Penjual Jamu yang Berbagi dengan Pagi

Penjual Jamu yang Berbagi dengan Pagi

Saya dari Wonogiri, ia berucap pada fajar asimetri dan cahaya tersekap,   dan petam tepi hutan tersingkap.   Saya kemari untuk ramuan, ia tuang beberapa racikan di keruh gelas dan bunyi adukan menitahkan bekas   pada ingatan yang tertutup rapat.   Saya pernah…, ujarnya dengan raut sauna saya pernah dengar bajak berkerak suara kareo padi serak, berat, dan sesak. Ia ingat langit-langit Desa berjelaga.   Maka saya di sini, ia seperti ingin mengakhiri, mungkin tak perlu ada sesal untuk sesuap yang tak kekal.   Namun saya… , Ia terhenti.   Matahari melembab diri sesiang yang agak persegi langit keriput berlajur letih bertitah gerimis sembab memutih.   2014...
Read More
Requiem

Requiem

Anggrek hitam di dahan itu menghisap maut. Angin tampak surut, berat, jera tertambat. Waktu berkarat, secoklat korosi asap, lekat pada lumut yang jemu menunggu seraut harap.   Pada marjin kalimat yang berkeringat, penglihatanmu sembab selembab serasah menggumamkan sepotong ayat, patah-patah, megap, seperti prajurit sekarat.   Iklim makin anomali di ujung lidah matahari. Daun-daun mengatupkan do’a pagi hari.   Bisakah kita berpaling dari ajal yang merapat, sesaat sebelum senja   selesai melepaskan nama-nama, sebelum mega di seperempat lengkung cakrawala   tak menggubris lengking nyaring wiwik kelabu di separuh teduh, di mana duka menitis, seperti tetesan air tebu, di cangkir yang jenuh.   Kau hanya ingin belasungkawa pada sebentar ruas usia di padang kandas sekeras savana Ndana.   2014 ...
Read More