Perjalanan Penyelidikan Ilmiah di Selatan Kawasan Sunda Besar

Setiap tahun Uni Konservasi Fauna (UKF) melakukan perjalanan ilmiah yang disebut Ekspedisi Global. Ekspedisi Global merupakan tahapan akhir dari rangkaian pendidikan (Evolusi) di UKF. Pandemi Covid-19 mulai menjadi momok menakutkan pada akhir tahun 2019, membuat berbagai kegiatan dibatasi bahkan diurungkan. Itulah yang menjadi faktor terbesar Ekspedisi Global 2020 UKF angkatan 17 terpaksa ditiadakan setelah bertahun-tahun menjadi kegiatan lapang rutin calon anggota baru UKF.

Juli tahun ini, berbagai macam persiapan dan hal penunjang telah disiapkan sejak tiga bulan diputuskan Virdhan Aiman Hadi UKF (UKF 18) sebagai ketua pelaksana Ekspedisi Global tahun 2021. Kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan angkatan 17 melaksanakan Ekspedisi Global tahun 2020 membuat Kak Imam sebagai Ketua Pendidikan tahun ini memutuskan untuk menggabungkan angkatan 17 dan 18 melaksanakan Ekspedisi Global secara bersamaan. Berbeda dengan yang lain, kali ini penuh dengan masalah dan tantangan di dalamnya.

Rencana keberangkatan yang semulanya pada 3 Juli 2021, dievaluasi ke hari lain karena instruksi pemerintah mengenai Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Waktu keberangkatan ditetapkan kembali pada 9 Juli 2021 Namun sayangnya, dua hari sebelum keberangkatan, salah satu peserta terpapar Covid-19, dengan terpaksa keberangkatan kembali diundur dan semua peserta yang melakukan interaksi langsung harus melakukan isolasi mandiri selama dua minggu.

Masalah dan tantangan menjadi bumbu penyedap rasa setiap rencana perjalanan yang akan kami lakukan. Membuat kami mencicipi setiap keputusan dan langkah yang akan kami pilih. Malam itu kami berdiskusi untuk mencari alternatif pilihan untuk manajemen resiko jika masalah muncul tiba-tiba. Virdhan menyampaikan permasalahan, pertanyaan dan beberapa pilihan kepada kami.

“Masalah satu, berdiaspora menjadi masalah-masalah yang baru. Masalah yang ada merupakan tanggung jawab kita untuk coba menyelesaikannya satu persatu, untuk itu gua mohon untuk mengabari orang tua masing-masing dan coba menjelaskan kejadian yang sedang kita hadapi. Sebab restu orang tua masih ada di pundak kita”

Setelah semua melakukan apa yang disampaikan oleh Virdhan, beberapa dari kami masih bertahan untuk terus melanjutkan kegiatan dengan syarat melakukan isolasi dan sisanya ada yang kembali pulang ke rumah masing-masing karena amanat dari orangtua yang tidak memberikan izin.

Selasa, 20 Juli 2021, semua panitia melakukan swab test. Beberapa kali perubahan jadwal keberangkatan membuat euforia semangat teman-teman yang lain memudar, namun hasil swab test menyetujui kami dapat melaksanakan Ekspedisi Global tahun ini.

Resor Karang Ranjang

Mengamati elang laut perut putih soaring – Resor Karang Ranjang

Hal pertama yang kami lakukan setiba menginjakkan kaki di Karang Ranjang adalah meletakkan carrier dan tidur. Karang Ranjang menjadi resor pertama yang kami singgahi untuk mengambil data keanekaragaman jenis satwa. Jarak tempuh dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon Seksi Pengelolaan Tn. Wilayah 1 Panaitan sekitar 6 km, lokasi tepatnya dapat dicari melalui Google Maps dengan mencantumkan koordinat 6°50’29.2″S 105°27’10.8″E. Resor ini memiliki dua tipe ekosistem. Ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dan hutan pantai yang terdapat di sepanjang pesisir pantai.

Tahun ke tahun penggunaan air sangat dibatasi. Tahun ini kami cukup beruntung karena persediaan air mencukupi kebutuhan minum dan dapat digunakan untuk keperluan memasak. Selama 3 hari pengamatan, hujan tak kunjung turun.

Bagi beberapa divisi konservasi, Karang Ranjang menjadi lokasi yang menarik karena temuan satwanya. Camera trap oleh Divisi Konservasi Mamalia (DKM) menangkap momen macan tutul jawa (Panthera pardus melas), babi hutan (Sus scrofa), banteng (Bos javanicus). Divisi Konservasi Insekta (DKI) mencatat beberapa kupu-kupu menarik seperti Ideopsis juventa, Pachliopta aristolochiae, Vestalis luctuosa, Idea stoli stoli, Losaria coon coon, dan Neptis hylas. Serta catatan jumlah jenis burung terbanyak oleh Divisi Konservasi Burung (DKB) berada di Resor Karang Ranjang.

