Tiga Hari Tidur-Bangun di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Observasi, salah satu kegiatan turun ke lapangan dalam masa pendidikan di Uni Konservasi Fauna (UKF). Serangkaian kegiatan pendidikan ini dinamakan Evolusi sebagai tahapan penerimaan Calon Anggota Baru di UKF. Dalam tahap ini, sebagai CAB, saya dan teman-teman melakukan inventarisasi satwa liar di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang dilaksanakan selama tiga hari, yaitu tanggal 1-3 Maret 2024. Kegiatan Observasi tahun ini berlokasi di kawasan Pusat Pendidikan Konservasi Alam (PPKA) Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sukabumi, Jawa Barat. Titik keberangkatan bermula di Sekretariat UKF pada sore hari, tanggal 1 Maret 2024. Setelah berkemas dan berdo’a bersama, sekitar pukul 20.00 WIB, kami berangkat menggunakan dua truk TNI. Perjalanan memakan waktu kurang lebih selama satu setengah jam.

Berhenti dan tiba di Resort Bodogol, sebelum melakukan tracking, kami mengadakan briefing dengan para guide. Beliau mewanti-wanti kami untuk beberapa hal: pertama, berhati-hati karena kawasan PPKA masih merupakan wilayah jelajah macan tutul jawa (Panthera pardus melas); lalu kedua, memperingati soal kasus seorang mahasiswa tidak taat SOP yang dilarikan ke rumah sakit karena digigit ular viper; dan terakhir, kami diminta menikmati seluruh proses kegiatan dan pesona alamnya.

Kegiatan tracking dimulai sekitar pukul 22.00 WIB hingga masuk tanggal 2 Maret 2024 dini hari. Sepanjang jalur, kami melewati perumahan warga, daerah persawahan, dilanjut tanah bebatuan menanjak ketika telah memasuki gerbang PPKA Bodogol. Diperlukan sekitar satu setengah jam sampai akhirnya kami tiba di lokasi campsite.

Pemandangan sunrise dan Gunung Gede Pangrango dari lokasi campsite Bodogol. Foto: Aulia/UKF

Kegiatan pengamatan pertama, yaitu taksa mamalia dan burung dimulai pukul enam pagi oleh kelompok pengamat A dan B. Sisanya, kami anggota kelompok pengamat C dan melanjutkan camp-crafting yang semalam belum selesai pada tenda masing-masing. Sekitar pukul 07.00 WIB, ketika sedang mencari batu, saya dan Zalfa, teman dari tenda sebelah, menemukan seekor lutung yang sedang bertengger di dahan pohon dekat aula pendopo.

Mendekati pukul sembilan pagi, kelompok pengamat C dan D berangkat untuk melakukan pengamatan taksa insekta. Perjalanan dimulai pukul 09.05 WIB. Cuaca saat itu cukup cerah dan hangat. Kami bergerak ke jalur bawah dari campsite, berbekal dua buah jaring serangga dan beberapa lembar kertas kalkir. Kami diberi misi menangkap apapun yang bentuknya seperti kupu-kupu atau capung.

Kupu-kupu adalah hewan berdarah dingin, karena itu mereka gemar terbang berkeliaran di tempat-tempat hangat. Ketika pengamatan, kami mendapati lebih banyak perjumpaan kupu-kupu di lokasi terbuka yang terkena sinar matahari langsung, dibandingkan setapak hutan yang langit-langitnya ditutupi kanopi pepohonan. Namun, pada salah satu titik di dalam hutan, kami menemukan seekor kupu-kupu besar, kira-kira seukuran jengkal tangan yang sangat cantik. Tiap sayap birunya mengepak, helaian tipis itu memantulkan sinar matahari seperti hologram. Padahal teman saya, Megan, sudah berhasil menangkap makhluk cantik itu menggunakan jaringnya, akan tetapi, akibat benda itu sudah banyak berlubang, kupu-kupu tersebut berhasil terlepas.

