Peringati Hari Batik, Uni Konservasi Fauna Melakukan Pengamatan Burung (Birdwatching) dengan Dresscode Batik

Kegiatan mengamati satwa liar khususnya burung (birdwatching), umumnya mengenakan SOP pakaian lapangan gelap karena menyesuaikan dengan kenyamanan satwa maupun diri kita sendiri. Berbeda dengan pengamatan burung pada hari-hari biasa, pada tanggal 2 Oktober 2021 UKF memiliki cara unik untuk memperingati Hari Batik Nasional di tahun ini, yakni melakukan kegiatan pengamatan burung dengan mengenakan pakaian batik di Curug Dengdeng, Bogor.

Upaya memperingati Hari Batik dengan cara unik ini terinspirasi dari ajakan teman-teman pengamat burung di Yogyakarta (Paguyuban Pengamat Burung Yogyakarta) dan Burungnesia untuk memeriahkan peringatan Hari Batik Nasional tahun yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya pada tanggal 2 Oktober 2009. Sebanyak 16 orang berangkat pada pukul 06.00 WIB dari Shelter Anggriawan UKF Kampus Dramaga menuju Curug Dengdeng.

Setidaknya terdapatkan 20 jenis burung yang tercatat dari hasil pengamatan yang dilakukan selama kurang lebih 3 jam. Catatan ini menjadi gambaran bahwa kawasan Curug Dengdeng masih memiliki keanekaragaman jenis burung yang cukup beragam. Momen mengesankan terjadi ketika beberapa di antara kami yang membawa kamera, menunggu cukup lama untuk mengabadikan Elang-ular bido (Spilornis cheela). Ketika elang tersebut terbang, suara tombol jepretan kamera silih berganti. Tak disangka ternyata individu tersebut tidak sendirian, terdapat individu lawan jenis lain dan proses kawin (mating) yang terjadi begitu cepat.

“Dalam 15 menit kedepan jika elang ini tidak terbang, sangat mengecewakan karena kita sudah menunggu cukup lama. Namun pada saat tertentu penantian memang diperlukan. Akhirnya tak hanya mengabadikan Elang-ular bido yang sedang terbang, tetapi juga dapat mengabadikan momen ketika mereka sedang kawin.” Ucap Auzan Sukaton (UKF/DKH-13) sembari menunjukkan hasil jepretannya.

Kegiatan sederhana semacam ini diharapkan dapat menjalin hubungan baik antara UKF dengan organisasi serupa. Berbagi cerita melalui media sosial menjadi harapan lain untuk menyadarkan teman-teman serta lingkungan sekitar agar peduli dan sadar akan kekayaan avifauna dan warisan leluhur yang kita miliki. Sebab apa yang tersisa hari ini, bisa saja hanya menjadi cerita untuk generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan