Uni Konservasi Fauna – IPB Melakukan Studi Lapang Terkait Konservasi Eksitu

Dalam rangka meningkatkan kapasitas keilmuan terkait konservasi eksitu, Uni Konservasi Fauna (UKF) IPB University melaksanakan studi lapangan terkait “Konservasi Eksitu” di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga, Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 16 s.d. 19 September 2021. Peserta kegiatan berjumlah 10 orang pengurus UKF-IPB. Seluruh peserta sebelumnya sudah melakukan swab-antigen. Kegiatan ini berupa pemberian materi oleh tenaga ahli, praktik, diskusi dan sharing.

Foto bersama peserta dengan Tim PPS Cikananga (©Albi/UKF)

Kegiatan studi lapangan ini bertujuan untuk memberikan gambaran nyata dan mengimplementasikan materi yang dipelajari sebelumnya terkait pelaksanaan konservasi satwa liar di luar habitat alaminya. Banyak ilmu bermanfaat yang didapatkan dari kegiatan ini. Materi dan praktik yang dipelajari meliputi: Animal welfare, Housing and Husbandry, Animal behavior, Enrichment, Nutrisi dan pakan, hingga Manajemen kesehatan satwa. “Proses pembelajaran dari kegiatan ini sangat menarik dan banyak menyuguhkan pertanyaan hingga fakta-fakta baru untuk teman-teman UKF” ujar Imam, salah satu peserta studi lapangan.

Kegiatan praktik oleh peserta (©Albi/UKF)

Banyak hal yang didapat dari studi lapangan ke PPS Cikananga, namun yang paling menarik adalah pengetahuan baru terkait konservasi eksitu dan pelaksanaannya. Kegiatan ini sesuai dengan rancangan program kepengurusan UKF yang akan melakukan praktik terkait manajemen satwa eksitu. Kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat dalam hal meningkatkan kapasitas dan pengetahuan terkait konservasi eksitu dari hulu hingga hilir, sehingga dapat mengimplementasikannya dalam lingkup sederhana di kampus IPB Dramaga.

Konservasi eksitu merupakan kegiatan pelestarian alam yang dilakukan di luar habitat aslinya. UKF-IPB memiliki delapan divisi konservasi yang masing-masing memiliki fokus berbeda, namun dengan tujuan sama yaitu melestarikan fauna Indonesia. Divisi Konservasi Eksitu adalah salah satunya. Pemahaman masyarakat umum terkait memelihara satwa liar termasuk kegiatan konservasi eksitu adalah pemahaman yang salah.

 

Orangutan di PPS Cikananga (©Albi/UKF)

Terkuak fakta menarik yang bisa dijadikan pelajaran untuk manusia millenial dari kunjungan kami ke PPS Cikananga. Banyak satwa hasil sitaan BKSDA dan serahan masyarakat yang ditempatkan di PPS Cikananga. Satwa tersebut kebanyakan merupakan bekas hewan peliharaan masyarakat atau satwa yang diperjual-belikan secara illegal. Satwa-satwa liar tersebut banyak yang sudah terhabituasi dengan keberadaan manusia, bahkan tidak sedikit juga satwa yang sudah hilang sifat alaminya dan butuh penanganan serius (contoh: monyet ekor panjang memakan mie instan). Banyak masyarakat yang terbuai oleh lucunya satwa liar sehingga keinginan untuk memeliharanya sangat tinggi, tanpa tahu apa kebutuhan alaminya dan bagaimana cara memenuhinya.  Hal ini yang menjadi salah satu faktor penurunan sifat alami satwa liar. Kesejahteraan satwa yang kurang diperhatikan seperti kandang yang sempit, lampu sorot yang mengganggu penglihatan satwa, pakan yang tidak sesuai dan banyak lagi hal buruk yang sering dilakukan manusia dalam memelihara satwa liar.

 

 

~

Stop perdagangan dan memelihara satwa liar!

Selamatkan Fauna Indonesia!

 

Tinggalkan Balasan