Sekian meter di belakang campsite, guide kami tiba-tiba menunjuk salah satu pohon puspa besar.

“Para macan suka menggaruk-garukan kuku di pohon-pohon puspa,” kata beliau.

Kami berhenti untuk menyaksikan dan mendengarkan cerita soal sejarah bekas cakaran macan tutul di batang pohon itu. Menurut beliau, dulu ada seekor macan tutul jawa berjenis kelamin betina yang kerap berkeliaran di sekitar sana.

Perjalanan berakhir pada pukul 10.30 WIB. Kami bersatu kembali dengan kelompok D di titik awal untuk melakukan identifikasi hasil tangkapan. Sebetulnya ada lebih banyak jenis kupu-kupu dan capung yang kami jumpai, namun, sayangnya gagal ditangkap. Beberapa yang berhasil diidentifikasi, diantaranya Horsfield’s Bushbrown (Mycalesis horsfieldii), Common Five-Ring (Ypthima baldus), Baby Five-Ring (Ypthima philomela), Common Three-Ring (Ypthima pandocus), Wandering Phsyce (Leptosia nina), dan banyak lainnya.

Salah satu kupu-kupu hasil tangkapan pengamatan insekta. Foto: Mahiza/CAB UKF

Di sela kegiatan identifikasi insekta, sekitar pukul 10.40 WIB, kami dikejutkan dengan perjumpaan seekor owa jawa (Hylobates moloch) yang sedang bergelantungan, melompat-lompat di antara dahan-dahan pepohonan. Teman-teman penggemar primata sontak bangkit, menyongsong ke arah satwa tersebut dengan antusias.

Individu owa jawa (Hylobates moloch). Foto: Dewa/UKF

Pukul 14.00 WIB, kelompok C dan D dijadwalkan untuk melakukan perjalanan berikutnya, pengamatan fauna perairan ke Curug Sukaweni. Perjalanan untuk mencapai lokasi, kami berjalan sejauh 700 meter di jalur yang licin dan cukup curam.

Kelompok C diinstruksikan mengumpulkan sampel satwa perairan di hilir, kelompok D di hulu. Menggunakan jaring-jaring dan kantong plastik di tangan masing-masing, kami bergegas mengumpulkan hewan-hewan kecil yang mengapung di celah-celah bebatuan. Penangkapan ini bertujuan untuk mengetahui Indeks Kualitas Air (IKA) yang menggunakan metode purposive random sampling. Hewan-hewan kecil yang ditangkap akan diidentifikasi dan dihitung poin per individu berdasarkan kriteria poin dari literatur sebagai indikator untuk mengetahui kualitas air di perairan tersebut. Dari hasil identifikasi, kelompok kami mendapati kepik air lainnya, nimfa lalat sehari perenang, larva kumbang penyelam, nimfa lalat sehari pipih, dan nimfa lalat sehari insang bercabang. Berdasarkan hasil penjumlahan poin, dapat ditarik kesimpulan kualitas perairan di Curug Cikaweni memperoleh angka 6,8 atau termasuk kategori agak bersih menuju bersih.

Momen (dari kiri atas) Zafes, Azhar dan Wira menangkap sampel satwa perairan. Foto: Dewa/UKF

Menjelang sore, cuacanya mulai tidak bersahabat. Hujan turun. Kami didesak untuk cepat-cepat naik, mengingat jalur pulang kami akan berbalik menanjak dan kemungkinan besar menjadi lebih licin. Sebagian teman saya agak kecewa, karena tidak jadi memancing.

Juga akibat hujan, pengamatan sore; taksa mamalia dan burung untuk kelompok C dan D diganti besok pagi. Untuk mengisi waktu luang, tiap-tiap dari kami memilih satu dari kegiatan-kegiatan berikut, mengobrol, memasak makanan, memakan masakan, membakar benda-benda kecil yang bisa dibakar, tidur, marah-marah karena yang tidur tidak kerja, ‘menyusup ke semak-semak’, mencicil reportase atau variasi aktivitas kecil lainnya.

