Antara Hobi dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati: Trail Motorcross di Belantara Simpang

Penulis oleh Mausulur Rohman (UKF)
Reviewer Achmad Ridha Junaid (Burung Indonesia)

Siapa yang tidak kenal dengan motorcross? Motor jangkung yang bisa digunakan di jalan mulus hingga jalan tanah berundak. Hobi mengendarai motorcross kian hari kian diminati, bahkan bagi para penghobi motorcross dan pemacu adrenalin mereka tidak sungkan-sungkan untuk mengendarai motornya melintasi kawasan hutan berlumpur dan berbukit untuk menaklukkan medannya. Namun apa jadinya jika hutan yang ‘ditaklukkan’ tersebut ternyata merupakan kawasan konservasi?

Dalam waktu yang singkat namun sangat berharga, kami diberikan kesempatan untuk turut serta dalam sebuah kegiatan penjelajahan keanekaragaman hayati di hutan pegunungan Pulau Jawa. Kegiatan yang dilakukan oleh Burung Indonesia, sebuah lembaga konservasi yang berfokus pada perlindungan burung liar dan habitatnya. Penjelajahan ini menarget 20 hutan pegunungan yang terdapat di Jawa bagian barat dan telah berlangsung sejak 2018 lalu hingga saat ini. Salah satu hutan pegunungan yang menjadi targetnya ialah hutan Gunung Simpang, hutan di mana kami juga turut ambil andil dalam menemukan beragam kekayaan flora dan fauna di dalamnya.

Hutan Gunung Simpang merupakan salah satu kawasan konservasi yang berada di Jawa Barat, tepatnya di dua wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung. Sejak 1979, hutan ini ditunjuk sebagai kawasan konservasi dengan status cagar alam (CA) seluas 15.000 Ha. Kondisi hutan yang masih terjaga dan adanya banyak aliran sungai memiliki potensi kekayaan hayati yang melimpah. Keberadaan lutung jawa, surili, owa jawa, macan tutul, trenggiling dan elang jawa memberikan justifikasi pentingnya kawasan ini untuk perlindungan satwa terancam punah dan endemis Pulau Jawa di dalamnya. Meskipun begitu, informasi keanekaragaman hayati yang lengkap masih sangat minim diketahui dari kawasan ini, itulah juga sebabnya mengapa hutan Gunung Simpang  juga ditargetkan untuk dijelajahi potensi keanekaragaman hayatinya.

Gambar 1 Kawasan Cagar Alam Gunung Simpang

 Untuk bisa menemukan beragam spesies satwa yang unik dan langka, membutuhkan upaya yang sangat besar dan beragam metode survei dilakukan. Penjelajahan kami mulai sejak 3 hingga 20 Agustus 2020 yang diawali dengan pengambilan data pada sisi utara hutan, daerah ini kami akses dari Kampung Londok. Kemudian kami bergerak menuju selatan hutan melalui Desa Sukabakti. Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan langsung di jalur yang telah ditentukan. Selain itu, pemasangan kamera trap juga dilakukan untuk membantu merekam spesies mamalia yang elusif ataupun nokturnal. Tidak hanya itu, BAR (Bio-aqustic Audio Recorder) juga di pasang untuk merekan beragam spesies suara satwa yang berada di sekitar lokasi pemasangan selama 24 jam dalam setiap harinya.

Gambar 2 Pemasangan kamera trap dan Bio Aqustic Recorder

 

Kekayaan hayati CA Gunung Simpang

Dari penjelajahan dan upaya survei yang kami lakukan, kami menemukan paling sedikit 115 spesies burung, 14 mamalia dan 19 spesies herpetofauna. Temuan spesies burung ini diperkirakan temuan paling banyak dari kawasan Gunung Simpang sejauh ini. Salah satu burung yang kami temukan adalah Julang Emas (Rhyticeros undulatus) dan Luntur Jawa (Apalharpactes reinwardtii). Kami sangat senang dapat menemukan burung yang indah ini di Gunung Simpang. Burung ini hampir kami temukan di setiap jalur pengamatan.

Gambar 3 Kiri julang emas; Kanan luntur Jawa di Gunung Simpang

Spesies mamalia yang tertangkap kamera trap adalah macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) dan linsang (Prinodon linsang). Selain itu kami juga mencatat keberadaan bajing terbang (Lomys horsfieldii) dan trenggiling jawa (Manis javanica) dari lubang bekas mencari makanannya. Mamalia tersebut merupakan spesies dilindungi dan terancam karena hilangnya habitat.

Selain itu, Gunung Simpang juga merupakan habitat bagi spesies primata, antara lain owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata) dan lutung jawa (Trachypithecus auratus). Primata dilindungi tersebut selalu menjadi catatan kami selama melakukan pengamatan. Masih banyaknya tajuk yang menyambung antara pohon satu dengan pohon lainnya membuat primata ini lebih mudah untuk berpindah tempat.

