang terselimuti oleh hutan tanaman dataran rendah dan pantai berpasir pada sisi selatan dan hutan bakau (mangrove) pada sisi lainnya. Menurut nelayan setempat pulau tersebut dulunya merupakan tempat wisata yang dikelola oleh seseorang, akan tetapi karena suatu masalah pulau tersebut akhirnya diserahkan ke TNI AL, dibiarkan tidak berpenghuni hingga sekarang ini. Karena dulunya merupakan tempat wisata, di pulau ini masih tersisa puing-puing bangunan. Untuk menuju pulau ini, dapat menggunakan kapal dari pelabuhan Tanjung Kait.

Mungkin perjalanan kami terlihat seperti liburan yang murah meriah bukan? pada kenyataannya kami harus merogoh kocek yang cukup banyak sebesar Rp.250.000 dimana sebagian besar biayanya ditujukan untuk transportasi (Angkot-Angkot-Kereta-Angkot-Angkot-Kapal). Jangan pernah membandingkan dengan paket liburan ke pulau “murah” dengan hotel berbintang senilai Rp. 1.500.000 karena buat kami para mahasiswa yang agak sering duitnya seret 250 ribu itu termasuk mahal.

Harga sebanding dengan kenikmatan, begitulah yang kami alami di eksplorasi pulau Laki ini. Harus menginap di tenda, memasak sendiri dengan menggunakan tungku api, dan segala aktifitas pemenuhan kegiatan di lapangan merupakan hal yang biasa bagi kami. Akan tetapi namanya juga kegiatan di alam bebas, tidak terlepas juga dari beberapa masalah. Persediaan air minum yang terbatas merupakan masalah yang menurutku paling gawat. Tidak adanya sumber air bersih layak minum di pulau membuat kami harus membawa air sendiri, sedangkan sumber air yang ada di pulau hanya layak untuk mencuci meskipun airnya tawar. Celakanya, pada saat perjalanan, hanya beberapa orang di antara kami yang membawa air mineral botol sehingga kami harus benar-benar berhemat dalam penggunaannya. Untungnya pihak TNI-AL memberi kita satu galon air mineral, meskipun tetap saja kami kekurangan. Masalah lainnya adalah nyamuk yang begitu merajalela. Bayangkan saja dalam sekejap berada di sana, lebih dari sepuluh nyamuk sekaligus menghisapi darah kita, dan itu benar-benar sangat mengganggu dan membuat tidak konsentrasi. Begitu banyak dan ganas nyamuk disana membuat kulit yang tadinya bersih menjadi berbekas bintik-bintik seperti cacar air.

 

Hutan penuh nyamuk yang kami jelajahi

Meski disana selama 4 hari, pengamatan sesungguhnya hanyalah 2 hari dikarenakan hari pertama  untuk perjalanan berangkat dan survey, sedangkan hari terakhir untuk perjalanan pulang. Pengamatan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu fauna perairan dan burung, aku sendiri mengikuti pengamatan burung. Pengamatan fauna perairan dilakukan di sepanjang pesisir pantai barat pulau yang cukup dangkal kaya akan tanaman bakau. Pengamatan burung dilakukan dengan dua jalur yaitu jalur mengelilingi pantai di pagi hari dan jalur melintasi hutan di sore hari. Meski menggunakan dua jalur, kami berfokus pada pencarian burung pantai.

 

Melewati pesisir pantai sebelah barat

Selama pengamatan kami menemukan banyak jenis burung, sebagian besar sudah pernah kami jumpai seperti remetuk laut (Gerygone sulphurea), merbah cerucuk (Pycnonotus goiavier), Cekakak sungai (Todiramphus chloris), burung madu sriganti (Nectarinia jugularis), Perkutut (Geopelia striata), ada juga beberapa jenis yang sebelumnya belum pernah kulihat seperti pergam laut (Ducula bicolor), gagak hutan (Corvus enca),  kuntul karang (Egretta sacra), dan burung lainnya yang totalnya mencapai 27 jenis. Dari semua burung yang kutemui kowak malam kelabu lah yang nampaknya paling mendominasi. Begitu banyak kowak yang bertengger dan beterbangan dan rasanya seperti danau LSI (danau di dekat perpustakaan IPB) dipindahkan ke pulau laki. Begitu banyak burung yang kami jumpai, tetapi sayang kami tidak bisa menemukan burung pantai.

 

Kowak malam kelabu, burung paling umum yang kami jumpai

Terlepas dari pengamatan sepanjang pengamatan pagi aku terkesima dengan padang anemon laut berwarna warni yang kulewati. Begitu banyak anemon laut terhampar luas di beberapa titik pesisir pulau. Selain anemon terdapat juga teripang, bintang laut, ubur-ubur, dan umang-umang yang banyak tersebar di sepanjang pesisir pantai barat. Selain hewan-hewan tersebut ternyata kami juga menemukan gurita pada pantai berbatu, dan sekelompok monyet ekor panjang di pinggiran hutan. Di dalam hutan, selain burung dan monyet, tidak begitu banyak hewan yang menarik. Selama kami melintasi hutan nyamuk yang bertaburan begitu ganasnya menggigiti kulit kami, selain itu juga bekicot-bekicot yang berlalu lalang (di pulau ini terdapat banyak sekali bekicot) yang selalu mengotori sepatu kami karena sering terinjak-injak. Menjelang malam, ratusan kecoak spesies Periplanetta americana (kecoak rumah) berkeliaran di sekitar reruntuhan bangunan dan pohon beringin. Menurut nelayan setempat, di pulau ini terdapat banyak biawak dan ular, akan tetapi selama empat hari ini kami tidak menemukan satupun.

 

Anemon, salah satu keindahan di pulau Laki

Hemm… sungguh memang pulau Laki diluar dugaan, gak nyangka di pulau yang notabene sekecil itu bisa menyimpan beragam macam kekayan fauna didalamnya. Akan tetapi sayang seribu sayang pulau ini telah tercemari dengan tangan-tangan kotor manusia. Dapat dilihat di sepanjang pesisir pantai sampah yang begitu menumpuk, khususnya di bagian selatan pulau yang berhadapan langsung dengan pulau jawa. Selain sampah, perburuan burung juga menjadi masalah yang kerap kali terjadi di pulau ini. Berdasarkan pengamatan di lapangan, para pemburu yang merupakan nelayan menggunakan jaring kabut untuk menjerat burung. Alangkah kasihannya burung yang tadinya bebas merdeka menjadi terkurung di sangkar. Aku khawatir apabila terus diburu, burung-burung yang ada di pulau ini akan menjadi semakin sedikit, dan lama kelamaan bisa punah.

 

Sampah yang mengotori pinggir pantai

Rasanya empat hari bagiku tidak cukup untuk menjelajahi satu pulau ini, aku masih penasaran apa lagi yang ada di dalamnya. Meninggalkan pulau ini rasanya senang bercampur sedih, senang karena dapat pulang dan bertemu dengan kemewahan dunia, sedih karena berpisah dengan pulau yang menyimpan begitu banyak keragaman. Akhirnya dengan waktu yang sudah habis dan perbekalan yang semakin menipis, tanggal 24 Juli 2014 siang hari, kami kembali ke daratan dengan letih. -FIN

 

Sunset, keindahan lain yang bisa kami nikmati

 

Oleh: Nadhifa Trihapsoro | DKB-UKF 11

Leave a Reply