Resor Cibunar

Perjalanan dari Resor Karang Ranjang menuju Resor Cibunar menjadi pengalaman yang mengelaborasi berbagai macam perasaan. Beban yang kami bawa di pundak dan medan jalur membuat frekuensi duduk kami lebih sering. Resor ini memiliki dua tipe ekosistem. Ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dan ekosistem padang rumput. Lokasi tepat Resor Cibunar dapat dilihat melalui titik koordinat 6°48’22.1″S 105°17’38.9″E.

Hal menarik di resor ini, kami menjumpai cukup banyak kelompok peziarah yang akan menuju Sri Sanghyang Sirah. Entah apa yang mereka cari hingga rela menapaki belantara di ujung barat Pulau Jawa tanpa kesiapan dan peralatan yang memadai. Uniknya, meskipun menempuh perjalanan yang jauh dan berbagai macam keterbatasan akses informasi yang ada, tak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap melakukan perjalanan.

Analisis vegetasi di kubangan badak jawa – Resor Cibunar

Lokasi penelitian kedua ini menjadi tempat temuan satwa khas Ujung Kulon, catatan penting bagi Divisi Konservasi Eksitu (DKE) karena mendapati temuan langsung dengan badak jawa (Rhinoceros sondaicus) meskipun di luar metode penelitian. Sedangkan bagi Divisi Konservasi Mamalia (DKM) momen menakjubkan ketika melihat sepasang sero ambrang (Aonyx cinerea) bermain-main di sungai. Juga masa berbuah tumbuhan Ficus sp. saat kami melakukan pengamatan, menjadi waktu yang tepat bagi Divisi Konservasi Burung menemui tiga jenis burung dari keluarga Bucerotidae, yaitu kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris), julang emas (Rhyticeros undulatus), dan rangkong badak (Buceros rhinoceros).

Campsite Cidaon

Bernyanyi bersama menunggu matahari tenggelam di Dermaga Campsite Cidaon

Cidaon menjadi tempat singgah terakhir kami dalam proses pengambilan data satwa. Berbeda dengan dua lokasi singgah sebelumnya yang merupakan resor, Cidaon merupakan sebuah campsite (tempat perkemahan). Campsite Cidaon menawarkan ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem hutan pantai. Selain itu, terdapat juga ekosistem padang rumput yang menjadi tempat kawanan merak hijau (Pavo muticus) dan banteng (Bos javanicus).

Lokasi Campsite Cidaon berada di seberang Pulau Peucang yang menjadi salah satu objek ekowisata Taman Nasional Ujung Kulon. Perjalanan dapat ditempuh melalui kapal berukuran sedang yang sudah tersedia. Di Pulau Peucang inilah kami menyerahkan hasil laporan sementara di Kantor Resort Pulau Peucang di Pulau Peucang.

Ekosistem padang rumput yang ada di Campsite Cidaon sayangnya tidak menjadi bagian dari jalur pengamatan karena panjang rentang jalur yang tidak sesuai dengan metode masing-masing divisi konservasi. Turunnya hujan sewaktu jam pengamatan mempengaruhi aktivitas satwa, sehingga temuan satwa di lokasi pengamatan terakhir ini cenderung lebih sedikit. Sedangkan bagi Divisi Konservasi Fauna Perairan (DKFP) temuan kima (Tridacna) yang hanya ditemui di campsite ini menjadikan tempat ini menarik.

Upacara, Pulau Peucang, Pulang

Upacara pelantikan anggota baru UKF angkatan 17 dan 18 – Campsite Cidaon

Upacara menjadi momentum ritual sakral yang telah dilakukan manusia selama ribuan tahun. Sejauh langkah kaki, ini adalah kali pertama angkatan 18 mengenakan baju lapang UKF. Perasaan bangga bercampur aduk tangis dalam hati atas setiap proses dan masalah yang kami hadapi bersama – terlebih ketika satu persatu dari kami dipanggil secara simbolis untuk mendapatkan nomor anggota UKF. Upacara selesai – berfoto, kami beranjak menuju Pulau Peucang untuk menyerahkan laporan sementara. UKF memberi ruang kami untuk menghela napas, memaknai kata rumah. Pulang.

“Hidup adalah perjalanan panjang dan penuh dengan pertanyaan berulang. Terima kasih atas dedikasi dan komitmen teman- teman, kesabaran kakak pendamping sebagai fasilitator, Pak Sorhim sebagai guide, dan semua yang turut serta membantu kegiatan Ekspedisi Global tahun 2021.”

-Selamatkan Fauna Indonesia-

Poster Seminar Hasil Ekspedisi Global 2021

Tinggalkan Balasan