Gambar 4 Surili dan Owa Jawa

Yang terakhir adalah kelompok herpetofauna. Kami berhasil menemukan kobra palsu (Pseudoxenodon inornatus), katak pohon jawa (Rhacophorus margaritifer), dan katak pohon hijau (Rhacophorus reinwardtii). Kobra palsu merupakan spesies unik yang dapat melebarkan lehernya menyerupai kobra. Ular ini merupakan spesies endemik Jawa namun data terkait spesies ini sangat minim. Keberadaan spesies ini di Gunung Simpang merupakan rekaman baru yang mudah-mudahan dapat bermanfaat di masa depan. Katak pohon jawa dan katak pohon hijau merupakan salah satu spesies amfibi yang keberadaanya terancam karena hilangnya habitat dan perburuan. Spesies ini memiliki bentuk dan warna yang eksotis sehingga banyak diminati.

Gambar 5 Dari kiri, katak pohon hijau; katak pohon jawa; kobra palsu

 

Kondisi Habitat dan Gangguan

Secara umum, lokasi penjelajahan di CA Gunung Simpang meliputi dalam hutan pegunungan dari ketinggian 1000 hingga 1200 mdpl. Sebagian besar area hutan masih ditutupi oleh tajuk pohon yang lebat dan pepohonan yang menjulang tinggi. Menjadikannya habitat yang sangat cocok untuk perlintasan prima endemis Jawa seperti owa jawa. Tajuk bawah cukup rapat di dominasi oleh perdu, rotan dan pepakuan. Suhu yang cukup dingin berkisar16-19 ⁰C menyebabkan batang-batang pohon diselimuti oleh lumut yang cukup tebal. Tidak hanya jalur tapak, beberapa aliran sungai menambah kompleksitas habitat di CA Gunung Simpang. Beberapa aliran sungai juga tidak luput dieksplorasi dikarenakan menjadi habitat utama bagi sebagian besar spesies herpetofauna di CA Gunung Simpang. Salah satu aliran yang dilalui merupakan hulu dari Sungai Cidaun dengan lebar rata-rata 4 m, aliran air jernih dan tidak deras dengan substrat berbatu. Aliran dari sungai ini digunakan secara langsung oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Kondisi yang cukup tidak mengenakkan kami temui di jalur eksplorasi utama, di mana jalur tersebut bukan hanya jalur setapak untuk pejalan kaki, namun jalur yang cukup lebar dan dapat dilewati oleh motor. Tidak hanya itu, pada beberapa bagian jalur juga ditemukan bekas jerat burung. Jerat tersebut berupa jaring  yang dipasang dengan sepasang kayu setinggi 10-15 meter yang diikat pada pohon. Pada jalur utama, terlihat sangat jelas bahwa jalur tersebut sering dilalui oleh kendaraan motor. Jalur ini merupakan jalur yang memanjang dari ujung utara hingga ujung selatan CA Gunung Simpang, menghubungkan Kampung Londok dengan Kampung Cihalimun. Lebar rata-rata jalur yaitu 3 m. Teramati jelas bahwa habitat sekitar jalur utama telah banyak terbuka dan terdapat bekas ban motor. Kami sempat menemukan sekelompok motorcross lewat dan memasuki kawasan cagar alam padahal di pintu masuk sudah terdapat papan himbauan dan larangan.

Gambar 6 Dari kiri, jalur pengamatan, jalur terbuka, dan tiang jaring burung

 

Dampak gangguan terhadap kehati CA Gunung Simpang

Dampak langsung dari kegiatan motorcross di Gunung Simpang antara lain jalur yang semakin terbuka karena vegetasi di pinggir jalur semakin terkikis dan suara bising yang dihasilkan. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, kebisingan berpengaruh negatif terhadap satwa liar. Kebisingan dapat mengakibatkan satwa liar mengalami stress yang dapat memengaruhi penurunan kebugaran dan kesehatan mereka. Selain itu kebisingan juga dapat mengurangi kemampuan pendengaran satwa liar. Di samping itu, pendengaran bersifat penting yang berperan sebagai sistem pengawasan terhadap ancaman yang ada. Apabila kegiatan ini dilakukan terus-menerus akan menjadi ancaman nyata bagi populasi satwa liar Gunung Simpang di masa depan.

Gunung Simpang merupakan kawasan yang menjadi habitat berbagai spesies satwa liar. Selain fungsi kawasan ini sebagai penyangga kehidupan masyarakat, juga memiliki peran penting untuk menjaga kekayaan hayati didalamnya tetap terjaga. Kedua hal tersebut harus berjalan beriringan agar manfaat hutan dapat dirasakan secara langsung. Namun pada akhirnya kitalah yang memutuskan antara hobi yang bersifat kesenangan jangka pendek atau pelestarian hutan yang bersifat jangka panjang untuk generasi selanjutnya, Salam lestari.

Tinggalkan Balasan