Sekitar pukul 19.00 WIB, teman-teman dari semua kelompok pengamat memasang headlamp masing-masing, bersiap untuk melaksanakan pengamatan herpetofauna. Untunglah saat itu hujan telah mereda. Lagi-lagi kelompok pengamat A dan B berpisah dengan kelompok C dan D. A dan B bergerak ke jalur bawah (menuju gerbang PPKA Bodogol), sedangkan C dan D menyisir kawasan sekitar campsite. Pengamatan dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Ditemani Kak Taka dan seorang guide, kami menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES), sederhananya menangkap setiap satwa reptil dan amfibi yang ditemukan. Dari perjalan tersebut, kami hanya menemukan total tiga jenis satwa herpet, yaitu bunglon (Gonocephalus kuhlii), bunglon hutan (Gonocephalus chamaeleontinus), dan seekor kodok tegalan (Fejervarya limnocharis).

Sekitar pukul 21.10 WIB, kelompok C dan D melakukan identifikasi dalam aula pendopo. “Nggak akan lompat, kok!” kata Diva, berusaha meyakinkan saya yang gemetaran. Selain belajar mengidentifikasi herpet menggunakan kunci determinasi, saya juga sedikit mencoba belajar menyentuh seekor kodok tegalan. Untuk pelajaran kedua ini saya masih gagal.

Momen kegiatan identifikasi reptil dan amfibi hasil herping kelompok C dan D. Foto: Novia/UKF

Sekitar pukul 22.00 WIB, kelompok pengamat A dan B akhirnya muncul dengan membawa hasil pengamatan yang nampaknya jauh lebih banyak dari kelompok kami. Di tangan mereka, tergenggam berbagai bungkusan berisi temuan hasil pengamatan herpetofauna, seperti katak tanduk jawa (Megophrys montana), berbagai jenis kodok dan katak lain, cicak jari lengkung jawa (Cyrtodactylus marmoratus), bunglon (Gonocephalus kuhlii), tokek pohon (Hemiphyllodactylus typus), bahkan seekor ular boiga merah (Boiga nigriceps).

Individu boiga merah (Boiga nigriceps) tangkapan kelompok pengamat A dan B. Foto: Aulia/UKF

Tanggal 3 Maret 2024, pukul 06.00 WIB, seharusnya kelompok C dan D sudah berangkat melaksanakan pengamatan taksa mamalia dan burung. Namun, di pagi yang dingin serta berangin itu, kami semua bangun terlambat. Akibatnya anggota kami baru berkumpul pada pukul 06.30 WIB. Hasilnya fatal, setengah jam pengamatan di jalur kanopi pagi itu, berhasil nihil. Jangankan mamalia, bahkan tidak ada satu ekor burung pun yang kami jumpai. Tally sheet yang hampir kosong itu hanya berisikan nama-nama burung yang diidentifikasi guide melalui suaranya, diantaranya wiwik uncuing (Cacomantis sepulcralis), prenjak jawa (Prinia familiaris), cipoh kacat (Aegithina tiphia). Padahal laporan dari kelompok A dan B sebelumnya, mereka menjumpai burung paok pancawarna (Hydrornis guajanus), sepah gunung (Pericrocotus miniatus), srigunting kelabu (Dicrurus leucophaeus), dan lain-lain. Lalu untuk taksa mamalia mereka menemukan surili (Presbytis comata), lutung sunda (Trachypithecus mauritius), owa jawa (Hylobates moloch), berbagai jenis bajing dan tupai, bahkan kotoran macan tutul jawa.

Walaupun perjumpaan satwa kami cukup mengecewakan, setidaknya kami memiliki satu momen menarik yang cukup menggelitik, yaitu ketika kami mendengar sebuah suara yang menghasilkan deskripsi dugaan berbeda-beda.

“Suaranya kayak derit pintu,” kata saya saat itu.

“Mirip suara bayi,” Yasmin memberi pendapat lain.

“Mamal. Itu suara mamal,” kata Rofi,

dan karena pendapatnya adalah yang paling masuk akal, maka dengan penuh rasa penasaran, kami mengendap-endap mendekati sumber bunyi. Sudah serius dan berharap, betapa gelinya kami ketika menemukan; rupanya suara itu cuma berasal dari gesekan dahan-dahan pohon yang diterpa angin.

Pukul 09.15 WIB, kelompok pengamatan A, B, C dan D dimobilisasi lagi menanjaki jalur kanopi untuk melakukan pengamatan terakhir dalam rangkaian observasi, yaitu analisis vegetasi. Untuk kesekian kalinya kelompok A dan B berpisah dengan kelompok C dan D. Pengamatan vegetasi menggunakan metode transek kuadrat. Singkat cerita, kami membuat petak-petak, mengukur, menghitung dan menebak-nebak nama tumbuhan. Dari data kawasan yang diselisik kelompok C dan D, untuk semai kami menemukan jenis puspa, afrika, hurum muncang, bereubeuy, kaliandra, pining, pandan, rotan, teureup, pakurane. Untuk habitus pancang, diantaranya ditemukan kaliandra, kihaji, rotan, manggong, beunying. Kemudian untuk habitus tiang, ditemukan mahoni dan afrika. Sementara habitus pohon, jenis yang ditemukan yaitu puspa, muncang, afrika dan bareubeuy. Setelah semua data terkumpul dan direkap, kami diminta membubarkan diri, ishoma, kemudian melakukan persiapan pulang.

Momen foto bersama setelah kegiatan analisis vegetasi kelompok pengamat C dan D. Foto: Imam/UKF

Momen-momen pulang selalu berlangsung cepat. Kami membongkar dan merobohkan tenda-tenda, melipatnya, lantas memasukkannya ke dalam carrier. Membakar sampah-sampah plastik dan menimbun sampah-sampah organik. Memastikan tidak meninggalkan barang sekecil apapun.

Tracking. Hal tidak terduga terjadi; mendadak hujan deras. Kami memutuskan melipir sejenak untuk memasang raincoat di badan masing-masing. Suatu hal yang sebetulnya agak percuma, karena pada akhirnya tidak satu pun dari kami yang kembali dalam keadaan kering. Tiba kembali di Resort Bodogol, kami beristirahat sebentar sebelum kembali menaiki kendaraan pulang. Dalam perjalanan pulang, hujan masih turun dengan derasnya, suaranya bercampur dengan tawa dan obrolan teman-teman di dalam truk. Saya tidak tahu apa saja yang terjadi di dalam truk yang saya tumpangi saat itu, setengah kesadaran saya tertinggal di dalam hutan.

Sekitar pukul 19.30 WIB, kami menginjakkan kaki-kaki kami kembali di pelataran Sekretariat UKF. Selamat dan lengkap. Malam itu, seperti biasa kami menutup kegiatan dengan salam fauna. Observasi UKF 2024 resmi berakhir.

Observasi merupakan pengalaman pertama saya mengunjungi taman nasional, di mana saya betul-betul tidur dan bangun di dalam hutan. Pada beberapa waktu saya sering terpikir, betapa mengecewakannya bagi anak-anak di masa depan yang tidak lagi berkesempatan menjumpai berbagai satwa-satwa cantik sebagaimana kekecewaan saya yang tidak dapat menyaksikan dinosaurus atau mamot secara langsung. ‘Punah’ menjadi salah satu kata yang paling menyedihkan dalam kamus saya. Pengalaman Observasi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berhasil menjadi pemantik semangat saya untuk menjadi calon penggerak konservasi alam di Indonesia.

Uni Konservasi Fauna

-Selamatkan Fauna Indonesia-

Tinggalkan Balasan